Menaklukan Mentari

Menaklukan Mentari
Drama di Meja Makan


__ADS_3

Mentari segera beranjak menuju kamar neneknya, setelah makanan yang ia buat,selesai ia siapkan di meja makan.


“Nek....makanan sudah siap.” Ucap Mentari setelah mengetuk pintu kamar neneknya beberapa kali.


“Iya.....sebentar.” Jawab nenek Winarsih yang yang memlih berzikir di kamarnya seusai solat magrib sampai waktu solat isya tiba.


Mentari kembali ke meja makan, dan duduk disana sembari menunggu sang nenek.


“Lho mana suamimu?.” Tanya Nenek Winarsih, melihat cucu mantunya tak ada di tempat itu.


“Ada didepan nek. Tadi sedang mengerjakan sesuatu.” Jawab Mentari asal. Padahal ia sama sekali tidak tau apa yang tengah di lakukan Rayyan di ruang tamu sendirian.


“Suruh dia makan dulu.”


Dengan langkah berat dan sedikit rasa malas, mentari melangkah ke ruang tamu. Tapi Rayyan tak ada di sana.


“Huh dimana itu orang. Perasaan dia tadi di sini!!.” Gumam Mentari yang memutuskan untuk mencari Rayyan ke kamar. Tapi lagi-lagi pria itu tidak ada di tempat itu.”Ah lebih baik aku kembali ke meja makan. Tapi kalau nenek menanyakan Rayyan gimana??. Hiiihhh.....dimana si Rayyan!! Lagi-lagi bikin aku kesal.”


Akhirnya Mentari memutuskan mencari Rayyan ke luar rumah. Dia merasa lega, mendapati Rayyan tengah berdiri di bawah pohon mangga sembari menelfon seseorang.


Melihat Mentari, Rayyan mangakhiri obrolannya yang entah dengan siapa. Pria itu melangkah mendekati istrinya yang terlihat kesal.


“Kenapa?? Nyariin yaaa??!.”


“Huhhh.........Dicariin nenek, suruh makan!.” Balas Mentari sembari berbalik masuk kedalam rumah.


“Tari...Tari.....bikin kamu kesal mengasikkan juga rupanya....he...he....” Batin Rayyan dengan bibir tesrsenyum geli.


Rayyan bergegas menyusul Mentari. Dan dengan sengaja merangkul wanita itu, ketika sampai di ruang makan. Membuat Nenek Winarsih tersenyum. Tapi juga membuat otak Mentari memanas.


Kekasalan Mentari pada Rayyan kembali memuncak. Tapi saat itu ia tak bisa berbuat apa-apa, karena ada nenek. Terpaksa ia menyembunyikan kekesalannya, dengan pura-pura tersenyum.


“Mas, jangan seperti ini, malu ada nenek.” Ucap Mentari dan berusaha menyingkirkan tangan dari pundaknya.

__ADS_1


“Ngapain malu. Kita kan suami istri. Nenek pasti sukabmelihat kita seperti ini. Dan nenek juga pasti maklum karena kita pengantin baru.Betul begitu kan nek?.” Balas Rayyan berharap nenek ada dipihaknya.


“Iya...tidak apa-apa. Nenek juga pernah muda kok.” Jawab  nenek dengan mengulum senyum.


“Nah dengar kan. Ya udah duduk yuk...”


Rayyan menarik kursi untuk Mentari, dan kemudian duduk di sebelahnya setelah wanita itu duduk terlebih dahulu.


Sikap Rayyan menjadi pemandangan yang menyejukan bagi nenek Winarsih. Ia menganggap jika Rayyan memang pria yang tepat menjadi suami Mentari.


“Berikan nasi itu untuk suamimu dulu Tari.” Titah nenek Winarsih karena cucunya menyodorkan secentong nasi ke arah piringnya.


Rayyan hanya tersenyum, ketika akhirnya nasi itu berpindah ke piringnya.


“Udah cukup sayang...” Cegah Rayyan, saat Mentari hendak menambahkan


lagi nasi kedalam piringnya.


“Aww.....” Teriak Rayyan, merasakan sakit di kelima jari kakinya yang dengan sengaja Mentari injak. Rasa kesal Mentari makin bertambah, dengan Rayyan memanggilnya dengan kata sayang. Menginjak kaki Rayyan ia anggap sebagai peringatan kecil untuk pria itu. Agar Rayyan tidak lagi membuatnya kesal dan berhenti memanggilnya “sayang”.


“Oh tidak apa-apa nek....Cuma sedikit kram di kaki.” Balas Rayyan, melirik ke arah Mentari yang tengah menuang nasi ke piring neneknya.


“Oh....Kram. Aku sampai kaget.Takutnya kamu kenapa-napa”


Rayyan tersenyum dan mulai fokus ke makanannya.


“Sayangg....ambilin sayurnya dong.” Ucap Rayyan, yang sedetik kemudian merasakan telapak kaki Mentari ada di atas telapak kakinya lagi. Dan dengan cepat, Rayyan menindih telapak kaki Mentari dengan telapak kakinya yang satunya lagi. Mentari mencoba menarik kakinya, tapi Rayyan begitu kuat menekan.


Ketika kaki Mentari hampir terlepas, kedua kaki Rayyan mengunci kaki gadis itu dengan kuat. Dan sama sekali Mentari tak dapat menggerakannya.


Tangan kiri Mentari mencubit paha Rayyan dan menekannya dengan kuat, sebagai kode agar Rayyan melepaskan kakinya. Tapi sayang, kini tangannya juga tak bisa lepas dari paha Rayyan, karena pria itu menggenggamnya dengan kuat.


Jika ada yang melihatnya, mungkin akan menganggap keduanya pasangan

__ADS_1


yang romantis,dengan kaki dan tangan yang saling bertaut. Sayangnya moment itu tak ada yang melihat, termasuk nenek yang sedang bersama mereka.


“Masakan kamu enak banget yang....Aku mau lho, kalau tiap hari kamu bikinin bekal buat makan siang di kantor. Biar bisa berhemat juga.”


Ucapan Rayyan makin membuat Mentari bertambah kesal. Dan mungkin sudah berada di atas ambang batas. Tapi Rayyan tampak santai, dan makin menunjukkan sikap manisnya.


“Gimana yang....mau kan bikinin aku bekal?.” Rayyan meraih dan mengakat dagu Mentari agar wanita itu menatapnya.


“Ii...iya mas.” Jawab Mentari singkat dan menarik tangan Rayyan dari dagunya. Sementara di bawah meja tangan dan kakinya sedang berjuang agar bisa terlepas dari Rayyan.


Nenek Winarsih terus mengembangkan senyumnya melihat kelakuan cucu mantunya.


“Ehmmm nek, Mas Rayyan  besok berangkat keluar negri. Pihak kantor memajukan jadwal keberangkatannya.” Ucap Mentari setelah ia mendepatkan ide agar Rayyan cepat-cepat pergi dari rumahnya. Ia merasa tak sanggup jika harus berlama-lama bersama pria yang selalu membuatnya kesal. Sementara Rayyan terus fokus dengan makanannya dengan otak yang bekerja mencari cara untuk kembali mengerjai Mentari.


“Betul begitu nak Rayyan?.” Ada gurat kecewa di wajah nenek Winarsih, karena nenek tua itu menghendaki Rayyan dan Mentari menikmati masa pengantin barunya untuk beberapa hari sebelum Rayyan pergi keluar negri. Agar bulan depan ia dapat mendengar kabar dari keduanya tentang kehamilan Mentari.


“Iya benar nek.....” Jawaan Rayyan, membuat Mentari merasa lega.”Tapi setelah tahu saya baru menikah,pihak kantor menunda keberangkatan saya sampai satu minggu lagi. Dan seminggu ini saya di beri cuti dan juga di beri hadiah bulan madu menginap di hotel selama dua hari nek.”


“Oh....alkhamdulillah. nenek senang mendengarnya.”


Nenek begitu gembira dengan kabar itu, tapi sebaliknya Mentari merasa tak mampu lagi membendung kekesalannya.


“Aku ke kamar mandi sebentar.” Mentari berdiri setelah Rayyan melepaskan kaki dan tangannya. Dengan tergesa gadis itu menuju kamar mandi.


Mentari menumpahkan kekesalannya di kamar mandi. Kran air di buka penuh. Air mengalir dengan deras menimbulkan suara yang cukup keras ketika air jatuh kedalam bak mandi.


Mentari melepas hijab instannya, untuk memudahkan dirinya membasuh muka. Berkali kali ia membasuh mukanya untuk meredakan emosi. Dalam hati ia juga beristighfar untuk melegakan hatinya.


Cukup lama mentari berada di dalam kamar mandi. Hanya untuk mencoba menenangkan diri.


Beberapa kali tampak Mentari mengusap perutnya yang masih rata. Ia teringat dia harus menjaga kandungannya.


“Maafkan ibu ya nak, kamu mungkin jadi tidak nyaman karenanibu yang sering marah. Ibu tidak bermaksud membuatmu ikut merasakan apa yang ibu rasakan. Seandainya  sikap ayahmu tidak seperti tadi mungkin ibu tidak akan marah. Maafkan ibu ya nak, ibu janji tidak akan suka marah-marah lagi.” Setelah berbicara dengan janin yang ada dalam perutnya,

__ADS_1


Mentari merasa lebih tenang dan memutuskan untuk kembali ke ruang  makan.


__ADS_2