
“Rayan...Nania...nama itu tidak asing di telingaku. Sebentar aku sepertinya punya informasi tentang dua orang
itu.” ucap Sandra yang kemudian masuk kekamarnya dan kembali membawa ponsel pintar si tangannya.
“Apa ini orang telah memper*sa kamu?”Ucap Sandra sambil menunjukan sebuah foto seseorang dari ponselnya.
Mentari mengangguk yakin,dengan wajah menegang penuh amarah dan kebencian.
”Iya dia orangnya, dari mana kamu tau? dan apa kamu mengenalnya?.”
“Aku tidak mengenalnya,tapi aku tau siapa dia.Dia adalah pacar dari Nania,artis yang kemarin pagi ditemukan meninggal karena over dosis.Ini foto Nania,dia memang mirip sama kamu.Wajah mereka sering muncul di televisi dan media sosial. Rayyan Arga direktur muda yang tengah sukses dangan bisnisnya, Sementara Nania artis multi talenta dengan segudang prestasi. Banyak orang yang memuja mereka. Mereka dianggap sebagai pasangan paling serasi oleh para netizen.”
Sandra kembali menunjukan layar ponselnya dimana terpampang foto seorang gadis yang wajahnya memang mirip
dengan Mentari. Selama ini Mentari tidak begitu tertarik dengan berita-berita dari dunia artis, jadi dia tidak tau kalau ada artis yang mirip sekali dengannya. Yang membedakannya hanya bentuk muka dan tai lalat. Nania berwajah
oval smentara Mentari berwajah agak bulat dengan tai lalat kecil di dagunya.
Sandra menyimpan ponselnya dan kembali masuk kamar.Sejurus kemudian dia kembali dengan kamera digital di
tangannya.
“Tari, duduklah di sana..”Printah Sandra menunjuk sebuah kursi.
“Untuk apa San?.”
“Udah kamu ikuti saja perintahku.”
Sandra kemudian mengarahkan kameranya ke Mentari dari beberapa sisi. Setelah dirasa cukup ia menyimpan kembali kameranya.
Sandra tampak menghubungi seseorang.Mentari di buat semakin bingung . Ternyata Sandra menelfon sahabatnya yang bekerja sebagai dokter yang juga sahabat dari Mentari.
“Din, aku butuh bantuan kamu.Aku kesitu sekarang.” Belum sempat sang dokter menjawab, Sandra menutup telfonnya.
“Tari, sekarang kita ke tempat praktek Dinda.”
“Mau ngapain?.”
“Nanti kamu akan tau.”
__ADS_1
“Tapi aku belum mandi, belum solat.”
“Nanti saja di tempat Dinda. Kita kesana sekarang.”
Sandra yang merupakan pemilik sebuah butik ternama, menarik tangan Tari dan membawanya pergi ke tempat praktek dokter Dinda. Sampai disana, Dinda sedang memeriksa pasien, jadi mereka berdua menunggu sampai selesai.
Dinda keget setelah melihat kondisi Mentari sahabatnya. Sandra menjawab rasa penasaran Dinda dengan menceritakan apa yang telah terjadi pada Mentari.
“ Din, aku ingin kamu priksa kondisi Mentari sedetel-detelnya. Priksa bagian luar dan bagian dalam tubuhnya, terutama bagian sensitifnya yang telah dirusak pria breng**k itu.”
“Untuk apa San....” Mentari merasa bingung dengan keinginan Sandra.
“ Ayo Tari, masuk ke ruang periksa.”Dinda yang mengerti maksud Sandra mengajak Tari masuk ruang periksa. Selama hampir setengah jam Tari di periksa oleh Dinda.
“Gimana Din, sudah kamu periksa Tari secara menyeluruh?”
“Sudah...hasilnya akan aku simpan.” Jawab Dinda.”Tari, aku beri kamu vitamin, untuk membantu memulihkan kondisimu."Dinda kemudian mengambil sebotol kecil vitamin untuk Tari.
“Sekarang kamu mandi dan ganti pakaianmu.” Sandra menyuruh sembari memberikan pakaian yang ia bawa dari
rumahnya. Tari bergegas menuju kamar mandi yang ada di tempat praktek Dinda.Gadis itu memang ingin segera mandi, membersihan kotoran dan bekas tubuh pria yang telah mengagahinya.
“Iya...aku juga sangat iba melihatnya. Kita harus bisa membantunya Din.” ujar Sandra
“Apa yang harus kita lakukan untuk bisa membantunya.”
“Kita harus minta laki-laki yang sudah memper***nya bertanggung jawab\, dengan menikahi Mentari\, ”
“Iya betul, aku setuju.Tapi bagaimana dengan Dika. Bukankah mereka masih menjalin hubungan meski tanpa
restu dari orang tua Dika.”
“Sepertinya kita harus bicarakan hal ini dulu dengan Mentari. Bagaimanapun mereka masih saling mencintai dan
sepertinya sulit terpisahkan. Meski hubungan mereka tak ada kemajuan setelah terjalin sekian lama. Seandainya orang tua Dika merestui, pasti mereka sudah menikah. Huh....lengkap banget penderitaan Mentari....”
“Jika Dika tau apa yang terjadi dengan Tari, apa dia masih mau bersama Mentari?.”
“Entahlah....tapi saya yakin, kondisi Mentari akan menjadi alasan yang membuat orang tua Dika semakin
__ADS_1
menentang hubungan mereka dan memaksa keduanya untuk berpisah.”
“Jika itu terjadi, semoga mentari bisa menerimanya.”
Sandra mengangguk dan otaknya mulai bekerja bagaimana untuk bisa membantu Mentari sampai sahabatnya itu menemukan kebahagiaannya.
Kedua sahabat itu tak menyadari jika obrolan mereka di dengar oleh orang yang sedang mereka bicarakan. Mentari yang baru selesai mandi dan solat, menghentikan langkahnya dan berdiri di balik tembok samping pintu yang hendak di lewatinya. Matanya terpejam saat mendengar dua sahabatnya membicarakan soal hubungannya dengan Dika.
Apa yang di bicarakan Sandra dan Dinda masuk kedalam otaknya. Dia mencoba mencerna obrolan dua sahabatnya itu.
Selama ini ia bertahan di samping Dika, meski ia tau orang tua Dika tak menyukainnya. Semua karena Dika yang
selalu memintanya bertahan. Dan apakah Dika masih memintanya bertahan, jika Dika tau dengan keadaanya sekarang?.
Diakui, Mentari sangat berat jika harus berpisah dengan Dika. Mengingat cintanya pada pria itu sudah sangat
dalam. Namun cepat atau lambat ia harus memberitahu Dika tentang kondisinya.Dan sepertinya dari sakarang ia harus mulai bersiap untuk bisa kehilangan Dika.Karena kemungkinan mereka berpisah itu ada.
“Tari....sedang apa kamu duduk dilantai, kayak nggak ada kursi aja...” Dinda tiba-tiba sudah berdiri di samping
Mentari.
“Nggak papa...lagi pengin istirahat aja disini.”
Air yang tampak berkilau di mata Mentari tak bisa membohongi Dinda, namun dokter itu mengiyakan saja ucapan Mentari.Ia tak ingin air itu tumpah, dan merusak sarapan mereka nanti.
“Sarapan dulu yuk....” Dinda menarik tangan Mentari, membantunya berdiri.
“Aku sarapan di rumah saja. Nenek pasti sedang mengkhawatirkan ku sekarang.”
“Ya sudah, kamu memang sepertinya harus segera pulang. Kasihan nenek....beliau pasti sangat cemas karena semalam kamu tidak pulang.”
“Makasih ya Din, kamu selalu ada buat aku.” Ucap Mentari seraya memeluk Dinda haru.
“Iya Tari....aku memang akan selalu ada buat kamu. Jadi aku minta kamu jangan pernah putus asa dalam menghadapi masalah yang sedang menimpamu sekarang. Bagiku kau tetap Tari sahabatku, tak ada yang berubah.”
Mentari akhirnya bisa tersenyum, setelah dari semalam tersenyum adalah hal yang tak bisa ia lakukan. Dinda
bahagia melihat sahabatnya tersenyum, dan kembali memeluknya.
__ADS_1
"Aku yakin kamu bisa melewati semuanya."Ucap Dinda menyemangati sahabatnya.