Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 6


__ADS_3

Aidenbaru saja sampai


di klab malam milik Harry. Ia selalu datang saat ada waktu luang supaya rasa


hampa itu tidak semakin menyesakkan dirinya.


                “Mr. Aiden,” seru Lala


yang datang menyambut Aiden.


                Wanita cantik itu tak


pernah lelah mendekati Aiden walau sering sekali di tolak dan di abaikan oleh


Aiden.Seperti biasa Aiden hanya meliriknya sekilas dan berjalan menuju meja


bartender.


                “Aku senang melihatmu


datang,” seru Lala langsung bergelayut manja di lengan Aiden.


                “Lala, pergilah!”


                “Kenapa kamu terus


saja mengusirku? Apa aku sangat menjijikan di matamu?” tanya Lala yang merasa


tersinggung dan sakit hati.


                “Tidak, bukan seperti


itu. Aku hanya ingin sendirian,” seru Aiden dan kembali berjalan meninggalkan


Lala yang terlihat kesal.


                “Sebenarnya wanita


seperti apa yang di inginkan Aiden. Kenapa dia terus menerus menolakku,” gumam


Lala memperhatikan punggung lebar milik Aiden.


                Aiden duduk di meja


bartender dan Louis langsung menyapanya.


                “Seperti biasanya,”


seru Aiden.


                “Oke.”


                Louis dengan cepat


memberikan segelas cairan cokelat dengan es batu didalam gelas kecil.


                “Mukamu terlihat lesu,


ada apa?” tanya Louis seraya mengelap beberapa gelas yang sudah ia bersihkan.


                “Aku baik-baik saja,”


jawab Aiden.


                “Wajahmu tidak


mengatakan hal itu. Dan hari apa sekarang? Tumben kamu datang di hari kerja.”


                “Ck, kamu sungguh


cerewet,” seru Aiden meneguk minuman didalam gelasnya.


                Louis kembali sibuk


dengan pekerjaannya menyiapkan beberapa minuman untuk para pelanggan.


                “Louis, kenapa aku


begitu kesal dan marah,” gumamnya membuat Louis menoleh ke arahnya.


                “Sudah jelas sekali di


wajahmu tertulis kamu sedang ada masalah. Baiklah katakan saja ada apa?” tanya


Louis.


                “Sejujurnya aku


sedikit trauma akan perasaan cinta. Tapi melihat dia bersama pria lain kenapa


aku merasa kesal dan marah?” serunya seakan tak paham.


                “Berarti kamu memiliki


perasaan cinta pada wanita itu. Itu namanya kamu sedang cemburu,” seru Louis.


                “Tapi dia wanita yang


aku anggap sebagai temanku.”


                “Memangnya kalau


teman, tidak bisa menjadi pasangan? Ayolah Aiden, jangan bodoh,” seru Louis.


                Aiden terdiam, tetapi


ia masih tidak yakin kalau itu perasaan cinta. Di tambah lagi ia memiliki


trauma akan cinta. Rasa sakit itu masih membekas didalam hatinya walau ia sudah


melupakan Agneta sepenuhnya.


---


                Kala sibuk dengan


pikirannya ia melihat seseorang yang ia kenali baru saja datang ke dalam klab


itu.


                “Robert?” gumamnya.


                Robert terlihat datang


dengan seorang wanita cantik dengan pakaian seksi, mereka saling merangkul satu


sama lainnya dan terlihat begitu mesra.


                “Sialan!” Aiden merasa


amarahnya tersulut dan rasanya ia ingin mematahkan kedua tangan dan kaki


Robert.


                “Hei kamu mau ke mana?”


seru Louis melihat Aiden beranjak dari duduknya.


                “Aku harus memberi


seseorang pelajaran.”

__ADS_1


                Setelah mengatakan


itu, Aiden beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Robert.


                “Hei!” panggil Aiden


membuat Robert menoleh.


                Bug


                Karena pukulan mendadak itu membuat Robert tidak mampu


menangkis atau menghindarinya. Tubuhnya terdorong ke depan dan hampir


tersungkur.


                “Berengsek!” amuk


Robert membalas memukul Aiden tetapi Aiden berhasil menghindar.


                Mereka berdua akhirnya


terlibat perkelahian, Louis dan keamanan di sana segera memisahkan mereka


berdua.


                “Sialan! Siapa kamu


dan kenapa langsung memukulku!” amuk Robert terlihat emosi.


                “Kau yang sialan! Kau


sudah memiliki tunangan tapi masih berkeliaran dengan wanita lain!” amuk Aiden.


                “Memang apa urusannya


denganmu aku ada tunangan atau tidak?” amuknya.


                “Ada urusannya


denganku! Karena aku tidak ingin Catherin di khianati!”


                “Oh jadi kamu


mengenalnya,” seru Robert. “Apa kamu memata-mataiku untuknya?” ejek Robert.


                “Kau!”


                “Aiden cukup!” Louis


mencengkram kerah baju Aiden dan menariknya menuju bagian belakang klab.


                “Apa kamu sudah gila


membuat keributan di sini? Bagaimana kalau Harry sampai tau?” seru Louis.


                “Dia pria sialan yang


seharusnya aku bunuh!” amuk Aiden tampak kesal.


                “Memang apa


hubungannya denganmu? Come on Aiden, di sini termasuk wajar memiliki hubungan


gelap dengan beberapa wanita. Kenapa kamu begitu naif.” Aiden termangu di


tempat.


                Ada apa dengan


dirinya, biasanya dia tidak perduli dengan apapun. Tetapi kenapa sekarang dia


Catherin? Atau demi dirinya yang terluka karena pengkhianatan dan membenci


apapun yang berbau pengkhianatan?


                “Aku akan pulang,”


seru Aiden beranjak pergi meninggalkan Louis yang menatapnya menjauh.



                Catherin baru saja


sampai di kantor. Ia berjalan memasuki lift untuk para petinggi.


                “Hallo,” serunya


mengangkat telpon saat dering handphone terdengar.


                Ia berbicara mengenai


bisnis didalam lift tanpa menyadari keberadaan sosok lain didalam sana.


                “Eh?”


                Tubuh Catherine oleng


saat lift tiba-tiba saja bergetar dan berhenti.


                “Ada apa ini?”


gumamnya memutuskan sambungan telpon.


                “Biar aku periksa,”


seruan itu membuatnya menoleh dan ia baru menyadari adanya sosok lain didalam


lift.


                “Aiden?”


                Aiden menekan tombol


bergambar lonceng dan menghubungi pihak keamanan di sana.


                “Ah!” jerit Catherine


saat lift kembali bergetar dan tubuhnya oleng tetapi tangan kekar Aiden dengan


sigap merengkuh pinggangnya dan membuat tubuh mereka menempel satu sama lain.


                “Sepertinya ada


gangguan, kita tunggu pertolongan sebentar lagi,” ucap Aiden menatap manik mata


Catherin.


                Catherine


menganggukkan kepalanya tanda setuju. Jantungnya berdebar begitu cepat hingga


membuatnya tidak mampu berbuat apapun dan hanya menurut saja.


                “Khem...” saat


kesadarannya kembali, Catherine mendorong dada Aiden dan berjalan mundur.


                AC didalam lift pun


ikut mati, membuat mereka berdua kepanasan dan keringat membasahi mereka. Aiden

__ADS_1


melepaskan jas yang ia gunakan dan membuka kancing kemeja putih yang ia


gunakan. Setiap kejadian itu tak luput dari tatapan mata Catherine.


                “Kamu tidak berniat


untuk bertelanjang di hadapanku, bukan?” seru Catherine yang juga merasa


kepanasan dan terpesona oleh tubuh Aiden yang begitu sempurna.


                “Apa kamu menginginkan


itu?” goda Aiden.


                “Apa maksudmu?


Berhentilah berbicara omong kosong,” serunya memalingkan wajahnya seraya


mengikat rambutnya yang tadinya di gerai.


                “Ck, benar-benar


pegawai yang tidak berguna. Kenapa lama sekali,” gerutu Catherine.


                Aiden berdiri dengan


bersandar ke dinding lift. Tatapan matanya masih tertuju pada Catherine yang


mengipasi dirinya dengan tangannya.


                “Apa hubunganmu dengan


Robert serius?” tanya Aiden begitu saja hingga membuat Catherine melihat ke


arahnya. “Atau hanya sekedar hubungan untuk memperkuat bisnis kalian?”


                Catherine memalingkan


wajahnya. “Itu bukan urusanmu,” serunya.


                “Robert bukan pria


baik-baik, semalam aku melihatnya dengan seorang wanita. Jangan korbankan


kebahagiaanmu demi sebuah bisnis.”


                “Kau tau apa tentang


kebahagiaanku! Jangan urusi urusanku lagi,” seru Catherine dengan nada dingin.


                “Aku perduli padamu. Jangan


mengorbankan lagi kebahagiaanmu demi bisnis. Robert bukan pria yang baik


untukmu,” seru Aiden.


                “Ha ha ha...” Catherin


tertawa garing dan kini berjalan mendekati Aiden.


                “Lalu pria seperti apa


yang baik untukku?” tanya Catherine.


                “Carilah orang yang


sungguh-sungguh mencintaimu dan kamu mencintainya. Hiduplah bahagia dan


membangun sebuah kehidupan yang bahagia.”


                “Ha ha ha... Jangan


naif Aiden,” kekehnya. “Kau sendiri pun tidak percaya akan hal itu bisa terjadi


dalam kisah nyata. Menikah dengan orang yang di cintai dan hidup bahagia.


Bukankah itu hanya ada didalam novel. Jangan naif,” kekeh Catherine merasa lucu


mendengar seruan Aiden.


                “Bahkan aku tidak


yakin kamu masih percaya akan cinta. Emm atau kamu memintaku  meninggalkan Robert karena kamu membenci


pengkhianatan seperti yang di lakukan wanita yang kamu cintai itu, AGNETA.”


                “Kau!”


                “Kenapa? Tebakanku


benar, bukan?” seru Catherine dengan nada mengejek. “Aku tidak ingin mencampuri


urusanmu dan aku harap kamu juga begitu.”


                “Apa begitu besar kebencianmu


padaku, karena kesalahan di masa lalu?” tanya Aiden.


                “Aku tidak ingin


membahasnya,” ucap Catherine menghindar.


                Aiden menarik lengan


Catherin hingga membuatnya terbentur dengan dada bidang Aiden. Aiden


mencengkram kedua pundak Catherine dan membuat matanya bertemu dengan mata


tajam miliknya.


                “Katakan Catherine,


apa begitu besar rasa kebencianmu padaku?” tanya Aiden menatap dengan intens


manik mata Catherin seakan mencari sesuatu di sana.


                “Memang apa bedanya


antara aku membencimu atau tidak. Toh kita tidak bisa merubah apapun,” seru


Catherin berusaha menghindari tatapan Aiden yang selalu membuat jantungnya


berdebar kencang.


                “Penting bagiku! Aku


ingin kamu kembali menjadi temanku seperti dulu. Aku tidak ingin kehilanganmu


lagi!”


                Deg


                Tatapan Catherine melebar mendengar penuturan Aiden


barusan.


                “Kamu sangat penting


bagiku, Cath.”


__ADS_1


__ADS_2