
“Tari...Tari...bangun nak...!.”Nenek Winarsih berusaha membangunkan cucunya yang terus berteriak dalam tidurnya.
“Tolong..jangan....jangan.....tolonggg.......!!!.”Mentari masih terus berteriak.
“Tari....Tari....” Tangan tua Nenek winarsih terus mengoyang-goyang tubuh Mentari.Sampai akhirnya sang cucu terjaga dengan keringat meleleh di dahinya.
“Nenek.....kenapa ada disini.”Tanya Mentari kaget saat matanya terbuka ada nenek duduk di tepi ranjang dan masih memegangi kakinya.
“Teriakan kamu membangunkan nenek. jadi nenek kesini, takutnya kamu kenapa-napa. Ternyata kamu sedang mengigau.”
“Maaf nek...”Ucap mentari Merasa bersalah telah membuat neneknya terbangun dan khawatir.
Kejadian di apartemen Rayyan kembali muncul di mimpi Mentari. Dan itu bukan yang pertama. Karena di tidur malam maupun siang mimpi buruk itu selalu hadir menghantui. Membuat Mentari kehilangan banyak waktu
tidurnya dua hari terakhir.
“Lebih baik sekarang kamu solat, setelah itu kamu tidur lagi.” Nenek Winarsih melangkah keluar kamar diikuti cucunya yang akan meuruti perintahnya untuk solat.
Diatas sajadah, Mentari menumpahkan segala keluh kesahnya pada sang pencipta, sampai air mata keluar membentuk anak sungai di pipinya. Merasa lega, Mentari melipat alat solatnya dan mencoba melanjutkan tidurnya, berharap mimpi itu tak mengganggunya lagi. Dan benar, Mentari tidur nyenyak sampai pagi menjelang.
Hari ini, mentari akan menemui kekasihnya Dika. Keputusannya sudah bulat untuk meninggalkan Dika. Meski berat tapi Mentari harus melakukannya.Cintanya yang tulus nyatanya tak bisa membuatnya menjadi pemilik Dika
selamanya. Karena status sosial yang di cari oleh keluarga Dika.
Mata Mentari terus mengembun malah terkadang menitik membentuk butiran kristal yang meluncur di pipi putihnya saat jaraknya dengan Dika semakin terkikis.
__ADS_1
Gadis dengan raut kesedihan telah sampai di sebuah kafe,dimana kekasihnya telah menunggu. Sebuah pelukan menyambut mentari. Pelukan dari sang kekasih yang juga berwajah sedih.
“Mas....ada apa?.” Mentari merasa ada yang aneh dengan kekasihnya.
Disudut mata Dika tersimpan genangan cairan bening yang siap tumpah, tapi tangan Mentari segera melenyapkannya.
“Mas.....bicaralah.” Kembali Mentari bertanya setelah keduanya duduk.
“Maafkan aku Tari....” Ucap Dika di balik kesedihannya.
“Maaf untuk?.”
Dika kembali terdiam. Dia nampak gelisah dan bingung.Berkali-kali ia mengusap matanya yang terus berair.
“Mas.....jangan buat aku bingung.” Jawab Mentari yang sebenarnya mulai menerka-nerka, jika sikap Dika ada hubungannya dengan perjodohan yang dilakukan oleh orang tuanya.
“Iya mas....tapi maaf untuk apa. Mas nggak buat salah sama Tari.”
“Aku salah sama kamu Tari...aku ak bisa lagi mempertahankan kamu. Aku sudah kalah dalam memeperjuangkan kamu. Orang tuaku menjodohkanku dengan wanita lain. Dan aku tak bisa menolak. Tolong maafkan aku Tari.”Air mata Dika kali ini benar-benar tumpah disertai isak yang memilukan. Hatinya sangat sakit karena harus berpisah
dengan wanita yang sangat ia cintai.
Sebenarnya Tari juga merasakan hal yang sama, tapi ia berusaha untuk tegar. Perpisahan ini memang harus terjadi. Dan sejak neneknyameminta, ia sudah menyiapkan hatinya untuk menerima dengan ikhlas.
“Mas....jangan salahkan diri kamu, karena kamu tidak salah.Jika perjuanganmu berakhir seperti ini, mungkin
__ADS_1
ini sudah takdir dariNya yang harus kita jalani dan harus kita terima. Aku akan berusaha untuk ikhlas melepasmu demi kebahagiaan orang tuamu. Terima kasihsudah memperjuangkanku selama ini.”
“Tapi aku tidak bisa Tari...aku tidak sanggup berpisah denganmu.”
“Mas....aku juga tidak sanggup, tapi aku tidak bisa berbuatapa-apa. Orang tuamu lebih berhak atas dirimu.” Airmata yang ditahan akhirnya keluar juga dari mata Mentari, Ketika rasa pedih mencapai puncaknya.
Keduanya berpelukan dengan derai air mata di pipi keduanya. Cukup lama, sampai akhirnya Mentari memilih melepas pelukannya.
“Aku pamit mas...Terima kasih atas kasih sayang dan cinta yang mas berikan untukku selama ini. Semoga mas bahagia meski bukan denganku.Lupakan aku, lupakan cinta kita.” Setelah berucap penuh kesedihan Tari bergegas
pergi dari hadapan Dika yang masih berat melepas dirinya.
“Tari....!!!.” Teriak Dika memanggil. Tapi Tari terus melangkah pergi tanpa ingin menoleh. Langkahnya semakin jauh membawanya pergi dari lelaki yang selama tiga tahun menjadi kekasihnya. Langkah Mentari terhenti ketika sampai di sebuah taman , dan ia menumpahkan tangisnya di sana.
Sakit, itu yang ia rasakan di relung hatinya. Perpisahan yang begitu menyakitkan harus ia alami.
“Mas Dika....Kenapa takdir kita begitu buruk. Kenapa tuhan tak menghendaki kita bersatu selamanya. Kenapa....?!!!” Mentari meruntuki nasib cintanya dan seolah menyalahkan tuhan.”Aku cinta sama kamu mas...aku tidak sanggup berpisah denganmu...aku tidak sanggup hik...hik...”.
Air mata seolah tak habis-habis membasahi pipi Mentari, di balik isak yang terdengar menyayat hati.Namun ia kemudian tersadar jika perpisahan ini adalah yang terbaik. Bukan hanya status sosial yang membuatnya
tak pantas mendampingi Dika, tapi juga karena dirinya sekarang hanyalah seorang gadis yang telah ternoda.
“Berbahagialah mas....wanita yang akan menjadi istrimu adalah wanita terbaik yang dipilihkan tuhan untukmu. Sementara aku tak pantas untukmu mas, dan perpisahan ini adalah yang terbaik ...hik....hik....hik...” Mentari berbisik berharap bisikan itu sampai di hati Dika, dan membuatnya ikhlas menerima perjodohan dari orang tuanya.
Cukup lama gadis itu terdiam di kursi taman. Mengenang kisah cintanya dengan Dika. Bibirnya terlihat tersenyum ketika kenangan manis bersama Dika muncul dalam ingatannya dan matanya kembali basah saat sadar jika Dika
__ADS_1
bukan lagi miliknya.