
“Ini pakaian yang anda minta tuan.” Ucap David yang baru saja datang ke kamar Rayyan dengan membawakan pakaian untuk Rayyan dan Mentari.
“Letakkan di situ dan tunggulah di bawah. Aku akan segera turun.”
“ Tuan tidak menunggu nyonya bangun terlebih dahulu, sebelum berangkat ke kantor?.”
“Tidak. Istriku sepertinya kecapaian, dia perlu istirahat”.
Tak tega Rayyan membangunkan Mentari, yang kelihatan masih sangat pulas tidurnya. Meski waktu telah menunjukkan pukul delapan pagi.
David mengangguk dan undur diri untuk turun kelobi. Rayyan sendiri masih bersiap. Matanya sesekali melihat ke arah wajah mentari sembari berpakaian. Ketika matanya makin lekat menatap wajah Mentari, perlahan pria itu
mendekat untuk memperjelas penglihatannya.
“Cantik....meski tanpa makeup Mentari tetap kelihatan cantik. Memang mirip dengan Nania tapi jika diperhatikan gadis ini lebih cantik dari Nania.” Pikir Rayyan. Tangannya tertarik untuk membelai pipi Mentari. Dengan punggung
dua jarinya Rayyan membelai pipi istrinya dengan lembut dan hati-hati agar istrinya itu tidak terbangun. Tak cukup hanya membelai, pada akhirnya bibir Rayyan juga mendarat di pipi Mentari dengan sangat hati-hati dan dalam hitungan detik.
Takut Mentari keburu bangun, Rayyan bergegas turun ke lobi. Sesekali ia tersenyum, Mengingat perbuatannya sendiri. Yang diam-diam mencium Mentari.
“Ada yang lucu tuan?.” Tanya David, karena sepenjang perjalanan menuju kantor. Rayyan masih juga terlihat senyum-senyum sendiri.
“Iya ada yang lucu....tapi sudahlah kamu tidak perlu tau. Diceritakanpun kamu tidak akan mengerti, karena kamu belum pernah menjadi pengantin baru. “
David hanya tersenyum.Pemuda yang masih jomblo itu, akhirnya teringat jika bosnya adalah pengantin baru. Dan dia mengira,yang membuat bosnya tersenyum pasti ada kaitannya dengan malam pertama yang telah di lakukan bosnya semalam di hotel.
Wanita yang sepertinya mulai menarik hati Rayyan, menggeliat dan tak lama ia membuka mata. Setelah ia sadar sempurna gadis itu menyadari jika ia sendirian di kamar itu. Dia di buat terkejut saat melihat jam dinding sudah menunjuk pukul 9 pagi.
“Ya Alloh aku kesiangan....kenapa Rayyan tidak membangunkanku.” Ucap mentari yang terburu-buru turun dari ranjang hendak ke kamar mandi. Namun langkahnya terhenti, ketika ia melihat di meja ada makanan dan pakaian gamis lengkap dengan pakaian dalam.
__ADS_1
‘Tok...tok....tok
Terdengar pintu kamar diketuk seseorang. Sebelum membuka pintu, Mentari memastikan siapa yang ada di balik pintu dengan mengintip melalui lubang kecil yang ada di daun pintu.
Setelah tau jika yang mengetuk pintu adalah petugas hotel, Mentari segera membuka pintu.
“Selamat pagi nyonya...!.”
“Selamat pagi, ada apa ya mbak?.”
“Maaf nyonya, saya hanya ingin memastikan kondisi nyonya.Tadi tuan Rayyan yang memintanya. Dan pakaian di atas meja itu pakaian untuk nyonya. “
“Oh ya terima kasih. Kalau boleh tau sekarang tuan Rayyan ada dimana?.”
“Beliau sudah beangkat kekantor tadi jam 8. Apa ada yang nyonya butuhkan? biar saya siapkan.”
“Tidak....sudah cukup.”
“Iya...”
Wanita berseragam hotel itu akhirnya pergi meninggalkan Mentari yang bergegas kekamar mandi. Setelah selesai berpakaian dan sarapan, Mentari pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi neneknya.
Ketika sampai di lobi, Mentari di sambut oleh seorang pria yang berperawakan tinggi besar.
“Selamat pagi nyonya..”
“Pa..pagi...” Mentari tampak kaget dan takut didatangi seorang pria yang tak ia kenal dengan tubuh yang kekar.
“Maaf nyonya,saya mendapat tugas dari tuan Rayyan untuk mengantar nyonya, jika nyonya hendak pergi.”
__ADS_1
“Oh.....saya memang akan pergi, tapi ke rumah sakit yang ada di sebelah hotel ini. Jadi tak perlu diantar. Saya bisa sendiri. “
“Maaf nyonya.......tapi ini tugas nyonya. Jadi saya harus tetap mengantar nyonya meski hanya kerumah sakit yang ada di sebelah. Saya harus memastikan jika nyonya baik-baik saja sampai di rumah sakit nanti. Mari nyonya saya antar...”
Mentari akhirnya membiarkan pria itu mengantarnya sampai rumah sakit bahkan sampai di depan ruang ICU. Meski sebenarnya ia merasa risih.
“Saya sudah sampai. Saya disini mungkin sampai sore. Jadi saya minta anda kembali ke hotel. Tidak usah menemani saya.”
“Maaf nyonya, Tuan Rayyan juga memintaku untuk mengawal nyonya. Takutnya nyonya membutuhkan sesuatu. Jadi saya akan berada di rumah sakit ini. Nanti jam makan siang, saya juga di minta untuk mengajak nyonya
kembali ke hotel untuk makan siang dan istirahat.”
“Ya Alloh Rayyan...benar-benar itu orang yah!!.” batin Mentari merasa apa yang dilakukan Rayyan sangat berlebihan padanya.
“Saya tidak apa-apa jika tidak ditemani. Kerena nanti ada sahabat saya yang akan menemani. Jadi sekarang kembalilah ke hotel.”
“Tidak nyonya, saya tidak berani jika bukan tuan Rayyan sendiri yang menyuruh.”
“Huh.....” Dengan terpaksa Mentari menghubungi Rayyan.
Rayyan yang sedang rapat mengabaikan penggilan dari Mentari. Selain karena ia menghormati klien penting yang sedang berbicara, juga karena ia sedang tidak mau membicarakan apapun dengan Mentari, termasuk dengan apa
yang telah ia lakukan untuk mentari pagi ini.
“Malah di matikan ponselnya.” Ucap Mentari kesal, setelah beberapa kali menghubungi Rayyan, bukannya di jawab, Ponsel Rayyan malah tidak bisa lagi di hubungi.
“Tuan sedang rapat penting Nyonya.”
“Ya sudahlah, kamu jalankan saja perintah tuanmu. “
__ADS_1
“Baik nyonya.”
Tak ada pilihan selain menerima apa yang Rayyan lakukan untuknya. Tidak salah sih, cuma menurut Mentari sangat berlebihan. Ia tidak terbiasa di perlakukan seperti itu,apalagi sampai di kawal seperti orang penting.