Menaklukan Mentari

Menaklukan Mentari
Akhirnya Terungkap


__ADS_3

“Kalian masuklah dulu, aku mau ke bagian administrasi sebentar.” Ucap Mentari yang kemudian berlalu  diikuti oleh Miko.


Ia ingin memindahkan neneknya ke ruang perawatan biasa. Ia tidak ingin menggunakan uang Rayyan untuk perawatan nenek, karena ia tidak ingin dianggap memanfaatkan statusnya sebagai istri Rayyan untuk menikmati


kekayaan pria itu. Ia masih ingat bagaimana Rayyan menghinanya dulu.


“Maaf sus, saya keluarga dari Nenek Winarsih,yang baru saja di pindah ke kamar VVIP.” Ucap Mentari pada petugas begitu sampai di ruang administrasi.


“Oh iya mbak, bagaimana? Apa ada yang bisa saya bantu?.”


“Begini sus, saya ingin memindahkan nenek saya ke ruang perawatan biasa, bisa kan?.”


“Sebentar ya mbak, saya cek dulu datanya.”


Miko yang sedari tadi berada tidak jauh dari Mentari, tampak menjauh dan menghubungi seseorag. Terdengar ia menceritakan apa yang sedang di lakukan Mentari. Sesaat kemudian ia menutup telponnya dan kembali ke posisi semula.


Sementara Mentari masih berbicara dengan petugas.


“Maaf mbak, pasien tidak bisa dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Karena semua biaya termasuk biaya pamakaian kamar perawatan sudah dibayar lunas untuk tiga hari kedepan.”


“Tapi saya tetap ingin nenek saya di pindahkan ke kamar biasa, dan uang yang sudah masuk saya mohon di kembaikan pada orang yang sudah membayarnya.”


“Maaf mbak tidak bisa.”


Mentari terdiam, apa yang harus dia lakukan sekarang. Ia benar-benar tidak mau menerima bantuan dari Rayyan untuk perawatan neneknya. Meskipun sekarang uang tabungannya tidak cukup untuk membayar perawatan neneknya,sekalipun nenek di rawat di kamar biasa.


Sepertinya ia memang tak bisa menolak bantuan Rayyan.Ia akan menerimanya dan menganggap bantuan Rayyan sebagai hutang. Suatu saat ia akan mengembalikannya meski ia belum tau darimana ia akan mendapatkan uang untuk membayar hutang itu, yang tentunya jumlahnya tidak sedikit.


Yang ia harapkan sekarang, neneknya bisa segera sembuh, sehingga bisa cepat pulang agar tidak memakan banyak biaya dan tentunya hutangnya pada Rayyan tidak akan terlalu banyak.


“Kalau boleh saya tau, berapa total biaya yang sudah di bayarkan?.”


“Ehmmm maaf sekali lagi ya mbak. Saya tidak bisa mengatakannya.”


“Kenapa mbak? Saya sebagai keluarga pasien tentunya berhak tau dong.”

__ADS_1


“Saya sudah berjanji pada tuan Rayyan untuk tidak mengatakannya kepada siapapun. Maaf mbak.” Petugas itu menangkupkan kedua telapak tangannya seraya tersenyum.


“Ya sudah sus, kalau begitu terima kasih.”


Merasa usahanya gagal, Mentari akhirnya memilih kembali ke kamar neneknya.


“Kenapa Rayyan melakukan itu tanpa bertanya padaku dulu. Padahal aku cucu kandung nenek, bukan dia. Mentang- mentang banyak uang, jadi bisa semaunya sendiri. Dasar sombong...” Gerutu Mentari dalam hatinya. Ia ingin menelfon Rayyan untuk memarahinya, tapi ia urung melakukan. Pasti Rayyan akan mematikan telfonnya lagi jika tau Mentari bicara soal biaya rumah sakit.


“Lebih baik aku tunggu dia datang. Mungkin aku akan lebih puas memarahinya jika langsung di depan wajahnya.”  Ucap Mentari dalam hatinya yang dipenuhi rasa kesal.


Rasa kesalnya Mentari tunjukkan hanya sampai di depan pintu kamar, karena sebelum masuk ia berusaha menenangkan dirinya. Ia berusaha menyimpan rasa kesalnya agar tidak di ketahui oleh neneknya. Dan ia juga meminta Miko untuk tidak masuk kedalam kamar. Intinya ia tidak mau nenek tau siapa Miko.


Sebuah senyum manis Mentari tunjukkan saat masuk ruangan dan mendekati neneknya yang tengah ditemani oleh Sandra dan Dinda.


“Nak...kamu dari mana?.” Tanya Nenek yang memang tengah menunggu Mentari.


“Tari habis dari bagian administrasi nek.”


“Nak...kenapa kamu memilih kamar ini, pasti biaya sewanya mahal. Memang kamu punya uang?”


“Tidak mahal kok nek....Nenek tenang saja. Nenek tidak perlu memikirkan soal biaya. Yang penting nenek sembuh.”


“Sekarang nenek istirahat ya. Kami tunggu di luar.” Setelah berkata Sandra mengajak kedua sahabatnya untuk keluar. “


Ketiganya duduk di kursi  yang terdapat di depan kamar.


“Ngapain kamu ke bagian administrasi tadi.” Tanya Sandra pada sahabatnya yang sepertinya tengah dilanda masalah.


“Aku ingin memindahkan nenek ke kamar perawatan yang kelas biasa. Tapi ternyata tidaka bisa. Karena semua biaya perawatan nenek sudah di bayar oleh Rayyan. Dan Rayyan juga yang meminta kamar itu untuk nenek”


“Kalau begitu bagus dong.....”Ujar Sandra.


“Bagus menurut kamu, tapi bagiku tidak. Rayyan melakukan itu tanpa memberitahuku dulu, tanpa meminta pendapatku. Dia melakukan seolah dia yang bertanggung jawab atas nenek.Dia lupa kalau aku cucu kandungnya nenek, seharusnya aku yang betanggung jawab, seharusnya aku yang memutuskan segala yang berhubungan dengan perawatan nenek, bukan dia.”


“Kamu lupa jika Rayyan itu sekarang suami kamu. Artinya ia juga cucu nenek kamu sekarang, sekaligus  kepala keluarga  di keluarga kamu.Jadi dia ikut bertanggung jawab atas nenek. Saya rasa yang dia lakukan itu benar. “ Ucap Dinda, yang merasa tak searah dengan pemikiran Mentari.

__ADS_1


Dinda dan Sandra berusaha menasehati sahabatnya, untuk tidak menyoalkan lagi soal biaya rumah sakit yang sudah dibayarkan oleh Rayyan.Mentari mengiyakan, tapi di hatinya tetap ingin mengembalikan uang Rayyan. Ia


tak ingin berhutang budi.


Disaat ketiganya asik berbincang, Miko yang tidak nampaksejak ketiganya keluar kamar, muncul kembali dengan membawa tiga cup baso Mercon.


“Nyonya belum makan siang, jadi tuan Rayyan meminta saya untuk membawakan makanan untuk nyonya dan nona-nona ini.” Ucap Miko sembari meletakkan makanan yang di bawanya ke atas meja.


“Apa ini?.” Tanya mentari penasaran


“Baso mercon nyonya.”


“Baso mercon?” Mentari tampak senang.


“Iya nyonya.Bukankah nyonya ingin makan baso mercon?”


“Iya benar. Siapa yang membelinya?.”


“Saya nyonya”


Jawaban Miko tampak membuat Mentari kecewa tapi ia tetap membukanya. Wanita itu tak punya  selera untuk memakannya, meski perutnya menuntut untuk diisi. Sementara kedua sahabatnya mulai menyantapnya, setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih pada Miko.


“Asli....enak banget basonya Tari, pedasnya cetar.....segar.” Celoteh Sandra untuk memancing Mentari agar segera memakan basonya.


Keinginannya makan baso mercon yang dibeli oleh Rayyan kembali menguat, dan ia tak tahan lagi.


“Aku maunya makan baso mercon yang di beli Rayyan !...” Akhirnya Mentari mengungkapkan keinginannya, yang sudah ia pendam beberapa jam. Wajahnya memerah karena malu.


Dinda dan Sandra di buat melongo begitu juga Miko yang berdiri tidak jauh dari Mentari.


“Apa aku tidak salah dengar.” Ucap Sandra, namun kemudian ditinggal pergi oleh Mentari  yang masuk kedalam kamar, untuk menutupi rasa malunya.


Ketiga orang yang ada di tempat itu, tersenyum melihat sikap Mentari.


“Bawaan orok kali ya...” Bisik Sandra pada Dinda.

__ADS_1


“Mungkin....he...he....” Balas Dinda yang kemudian meminta Miko untuk meyampaikan keinginan Mentari pada Rayyan.


“Pantas saja dia tidak mau pergi cari baso mercon waktu di kantin tadi, ternyata .......he...he.....ada-ada saja bumil yang satu ini.”Ujar Sandra, yang akhirnya tertawa bersamaan dengan Dinda.


__ADS_2