
Foto sang kekasih yang kini telah tiada, menjadi pusat perhatian mata Rayyan. Rasa rindu pada gadis itu tak terelakkan. Tak ia pungkiri, rasa cinta untuk gadis itu masih ada meski gadis itu telah tiada.
Rayyan meletakkan kembali keatas meja,foto dalam bingkai kecil yang sedang dipegang, saat David masuk ke ruangannya.
“Tuan, ini data tentang pria yang ditemukan bersama nona Nania saat meninggal.” David menyerahkan sebuah map yang berisi beberapa lembar kertas. Rayyan memang membayar seseorang untuk mencari tau tentang identitas pria yang ditemukan tewas bersama Nania dan apa hubungan keduanya.
David pamit kembali kemeja kerjanya, setelah map yang di pegang berpindah ke tangan Rayyan. Ada rasa tak percaya setelah Rayyan membaca semua isi kertas yang di pegangnya. Ditambah beberapa foto mesra Nania bersama pria yang meninggal bersamanya.
Pria itu diketahui sebagai sutradara di film yang tengah di bintangi oleh Nania. Dan dengan uang Rayyan, Nania bisa menjadi pemeran utama di film itu. Bukan hanya dengan uang, tapi juga dengan tubuhnya. Mungkin karena
terlalu sering keduanya bersama di atas ranjang,hubungan mereka bukan lagi hubungan antara artis dan sutradara, tapi telah melibatkan hati. Pada akhirnya Rayyan hanya menempati sedikit ruang di hati Nania, itupun karena apa yang dimiliki Rayyan. Rayyan adalah harta karunnya.Hanya bermodalkan rayuan manis dan belaian menghanyutkan, Nania bisa mendapatkan apa yang dia mau dari Rayyan. Dari perhiasan, uang sampai barang mewah dengan mudah Nania dapatkan. Rayyan yang telah di butakan oleh cinta tak menyadarinya. Dia selalu meloloskan semua keinginan Nania. Dan setelah Nania meninggal, Rayyan baru tau semuanya.
Rayyan melempar kertas-kertas itu, siring amarah yang merasuk ke jiwanya. Ia marah pada orang yang sudah mati.Rasanya percuma jika dia harus membuang energi untuk marah.Tak ada yangbisa berubah. Yang bisa lakukan hanyalah menerima kenyataan jika ia telah di tipu oleh wanita yang sangat ia cintai dan menganggap dirinya terlalu bodoh. Padahal ia sangat pandai dalam mengembangkan bisnisnya sehingga tak ada pesaing yang mampu membodohinya.
Bahunya tampak naik turun menahan kekesalan. Wajah cantik Nania membayang di pelupuk mata Rayyan, tampak tengah menari-nari seolah mengejeknya.Membuatnya semakin kesal. Hampir saja ia membanting leptop untuk
melampiaskan amarahnya, jika ia tak ingat file-file penting ada didalamnya.
“Kasih sayang mama yang tulus tanpa pamrih aku sia-siakan,sementara cinta palsu Nania aku agung-agungkan .....huh bodoh....bodoh....bodoh....” Umpat Rayyan masih dengan rasa kesal pada dirinya sendiri.
Setelah mampu menenangkan diri, Rayyan menghubungi seseorang. Seseorang yang harus ia sayangi.
“Kamu di mana sayang....”Tanya Rayyan pada gadis yang selama ini tak pernah ia perhatikan apa lagi di panggil sayang. Jelas itu menjadi hal yang baru bagi gadis yang sedang duduk di kantin kampus. Gadis itu adalah Bianca. Dia merasa tersiram salju mendengar kakaknya memanggilnya dengan begitu manis.
“A..a..aku...masih di kampus kak.” Sungguh Bian gugup dengan kejutan dari kakaknya.
“Selesai jam berapa kuliahnya?.”
“Dua jam lagi selesai. Ada apa kak?.”
__ADS_1
“Begitu selesai langsung pulang. Tidak usah pergi kemana-mana lagi. Hari ini kakak pulang lebih cepat. Kita makan malam di rumah.”
Satu kejutan lagi diberikan untuk Bianca. Kakaknya mau makan malam bersamanya di rumah. Seperti mimpi bagi gadis itu. Karena selama ini, hal itu tak pernah terjadi. Kakaknya selalu pulang malam malah kadang tidak pulang
karena memilih pulang ke apartemennya. Jadi selama ini tak pernah ada acara makan malam bersama di keluarganya. Bahkan mamanyapun memutuskan untuk tidak duduk di meja makan lagi saat waktu makan malam tiba, setelah merasa jenuh menunggu kedua anaknya tak kunjung menemaninya untuk makan malam bersama, apa lagi sarapan.
“Iya kak...” Balas gadis yang baru hari itu pergi kekampus setelah beberapa hari mengurung diri di kamar karena rasa bersalah pada ibu kandungnya.
Seperti mendapatkan semangat baru, Bianca tersenyum bahagia. Kini ia merasa tak sendiri setelah kepergian mamanya.
Rayyan menepati ucapannya. Sebelum makan malam ia sudah berada di rumah. Selesai bebersih diri Rayyan turun ke ruang makan. Adiknya belum ada disana. Hanya foto sang mama yang sudah ada dimeja makan bersamanya. Foto itu ia sengaja letakkan di sana, agar ia merasa sedang makan malam dengan wanita itu.
Tak berselang lama, Bianca datang dengan wajah semringah.Dia sangat bahagia, karena malam itu ia akan merasakan lagi momen makan malam yang hampir dua tahun momen itu hilang dari keluarganya. Binar di mata gadis itu berubah sendu,mendapati foto sang mama ada di meja makan.
“Anggap saja kita sedang makan sama mama.” Rayyan cepat memberi tahu, sebelum adiknya bertanya tentang alasan keberadaan foto ibu mereka. Seketika bulir bening muncul dari sudut mata Bian.
Bian menuruti ucapan kakanya. Ia membersihkan pipinya dari air mata dan menggantinya dengan senyuman.
“Kamu makan yang banyak, biar badanmu gemukan dikit.”Nasehat Rayyan yang mengambilkan dua centong nasi beserta lauknya untuk Bian. Sang kakak kini sangat perhatian padanya. Bian senang dengan perubahan sikap
kakaknya.
“Sudah kak cukup. Ini nasinya kebanyakan” Protes Bian melihat begitu banyak isi piring yang Rayyan letakkan di depannya.
“Hem.....kebanyakan?...Sudahlah di makan aja.”
“Ini buat kakak saja...Kakak harus makan banyak buat ganti energi kakak yang banyak terkuras seharian bekerja.” Rayyan tak bisa brbuat sesuatu, selain menerima makanan yang siapkan untuk adiknya kembali kedepan matanya. Bianca tersenyum melihat kakaknya mendengus kesal.
Keduanya makan dengan lahap. entah karena masakan bibik memang enak atau karena suasana yang hangat, membuat makanan yang di santap terasa begitu nikmat. Rayyan menggelang melihat adiknya menambah nasi dan lauk. Porsi makan Bian lebih banyak dari porsi makanan yang dia tawarkan sebelumnya.
__ADS_1
“He...he....enak banget soalnya kak.” Sedikit rasa malu,Bian menanggapi reaksi kakaknya.
“Enggk apa-apa...makan aja yang banyak. Kalau bisa abisin semuanya biar enggak mubadzir.” Ucap Rayyan yang meniru ucapan ibunya waktu dirinya masih kecil.
Selesai makan makan malam, Rayyan mengajak adiknya duduk di ruang santai bemain PS sampai larut malam.
“Sudah maalm Bi, tidur sana.”
“Sebenernya masih pengin main si, tapi ya udah deh....besok juga ada kuliah pagi.Malam kakak. ”
“Nggak pengin peluk kakak dulu....?.” Kebiasaan yang hilang beberapa taun terakhir,kini ingin Rayyan ulang. Bian memang selalu memeluk kakak dan ibunya sebelum tidur.
Bian tak jadi melangkah. Ia berbalik dan langsung memeluk kakaknya agak lama. Hatinya terasa damai dan matanya hampir berair saking harunya. Karena sang kakak masih ingat kebiasaannya.
“Bian sayang kakak.” Kata Bian mengungkapan isi hatinya.
“Kakak juga sayang Bian.” Balas Ray tak lupa mengecup kening adiknya.”Dah pergi tidur sana!.”
Bian melangkah kekamar dengan perasaan yang sulit dilukiskan. Yang pasti ia bahagia karena kakaknya kembali sehangat dulu.
Membahagiakan Bianca adalah janji Rayyan pada ibunya. Dia tak ingin kembali mengecewakan wanita yang telah melahirkannya meski wanita itu telah tiada. Tak hanya sebagai kakak kini ia juga harus bisa menjadi ayah sekaligus ibu untuk Bianca. Dan dia harus bisa melakukan itu di sela-sela kesibukannya.
“Pagi kakak...” Sapa Bianca yang telah rapi saat berjalan menuju meja makan untuk sarapan.
“Pagi....” Sambut Bian yang sedang mengoles selai coklat di selembar roti tawar untuk adiknya. “Habisin roti dan susunya, nanti kakak antar kekampus.”
Sepanjang ia menjadi mahasiswi,baru kali ini sang kakak akan mengantar Bianca ke kampus. Kejutan manis di pagi hari yang tak terpikirkan oleh gadis manis berrambut pirang.
Rayyan benar-benar berubah. Berubah karena keadaan. Berubah karena ketakutan akan kehilangan. Cukup ibunya yang pergi karena kecewa dengan dirinya.
__ADS_1