Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 32


__ADS_3

Aiden mendatangi rumah Catherine untuk menemui Jasmine. Langkahnya terhenti saat melihat Catherin berada dalam pelukan seseorang.


Hati Aiden terasa sangat terbakar dan rasanya ia ingin meninju pria yang memeluk Catherine itu.


Aiden melangkahkan kakinya menuju mereka berdua dan tanpa pikir panjang ia menarik paksa lengan pria itu hingga melepaskan pelukannya dan seperdetik kemudian, tinju Aiden mendarat di rahangnya.


"AH!" pekik Catherine yang kaget.


"Shit!" umpat pria yang tersungkur itu dan memegang sudut bibirnya yang berdarah.


"Aiden, apa-apaan kamu ini!" seru Catherine.


"Kamu mau membela pria itu, hah?" bentak Aiden membuat Catherine terpekik kaget. "Apa kamu tidak malu berpelukan dengan pria asing di sini. Bagaimana kalau Jasmine melihat?"


"Dan pria ini. Setelah Alan sekarang pria ini! Apa kamu harus serendah ini Catherine!"


Plak


Tangan Catherine melayang ke pipi Aiden membuatnya membeku. Tatapan Catherine sudah memerah menahan air mata dan amarahnya.


"Pergi!"


"Cath-"


"Aku bilang pergi!" usir Catherine. "Kamu gak berhak menghinaku dan mengatur hidupku!" pekiknya menangis dan beranjak masuk ke dalam rumah dengan membanting pintu.


"Oho... hey Bung, aku akan mengampuni atas pukulanmu barusan. Efek rasa cemburu memang dasyat," serunya menunjukkan smirknya.


"Dan perlu kau tau. Aku bukanlah pria peliharaannya Catherine. Aku adalah Kakaknya," seru pria itu membuat Aiden membeku di tempatnya.


"Kaget bukan," kekehnya. "Sekarang usahalah untuk mendapatkan maaf darinya. Karena adik perempuanku itu sulit memberikan maaf." Pria itu menepuk pundak Aiden dan beranjak pergi meninggalkan Aiden yang mematung di tempatnya dengan dongkol.


'Apa yang sudah aku lakukan? Apa yang terjadi dengan diriku?' batin Aiden.


Aiden beranjak pergi meninggalkan area rumah Catherine.


Di dalam rumah Catherine berdiri di balik pintu. Bersandar di sana dengan hati yang terluka.


Kamu mau membela pria itu, hah?


Apa kamu tidak malu berpelukan dengan pria asing di sini. Bagaimana kalau Jasmine melihat?


Kenapa? Kenapa Aiden harus menganggap dirinya begitu rendah? Apa penolakannya belum cukup sampai harus menghinanya.


Sampai kapan ia harus terus tersakiti begini olehnya.

__ADS_1


"Mommy..."


Panggilan itu membuat Catherine menoleh ke sumber suara. Melihat Jasmine berdiri di lorong penghubung ruang tamu dan ruang keluarga membuat Catherine segera menghapus air matanya.


"Kenapa kamu keluar dari kamar? Kamu belum sembuh, Sayang." Catherine berjalan mendekati Jasmine.


"Aku tadi kebangun karena denger suara ribut-ribut. Ada apa Mom? Kenapa Mom nangis?" tanya Jasmine.


"Tidak apa-apa. Barusan ada orang asing yang membuat onar," ucapnya. "Ayo kita ke kamar lagi. Kamu harus banyak-banyak beristirahat."


***


Aiden meneguk kembali minuman dalam gelasnya entah sudah gelas yang ke berapa.


Kepingan kenangan bersama Catherine juga kata-kata Catherine terus terngiang di kepalanya bagaikan palu yang terus memukuli kepalanya dan dadanya. Sesak sekali rasanya sampai berkali-kali ia memukul dadanya yang sangat sakit dan sesak.


'Apa yang sudah aku lakukan selama ini? Kenapa aku begitu bodoh,' batin Aiden. 'Aku sudah mencintainya, tetapi rasa takut ini menahan perasaan ini.'


'Aku mencintai Catherine....'


"Shit!" umpat Aiden kembali meneguk minumannya. Wajahnya telah memerah dan ia sudah mabuk berat. Rasanya ia ingin membiarkan cairan yang ia minum membakar dadanya dan dirinya.


Karena kebodohannya yang telat menyadari satu hal. Dan karena rasa trauma yang mendalam membuat dia malah terus menerus menyakiti wanita yang ia cintai.


Ia takut di sakiti lagi, tetapi malah dirinya yang menyakiti oranglain.


"Bodoh!" Aiden tertawa kecil. Ia mentertawakan dirinya sendiri. Betapa bodohnya dirinya.


Tanpa sadar air matanya luruh dari pelupuk matanya.


Di ambang pintu Harry tengah memperhatikan temannya itu. Ia tidak ingin mengganggu Aiden sama sekali. Ia tau Aiden sedang frustasi saat ini.


***


Catherine baru saja keluar dari kantornya. Ia tengah berjalan menuju mobilnya di parkiran basement khusus para petinggi. Ia berjalan dengan santai menuju mobilnya dengan mengeluarkan kunci mobilnya menekan tombol buka kunci.


Sebelum ia sampai di mobilnya. Tiba-tiiba saja seseorang membekam mulutnya. Catherine yang kaget sempat memberontak tetapi tenaganya langsung lemas. Tubuhnya lunglai dan ia jatuh pingsan.


"Cepat bawa ke mobil," seru pria yang memegang tubuh Catherine.


Ada dua orang yang membawa tubuh Catherine masuk ke dalam mobil minibus dan satu orang lagi menyetir mobil. Dan langsung meninggalkan tempat itu.


***


Aiden baru saja terbangun. Ia semalaman mabuk berat dan tidak mengingat apapun.

__ADS_1


Inilah kelemahan Aiden. Ia tidak bisa minum dan saat mabuk, ia benar-benar tidak mampu mengendalikan dirinya dan mengingat apapun.


"Kau sudah bangun?" pertanyaan itu membuatnya menoleh ke sumber suara.


"Lala?" pekik Aiden melihat seorang wanita yang hanya memakai tangtop dan hotpants. "Ba-bagaimana kamu bisa ada di sini?"


Aiden sudah kalut. Ia takut kejadian di masalalu terulang lagi.


"Memangnya kamu mengharapkan siapa di sini?" tanya Lala tersenyum kecil.


"Lala, aku serius bertanya padamu. Kamu yang bawa aku ke sini?" tanya Aiden.


"Begitulah."


"A-apa kita?"


Ucapan Aiden menggantung di udara dengan ekspresi yang sangat syok dan ngeri.


"Ekspresimu seperti wanita yang habis di perkosa," kekeh seseorang membuat Aiden melihat ke arahnya.


"Harry," serunya.


"Apa kau ingin menonton adegan panas semalam? Uch aku sampai di buat terangsang," canda Harry.


"Berhenti bergurau. Ini tidak lucu," seru Aiden yang tau kalau semalam tidak terjadi apapun.


Aiden beranjak dari atas tempat tidur.


"Aiden, aku membawakan minum dan obat penghilang rasa pusing," seru Lala.


Aiden melihat ke arah Lala, kemudian ia melihat ke arah Harry.


"Kenapa dia bisa ada di sini?" tanya Aiden.


"Semalam ia khawatir padamu yang sudah tidak sadarkan diri. Jadi aku membiarkannya ikut ke sini," jawab Harry dengan santai dan beranjak pergi meninggalkan kamar.


"Apa kamu begitu tidak sukanya sama aku?" tanya Lala.


"Aku sedang tidak ingin membahas ini. Kamu simpan saja obat itu di atas nakas, nanti aku meminumnya," ucap Aiden beranjak pergi memasuki kamar mandi.


Lala hanya mampu menghela nafasnya dan menyimpan nampan yang ia bawa di atas nakas.


*** 


TBC...

__ADS_1


27-04-2020


__ADS_2