Menaklukan Mentari

Menaklukan Mentari
Bukan Kamu Yang Beruntung


__ADS_3

Dengan pelan Mentari turun dari ranjang untuk menunaikan solat sunah di sepertiga malam. Rayyan membuka mata begitu Mentari keluar kamar. Kembali pria itu tersenyum lebar membayangkan bagaimana wajah istrinya tadi.


Saat Mentari kembali ke kamar ia mengira Rayyan masih tertidur. Tapi posisi tubuhnya telah berubah. Yang semula terlentang sekarang memunggungi pintu kamar. Memeluk bantal guling dan ada dua bantal di bawah kepalanya.Itu artinya Rayyan sempat bangun untuk merubah posisinya dan mengambil bantal.


Mentari kembali berharap, semoga Rayyan tak menyadari jika dia telah menjadikan lengan pria itu menjadi bantal tidurnya.


“Kenapa dengan tanganmu?.” Tanya Nenek Winarsih saat sarapan melihat beberapa kali Rayyan memijat-mijat lengan kirinnya.


“Tidak tau nek. Tadi bangun tidur lenganku terasa pegal.”


Sebenarnya tidak begitu pegal, namun karena ingin melihat bagaimana reaksi Mentari, Rayyan menunjukkan ekspresi kesakitan. Sesekali ia terlihat meringis sambil memijit lengannya.


“Mungkin itu karena kamu habis ngangkat barang berat.” Ucap nenek lagi.


“Tidak nek....kemarin seharian Rayyan tidak ngangkat-ngakat barang.”


Mentari sempat melirik. Ia merasa bertanggung jawab dengan kesakitan Rayyan.


“Nanti aku olesi balsem biar nggak pegel lagi.” Sahut Mentari setelah berpikir panjang sembari mengangkat piring kotor.


“Iya...” Sambut Rayyan senang.


“Memang seharusnya begitu, karena kamu harus bertanggung jawab.” Batin Rayyan di balik senyum tipisnya. Kemudian masuk kekamar. Begitu juga nenek Winarsih yang masuk kedalam kamar anaknya untuk mencari sesuatu yang bisa menjelaskan hubungan Anaknya dengan ibunya David.


Selesai dengan pekerjaannya, Mentari menepati ucapannya.


“Sini tangannya, biar aku olesin balsem.” Mentari menghampiri Rayyan di kamar dengan membawa balsem ditangannya. Wajahnya terlihat datar. Tapi ritme detak jantungnya tak beraturan.


Rayyan menyambutnya dengan segera membuka kemeja yang ia pakai. Jantung Mentari makin berdebar. Dada bidang Rayyan terpampang jelas di matanya. Mengingatkannya pada peristiwa dimana Rayyan merenggut kagadisannya. Namun ingatan itu tak lagi membuatnya ketakutan.


Dengan tenang Mentari mengoles balsem ke lengan Rayyan dengan sedikit memijitnya.


“Aw....aw....aw...pelan dong sayang, sakit.....” Rayyan tampak kesakitan meski Mentari memijatnya pelan.


“Nggak usah manja....Nggak usah panggil-panggil sayang.....!!.” Mentari tampak kesal. Sehingga tanpa sadar ia memijit dengan keras.


“Boleh aja kesal, tapi nggak harus pakai  kekerasan kan....?!”

__ADS_1


“Udah nih..oles saja sendiri....!” Mentari meletakkan balsem diatas meja dan hendak pergi dengan wajah cemberut.


“Eh....mau kemana....baru aja mulai....” Tangan Rayyan menahan tangan Mentari dan menariknya agar duduk kembali.”Kamu mau lepas tanggung jawab?Tanganku sakit kan gara-gara kamu.”


“Aku tidak melakukan apa-apa, jangan menuduh sembarangan ya!.”


“Terus siapa yang semalam menindih tanganku dengan kepalanya,dan juga memelukku? memang ada orang lain selain kita?.”


Wajah Mentari yang semula cemberut berubah tersipu malu, karena ternyata Rayyan tau penyebab tangannya sakit.Namun ia balik menuduh.


“Kamu kan yang sengaja memindahkan tubuhku?.”


“Kok malah balik menuduh.Sungguh aku tidak melakukan apa-apa. Kamu sendiri yang mendekat saat aku tidur.Sumpah....” Rayyan mengacungkan dua jarinya membentuk huruf V, untuk menunjukan bahwa ia tidak berbohong.


Wajah Mentari makin merah. Karena sudah jelas disini dialah yang menjadi terdakwa.


Terpaksa Mentari menahan rasa malunya karena ia kembali mengolesi tangan Rayyan dengan balsem dan memijitnya lembut.


“Matanya mau sekalian aku olesin balsem?!” Ucap Mentari tanpa mengubah pandangannya dari lengan Rayyan.


Rayyan membuat istrinya salah tingkah, karena ia terus menatapnya. Bukan hanya mata, sekarang tangannyapun mulai menyentuh dagu Mentari dan mengangkatnya. Tatapan mereka akhirnya bertemu, dan tertahan.


Rayyan menatap kepergian istrinya dengan rasa terkejut karena ia juga baru sadar apa yang hendak ia lakukan pada istrinya tadi. Entah apa yang mendorongnya, yang jelas semua berawal dari ketidakmampuannya menolak


pesona Mentari,wanita cantik dengan bibir tipis berwarna kemerahan.


Senyum terbit di sudut bibir Rayyan, namun tak lama berubah menjadi desisan ketika merasakan panas dan sedikit perih di lengan kiri yang diolesi balsem. Ia mengibas-ngibaskan telapak tangan kanan dan meniupnya untuk mendinginkan, tapi usahanya tak berhasil.


Masih bertelanjang dada Rayyan keluar kamar. Mencari air untuk lengannya. Lengan yang berwarna putih telah berubah kemerahan.


Mentari yang tengah mencuci piring di wastafel di buat terkejut karena Rayyan tiba-tiba berada disampingnya dan memaksanya untuk bergeser. Ia hendak pergi menghindari Rayyan tapi urung ia lakukan karena melihat warna kemerahan di lengan Rayyan yang tengah berada di bawah kran air.


“Panas....perih....”Ucap Rayyan sembari mengusap-usap lengannya.”Aku lupa kalau aku alergi obat gosok.”


“Kenapa bisa sampai lupa?!.”


“Ya mungkin saking senengnya dielus dan dipijat sama istri yang cantiknya bak bidadari.”

__ADS_1


“Heh....masih sempat-sempatnya ngegombal.”


Mentari memilih meninggalkan Rayyan dengan wajah yang tersipu. Rayyan hanya tersenyum dan kemudian menyudahi kegiatannya setalah lengannya terasa membaik. Namun ia tak jadi beranjak ketika melihat tumpukan piring masih berbusa yang ditinggalkan istrinya. Tanpa pikir panjang, ia membilas piring-piring itu sampai bersih sampai tak ada benda kotor lagi ditempat itu. Pria itu tak menyadari, sepasang mata milik Mentari tengah memperhatikannya.Entah apa yang wanita itu pikirkan, sehingga sebuah senyum muncul dari bibirnya.


“Kenapa hanya melihatnya,kau bantulah suamimu. Itu juga pekerjaan kamu kan.”


Nenek tiba-tiba menepuk bahu Mentari, membuat wanita itu terkejut dengan jantung berdebar.


“Ya Alloh nenek bikin Tari terkejut saja.” Mentari mengusap-usap dadanya untuk meredakan debaran jantungnya.


“Lagian kenapa harus ngintip suami yang lagi cuci piring. Alih-alih membantunya malah hanya mengntip.”


“Tidak apa-apa nek....Rayyan sudah biasa cuci piring kok.” Rayyan sudah berdiri di belakang Mentari. Itu artinya ia tau jika Mentari mengintipnya tadi,dari ucapan nenek. Mentari tampak terkejut dan salah tingkah.


“Tapi lain kali biarkan dikerjakan Mentari saja.”


“Rayyan tidak keberatan kok nek jika tiap hari melakukannya.Pekerjaan rumah kan juga pekerjaan suami.”


“Beruntung sekali Mentari, mendapat suami seperti kamu nak...”


Rayyan seperti diguyur salju mendengar ucapan nenek.Tapi tidak dengan Mentari yang otaknya menyalahkan ucapan neneknya.


Mentari tampak mengangkat bahunya seperti bergidig dan kemudian pergi kekamarnya. Dan itu disadari oleh Rayyan. Pria itu hanya mengulum senyum, selanjutnya ia menyusul istrinya setelah menjawab pertanyaan nenek tentang lengannya.


Didalam kamar Mentari tengah duduk didepan meja rias sambil membaca pesan yang muncul di ponselnya. Tampak fokus dengan jemari yang terus bergerak membalas pesan. Hanya sekejap ia mengalihkan pandangannya ketika Rayyan masuk ke dalam kamar. Rayyan membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Dengan posisinya sekarang ia bisa melihat wajah istrinya dengan dekat dan jelas. Karena ranjang dan meja rias terletak berdampingan.


“Jangan menatapku seperti itu, karena itu takkan merubah apapun. Aku tetap bukan wanita yang beruntung memiliki suami seperti kamu.” Ucapan Mentari membangunkan Rayyan, yang kemudian turun dari ranjang beridiri di belakang Mentari. Dua tangannya ia letakkan di atas bahu Mentari.


“Ia memang benar apa katamu, tapi aku kasih tau kamu jika yang beruntung itu adalah aku. Aku yang beruntung memiliki istri seperti kamu.Maka sampai kapanpun aku tidak akan melepaskanmu.”


Mentari mencoba menyingkirkan tangan Rayyan karena ia ingin beranjak pergi. Tapi tangan Rayyan malah menggenggam tangannya dengan kuat. Dan akhirnya Rayyan mampu memeluk tubuh istrinya dari belakang.


Mentari berusaha melepaskan tangan Rayyan. Namun ia kalah kuat.


“Biar seperti ini dulu...aku kan suamimu, tidak apa-apakan jika aku memelukmu.Halal hukumnya.”


Mentari tak peduli dengan ucapan Rayyan, ia terus berusaha melepaskan diri. Semakin kuat ia berusaha, semakin kuat pula Rayyan memeluknya.

__ADS_1


“Nania.....!”


__ADS_2