Menaklukan Mentari

Menaklukan Mentari
Dua Wanita yang Disakiti


__ADS_3

Selamat Membaca......😍


📖📖🌹🌹


“Sudah siap Tar?.” Tanya Sandra yang turun dari mobil dengan membawa sebuah kantong plastik besar.


“Sudah...tinggal berangkat aja.”


“Sip....pesannku nggak lupa kan...?.”


“Enggak...tuh dah aku siapkan.” Jawab mentari sembari menunjuk beberapa bungkusan kue di atas meja.


“Oke...bahannya aku ganti.”


“San...udah aku bilang...nggak usah di ganti.”


“Iya....lain kali aku nggak akan ganti kok.”


“Heh...omong kosong....!!” Ucap Mentari, karena Sandra tak pernah menepati ucapannya.


Sandra hanya tertawa.  Sandra akan selalu mengganti bahan yang dipakai Mentari untuk pesanan kuenya, meski Mentari menolaknya.


 “Yuk San...jalan...”Ucap Mentari lima menit kemudian, dengan kue yang telah di kemas rapi dan siap diantar ke pemesan.


Setelah pamit pada neneknya yang tengah terbaring di kamar,Mentari dan Sandra pergi kealamat pemesan kue yang berada di kawasan perumahan elit. Sandra memelankan laju mobilnya, saat berada di jalan sebuah komplek yang penuh karangan bunga tanda bela sungkawa serta bebarapa mobil yang sepertinya baru saja berhenti di depan sebuah rumah mewah yang halamannya juga penuh dengan kendaraan.


Rumah pemesan kue tepat berada di depan rumah yang sedang berkabung. Terpaksa setelah Mentari turun, Sandra memarkirkan kendaraannya agak jauh agar tak menghalangi kendaraan lain yang hendak lewat.


Saat melangkah ke arah pintu gerbang rumah yang di tujunya,mata Mentari bersitatap dengan seorang pria berpakaian serba hitam yang baru saja turun dari mobil. Pria itu adalah Rayyan Arga yang baru saja pulang dari


pemakaman ibunya. Cepat-cepat ia memalingkan tatapannya kearah rumah yang ada didepannya. Berharap pemilik rumah segera keluar setelah ia menekan bel. Tapi ternyata pemilik rumah datang dari arah belakangnya.


“Nganter kue ya mbak...?” Tanya Seorang wanita paruh baya yang berpakaian serba hitam.


“Eh iya bu....Nganter pesanannya bu Widi.” Jawab Mentari ramah, pada wanita yang baru pertama kali pesan kue padanya.

__ADS_1


“Ya...saya bu Widi. Kuenya enak lho mba. Kemarin sempat mencicipinya waktu arisan di rumah teman....”


“Oh.....Alkhamdulillah....” Balas Mentari seraya menerima uang pembayaran kue dari bu Widi setelah ia menyerahkan kuenya. Mentari merasa aneh ketika bu Widi menatapnya dan seperti sedang berpikir.


“Wajah mbak mirip banget sama Nania,artis yang kemarin meninggal.” Akhirnya bu Widi bisa mengingat nama artis yang mirip dengan gadis didepannya.


Mentari hanya tersenyum. Dan memilih segera pamit pergi dari tempat itu. Ia malas mendengar orang menyebutnya mirip dengan Nania. Karena kemiripannya dengan Nania telah membuat ia kehilangan kehormatannya.


Mobil Sandra yang terparkir agak jauh darinya, memaksa Mentari berjalan beberapa meter dari tempatnya semula. Melewati  seseorang yang tengah menatapnya meski seseorang itu sedang berbicara dengan orang lain yang berdiri di depannya.


Pandangan Mentari fokus ke arah mobil Sandra. Tak ingin menoleh kearah dimana ia sempat melihat Rayyan. Langkahnya di percepat, tak ingin berlama-lama di tempat itu.


“Jalannya biasa aja kali Tar....” Ucap Sandra dengan heran. Bukan hanya melangkah cepat, wajah mentari juga tampak tegang dan sedikit pucat.


“San, jangan lewat depan rumah itu lagi bisa nggak..” Permintaan Mentari menambah rasa heran Sandra pada sikap sahabatnya.


“Bisa, tapi terlalu memutar dan akan memakan banyak waktu.Terus apa aku harus memutar mobilku lagi, susah lho tadi parkirnya. Kenapa si....?.”


“Enggak apa-apa....”


“Rayyan Arga!....iya itu benar Rayyan Arga.” Gumam Sandra yang terkejut dan hampir mematikan mesin mobilnya ketika ia teringat jika Rayyan punya janji padanya. Tapi Sandra kembali melajukan mobilnyam, melihat Mentari yang sepertinya tidak nayaman berada ditempat itu.” Sepertinya dia yang membuat Mentari minta lewat jalur lain.” Sandra kembali bergumam dan melirik ke arah Mentari. Rayyan sempat melihat kearahnya ,saat mobilnya kembali melaju.


Entah apa yang tengah dipikirkan oleh Rayyan Arga, sehingga ia termangu setelah mematikan ponselnya. Sejenak ia memandangi mobil Sandra yang makin jauh, sebelum akhirnya pria itu masuk kedalam rumah.


Wajah gadis yang untuk kedua kali ia lihat muncul di pelupuk mata Rayyan. Dan gadis itu adalah wanita kedua yang telah Rayyan sakiti setelah ibu kandungnya. Bukan tidak mungkin, gadis itu akan melakukan hal yang sama dengan


ibunya, mengingat ia telah menghancurkan masa depan gadis itu.


“Akh....jahat sekali aku ini....” Umpat Rayyan meruntuki perbuatannya saat melangkah masuk kedalam rumah.


Pikirannya tak lagi pada Mentari saat sampai di ruang tamu, tapi pada anak-anak kecil berpakaian muslim duduk rapi di lantai beralaskan karpet. Terdengar anak-anak yang berasal dari sebuah panti asuhan yatim piatu itu


melantunkan doa untuk almarhumah Nyonya Gayatri. Rayyan tidak mengerti, mengapa anak-anak itu ada dirumahnya.


Setelah selesai berdoa, salah seorang wanita mendekati Rayyan setelah bertanya pada salah satu ART.

__ADS_1


“Assalamu’alaikum tuan Rayyan....” Sapa wanita yang merupakan pengurus panti.


“Wa’alaikumsalam....” Jawab Rayyan terdengar kaku.


“Kami dari yayasan yatim piatu Al-Barokah, mengucapkan turut berbela sungkawa sedalam dalamnya atas wafatnya Nyonya Gayatri. Kami sungguh merasa kehilangan.”


“Merasa kehilangan? Anda mengenal baik ibu saya?.”


“Iya tentu, kami sangat mengenalnya. Anak-anak juga cukup dekat dengan beliau.Karena Beliau adalah donatur terbesar di panti kami. Setiap bulan beliau mendonasikan puluhan juta ke panti kami. Terakhir beliau


mendonasikan lima ratus juta.”


“Mama donatur terbesar di panti anda?.”


“Iya, apa anda tidak tau tuan?.”


Rayyan menggelang, dia sangat terkejut. Apa lagi uang yang ibunya donasikan cukup besar. Uang itu pasti uang darinya, yang tiap bulan ia transfer.


“Jadi uang yang aku berikan selama ini, mama sumbangin untuk anak-anak yatim itu bukan untuk yang lain.” Gumam Rayyan yang baru tau dengan perbuatan mulia ibunya.


“Dua kali dalam seminggu nyonya Gayatri pasti datang ke panti untuk menengok anak-anak. Bisa seharian beliau di sana. Kadang-kadang beliau membantu kami mengurus anak-anak, dari menemani anak-anak bermain,belajar, memakaikan baju dan banyak hal  lain yang nyonya lakukan disana. Terakhir beliau datang, beliau tidur siang bersama anak-anak. Katanya lagi kangen tidur sama anak-anaknya, tapi anak-anaknya sudah pada dewasa, jadi mungkin sudah tak mau tidur dengannya.”


Rayyan terdiam, membenarkan jika dirinya adalah anak yang telah mengabaikan ibu kandungnya sendiri. Sampai iapun tidak tau apa yang selama ini ibunya lakukan. Dan ia juga tidak tau jika ibunya mencari kehangatan sebuah keluarga di panti itu. Kehangatan yang tidak ada dirumahnya.


Setelah anak-anak panti pergi, Rayyan kembali termenung.Cerita ibu panti tentang ibunya menyentuh batinnya. Kembali ia menyesali perbuatannya. Jika waktu bisa di putar kembali ia ingin menjadi anak berbakti pada ibunya, merawat, dan memberinya limpahan kasih sayang. Tapi sayang nasi sudah menjadi bubur.


Wajah sang ibu memenuhi benak Rayyan. Ibu kandungnya sendiri tega ia sakiti sampai  ibunya memutuskan


bunuh diri. Dan kini ada satu wanita lagi yang telah ia sakiti. Dan ia tak mau, wanita itu melakukan hal yang sama dengan ibunya.


Ia berpikir untuk segera melakukan sesuatu agar hal buruk terjadi pada gadis tak berdosa itu.


“Akh......” Teriak Rayyan ketika ia lupa menyimpan nomor Sandra.Segera ia menghubungi sekertarisnya untuk mencari nomor Sandra yang ditulis di secarik kertas,yang mungkin masih ada di meja kerjanya.


🧚‍♂️🧚‍♂️🧚‍♂️🧚‍♂️

__ADS_1


Buat yang sudah mampir, makasih yaaaaa........jangan lupa tinggalin jejek 😘🥰


__ADS_2