Menaklukan Mentari

Menaklukan Mentari
Spesies Langka


__ADS_3

Mentari meronta, untuk bisa lepas dari pelukan Rayyan.Tapi aroma tubuh suaminya seolah menghipnotis, sehingga ia berhenti meronta dan menumpahkan tangisnya dalam pelukan pria itu bersama kenyamanan yang ia rasakan.


Tangis Mentari mereda, dan segera menarik tubuhnya.Ia tersadar jika ia telah terlena oleh pelukan suaminya. Ia mundur beberapa langkah menjauh dari Rayyan. Dan menghapus sisa-sisa air mata yang masih tersisa di pipinya.


“Jangan suka marah-marah, kasihan anak kita.” Ucap Rayyan menasehati istrinya. Pria itu terpaksa menarik tangannya karena ditolak ketika hendak memberikan sapu tangan.


“Kalau kamu tidak berbuat seenaknya aku tidak akan marah....”Emosi Mentari telah mereda.Terdengar dari nada bicaranya yang terdengar pelan dan tenang.


“Maaf...aku tidak bermaksud membuat kamu marah. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya di lakukan oleh seorang kepala keluarga. Menjaga Nenek dan kamu  adalah tanggungjawabku. Jadi kamu seharusnya tidak mempermasalahkan tentang biaya rumah sakit yang telah aku keluarkan.”


“Waktu itu aku sudah mengatakan, pernikahan kita hanyalah pernikahan di atas kertas. Aku sebagai istri tidak akan meminta hakku dan tidak akan melakukan kewajibanku, begitu juga sebaliknya. Dan hal itu menjadi kesepakatan kita. Tapi kenapa sekarang kamu melanggarnya.“


“Pernikahan yang kita lakukan kemarin adalah pernikahan yang sah dimata tuhan, agama maupun negara. Meski kau mengatakan pernikahan kita hanya pernikahan di atas kertas, itu tidak akan pernah bisa merubah makna dan status pernikahan kita.Kita telah terikat oleh sebuah ikatan suci yang membuat hubungan kita menjadi hubungan yang halal. Dimana di dalamnya melekat hak dan kewajiban kita sebagai suami istri. Jadi kesepakatan yang kamu buat itu suatu hal yang salah, dan tidak salah jika aku akhirnya harus melanggarnya. Terserah kamu mau terima atau tidak. Yang pasti sejak aku menikahimu maka sejak itu kamu menjadi tanggungjawabku. Aku akan memberikan hakmu dan melakukan kewajibanku.”


“Tapi aku tidak mau.”


“Itu hak kamu.Aku tidak akan memaksamu untuk memberikan hakku dan melakukan kewajibanmu. bahkan akupun tidak akan memintamu untuk berhenti membenciku. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Tapi jangan pernah


melarangku untuk berbuat apa yang aku mau, termasuk menjagamu den nenek, serta menafkahimu secara lahir dan batin.”


“Ternyata bukan saja sombong\, breng*** tapi kamu juga pria yang tidak bisa dipegang ucapannya.”


“Silahkan nilai aku semaumu. Aku terima kok...” Ucap Rayyan yang melangkah pergi.


“Aku belum selesai bicara...!.”

__ADS_1


“Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi.” Rayyan terus melangkah, tak peduli  dengan Mentari yang berusaha mencegahnya.


“Aku akan menganggap uang yang telah kamu keluarkan untuk biaya perawatan nenek sebagai hutang.Suatu saat aku akan melunasinya.” Ucap Mentari dengan nada suara yang sedikit ditinggikan.


Kali ini Rayyan menghentikan langkahnya, dan berbalik.


“Uang yang aku keluarkan itu untuk nenek bukan untuk kamu.Jadi kamu tak berhutang kepadaku.”


Rayyan kemudian kembali berbalik dan kembali melangkah pergi.


“Nenek adalah tanggung jawabku, jadi aku yang akan membayarnya.”


Rayyan benar-benar melangkah pergi, tak lagi menggubris ucapan Mentari. Pria itu melangkah ke luar rumah sakit, dan pergi kehotel miliknya. Sengaja ia melakukan itu, karena ia tak ingin lagi berdebat dengan Mentari, karena ia takut perdebatan itu akan berubah menjadi pertengakaran yang bisa menyakiti. Dan itu tidak baik untuk Mentari yang sedang hamil muda dan berada di masa-masa rentan untuk calon anaknya yang baru berusia beberapa


Melihat Rayyan yang terus melangkah pergi, Mentari memutuskan untuk kembali ke kamar neneknya. Ada kecewa dihati perempuan itu, mengetahui Rayyan tak menepati ucapannya. Sekarang ia bingung harus bagaimana. Ia tak


sanggup jika nantinya ia harus berhadapan dengan Rayyan setiap hari, apa lagi jika harus melayaninya.Ia jadi membayangkan, tiap pagi ia harus membuatkan sarapan untuk Rayyan, mencuci dan menyetrika bajunya, membuatkannya kopi, dan kemudian bergidig saat membayangkan jka ia tidur satu ranjang dengan Rayyan.


“oh.....Tidak...tidak.....itu tidak boleh terjadi.....Tapi nenek......hah nenek pasti akan memarahiku jika aku ketahuan tidak melayani Rayyan dan nenek pasti akan menanyakan kenapa aku seperti itu....hoh......”Mentari  menggunakan dua telapak tangannya untuk mengusap wajahnya dengan gerakan cepat, karena kesal dan bingung. Wajahnya tampak kusut dan tak bersemangat.


Namun kemudian setelah tampak berpikir, kusut di wajah Mentari berangsur memudar setelah ia teringat sesuatu.


“Semoga saja Rayyan tetap berpura-pura pergi keluar negri....dan dia tidak boleh berubah pikiran. Ya...itu satu-satunya cara agar aku bisa jauh dari Rayyan.” Setelah merasa yakin dengan apa yang dia pikirkan, Mentari masuk kedalam kamar. Dan ia mendapati neneknya sedang berusaha turun dari ranjang.


“Nenek....!!”Teriak Mentari kaget dan langsung melangkah cepat  mendekati neneknya “Nenek mau kemana?. Nenek tidak boleh turun ranjang.”

__ADS_1


“Nenek ingin ke kamar mandi, buang air sekalian wudlu.Sebentar lagi magrib.” Jawab nenek Winarsih yag telah berhasil turun dari ranjang dan berdiri tegak.


“Kan bisa dilakukan diranjang nek, nanti Tari ampilkan air dan pispot.”


“Tidak usah nenek masih bisa jalan kok....”


Tak bisa membantah, akhirnya Mentari hanya bisa membantu memapah neneknya dengan satu tangan sementara tangan yang lain memegangi botol impus. Dengan sangat hati-hati, keduanya melangkah masuk kedalam kamar mandi.


Rayyanpun tengah berada dikamar mandi , tepatnya kamar mandi hotel. Merendam tubuhnya di bathub. Matanya terpejam, namun pikirannya tengah melayang pada gadis yang masih dicintainya Nania. Gadis itu telah tiada, tapi


kenangan-kenangannya masih tertinggal dan luka yang gadis itu berikan masih terasa menyayat.Rayyan masih belum bisa melupakan Nania, dia juga belum bisa menghapus rasa cintanya pada gadis itu kendati ia telah dihianati.


Bibirnya tersenyum saat kenangan manis bersama Nania melintas dalam benaknya.Sejenak ia terlena dengan kenangan-kenangan manis itu, hingga ia akhirnya membuka mata saat wajah mentari yang muncul dalam pikirannya.


“Gadis keras kepala....Gadis yang aneh.....Aku sudah memperlakukandia dan neneknya dengan baik, memberi fasilitas yang baik untuk neneknya, tapi tetap saja dia membenciku!.Dia gadis pertama yang tidak menyenangiku..... padahal di luar sana banyak gadis yang mengejarku,mengagumiku bahkan berharap bisa menjadi


kekasihku,menikah denganku.Tapi dia malah tampak sangat terpaksa menikah denganku.Benar-benar


gadis yang aneh.”Pikir Rayyan yang kemudian merasa tertantang untuk bisa membuat gadis itu tidak membencinya lagi dan ingin tahu lebih jauh bagaimana kehidupan istrinya itu.


Menurutnya Mentari seperti spesies langka di muka bumi ini. Karena kebanyakan wanita akan tergila-gila pada pria tampan dan mapan seperti dirinya. Sementara Mentari malah membencinya. Yah memang Rayyan tahu alasan


utama Mentari membencinya, tapi seharusnya wanita itu berusaha membuang rasa bencinya karena Rayyan mau bertanggung jawab dengan mau menikahinya.


Merasa tak lagi bisa menggunakan otaknya untuk memikirkan Mentari, Rayyan memilih menyelesaikan mandinya dan memutuskan bagaimanapun sikap Mentari padanya, ia akan tetap berusaha agar pernikahannya dengan wanita itu menjadi pernikahan pertama dan terakhir baginya. Anaknya tak boleh menjadi korban perceraian seperti dirinya.

__ADS_1


__ADS_2