
Mentari kembali melajukan motornya, setelah merasa tak ada yang harus ia tangisi lagi. Dia sudah membulatkan hati untuk tidak menyesali perpisahannya dengan Dika.Meski untuk bisa melakukan itu ia harus berjuang.
Di bawah pohon besar di pinggir jalan Raya, Mentari menghentikan motornya. Ponsel di dalam tasnya terus saja berdering dan baru berhenti setelah ia menekan tombol hijau di layar.
“Ya San.....”
“Kamu lagi di mana?.”
“Aku lagi di jalan habis ketemu mas Dika.”
“Kenapa suaramu terdengar serak gitu.”
“Hem...nggak apa-apa. Ada apa San?”
“Nanti siang kamu bisa kan ketemu Rayyan?.”
Beberapa detik tak ada suara.
“Tari...kamu baik-baik saja kan?.”
“I...i..iya aku bisa....!” Balas Mentari dengan susah payah.Bertemu dengan Rayyan sebenarnya berat ia lakukan, selain benci ia juga merasa takut pria itu berbuat macam-macam lagi padanya. Tapi ia tak mungkin menolak ketika pria itu ingin bertanggung jawab dengan perbuatannya.
“Oke...nanti aku jemput.”
Sepanjang perjalanan ia meyakinkan dirinya bahwa menerima Rayyan menjadi suaminya adalah sebuah keputusan yang tepat. Dia tak memikirkan bagaimana hidupnya nanti setelah menikah dengan Rayyan, baginya yang penting
dia punya status yang sesuai dengan kondisinya.
Hari terus beranjak siang. Setelah mengantar beberapa pesanan kue, Mentari dan Sandra menuju sebuah restoran yang telah ditentukan Rayyan ,sebagai tempat pertemuan mereka.
Keduanya telah duduk di privat room yang sudah di reservasi atas nama Rayyan Arga. Mentari diam-diam tengah berjuang menyiapkan mentalnya agar ia bisa tenang saat bertemu Rayyan nanti. Dan ia mengiyakan saja ketika Sandra pamit pergi ketoilet. Sebenarnya Sandra bukan ketoilet tapi sengaja meninggalkan Mentari agar Mentari dan Rayyan bisa leluasa berbicara.
Mentari yang tengah terdiam tegang, terkejut ketika sebuah suara menyapanya.
“Selamat siang nona Mentari.”
Mentari tau pemilik suara itu.
“Se..se...selamat siang...” Mentari menjawab dengan suara yang bergetar dan mata tertutup menunduk.
“Apa kabar?.” Lanjut Ray dan mengulurkan tangan. Namun ia kembali menarik tangannya, karena tak bersambut.
“Apa kabar nona Mentari?.” Rayyan mengulang ucapannya.Netranya menatap gadis d depannya yang masih saja menyembunyikan wajah.
Gadis itu masih terdiam meski Rayyan sedang menunggu jawabannya. Selang beberapa detik, perlahan Mentari mengangkat wajahnya. Setelah ia menguatkan dan meyakinkan diri untuk berbicara dengan Rayyan.
Netra Rayyan akhirnya bisa menatap wajah gadis yang mirip dengan kekasihnya,Nania. Dia mencoba tersenyum, tapi tetap saja wajah gadis di depannya menunjukkan raut kebencian. Tak lama raut kebencian itu berubah
menjadi raut ketakutan, di barengi dengan wajah yang memucat dan keringat yang menyembul dari pori-pori kulit di wajah Mentari.
Rayyan kemudian panik saat Mentari bangun dari duduknya dan menjerit sembari melemparinya dengan benda yang ada diatas meja.
“Aww......nona apa yang anda lakukan....” Sebuah gelas melayang tepat di dahi Rayyan.
__ADS_1
“Pergi...pergi...jangan mendekat....pergi....!!.” Teriak mentari yang memundurkan tubuhnya ketika tak ada lagi benda yang bisa ia lempar.
“Nona...tenang....saya tidak akan mengganggu anda. Saya bermaksud baik...!!.” Rayyan mencoba menenangkan Mentari yang kini menangis ketakutan.
“Aku mohon...jangan sentuh aku .....hik....hik.....jangan...jangan...!!.”Mentari terus memohon dan terus melangkah mundur hingga tubuhnya menyentuh dinding. Kedua tangannya terulur kedepan, untuk menghalangi Rayyan agara tidak menyentuh tubuhnya. Air mata gadis itu terus mengalir, menambah kepanikan Rayyan.
“Nona ....tenanglah. Saya tidak akan menyakiti anda seperti waktu itu.Percayalah....!” Rayyan mencoba mendekat, tapi gerakannya menambah kepanikan pada Mentari.
“Jangan mendekat...pergi...pergi.....saya mohon jangan lakukan itu....hik..hik....pergi..pergi.....akhh...!!!.” Teriakan mentari makin keras, sebelum akhirnya tubuh gadis itu ambruk ke lantai tak sadarkan diri.
“Nona...nona Mentari....!” Rayyan melangkah cepat kearah tubuh Mentari. Ia berusaha membangunkan gadis itu dengan mengguncang bahunya.
“Ya ampun...apa yang terjadi dengan gadis ini.Dia ketakutan setelah melihatku sampai pingsan begini.” Rasa bersalah menyelimuti perasaan Rayyan.Setelah menyadari perbuatannya waktu itu ternyata berdampak buruk pada
Mentari. Bukan hanya pada fisik tapi psikis Mentari juga terganggu.
Tanpa pikir panjang, Rayyan mengangkat tubuh mentari untuk membawanya kerumah sakit. Begitu keluar dari privat room, Sandra dan David asisten Rayyan menyambutnya dengan kepanikan.
“Kenapa dengan mentari?.” Tanya Sandra dengan wajah panik dan hampir menuduh Rayyan melakukan hal buruk pada sahabatnya.
“Saya tidak tau. Tiba-tiba ia berteriak histeris begitu melihat saya, dan akhirnya pingsan.”
Yang di khawatirkan Sandra terjadi juga. Mentari mengalami hal yang sama seperti kemarin ketika melihat Rayyan
“Nona Sandra, saya akan membawanya kerumah sakit.Sebaiknya anda ikut dengan saya.”
Sandra mengangguk dan mengekor di belakang Rayyan yang melangkah ke mobilnya.
Sandra duduk cemas di kursi belakang ,dengan kepala Mentari berada di pahanya. Sementara Rayyan sesekali melihat kondisi Mentari dari kaca spion dan tak kalah cemasnya.
“Apa yang terjadi pada Mentari, itu semua gara-gara kamu!.” Ucap Sandra saat tak lagi bisa menahan rasa amarahnya pada Rayyan.
“Maafkan saya nona Sandra. Saya tak bermaksud membuat teman anda seperti ini.Apa yang saya lakukan sungguh di luar kesadaran saya, karena waktu itu saya sedang mabuk. Saya akan bertanggung jawab nona.”
Sandra terdiam mendengar ucapan Rayyan yang terdengar lembut dan tak menunjukkan kesombongannya seperti waktu itu.
“Oh ya nona....apa kemarin dia pingsang juga karena melihat aku..?.”
“Iya.....kemarin Mentari berteriak ketakutan sesaat setelah melihat anda.” Jawab Sandra terlihat menurunkan amarahnya dan kembali menggunakan kata anda.
“Ya tuhan....kasihan sekali gadis ini, harus mengalami hal seperti ini gara-gara perbuatan bodohku. Setelah mama, sekarang gadis ini yang aku buat menderita.” Rasa sesal berkecamuk di dada Rayyan. Dan rasa sesal itu telah merobohkan kesombongannya sebagai seorang direktur sukses yang memiliki segalanya.
Dengan tangan kekarnya, Rayyan kembali mengangkat tubuh Mentari sampai di ruang UGD, meski sebenarnya ia bisa menggunakan brankar.
Sandra dan Rayyan masih menunggu hasil pemeriksaan dokter di depan ruang UGD. Meski tampak tenang, tapi sebenarnya hati Rayyan merasa cemas. Cemas karena ia yang bertanggung jawab dengan apa yang terjadi pada Mentari.
Akhirnya dokter yang menangani Mentari keluar dari ruang UGD dan langsung di sambut oleh Rayyan serta Sandra.
“Bagaimana kondisi teman saya dok?.” Tanya Sandra tak sabar mendengar jawaban dokter.
“Kalian teman pasien?.”
“Iya dokk...” Jawab Sandra bebarengan dengan Rayyan.
__ADS_1
“Silahkan ikut saya, nanti akan saya jelaskan.”
Rayyan dan Sandra mengikuti sang dokter menuju ruangannya.
“Silahkan duduk...” Perintah dokter begitu mereka sampai.
Rayyan dan Sandra duduk, berharap segera mendapat penjelasan dari dokter tentang keadaan Mentari.
“Bahgaimana kondisi teman kami dok.” Rayyan langsung bertanya begitu dokter duduk setelah mencuci tangan.
“Teman anda secara fisik tidak ada masalah, dia sehat. Dia hanya mengalami shok yang berlebihan.Sepertinya ada hal yang tengah mengguncang jiwanya.”
“Dia memang sedang menghadapi masalah yang berat dok. Kemarin dai juga mengalami hal seperti ini.” Jelas Sandra.
Sang dokter tampak berpikir.
“Sebelum teman anda semakin terguncang, sebaiknya bawa dia ke psikolog. Psikolog akan membantu teman anda meringankan beban mentalnya.”
Sandra dan rayyan saling pandang.
“Baik dok,saya akan membawa teman kami ke psikolog.” Jawab Rayyan sunggu-sungguh.
“Apa sekarang teman saya sudah sadar?.”Sambung Sandra.
“Belum....teman nona masih pingsang. Setelah siuman nanti dia harus banyak istirahat, dan usahakan ia tidak berpikir berat agar jiwanya tak kembali terguncang.”
“Baik dok. Terima kasih atas informasinya. Kalau begitu kami permisi.”
“Sama-sama. Silahkan...”
Keduanya kembali ke ruang UGD.
“Nona Sandra, sebaiknya saya tidak menemui teman anda sekarang. Saya tidak mau kejadian seperti tadi terulang jika dia melihat saya..”
“Ya...memeng sebaiknya seperti itu.”
“Bawalah dia ke orang ini.” Rayyan menyerahkan sebuah kartu nama.”Dia teman baik saya yang bekerja sebagai seorang psikolog. Nanti saya juga akan bicara dengannya. Semua biaya saya yang akan menanggung.”
“Baiklah....saya akan mengajak mentari menemui psikolog. Semoga saja dia mau.”
“Saya harap anda bisa membujuknya.”
“Hem...kenapa anda sekarang begitu peduli dengan teman saya? Padahal kemarin anda merendahkannya dan sempat menolak untuk bertanggung jawab”
“Saya mohon maaf atas sikap saya waktu itu. Tapi sekarang saya akan benar-benar bertanggung jawab karena apa yang terjadi dengan teman anda semua karena perbuatanku.”
“Dikasih makan apa ini orang oleh ibunya, sampai ia bisa berubah secepat ini.” Batin Sandra.
“Kalau begitu saya pamit nona. Tolong kabari saya, jika teman anda mau menemui psikolog.”
Sandra mengangguk. Yang kemudian ditinggalkan oleh Rayyan.
“Dia kelihatan manis kalau bersikap seperti tadi.” Gumam Sandra tak sadar mengagumi Rayyan. Namun ia segera menepis kekagumannya\, karena Rayyan tetaplah seorang pemerk*s*.
__ADS_1