
“Nania....!.”
Pelukan Rayyan seketika mengendur. Matanya beradu pandang dengan mata Mentari di pantulan cermin yang ada di meja rias depan mereka. Tubuh keduanya mematung dalam beberapa detik dengan ekspresi yang berbeda.
Mentari menyingkirkan tangan Rayyan dari tubuhnya. Bergeser dan berbalik menatap wajah suaminya yang sepertinya hendak mengucapkan sesuatu tapi Mentari lebih dulu berbicara.
“Ternyata aku tidak salah menolak pelukanmu tadi, karena pelukanmu sebenarnya memang bukan untukku.Dan sekarang aku jadi berpikir kalau kamu mau menikahiku bukan karena bentuk tanggung jawabmu, tapi karena kau melihatku sebagai Nania.Betul begitu kan tuan Rayyan Arga...?!.” Ucap Mentari dengan senyum sinis di bibirnya”Tolong diingat ya tuan, aku Mentari, bukan Nania”.Ucapnya lagi sebelum akhirnya melangkah keluar kamar.
“Tari....!.”
Panggilan Rayyan sia-sia, karena Mentari sama sekali tak menggubrisnya. Pria itu segera ingin menyusul, tapi suara nenek dari luar kamar yang memanggil Mentari menghentikan langkahnya.
Tak berapa lama Mentari masuk kembali ke kamar, mengambil kunci motor dan dompet yang tergeletak di atas meja rias. Wanita itu tampak acuh, meski Rayyan memperhatikannya dan tampak ingin sekali bicara dengannya.
Mungkin Rayyan akan menahan Mentari untuk tetap di kamar, jika nenek tidak sedang menunggu Mentari untuk di antar ke tempat pengajian.
Tapi sesaat kemudian dengan gerakan yang tiba-tiba, Rayyan mengambil kunci motor di tangan Mentari. Mentari yang tidak siap, di buat terkejut dan berusaha mengambilnya kembali.
“Kembalikan kuncinya!.”
__ADS_1
“Biar aku saja yang mengantar nenek.”
“Tidak usah!.....aku saja.”
Rayyan menyimpan kunci motor di saku celana, terpaksa Mentari menghentikan tangannya untuk meraih benda itu. Membiarkan sang suami mengantarkan nenek yang telah menunggu di teras. Tak lama terdengar suara motor meninggalkan halaman.
Mentari menyimpan kembali dompetnya dan duduk di depan meja rias. Mengingat Rayyan menyebut nama Nania, ada rasa berbeda yang mentari rasakan dihatinya. Rasa yang tak ia mengerti namun cukup membuat dadanya sesak.
Mentari langsung bangkit dari duduknya, begitu melihat suaminya masuk ke dalam kamar. Tangan Rayyan langsung menahannya, saat dirinya hendar keluar kamar.
“Banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan, jadi tolong lepaskan tangannya.”
“Aku hanya ingin bicara sebentar.Aku......”
“Tolong antar aku kedepan, ada urusan mendadak.”
Mentari di buat penasaran, tapi ia memilih diam dan segera mengikuti Rayyan yang telah terlebih dulu keluar dengan tergesa-gesa.
Rayyan telah duduk gelisah diatas motor saat Mentari keluar rumah. Melihat kegelisahan suaminya, Mentari bergegas duduk di belakangnya.
__ADS_1
Rumah Mentari berada di sebuah pemukiman yang cukup jauh dari jalan besar. Jika ingin menggunakan kendaraan umum maka harus ke jalan raya terlebih dahulu. Tapi warga sekitar termasuk Mentari memilih memiliki kendaraan sendiri agar tidak naik turun kendaraan jika hendak berpergian.
Sejak tinggal bersama Mentari Rayyan sengaja tidak menggunakan mobil sendiri, dia mengandalkan David untuk mengantar jemputnya. Itu ia lakukan atas permintaan Mentari untuk menutupi identitasnya yang seorang direktur kaya raya dari sang nenek.Sebenarnya ia bisa memesan taksi atau ojek online,atau bisa juga meminta David untuk menjemputnya. Tapi ia tak bisa menunggu, ia harus segera pergi. Karena itulah kini ia terpaksa meminta Mentari mengantarnya ke jalan raya.
“Urusan mendadak apa?Kenapa tampak panik begitu?” mentari tak tahan dengan rasa penasarannya.Ia memberanikan diri untuk bertanya dan melingkarkan tangannya di pinggang Rayyan yang membawa motor dengan kecepatan tinggi.
Tak ada jawaban. Rayyan terlalu fokus dengan jalanan dan pikirannya. Mentari kini juga panik, karena Rayyan semakin menggila dalam mengendarai motornya.
“Pelankan motornya, aku takut!. “ Teriak Mentari, sembari mencubit perut Rayyan . Rasa nyeri di perutnya menyadarkan Rayyan dan membuatnya teringat jika ada nyawa lain yang tengah ikut bersaamnya.
“Maaf...aku sangat buru-buru.” Rayyan menurunkan kecepatan motornya dengan satu tangan mengusap tangan mentari yang tengah melingkar di pinggangnya. Dan kembali memegang kemudi motor.
“Ada urusan apa?kenapa terlihat panik begitu?.”
“Aku tidak bisa menceritakannya sekarang. Mungkin lain waktu.”
Keduanya telah sampai di pinggir jalan Raya. Mata keduanya fokus kejalanan mencari taksi yang mungkin lewat.
“Aku mungkin tidak pulang. Jaga kandunganmu baik-baik selama aku tidak ada.”Ucap Rayyan begitu ada taksi yang berhasil ia hentikan” Kamu langsung pulang ya. Pelan-pelan bawa motornya.” ucapnya lagi sembari membuka pintu taksi. Tapi sebelum ia masuk ia sempatkan mengecup kening istrinya tanpa penolakan. Karena sang istri tengah termangu mendengar suaminya yang tidak akan pulang.
__ADS_1
Kecupan Rayyan menyadarkan Mentari dari lamunan, menyisakan debaran di jantung wanita itu.
Taksi yang di tumpangi Rayyan telah melaju meninggalkan Mentari yang tengah merasakan rasa berat ditinggalkan. Harusnya Mentari senang Rayyan pergi dan tidak pulang. Karena dari awal pernikahan memang Mentari tidak ingin hidup bersama dengan Rayyan meski mereka pasangan suami istri yang sah.