
Tak pedulikan suara suaminya yang terus meminta untuk menunggunya, Mentari terus melangkah menuju kamar hotel dimana ia meninggalkan pakaian gantinya disana.Ia langsung masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu. Dibawah shower dengan air yang mengucur deras, Mentari mengguyur tubuhnya yang tampak padat berisi dengan perut yang tak lagi rata. Suara air yang deras, mengaburkan suara ketukan pintu.
Tok.....tok....tok
“Sayang....buka pintunya.....!” Rayyan yang berniat mandi bersama istrinya, langsung mengetuk pintu kamar mandi. Tapi ia harus kecewa karena pintu tak kunjung di buka.
Melihat pakaian Mentari yang tergeletak di atas kasur, menimbulkan senyum di bibir Rayyan yang hanya memakai bathrobe.Entah apa yang ia pikirkan, sehingga pria itu menyembunyikan pakaian istrinya di bawah selimut.Setelah itu ia menunggu istrinya di luar kamar.
Selesai mengeringkan tubuhnya, Mentari mencari pakaiannya yang ternyata lupa ia bawa. Dia tampak bingung. Tak mungkin ia keluar hanya memakai handuk jika suaminya ada di dalam kamar. Untuk memastikan keberadaan suaminya,pelan-pelan Mentari membuka pintu dan hanya kepalanya yang tampak menyembul dari balik pintu.
Setelah mendapati kamar itu kosong Mentari yang merasa lega melangkah keluar. Saat tengah mencari pakaiannya, Rayyan tiba-tiba masuk membuat Mentari langsung naik ke atas ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
“Aku mau ganti pakaian. Kamu keluar dulu.” Pinta Mentari pada suaminya yang melangkah ke arahnya.
“Kenapa aku harus keluar.Kalau mau ganti baju, ganti aja.Nggak apa-apa.” Kini Rayyan telah duduk di ranjang, di samping tubuh mentari yang duduk dengan tubuh terbungkus selimut rapat.
“Tapi aku tidak biasa ganti baju di depan laki-laki.”
“Kalau didepan laki-laki ini kamu harus mulai terbiasa, karena laki-laki ini adalah suamimu... ” Seraya tersenyum tangan Rayyan pelan-pelan menarik selimut yang menutupi tubuh Mentari. Tapi Mentari tak membiarkan itu. Tangannya mencengkram kuat agar selimut tak terlepas.
“Aku hanya ingin membantumu ganti pakaian.”
“Aku bisa sendiri. Lebih baik kamu segera mandi agar kita bisa cepat pulang.”
Bukannya menuruti ucapan Mentari, Rayyan malah memeluk tubuh wanita yang tengah cemas dan jantungnya berdebar kencang.
“Aku kangen banget sama kamu sayang.....kangeeeen banget.......Aku ingin berduaan sama kamu saharian ini. Maukan?.”
“Enggak mau....!.”
__ADS_1
Mentari tampak makin cemas bercampur kesal. Setelah melihat pakaiannya, wanita itu perlahan menggeser tubuhnya agar bisa turun dari ranjang, tapi sebagian selimut tertindih tubuh Rayyan yang makin erat memeluknya, membuatnya tak bisa bergerak lagi. Jika di paksa maka selimut itu akan terlepas.
“Kenapa ?.” Tanya Rayyan setengah berbisik di telinga Mentari. Sehingga hembusan nafas pria itu begitu terasa menyapu daun telinga.
“Nggak papa....” Mentari gugup begitu sebuah kecupan mendarat di leher jenjangnya.
“Kalau nggak papa kamu mau kan kita disini dulu. Aku benar-benar ingin berduaan sama kamu.” Kembali Rayyan mengecup leher istrinya dengan lembut. Membuat tubuh wanita itu meremang dan mulutnya seperti kehabisan kata-kata untuk menolak ketika ciuman Rayyan bertubi-tubi mendarat di leher dan pipinya. Rasa cemas dan kesal berubah menjadi rasa yang lain, rasa yang aneh ia rasakan.
“Tapi...tapi....” Tubuh mentari telah berganti posisi, setelah Rayyan menarik tubuhnya sampai berbaring. Begitu juga Rayyan, yang juga kini berbaring dengan lengan menahan kepala Mentari.
“Aku sangat mencintaimu...Aku sayang sama kamu. Perasaan ini tulus bukan karena kamu mirip Nania. Aku akan membayar kesalahanku dengan menjadikanmu ratu dalam hidupku, dan kamu satu-satunya wanita yang kucintai.” Ucapan tulus meluncur sempurna dari bibir Rayyan, dengan tatapan penuh cinta. Terdengar begitu merdu di telinga Mentari, membuai wanita itu sehingga tak kuasa menolak sentuhan dari suaminya meski batinnya menentang.
Dengan tatapan yang mengunci, tangan Rayyan terus membelai wajah dan rambut istrinya. Sampai akhirnya mentari memejamkan mata karena bibir suaminya menempel di bibirnya.
Ciuman Rayyan semakin dalam tanpa ada penolakan meski juga tak ada balasan.
Sementara Rayyan terus menyerangnya dengan ciuman dan sentuhan lain, Mentari sibuk dengan dirinya. Tubuhnya menerima, tapi di dalam benaknya terjadi pertentangan.
Terus saja terjadi pertentangan.Dan pertentangan itu baru berakhir setelah tangan Mentari melingkar di leher Rayyan yang telah berada di atas tubuhnya dengan tubuh yang polos tanpa sehelai benang, begitu juga dengan dirinya.
Membiarkan suaminya menguasai tubuhnya. Menikmati apa yang tengah suaminya berikan dan tanpa malu iapun membalas ciuman suaminya.Membuka mulutnya, membiarkan suaminya menjelajah dan memainkan lidahnya di sana.
Seperti mendapat lampu hijau, Rayyan makin buas menyerang istrinya dengan ciuman dan sentuhan. Meninggalkan jejak kepemilikan di tubuh istrinya itu.
Nafas memburu terdengar memenuhi ruang, diselingi sura-suara erotis dari keduanya, meski belum mencapai puncak.
Dari ujung kepala sampai ujung kaki tak ada yang lolos dari luapan hasrat Rayyan. Dan bagian inti Mentari menjadi tempat terindah bagi Rayyan. Mentari dengan mata terpejam mendesah pelan ketika bibir suaminya bermain di
area intinya.
__ADS_1
Setelah merasa cukup bermain diluar, dan hasrat yang makin membuncah akhirnya Rayyan memasukan miliknya kedalam tubuh istrinya yang terasa sempit dengan pelan dan lembut, mengingat di dalam sana ada dua calon buah hatinya yang tidak boleh terusik.
Setelah tak mampu lagi menahan, tubuh Rayyan menegang, bibirnya mengerang bersamaan dengan miliknya yang melakukan pelepasan. Meski telah mencapai puncak bukan berarti kegiatan dua insan itu berakhir,kegiatan itu terus berlanjut dan baru berhenti saat tubuh mereka tak mampu menahan lelah setelah beberapa kali pelepasan.
“Terima kasih sayang....”Ucap Rayyan setelah mengecup kening Mentari. Tak berapa lama iapun terlelap dengan memeluk tubuh polos istrinya di bawah selimut.
Sepasang suami istri itu benar-benar di buat kelelahan, sehingga keduanya tertidur dengan nyenyak sampai melewatkan jam makan siang.
Rayyan yang pertama terbangun tersenyum begitu membuka mata wajah istrinya yang pertama nampak di penglihatannya. Melihat tanda kepemilikan yang ia tinggalkan di tubuh Mentari membuat pria itu bahagia, karena merasa telah memiliki Mentari seutuhnya.
Rayyan memilih turun dari ranjang untuk membersihkan diri tanpa membangunkan istrinya sebelum hasratnya muncul kembali. Sampai Rayyan selesai berpakaian, Mentari masih tertidur. Terpaksa pria itu meninggalkan istrinya, karena ia harus menemui seseorang di restoran hotel. Sebelum beranjak pergi, Rayyan mencium kening dan pipi istrinya,dan berjanji akan segera kembali.
Setengah jam kemudian Mentari akhirnya terbangun. Semula ia terkejut dengan tubuhnya yang tanpa busana,namun kemudian ia tampak kesal dan menyesal setelah teringat apa yang telah terjadi dengan dirinya bersama sang suami.
Ia meruntuki kebodohannya yang dengan mudah terlena dengan buaian Rayyan meski ia tak memungkiri jika ia juga menikmatinya.Seharusnya ia bisa menahan diri. Bagaimanapun Rayyan adalah orang yang telah menyakitinya dan ia tak mencintainya.
Wanita itu di buat frustasi dengan pemikirannya sendiri, ia selalu menolak ketika hati kecilnya mengatakan jika apa yang ia lakukan dengan Rayyan adalah hal yang semestinya terjadi sebagai sepasang suami istri..
Lama wanita itu termenung, yang pada akhirnya ia bisa menasehati dirinya sendiri dan menerima apa yang telah terjadi. Dan ia tak perlu menyesal karena ia tak melakukan zina. Iapun tak harus marah pada Rayyan karena pria itu tidak sedang mengulang perbuatannya yang dulu.
Sesaat kemudian wanita mencari keberadaan sang suami sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi karena ia tak mungkin mencarinya di luar kamar dengan tubuh yang hanya berbalut handuk dengan banyak tanda merah.
“Hah.....”Rayyan terdengar membuang nafas ketika baru saja duduk disofa setibanya dari menemui seseorang. Wajahnya menyiratkan jika sedang ada sesuatu yang tengah ia pikirkan.
“Maaf ya aku tinggalin kamu, aku ada urusan tadi.” Ucap Rayyan merasa bersalah karena sebenaranya bukan sebentar ia meninggalkan istrinya.
“Iya” Balas Mentari yang baru selesai memakan makanan yang di antarkan oleh pegawai hotel atas perintah suaminya.” Sudah sore kita pulang sekarang!.”
“Kita menginap ya disini. Hitung-hitung bulan madu.”
__ADS_1
“Kamu bulan madu sendirian saja, aku mau pulang.” Sudah terbayang diotak Mentari apa yang akan terjadi jika dia mengiyakan keinginan suaminya.
Mentari bangkit dari duduknya. Setelah mengambil tasnya, wanita itu bergegas melangkah keluar kamar. Rayyan tak bisa mencegahnya. Lelaki itu akhirnya mengikuti istrinya keluar hotel.