
Sikap Mentari hari ini cukup membuat perasaan Rayyan campur aduk. Mentari mampu membuat dirinya seperti pria dengan banyak keburukan dengan menunjukkan rasa bencinya. Tetapi ia juga bisa membuat Rayyan seperti pria istimewa, sampai-sampai ia mau makan makanan bekas Rayyan.Terlepas dari alasan di baliknya.
Perasaan yang timbul bukan karena adanya ruang di hati Rayyan untuk Mentari. Meski Mentari terlihat menarik di mata Rayyan, tetapi hal itu belum mampu membuat hati Rayyan terbuka dan menghapus nama Nania di sana.
Ia hanya baru sebatas mengagumi.
Bukan hanya mengagumi kecantikan Mentari tetapi juga mengagumi
kepribadiannya, yang sederhana dan tidak silau dengan apa yang dimiliki Rayyan.
Sikap Mentari yang perhatian dan berbakti pada neneknya juga memiliki nilai
tersendiri di mata Rayyan. Meski sang nenek bukan wanita yang melahirkannya
tapi Mentari memperlakukannya seperti seorang ibu kandung. Berbeda dengan Rayyan yang telah menyakiti ibu kandungnya sendiri, sampai wanita yang seharusnya ia perhatikan dan hormati memilih mati daripada terus hidup bersamanya. Sesal yang menyakitkan mengantar Rayyan untuk berubah menjadi sosok yang lebih baik. Tak lagi mengagungkan harta yang ia miliki, karena harta dan kedudukannya telah menjadi sebab ia kehilangan ibunya.
Kini hadir satu perempuan dalam hidup Rayyan, setelah kepergian dua wanita yang begitu berarti baginya. Kehilangan yang begitu menyakitkan tak ingin Rayyan rasakan lagi.
Mentari dan ibunya adalah dua wanita yang telah ia sakiti. Ibunya telah pergi, maka Mentari tak akan ia biarkan pergi. Akan ia pertahankan meski Mentari ingin bercerai darinya setelah anak mereka lahir.
Ia akan berjuang mempertahankan pernikahannya, berjuang untuk mendapatkan cinta istrinya meski ia harus berjuang sendiri. Rayyan yakin perjuangannya akan berbuah manis, suatu saat ia bisa mendapatkan cinta Mentari. Dan sekarang ia akan memulai perjuangannya.Ia juga akan memulai untuk membuka hati,untuk bisa mencintai Mentari.
“Masih lapar?. “ Tanya Rayyan begitu melihat Mentari memasukan makanan terakhirnya. Mentari menggelang dan segera membereskan piring setelah sebelumnya ia meminum air putih digelas Rayyan sampai habis.
“Makasih....” Ucap Mentari yang kemudian bangkit dari duduknya menghampiri sang nenek.
Rayyan hanya tersenyum tanpa melepas pandangannya pada wanita yang ia yakini suatu saat akan menua bersamanya.
Malam makin larut, penghuni kamar VVIP telah terlelap. Malam ini nenek Winarsih tidak tidur sendiri, tapi juga di temani tiga orang yang sejak tadi bersamanya. Termasuk David, yang berpura-pura sakit kepala agar bisa tidur di tempat itu.
Kondisi nenek Winarsih telah membaik. Dihari ketiga perempuan itu diijinkan pulang oleh dokter. Pukul tiga sore Rayyan meninggalkan pekerjaannya untuk menjemput nenek Winarsih untuk pulang kerumah.
Setelah memberitahu David jika ia tidak kembali ke kantor, Rayyan membaringkan tubuhnya di kamar dan langsung tertidur. Sementara Mentari melayani neneknya dan membereskan rumah yang tiga hari di tinggalkan.
Hari makin sore. Menyadari tak punya bahan makanan untuk makan malam,Mentari memutuskan untuk pergi mencarinya. Gerakannya saat hendak
__ADS_1
mengambil dompet dan kunci motor di kamar membangunkan Rayyan.
“Kamu mau kemana?.” Tanya Rayyan karena melihat Mentari memegang kunci motor.
“Kewarung....” Jawab mentari datar.
Rayyan langsung bangkit dari ranjang, mendegar jawaban Mentari.
“Sini kuncinya....” Rayyan mengulurkan tangannya.
“Aku bisa pergi sendiri...!”
“Kamu sedang hamil, tidak baik bawa motor sendiri. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan calon anak kita.Apalagi ini sudah sore. Cepat sini kuncinya...!.”
Mentari akhinya menyerahkan kunci motor yang telah ia masukkan kedalam saku jaket.
“Aku cuci muka dulu.” Setelah menerima kunci motor, Rayyan bergegas ke kamar mandi untuk buang air kecil dan membasuh muka. Sementara Mentari menunggu di teras rumah.
Rayyan menarik tangan istrinya agar berpegangan pada pinggangnya saat keduanya sudah duduk diatas motor motor matic yang catnya terlihat memudar.
“Aku hanya tidak ingin kamu jatuh.” Ujar Rayyan karena Mentari menolak untuk berpegangan di pinggangnya.
“Tapi aku masih khawatir. Sebaiknya ubah posisi dudukmu.”
“Heh....ribet amat sih. Sini aku saja yang pergi. Tidak perlu diantar!.” Mentari tampak kesal menganggap Rayyan berlebihan.
“Aku hanya khawatir dengan keselamatan kamu dan calon anak kita. Ya sudah... Naiklah. Duduklah senyaman mungkin. Tapi marahnya udahan....tidak baik untuk perkembangan janin.” Balas Rayyan akhirnya mengalah dan tampak sabar.
Mentari yang sempat turun dari motor akhirnya naik kembali dengan posisi duduk yang berbeda dari sebelumnya. Meski sempat marah, tapi ternyata Mentari menuruti kemauan Rayyan mengubah posisi duduknya.
Tak ada yang bicara selama perjalanan, sampai mentari minta berhenti di sebuah warung sembako.Hampir Lima belas menit Rayyan menunggu istrinya belanja tapi saat keluar dari warung, tak anyak barang belanjaan yang ia bawa.
Saat melangkah kearah suaminya, Mentari menunjukan wajah kesal.
“Kamu yang memasukan uang ini kedompetku?.” Ucap Mentari dengan menunjukkan dompetnya yang berisi banyak lembaran uang pecahan seratus
__ADS_1
ribuan.
“Iya,itu uang bulanan buat penuhi kebutuhan rumah serta kebutuhan kamu dan nenek, jika kurang nanti aku tambah. Tenang aku hanya membuka kantong tempat uang kok, tidak membuka sisi yang lain.”
“Lain kali jangan lagi beri aku uang, karena aku tidak mau kamu melakukan kewajibanmu.”
“Aku hanya tidak ingin menambah dosaku yang telah begitu banyak, dengan tidak melakukan kewajibanku sebagai suami. Sudahlah....hal ini tidak perlu kamu permasalahkan lagi karena meski kamu menolak aku akan tetap memberikannya." Ucap Rayyan tegas."Hari sudah sangat sore, ayo kita lekas pulang.Kasian nenek kalau ditinggal terlalu lama.” Rayyan tidak ingin berdebat lagi dengan istrinya, apa lagi mereka sedang berada ditempat umum. Jadi ia segera menyalakan motor dan menyuruh mentari untuk segera naik.
“Kamu tidak membeli sayur?” Tanya Rayyan karena tak melihat ada sayuran di belanjaan Mentari.
“Tidak ada sayuran di warung itu. Lagian sudah sore tidakada yang menjual sayur.” Jawab Mentari, yang kali ini terdengar bernada.
“Nenek dan kamu itu harus banyak makan sayur. Nanti kamu catat saja sayur apa yang kamu suka dan nenek suka. Serta kebutuhan dapur lain yang tidak ada dirumah.”
“Buat apa?.”
“Catat saja!.”
Mentari terdiam.“Apa mungkin Rayyan akan pergi belanja membeli sayur dan kebutuhan dapur?.” Gumam Mentari dalam hatinya.
“Biar besok aku saja yang belanja sayur dan kebutuhan lainnya.”Ucap mentari yang mengira jika Rayyan akan pergi berbelanja kebutuhan dapur.
“Aku baca diinternet, usia kandungan di tri semester pertama itu sangat rentan. Berbahaya jika si ibu terlalu capek atau kurang istirahat.Jadi kamu tetap di rumah tidak usah pergi kemana-mana. Dan jangan melakukan pekerjaan yang berat-berat termasuk belanja, apa lagi naik motor. Aku tidak ijinkan itu.”
“Kamu tidak berhak melarangku, dan aku tidak perlu ijinmu untuk melakukan apa yang mau aku lakukan. Jadi aku tidak akan menuruti maumu."
“Aku tau kamu wanita yang taat beragama, dan aku yakin ilmu agamamu jauh lebih tinggi dari aku. Pastinya kamu juga tau bagaimana hukum seorang istri yang membantah perintah suaminya di mata agama.” Ucap Rayyan. Ucapan Rayyan mengunci mulut Mentari, gadis itu tak mampu berucap apa-apa lagi. Karena
sedikit banyak ia memang tau tentang hukum-hukum pernikahan termasuk hak dan kewajiban seorang istri atau suami di dalam agamanya. Tapi karena amarah dan kebencianya pada Rayyan, membuatnya seperti orang yang tabu akan hal itu.
“Kamu mau duduk di motor sampai malam?.” Ucap Rayyan karena Mentari tetap duduk terdiam di motor meski mereka sudah sampai di halaman
rumah. Mentari tampak terkejut dan langsung bergegas turun dari motor. Ia
langsung masuk rumah masih dengan diamnya.Tak berapa lama Rayyanpun menyusul.
__ADS_1
🥰🥰🥰
Habis baca jangan lupa tinggalin jejak....dan jangan lupa kasih nilai....🥰🥰