
Yang sudah terjadi biarlah terjadi, karena memutar waktu satu hal yang tak mungkin. Sabar dan mengikhlaskan adalah cara terbaik untuk meneruskan hidup.
Begitulah mentari menguatkan dirinya. Kehilangan kesucian dan kekasih dalam waktu yang hampir bersamaan memang telah menghantarkannya di titik terendah dalam hidupnya. Tapi waktu tak memberinya kesempatan untuk berhenti terpuruk. Dia harus kembali berdiri tegak menatap kedepan tanpa harus menoleh kebelakang.
“Tari....ini demi kebaikan kamu.Kamu tidak boleh begini terus.” Untuk kesekian kali Dinda dan Sandra membujuk Mentari untuk mau pergi kepsikolog. Tapi Mentari kekeh dengan pendiriannya,jika ia bisa mengatasi traumanya sendiri, tanpa melibatkan psikolog.
Mentari memang terus berusaha mengatasi traumanya. Mimpi buruk yang sebelumnya sering muncul dalam tidurnya semakin kesini semakin jarang muncul.
Hampir dua bulan sejak peristiwa di restoran itu, Mentari belum kembali bertemu dengan Rayyan untuk membahas pernikahan mereka. Sandra dan Dinda mencoba mengingatkan ke Mentari tentang hal itu, tapi mereka khawatir
Mentari akan mengalami hal yang sama seperti waktu itu.
“Sandra, pinjam ponselnya ya?.” Mentari langsung mengambil ponsel Sandra yang tergeletak di atas meja, saat mereka dan Dinda tengah makan siang di sebuah rumah makan.
Jemari Mentari menggeser layar ponsel, mencari nama di deretan nama yang ada di daftar kontak. Sejenak ragu namun kemudian dia menekan satu nama yang tertera di daftar kontak.
Beberapa saat menunggu, akhirnya paggilannya terhubung.
“Hallo, selamat siang.”Sapa Mentari berusaha tenang, meski ada gejolak di dalam batinnya.
“Selamat siang nona Sandra.”
“Saya bukan Sandra, saya temannya, Mentari.”
Sejenak sepi tak ada suara. Akhirnya Mentari kembali berkata.
“Saya ingin bertemu dengan anda, jam 4 sore ini. Di tempat terakhir kita bertemu. Terima kasih.” Mentari langsung mengakhiri sambungan telefonnya tanpa menunggu jawaban dari pria yang di hubunginya.
“Siapa yang ingin kamu temui?.” Tanya Sandra. Yang sedari tadi memperhatikan Mentari.
“Rayyan Arga, pria sombong itu.”Jawab Mentari dengan nada kebencian.
Seketika mata dua sahabatnya terbelalak tak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Kamu yakin?.” Dinda masih ragu dengan apa yang di lakukan Mentari. Ragu karena Mentari di anggap masih trauma dengan kejadian pahit yang menimpanya.
“Yakin....!” Kata Mentari tanpa ragu meyakinkan kedua sahabatnya.
__ADS_1
Meski khawatir Sandra dan Dinda mendukung apa yang ingin Mentari lakukan.
“Butuh teman?.”
“Tidak, aku sendiri saja.”
“Yakin...?.” Tanya Sandra dan Dinda kompak.
“Ihhh...kalian kenapa sih tanyanya gitu banget.”
“Aku khawatir nanti kamu pingsan lagi Tariii......!”Ucap Sandra.
“Enggak.....Doakan saja, semoga itu tidak terjadi.”
Dinda dan Sandra saling berpandangan melihat Tari yang spertinya telah yakin pada dirinya.Tari memnag berusaha untuk tidak merepotkan dua sahabatnya meski dua sahabatnya itu senang membantunya.
“Baiklah...Jika kamu memang sudah yakin akan menemui Rayyan. Kami senang jika kamu tidak takut lagi melihat wajah Rayyan. Semoga pertemuan kalian membawa kebaikan untuk kamu.” Tutur Dinda merasa yakin jika
Mentari bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa bantuannya.
“Aamiin....Ya sudah aku harus segera pulang, ada pesenan kue.”
“Apa yang membuat dia begitu yakin untuk menemui Rayyan. Dia tidak takut jika nanti dia pingsan dan di gendong oleh Rayyan lagi...... Dulu saja dia ngambek karena aku membiarkan Rayyan menggendongnya waktu dia pingsan....Aneh.....”Ucap Sandra yang merasa heran dengan Sikap Mentari.
“Mungkin dia sudah berhasil menghilangkan traumanya.Jadi dia berani menemui Rayyan sendirian. Semoga yang kita khawatirkan tidak terjadi.”
“Semoga saja....”
Sementara Rayyan juga masih tak yakin jika Mentari ingin menemuinya. Kekhawatiran yang di rasakan Sandra dan Dinda juga ia rasakan. Tapi pada akhirnya ia meyakini jika gadis itu memang benar-benar sudah siap menemuinya, dan tanpa insiden tentunya.
“Ssttttt...” Entah untuk berapa kali Rayyan mendesis merasa kan pusing di kepalanya. Dibarengi rasa mual yang mendesaknya untuk mengeluarkan isi perut yang sudah tak berisi apapun. Karena sejak pagi ia sudah
memuntahkannya beberapa kali.
“Tuan muntah lagi...?” Tanya David merasa kasihan dengan bosnya yang terkulai lemas dikursinya setelah kembali dari toilet.
“Iya Vid....”
__ADS_1
“Ini tuan, saya belikan permen jahe siapa tau bisa mengurangi rasa mual tuan.”
Rayyan menerima permen jahe dari David dan langsung menyimpannya di dalam mulut, semoga menjadi solusi untuk masalahnya.
“Makasih Vid...”
“Sama-sama tuan...kalau begitu saya permisi.”
Rayyan mengangguk dan kemudian melanjutkan pekerjaanya. Satu permen habis, mual itu datang lagi. Dan itu terus berulang hingga entah berapa permen Rayyan habiskan sampai ia harus pergi menemui Mentari.
“Vid, tolong beli permen jahe lagi.” Perintah Rayyan menyadari permennya tinggal dua biji.
“Yang tadi sudah habis tuan?.”
“Belum, buat stok aja. Mualku berkurang jika makan permen jahe itu.”
“Oh...baiklah tuan.” David menepikan mobil yang dikendarainya di depan sebuah minimarket untuk membeli permen permintaan bosnya.Saat kembali David tak menemukan bosnya ada didalam mobil. Sesaat
mencari-cari, akhirnya David menemukan bosnya sedang bersama penjual rujak keiling. Dan sepertinya pria itu sedang membeli rujak.
“Sejak kapan tuan Rayyan mau makan makanan di pinggr jalan?.” Batin David.
“Tuan....” David akhirnya mendekati tuannya yang tampak sesekali menelan salivanya, saat melihat potongan-potongan buah tengah di campur bumbu oleh penjualnya.
“Eh Vid....aku beli rujak.Kamu mau?.”
“Tidak tuan terima kasih. Tapi kenapa tuan beli rujak, bukankah perut tuan sedang bermasalah?.”
“Tidak apa-apa Vid. Entah kenapa aku sangat ingin memakan makanan ini.”
“Oh...kalau begitu sebaiknya tuan kembali ke mobil.Biar saya yang menunggu rujaknya jadi.”
“Baiklah....”
David benar-benar heran melihat bosnya. Apa yang membuat pria itu menginginkan rujak, makanan yang sama sekali tak pernah ia sentuh selama ini.Apa lagi rujak itu di beli dari pedagang keliling pinggir jalan yang dianggapnya tidak higienis.Aneh menurut David.
“Ini tuan rujaknya.” Rujak yang di tunggu-tunggu akhirnya ada di genggaman. Tanpa ragu Rayyan menyantapnya dengan lahap, keringat mulai keluar dari dahinya karena rasa pedas dari cabai. Satu botol air mineral habis di minum Rayyan untuk menghilangkan rasa pedas dimulutnya.
__ADS_1
“Semoga perut tuan Rayyan tidak tambah bermasalah setelah makan makanan ini. Hadeh tuan...tuan...jangan bikin aku repot ya...”Ucap David dalam hati.