Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 13


__ADS_3

Bandara Internasional Soekarno Hatta – Indonesia


Aiden baru saja menginjakkan kakinya kembali di Negara kelahirannya. Ia membuka kacamata hitam yang bertengker di hidung mancungnya kemudian menatap sekeliling.


Setelah 5 tahun berlalu, kini ia kembali lagi ke Negara ini. Negara yang menyimpan banyak sekali kenangan. Kenangan yang membuatnya trauma dan merasakan rasa sakit.


Setelah menghela nafasnya, Aiden melanjutkan langkahnya seraya menderek koper kecil miliknya. Ia memesan sebuah taxi online untuk menuju ke apartementnya.


Rumah milik keluarganya telah di sita oleh pihak Bank karena hutang milik ayahnya. Kekayaan keluarganya telah raib karena keserakahan kedua orangtua nya.


Kehidupan Aiden berubah drastis sejak 5 tahun lalu. Bukan hanya kehilangan cinta dan kekasihnya, ia juga harus kehilangan segala kekayaan dan fasilitas mewah yang di miliki keluarganya. Hidup keluarganya pecah. Elena, ibunya harus masuk ke dalam sel penjara dan ayahnya meninggal karena kebangkrutan dan semua kekayaannya raib. Aiden pergi meninggalkan kota ini dengan harta simpanan pribadinya.


Tidak mudah untuk melalui kesulitan itu sampai akhirnya mampu ke titik saat ini.


***


Aiden baru sampai di apartement miliknya. Seluruh barang di tutupi kain putih bersih dan debu dimana-mana. Ia kemudian menyimpan kopernya di sisi pintu dan mulai membuka setiap kain yang menutupi barang-barang.


Ia mulai sibuk membereskan apartementnya sendirian.


***


Hari ini Catherine merasa tidak bersemangat untuk bekerja. Aiden telah pergi ke Indonesia dalam waktu yang cukup lama. Dan entah kenapa ia merasa kesepian. Biasanya Aiden akan datang dan mengajaknya berbicara walau dirinya masih bersikap dingin pada Aiden.


Entah bagaimana ada rasa takut di dalam hatinya. Aiden kembali ke Indonesia, akankah perasaannya pada wanita akan kembali tumbuh.


'Ada apa dengan dirimu, Catherine? Bukankah kamu tidak perduli padanya?' batin Catherine menghela nafasnya seraya mengusap wajahnya gusar.


"Permisi Nyonya, ada Mr. Robert datang," seru Sekretarisnya melalui intercom.


"Biarkan masuk."


Tak lama pintu ruangan terbuka dan muncullah sosok Robert dengan setelan jasnya.


"Siang Honey," seru Robert berjalan mendekati Catherine dan mencium keningnya. Kemudian ia duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"Tumben kamu datang, ada apa?" tanya Catherine duduk di hadapannya.


"Begini Hon. Aku berencana membangun proyek baru di daerah SI."


"Tapi kamu tau daerah itu sudah aku jadikan cagar alam."


"Ayolah Honey, kita bisa buat lapangan golf di sana. Atau sebuah resort, apartement. Aku yakin akan banyak custamer yang memilih tinggal di daerah sana."


"Tidak Robert, aku tidak akan melepaskan daerah itu. Aku bermimpi ingin membangun sebuah rumah di sana. Untuk tempat tinggalku dan keturunanku."

__ADS_1


"Jangan bodoh! Kawasan itu sangat diincar banyak orang. Kita harus mengambil keuntungan untuk ini. Sekali saja kita tawarkan kerjasama di daerah itu dengan beberapa perusahaan. Mereka akan langsung berebut untuk mendapatkannya. Kita akan mendapatkan untung miliaran dollar."


Catherine terdiam.


"Daerah itu adalah kenangan terakhir dari mendiang Mommy ku. Aku mohon kamu jangan memaksaku akan hal ini."


"Jangan pelitlah. Aku ini calon suamimu. Kita bisa mencari daerah lain untuk rumah kita kelak. Daerah sana sayang sekali kalau tidak kita lepas."


"Maaf Robert tetapi aku tidak bisa." Catherine melirik jam tangan yang bertengker di pergelangan tangannya. "Aku harus menjemput Jasmine. Aku akan pergi."


Catherine beranjak dari duduknya dan mengambil tasnya. "Kamu mau pergi bersamaku?" tanya Catherine.


"Tidak. Aku sibuk." Robert beranjak pergi dengan wajah kesalnya. Sial! Pikirnya.


Catherine menghela nafasnya. Ia kembali teringat ucapan Aiden yang mengatakan untuk tidak menjual kebahagiaannya demi bisnis.


***


Aiden pergi ke sebuah cafe untuk menikmati kopi. Ia belum berniat datang ke rumah sakit menemui Ibu nya.


"Eh Aiden?"


Ia menoleh ke sumber suara dan sedikit kaget melihat siapa orang yang menyapanya.


"SI kembar," serunya.


"Sudah lima tahun berlalu, kalian masih saja kompak kesana kemari berdua. Manis sekali," seru Aiden.


"Ck, ini si Kay ngekorin aku terus," keluh Key.


"Kau saja yang selalu ingin aku temani," jawab Kay.


"Jangan fitnah. Aku selalu tidak ingin jalan bersamamu. Itu membuatku kehilangan pamor."


"Kamu yang terlalu malu untuk mengakuinya. Kalau kamu ingin selalu bersamaku."


"Hei-!"


"Haduh masih tidak berubah," keluh Aiden membuat pria kembar itu berhenti berdebat. "Makanya cepat menikah, jadi kalian tidak akan berduaan terus."


"Aku benci wanita!" seru Kay.


"Itu karena kamu terlalu bodoh. Mau saja di manfaatkan wanita ular itu," jawab Key.


"Memangnya kamu punya kekasih. Padahal jomblo akut."

__ADS_1


"Aku seperti sedang menonton acara wayang," keluh Aiden.


"Baiklah kita ganti topik padamu saja. Kamu kemana saja selama ini?" tanya Kay.


"Aku memulai kehidupan baruku di kota N."


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Key. Tatapannya berubah menjadi tatapan iba.


"Jangan menatapku seperti itu. Apa aku terlihat sangat lemah dan frustasi?" tanya Aiden.


"Tidak sih, kau terlihat semakin tampan," kekeh Key.


"Kamu datang kemari karena tante Elena?" tanya Kay.


Aiden mengangguk. "Setelah melihatnya, aku akan kembali ke kota N."


"Kenapa tidak menetap di sini saja. Kadang kita kangen saat kita kumpul bersama dengan Dave juga," seru Key sedikit memelankan suaranya menyebut nama Dave.


"Entahlah. Mungkin itu tak akan pernah terjadi," seru Aiden terlihat merenung sesaat.


"Kamu masih mempunyai dendam padanya?" tanya Kay.


"Dendam?" Aiden tersenyum kecil. "Aku sudah tidak memikirkan semua hal itu. Hanya saja, aku tidak ingin berbaur kembali dengan masalaluku."


"Aku bukan pria baik yang pemaaf," tambah Aiden terlihat acuh.


"Baiklah kita tidak perlu membahas itu. Jadi bagaimana kau di kota N? Apa kau sudah menikah?" tanya Key.


"Kalau kau beneran sudah menikah tanpa mengundang kami. Ter-la-lu sekali." Aiden terkekeh mendengarnya.


"Kalau aku sudah menikah, aku tidak mungkin berada di sini sendirian."


"Bagus kalau begitu. Tapi kekasih ada, kan?" tanya Kay.


"Sepertinya peringkat Key sebagai jombol akut akan tergeser olehku," seru Aiden.


"Jangan begitu. Carilah kekasih. Wanita di kota N pasti sangat cantik dan juga seksi," seru Key.


"Biarkan peringkat jomblo akut tetap di pegang oleh si Key. Sebaiknya kamu mencari kekasih," seru Kay.


"Apa sih!" cibir Key ke arah Kay.


"Tidak semudah itu menjalin sebuah hubungan." Aiden termenung sesaat, larut dalam pikirannya sendiri. "Sudahlah kita akhiri saja pembahasan ini. Kita kembali ke kehidupan kalian berdua."


Aiden tidak ingin membahas lagi mengenai masalalunya dan sebuah hubungan. Ia juga tidak memiliki rencana untuk mencari seorang kekasih. Apalagi memikirkan menikah. Mungkin dalam kondisi sekarang itu, jauh lebih baik untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


*** 


__ADS_2