Menaklukan Mentari

Menaklukan Mentari
Obat Mual


__ADS_3

Mata Mentari membelalak ketika mendapati telapak tangannya menempel di pipi Rayyan yang berada tepat di depan wajahnya saat wanita itu bangun.Bukan hanya itu, Mentari juga di buat tak percaya karena tangan Rayyan  berada di bawah leher dan diatas pinggangnya dengan tubuh mereka  yang saling menempel.


Wanita itu mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi semalam.Dia merasa hanya meminta Rayyan untuk menemaninya jalan-jalan, bukan untuk memeluknya. Tapi kenapa sekarang ia berada di pelukan Rayyan?. Mata Mentari menyipit ketika melihat bibir suaminya. Ia ingat semalam ia seperti bermimpi jika bibir itu mencium bibirnya. Tapi dengan jarak wajah yang begitu dekat Tari ragu jika ciuman itu hanya mimpi.


Membayangkan jika ciuman itu benar terjadi membuat Mentari memundurkan tubuhnya, hingga tubuh keduanya berjarak.


“Akhhh..aku yakin itu hanya mimpi.” Pikir Mentari  mencoba menghibur dirinya yang resah.


Tak ingin lagi memikirkan soal ciuman itu Mentari turun dari ranjang bergegas untuk solat subuh. Baru saja berdiri, perutnya seperti di aduk-aduk isinya, menimbulkan rasa mual dan rasa ingin muntah. Hal yang hampir setiap hari terjadi satu bulan terakhir. Rasa mual itu baru akan hilang setelah mencium aroma tubuh Rayyan. Selama Rayyan tidak ada, Mentari mengobatinya dengan mencium aroma tubuh Rayyan yang masih tertinggal di pakaian pria itu.


Seingatnya semalam pakaian Rayyan ia simpan di bawah bantal.Tapi pakaian itu sekarang tidak ada. Ternyata Rayyan telah mengambilnya dan memasukkannya ke dalam mesin cuci.


Mentari terus mencari-cari sementara Rasa mual makin menjadi. Akhirnya tatapan itu terhenti pada pria yang tengah tertidur.


“Masa iya aku harus langsung ke sumbernya?.”Pikir Mentari yang merasa tak mungkin mendekati Rayyan agar dapat mencium aroma tubuhnya.


Mentari akhirnya memilih mengambil pakaian bersih Rayyan yang tersimpan rapi di lemari. Namun ia tak mendapatan aroma yang di carinya di sana.


“Hoek...hoek.....” Perut Mentari makin dibuat tak karuan. Wanita itu tak mampu lagi menahan rasa mualnya, satu-satunya cara mengatasi masalahnya adalah mendekat pada Rayyan. Tanpa memikirkan apapun Mentari naik keatas ranjang. Kembali ke posisi saat pertama ia bangun tidur tadi.


Gerakan Mentari membangunkan Rayyan dari tidurnya. Rayyan di buat terkejut dan heran melihat Mentari seperti tengah menghirup udara di depan dadanya. Rayyan sepontan memundurkan badannya, namun bajunya langsung di tarik oleh Mentari.


“Kamu lagi apa sih?.” Rayyan tak mengerti dengan yang dilakukan oleh istrinya.


“Kamu tidak lihat aku sedang apa?.”

__ADS_1


“Maksudku kenapa kamu menciumi dadaku?.”


“Aku mual, dan obatnya ada disini.”


Rayyan makin di buat bingung.


“Maksudnya?.”


Mentari diam tak peduli dengan rasa penasaran suaminya,yang  sudah mencapai ubun-ubun.


“Jelaskan dulu....!” Tangan Rayyan menahan tubuh Mentari yang bergerak mundur dengan memeluknya erat.


“Ih....lepas......!! .”  Tangan Mentari yang yang berada di antara tubuhnya dan tubuh Rayyan, berusahaa mendorong tubuh kekar milik Rayyan agar terlepas, tapi bukannya terlepas pelukan Rayyan malah semakin kuat.


“Aku menciumi dada kamu itu terpaksa.Kalau bukan karena mual di perutku aku tidak akan melakukannya. “ Ucap mentari dengan wajah kesal dan terus menggerak-gerakkan tubuhnya agar terlepas.


“Terus apa hubungannya antara mual kamu dengan dada aku?!.”


“Bau badanmu bikin mualku hilang.”


Akhirnya Rayyan tersenyum mengerti . Ternyata bau badannya yang tidak wangi-wangi amat mungkin cenderung asam karena bangun tidur bisa menjadi obat. Aneh tapi nyata. Timbul rasa bangga dengan calon anaknya, meski usianya di perut baru hitungan minggu, tapi calon anaknya itu sudah pandai membuat ibunya ketergantungan pada dirinya.


“Jadi semalam kamu tidur sambil memeluk bajuku karena itu juga?.”


Mentari mengangguk pelan.

__ADS_1


“Selama aku tidak ada, selalu baju itu yang kamu gunakan untuk mengobati rasa mualmu?.”


Kembali Mentari mengangguk.


"Jika kamu memintaku pulang, kemeja mahalku itu tidak akan kumal dan kotor seperti itu karena tak pernah di cuci."


Kali ini Rayyan tidak menyalahkan Mentari. Tetapi bukan berarti tak ada hukuman untuk istrinya itu.


Rayyan mengangkat dagu istrinya agar menatap wajahnya.


“Lihat aku sayang....” Pinta Rayyan ketika Mentari menatap ke arah lain.”Kenapa kamu lakukan itu, padahal aku ada. Kamu sudah melakukan sebuah kesalahan yang membuat aku seperti suami yang mengabaikan istrinya.”


“Maaf.....” Kata itu meluncur begitu saja dari mulut Mentari, dengan mata yang masih beradu pandang dengan mata sang suami. Ia ucapkan kata maaf karena ia takut Rayyan marah lagi seperti semalam.


“Kamu harus di hukum!.”


“Di hukum?.” Ucap Mentari lagi yang seolah telah terhipnotis oleh tatapan Rayyan. Sehingga tak menyadari bibir Rayyan yang terus mendekat ke bibirnya dan mendarat sempurna.


Semula hanya sebuah kecupan, Tapi di detik berikutnya berubah menjadi *** yang menuntut. Mentari yang selalu menyatakan kebenciannya pada Rayyan tak kuasa menolak. Ia membiarkan suaminya bermain dengan bibirnya, bahkan wanita itu sedikit membuka mulutnya setelah Rayyan menggigit bibir bawahnya. Memudahkan Rayyan memperdalam ciumannya.


Di menit-menit berikutnya Mentari seperti tersadar dari sesuatu yang membiusnya. Ia berusaha mendorong tubuh Rayyan yang telah berada di atas tubuhnya.


“Apa yang kamu lakukan!.” Ucap Mentari di antara nafasnya yang memburu dengan wajah panik. Tapi ucapannya langsung dibalas lu****. Entah kenapa Mentari tak mampu menolak, bahkan ia diam saja ketika ciuman itu turun ke bagian lain tubuhnya. Rasa paniknya pun buyar tertutup oleh rasa yang tak bisa ia artikan


Mentari merasa mendapat dorongan untuk menerima semua sentuhan yang diberikan oleh suaminya.Sehingga sebuah suara yang menunjukkan suatu kenikmatan lolos begitu saja dari bibir Mentari. Mencipta senyum di sudut bibir Rayyan. Ia merasa ada banyak kemungkinan, dirinya bisa melepas hasrat yang tertahan sejak semalam.

__ADS_1


__ADS_2