Menaklukan Mentari

Menaklukan Mentari
Mirip


__ADS_3

Merasa tak lagi bisa menggunakan otaknya untuk memikirkan Mentari, Rayyan memilih menyelesaikan mandinya dan memutuskan bagaimanapun sikap Mentari padanya, ia akan tetap berusaha agar pernikahannya dengan wanita itu menjadi pernikahan pertama dan terakhir baginya. Anaknya tak boleh menjadi korban perceraian seperti dirinya.


Saat keluar kamar mandi asistennya telah menunggu. Yang datang dengan membawa beberapa berkas laporan yang harus di periksa dan dia tanda tangani.


Selesai barpakaian, di temani secangkir kopi direktur muda itu menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya ia selesaikan tadi siang.


Bos dan asistennya itu larut dengan pekerjaan.Tak terasa dua jam waktu  yang mereka habiskan untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.


“Vid, turunlah kebawah, pesan makanan untuk makan malam.Minta pegawai mengantarkan makanan itu ke rumah sakit. Kita makan malam di sana bersama Istriku dan nenek.”


“Baik tuan...” David membereskan berkas pekerjaan, dan kemudian berlalu untuk memesan makanan,sementara Rayyan masih menatap layar leptopnya. Setelah teringat ia harus kerumah sakit, pria itu akhirnya menutup


leptopnya. Ia bergegas keluar kamar menuju lobi hotel dimana David tengah menunggunya.


Karena jarak hotel dan rumah sakit yang tidak begitu jauh, Rayyan dan David memilih untuk berjalan kaki.


Rayyan berjalan tenang, tak peduli dengan sikap Mentari padanya nanti saat bertemu. Tapi David tak begitu, ia merasa gelisah,ia  takut tak mampu menahan perasaannya, ketika bertemu dengan dua wanita yang akan ia temui.


Setelah mengetuk pintu dan mengucap salam tanpa ada balasan,Rayyan mendorong daun pintu dengan sedikit keras karena ada rasa khawatir.


Pria itu lega setelah ia melihat dua wanita didalm ruangan itu ternyata baik-baik saja,. Keduanya ternyata tengah melakukan solat.


“Mereka sedang solat, kita tunggu di luar saja dulu.” Ucap Rayyan pada David yang juga merasa lega. Keduanya duduk di kursi yang ada di depan kamar.


David memilih membuka ponselnya, sementara Rayyan setelah melihat istrinya solat  menjadi ingat bahwa dirinya sudah lama tak melakukan ibadah itu. Kemarin ia sempat menjadi imam solat untuk Mentari tapi setelah itu ia belum melakukannya lagi.


Ia membayangkan jika suatu saat Mentari atau neneknya menegur dirinya karena tak pernah solat bagimana?. Pasti ia akan malu. Apa lagi ia akan menjadi seorang ayah. Tentunya ia ingin menjadi contoh yang baik untuk


anaknya kelak.


“Vid, aku ke mushola dulu ya” Pamit Rayyan pada David yang tampak heran.


“Tuan mau ke mushola, mau....?”


“Ya mau sholat lah...memangnya mau apa”.

__ADS_1


“ Sholat??.” Oh...iya....iya....tuan. Mari tuan saya juga belum solat.”


Meski heran tapi David menyambut senang karena tuannya mau solat. Dan ini untuk pertama kalinyasetelah tiga tahun menjadi asistennya,ini yang pertama kali ia melihat Tuannya pergi solat.


Keduanya melangkah pergi menuju mushola rumah sakit yang jaraknya tidak begtu jauh. Ketika Rayyan memulai solatnya, Mentari baru saja selesai solat.


“Sepertinya tadi ada yang mengetuk pintu, mungkin itu suamimu. Coba kamu tengok, suruh dia masuk.” Ucap nenek yang memang menantikan cucu mantunya yang sejak sore tidak ia lihat.


Setelah memebereskan mukena yang mereka kenakan, Mentari menuju keluar kamar untuk mengecek keberadaan orang yang ia yakini itu adalah Rayyan.


Ia merasa aneh, karena tidak ada siapa-siapa ditempat itu. Padahal tadi ia jelas mendengar suara Rayyan mengucap salam dan juga terdengar pintu dibuka. Setelah memastikan Rayyan tidak ada di tempat itu, Mentari


kembali masuk ke dalam kamar.


“Mana Rayyan, kok tidak ikut masuk.?” Nenek kembali menanyakan keberadaan Rayyan.


“Tidak ada siapa-siapa di luar nek.”


“Oh...terus tadi siapa ?.”


“Nek..Tari ke kantin sebentar ya.” Mentari sudah mulai merasa lapar, jadi ia ingin makan sesuatu disana.


“Apa tidak sebaiknya kamu menunggu Rayyan dulu. Jangan ke kantin sendirian.”


“Dia masih sibuk nek, tidak tau kesni lagi apa tidak. Tari sudah lapar nek kepengin makan.”


“Oh ya sudah....pergilah. Hati-hati.”


“Ya nek...”


Mentari mengambil dompetnya dan bergegas pergi menuju kantin. Tak sampai lima menit wanita itu telah sampai di kantin. Banyak makanan tersaji di tempat itu, tapi tak ada satupun yang menarik seleranya. Semua tampak tidak enak dimatanya. Mentari akhirnya mengambil sebungkus biskuit untuk mengganjal perut laparnya dan sebotol jus jeruk. Setelah membayar makanannya,Tari kembali kekamar neneknya.


Dua pria tengah duduk di depan neneknya saat Mentari masuk. Rayyan dan David tiba saat Mentari berada dikantin bersamaan dengan pelayan restoran yang membawakan makan malam.


Mentari sempat merasa kaget juga, ketika meihat di meja ada beberapa makanan yang tersaji diatas piring.Dia yakin makanan itu di bawa oleh Rayyan.

__ADS_1


“Kok kamu sudah kembali, katanya mau makan di kantin. Rayyan baru mau nenk suruh nyusul kamu.” Ucap nenek melihat cucunya kembali dengan cepat.


“Tari tidak jadi makan nek.” Tari melangkah mendekat, dan menyimpan dompetnya di bawah tatapan suaminya dan David.


“Kenapa?” Kembali nenek bertanya merasa kalau cucunya tampak lapar tapi kenapa tidak makan.


“Makanan disana tidak ada yang bisa Tari pilih, tak ada yang menarik.”


“Biasanya kamu tidak pernah pilih-pilih makanan.”


“Enggak tau nek....tapi tari beli biskuit sama jus kok...ini” Tari menunjukkan bungkusan yang ia bawa, agar neneknya tidak khawatir ia tidak makan.


“Aku bawa makanan, sebaiknya kamu makan sekarang. Biskuit sama jusnya buat nanti.”


Ucap Rayyan sembari menarik tangan Mentari untuk duduk di sofa, dimana di meja depan sofa terdapat beberapa piring makanan yang masih tertutup rapat oleh plastik  warp.


Mentari menuruti ajakan Rayyan, ia merasa itu bukan saatnya ia menolak karena ada nenek yang sedang melihatnya.


“David, sini makan sekalian.” Ajak Mentari sembari menyiapkan makanan untuk Rayyan dan dirinya.


“Iya bu, silahkan. Saya nanti saja.” Balas david yang sebenarnya masih ingin duduk berdekatan dengan nenek Winarsih. Sekarang David sedang duduk di kursi yang tadi diduduki Rayyan. jaraknya sangat dekat dengan


tangan Nenek Winarsih.


“Nak....sana ikutlah makan..Makan rame-rame rasanya akan lebih nikmat. Sana makan...” Ucap nenek Winarsih yang membuat hati David tersentuh, karena nenek tua itu juga mengusap pipinya.


“Kok diam.....ayo sana makan.” Tangan nenek Winarsih kembali menyentuh pipi david dan menepuknya. Karena david terdiam seperti melamun dengan mata sendu menatap wajah perempuan di depannya itu.


“II..iya nek.Nenek juga makan ya. David ambilkan.”


“Nenek nanti saja, setelah kalian selesai. Biar nanti Tari yang mengambilkan.”


“Biar David saja nek, Bu Tari biar makan menemani pak Rayyan.”


“Ya sudah...jika kamu tidak keberatan.”

__ADS_1


David tersenyum senang. Sementara David mengambil makanan untuknya, mata Nenek Winarsih terus menatap David. Wajah David mengingatkannya pada almarhum anaknya. Wajah David sangat mirip dengan anaknya waktu muda. Postur tubuh dan cara bicara sama persis dengan anak lelakinya.


__ADS_2