Menaklukan Mentari

Menaklukan Mentari
Drama Pengantin Baru


__ADS_3

Pernikahan Mentari dan Rayyan akhirnyapun terjadi. Kalimat sakral terucap dari bibir Rayyan disaksikan oleh beberapa oang yang datang bersama Rayyan dan tetangga Mentari. Dua Sahabat Mentari juga menjadi saksi saat Mentari melepas status kesendirianya setelah berpisah dengan Dika.


“Sah...” satu kata mencipta sebuah ikatan suci antara Rayyan dan Mentari.Mentari telah sah menjadi istri Rayyan.


“Selamat ya Tari, semoga pernikahanmu langgeng .” Ucapan datang silih berganti dari orang-orang yang hadir,sebelum akhirnya satu persatu dari mereka pergi. Tinggalah sepasang pengantin yang tidak tau harus bagaimana.


“Nak....istirahatlah. Kamar Mentari ada di sebelah sana.” Ucap nenek Winarsih ketika melihat Rayyan duduk diruang tamu dan tampak memejamkan mata.


“Oh iya nek. Nanti saya kesana.”


Rayyan memang sangat mengantuk, dan ingin sekali merebahkan tubuhnya. Meski ragu ia tetep melangkahkan kakinya menuju kamar Mentari.


Begitu melihat sebuah ranjang, Rayyan langsung merebahkan tubuhnya. Dan iapun langsung terlelap.


Mentari yang baru saja selesa membereskan dapur dibuat terkejut melihat Rayyan tertidur pulas di ranjangnya. Meski ia tak menghendaki


pria itu ada disana, tapi ia tak mungkin mengusir laki-laki itu dari kamarnya.


Pasti nanti akan membuat neneknya curiga.


Dan wanita itu mulai berpikir bagaimana nanti ia tidur. Sedangkan di kamarnya hanya ada satu ranjang. Tak mungkin ia tidur seranjang dengan Rayyan, meski pria itu sekarang adalah suaminya.


Otak Mentari terus bekerja, mencari cara agar ia tidak tidur seranjang dengan Rayyan.


Setelah beberapa saat, akhirnya ia melangkah ke kamar ayahnya yang telah lama kosong. Mentari memutuskan untuk tidur disana selama ada Rayyan.


“Sebaiknya aku bersihkan dulu kamar ini.” pikir Mentari yang kemudian keluar mengambil alat kebersihan untuk membersihkan kamar yang akan ia


tempati itu. Selesai dengan pekerjaannya, Mentari kembali kekamarnya untuk


mengambil pakaian ganti sebelum ia pergi mandi.


Dengan pelan Mentari mengambil pakaiannya dari dalam lemari yang terletak di samping ranjang dimana Rayyan masih terlelap. Sementara waktu


telah beranjak sore.


Baru beberapa langkah keluar dari kamarnya, terdengar seseorang mengetuk pintu ruang tamu. Terpaksa  Mentari menyimpan kembali pakaian gantinya.


Bergegas menuju ke pintu.


“Selamat sore nyonya.” Sapa seorang pria yang ternyata asisten Rayyan,David.


“Selamat sore mas David. Silahkan masuk.Jangan panggil saya nyonya, panggil aja mbak seperti biasanya.” Keduanya memang sudah saling kenal,


karena sebelumnya mereka beberapa kali bertemu.


“Sekarang nyonya istri bos saya, jadi saya tidak mungkin memanggil istri bos saya dengan sebutan lain. Maaf nyonya.”


“Ya sudahlah terserah.......Mau bertemu dengan Tuan Rayyan? Sekarang dia sedang tidur. Jika mau bertemu nanti saya bangunkan.”


“Tidak usah nyonya. Saya kesini hanya untuk mengantarkan pakaian tuan Rayyan. Beliau lupa membawanya tadi pagi.”


David meletakan sebuah tas berisi beberapa barang milik Rayyan ke atas meja. Tapi matanya kemudian tertuju pada foto ayah Mentari yang terpasang didinding. Raut wajahnya nampak berubah. Ada gurat kesedihan di wajah


pria itu. Dan itu tak luput dari Mentari.


“Itu foto ayah saya mas David. Beliau sudah meninggal hampir setahun yang lalu.Mas David mengenalnya?”


“Oh....tidak nyonya. Saya tidak mengenalnya. Wajahnya sangat mirip dengan Nyonya. Kalau begitu saya pamit nyonya. Assalmu’alaikum.” Tampak


tergesa David keluar dari rumah Mentari, menimbulkan tanda tanya di benak Mentari. Wanita itu merasa ada yang David sembunyikan darinya. Tapi kemudian


Mentari mengabaikannya.


Begitu Mentari akan  masuk kedalam kamar dengan  membawa tas berisi barang-barang Rayyan, ternyata pria itu hendak keluar kamar. Sehingga tubuh keduanya bertabrakan.


“Maaf, aku tidak tau kamu akan masuk.” Ucap Rayyan sembarimemundurkan tubuhnya.


“Ini barang-barang anda. Tadi mas David yang mengantarkannya.” Mentari menyerahkan tas dan langsung di terima oleh Rayyan.


“Saya ingin mandi, di mana kamar mandinya?.”

__ADS_1


“Kamar mandinya ada di belakang. Tapi mungkin sedang dipakai sama nenek.”


“Apa kamar mandinya hanya ada satu?”


“Iya....hanya ada satu. Jadi kita harus bergantian.”


“Oh.....” Ada sedikit rasa kesal karena ia harus bertahandengan tubuh yang sangat lengket, ditambah udara yang terasa panas.


“Aku haus, bisa ambilkan air putih?.” Pinta Rayyan yang ingin menyegarkan tenggorokannya.


Tanpa berucap, Mentari berlalu dan beberapa saat kemudian kembali


dengan segelas air putih ditangannya. Tangan Rayyan telah terulur, tapi mentari


meletakan gelas diatas meja kemudian pergi begitu saja.


Dengan senyuman misterius, Rayyan mengambil gelas dan langsung


menghabiskan isinya.


Keringat terus menyembul dari pori-pori kulit pria itu, dan memaksanya melepas kemeja yang tengah ia kenakan dan kembali membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Sementara jemarinya sibuk diatas keyboard ponsel.


“Astaghfirulloh....” Mentari langsung membalikan badannya melihat Rayyan yang bertelanjang dada saat ia masuk kedalam kamar.


“Kenapa kaget begitu. Bukankah kamu pernah melihatku bahkan tanpa sehelai baju.” Ucap Rayyan dengan senyum tipis .


“Terserah anda bilang apa. Tapi lain kali jangan suka buka baju sembarangan.”


“Sembarangan gimana?. Saya buka baju dikamar, tempat tertutup. Dan di depan istriku sendiri. Aku rasa tidak masalah.”


“Tapi saya tidak suka.”


“Itu masalah kamu. Tapi aku sarankan mulai sekarang kamu harus membiasakan diri melihatku tidak memakai baju. Karena bukan tidak mungkin aku akan jarang memakai baju jika berdua sama kamu. Apa lagi kita pengantin baru.” Tergambar senyum tipis di bibir Rayyan.


“Kamar mandi kosong jika mau mandi!!.” Ucap Mentari yang kemudian keluar dengan wajah memerah karena kesal.


Sementara Rayyan tersenyum karena telah berhasil membuat Mentari kesal. Setelahnya ia bergegas kekamar mandi tanpa membawa baju ganti. Seperti


Mentari baru saja selesai solat, ketika Rayyan masuk ke dalam kamar. Sejenak matanya terpaku dengan ketampanan pria yang tengah berdiri tidak jauh darinya. Dada yang seperti roti sobek dan rambut yang basah mencipta ketampanan Rayyan berada di level  sempurna. Memikat hati bagi yang melihatnya.


Tanpa melepas mukena, Mentari hendak beranjak keluar kamar, bermaksud menghindari Rayyan. Tapi Rayyan telah lebih dulu mengunci pintu dan berdiri tenang di depan pintu.


“Minggir, saya mau keluar!.” Ucap Mentari ketus tanpa melihat wajah Rayyan.


“Kenapa keluar? Bukankah kamu seharusnya melayani suamimu


yang baru selesai mandi.” Rayyan tak bergeming dari posisinya.


“Aku tidak mau!.”


“Kalau kamu tidak mau, itu artinya kamu sengaja membuat dosa. Bukankah kewajiban istri adalah melayani suami.”


“Waktu itu aku sudah mengatakan, bahwa saya tidak akan melakukan kewajiban saya sebagai istri. dan anda setuju.Apa anda lupa.”


“Kapan kamu mengatakannya, aku tidak ingat.”


“Jangan pura-pura lupa..cepat minggir.”


“Siapkan pakaianku dulu, baru kau boleh keluar.”


“Aku tidak mau!.”


“Oh itu artinya kamu ingin aku tetap seperti ini, berdiri disini tanpa baju. Biar kamu puas memandangi ketampananku. Begitu?...baiklah....tidak apa-apa.”


Rayyan dengan santainya menyandarkan tubuhnya ke daun pintu dengan bersedekap dan menyilangkan kakinya. Bak seorang foto model yang sedang


melakukan foto shoot.


Dengan wajah kesal, Mentari akhirnya menyiapkan pakaian untuk suaminya.


“Ini sudah saya siapkan. Sekarang saya mau keluar.”

__ADS_1


“Tugasmu belum selesai ,jadi belum boleh keluar.”


Mentari bertambah kesal. Ia menarik tangan Rayyan agar tubuh pria tak menghalanginya keluar kamar. Tapi tubuh Rayyan tak bergeming sedikitpun. Mentari terus berusaha menarik tubuh Rayyan. Hingga akhirnya ia berhasil .Begitu kuatnya ia menarik tubuh Rayyan membuat  mentari  terhuyung dan hampir jatuh. Tubuh Mentari bukannya jatuh kelantai tapi jatuh kedalam pelukan suaminya.


Mata keduanya terpaut beberapa detik, menimbulkan desiran di hati keduanya.


“Ihh...lepass.....!!” Teriak Mentari begitu menyadari tangan Rayyan tengah memeluk pinggangnya.


Dengan wajah merona, Mentari bergegas menuju pintu yang ternyata masih terkunci, dan kuncinya tidak ada ditempatnya.


“Kuncinya ada disini.Ambillah!.” Rayyan mengangkat tangannya untuk menunjukan kunci yang tengah di cari Mentari.


Dengan terpaksa Mentari mendekati Rayyan untuk mengambil kunci itu. Begitu ia hendak mengambilnya, Rayyan menarik tangannya dan menyembunyikannya di belakang tubuh. Sementara tangan satunya lagi menarik tubuh Mentari, dan jadilah tubuh keduanya saling menempel.


“Lepas.....!!....lepassss...!!!.jangan macam-macam anda ya....!!”


“Aku tidak berbuat macam-macam, saya hanya ingin memeluk istri sahku sendiri.”


“Tapi aku tidak mau dan aku tidak suka.....!”


“Tapi aku mau dan aku suka.”


“Sebenarnya apa mau anda. Anda ingin menyiksaku setelah anda


menghancurkan hidupku.”


“Kamu bicara apa. Aku bukan suami yang jahat, yang tega menyiksa istrinya sendiri. “


“Anda telah melanggar kesepakatan kita.”


“Kesepakatan yang mana?.”


“Tolong anda jangan pura-pura lupa.”


“Aku tidak pura-pura lupa. Memang apa kesepakatan kita?.”


“Huh...bodohnya aku, kenapa kesepakatan itu tidak aku dokumentasikan.” Gumam Mentari dalam hatinya.


Rayyan masih memeluk tubuh mentari yang sepertinya sedang bepikir


keras. Dan ia gunakan kesempatan itu untuk memandangi wajah Mentari yang tampak begitu cantik dengan mukena berwana putih.


Mentari kembali meronta. Itu membuat kedua tangan Rayyan makin kuat memeluk tubuhnya.


“Diamlah....aku hanya ingin memeluk istriku yang cantik ini.”


“Lepas....lepasssss......!.”


“Sebentar lagi yaa....”


“Sekarang..!”


“Baiklah.....tapi ada saratnya.”


“Aku tidak mau pakai syarat...”


“Ya sudah...kita seperti ini sampai malam.”


“Apa saratnya...?!.”


“Bantu aku memakai baju...”


“Gila.....tangan anda masih normal kan? Anda bisa memakai baju sendiri tanpa saya bantu.”


“Tapi aku mau kamu membantuku memakai baju.”


“Jangan manja seperti anak kecil.”


“Aku memang ingin bermanja-manja dengan istriku. Cepat pakaikan....atau kamu ingin aku masuk angin. Dan aku akan makin manja jika aku sakit.”


Tak ada pilihan, selain menuruti keinginan Rayyan. Dengan kesal dan jantung yang terus berdetak cepat, Mentari membantu Rayyan memakai pakaiannya sampai selesai.

__ADS_1


“Terima kasih istri solekhahku.” Ucap Rayyan sambil mencubit kedua pipi Mentari. Membuat Mentari salah tingkah dan melangkah keluar kamar setelah berhasil membuka pintu yang semula terkunci.


__ADS_2