
Catherine termenung sendiri di dalam kamarnya. Ia memikirkan ucapan Harry beberapa waktu lalu. Bagaimana bisa Aiden melakukan pengorbanan besar untuk dirinya.
Mengapa? Mengapa Aiden melakukan hal itu. Bahkan sampai rela mengorbankan pekerjaan yang merupakan impiannya sendiri.
Catherine mnegingat kejadian saat Aiden datang ke kantornya dan berpamitan kepadanya karena dia berhenti bekerja sebagai Pengacara.
Mengingat hal itu, tanpa sadar air mata Catherine luruh membasahi pipinya. Hatinya merasa sakit dan mengutuk dirinya sendiri. Selama ini ia selalu egois dan merasa dirinya yang paling tersakiti tanpa melakukan apapun. Dan Aiden...?
Benarkah dia memang sudah mencintainya sejak dulu?
Dering handphone menyadarkannya. Nama Aiden muncul di sana. Ia pun segera menghapus air matanya.
"Hallo."
"Kamu sedang apa? Belum tidur?"
"Belum. Kamu sedang apa?"
"Aku sedang dalam perjalanan menuju WT Corp. Hari ini pengumuman mengenai statusku di sana," seru Aiden. "Sebenarnya aku sangat ingin kamu hadir di sini, Cath."
"Aku selalu bersamamu," seru Catherine.
"Suara kamu terdengar serak. Apa kamu sakit? Atau baru saja menangis?"
Pertanyaan Aiden membuat Catherine membeku di tempatnya. Sepertinya Aiden tidak bisa di bohongi. Sekarang ini dia begitu peka.
"Aku baik-baik saja. Mungkin akan flu," dusta Catherine.
"Apa perlu aku meminta Mouli memanggil Dokter?"
"Tidak tidak, aku baik-baik saja. Aku akan meminum vitamin. Nanti juga akan reda. Kamu tidak perlu khawatir. Fokus saja dengan pekerjaanmu di sana," seru Catherine.
"Aku akan segera menyelesaikan semuanya di sini. Dan segera kembali ke sana. Aku tidak bisa meninggalkanmu dan Mine terlalu lama."
"Aku bukan anak kecil, Aiden."
"Kamu wanitaku. Dan aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada wanitaku."
Deg
Catherine di buat membeku dan aliran darahnya semakin berdesir hebat mendengar ucapan Aiden. Akhir-akhir ini kata-kata Aiden sangat tidak baik untuk kinerja jantungnya.
"Aku mengantuk."
"Kalau begitu tidurlah. Have a dream Baby... Miss you."
__ADS_1
"Bye."
Catherine segera memutuskan panggilan teleponnya. Ia memegang dadanya dimana jantungnya berdetak sangat cepat seperti habis lari marathon. Ah ia belum terbiasa dengan kebiasaan ini. Kenapa Aiden manis sekali, bahkan ia hampir mati karena kehilangan pasokan udara.
Tetapi ia tidak memungkiri kalau ia sangatlah bahagia. Perasaan cintanya tak perlu ia tahan lagi. Dan tak perlu merasakan sakit lagi. Catherine tersenyum merekah menatap layar handphonenya.
"I miss you too...." Catherine bahkan mencium layar handphone nya.
***
Di perusahaan WT Corp, Davero tampak hadir dalam meeting para pemegang saham.
Di sana Devara memperkenalkan Aiden yang memang kebanyakan sudah mengenalnya.
"Kami bertiga pewaris keluarga Wiratama akan bekerja sama untuk mengembangkan bisnis Wiratama Group," seru Devara.
"Mr. Aiden Wiratama di sini untuk sementara akan menjadi Direktur Eksekutif di sini," seru Devara.
Aiden berdiri dari duduknya.
"Selamat siang. Terima kasih untuk kalian yang bersedia hadir di sini," seru Aiden. "Ini mungkin bukan perkenalan pertama kita. Aku kembali bekerja di sini, dan aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengembangkan perusahaan. Mohon kerja sama dari kalian," seru Aiden.
Sebuah tepuk tangan terdengar dari Dave dan diikuti oleh para pemegang saham lainnya. Aiden melihat kea rah Dave yang terlihat duduk dengan angkuh dan tatapan tajamnya tetapi bibirnya membentuk sebuah senyuman kecil, bahkan tak banyak orang sadar kalau Dave sedang tersenyum. Tetapi Aiden mengetahui itu, ia sudah mengenal Davero. Aiden membalas senyuman Dave seakan mengucapkan kata 'Thank.'
Aiden tau walau sodaranya itu sangat dingin dan bahkan misterius, arrogant dan penuh keangkuhan, tetapi dia sangat baik dan sangat perduli dengan sodaranya. Setidaknya Agneta telah berada di tangan yang tepat.
Meeting para pemegang saham pun berakhir. Kini Dave, Devara dan Aiden berada di ruangan direktur. Devara terlihat menjelaskan beberapa berkas penting kepada Aiden.
"Ngomong-ngomong kenapa kamu tidak langsung menempati direktur utama saja?" tanya Devara tampak kesal. "Aku sudah ingin pension."
"Aku rasa menjadi direktur eksekutif sudah cukup. Mungkin nanti aku akan menempati posisi itu," seru Aiden.
"Ck, kau terlalu memilih-milih," seru Dave yang duduk santai.
"Ngomong-ngomong apa kamu tidak punya pekerjaan lain selain mengkritik seseorang?" tanya Aiden.
"Itu juga merupakan pekerjaanku. Kau tau, demi menghadiri meeting ini, aku membatalkan beberapa janji dan meeting di kantorku," seru Dave.
"Aku juga tidak butuh kehadiranmu," jawab Aiden.
"Oh God! Kapan kalian akurnya sih? Astaga," keluh Devara.
Dave tidak menggubrisnya dan beranjak dari duduknya. Ia berjalan menuju mesin pembuat kopi dan membuat kopi di sana.
"Aiden, ngomong-ngomong kapan kamu menikah?" tanya Devara.
__ADS_1
"Belum terpikirkan," jawab Aiden yang fokus membaca berkasnya.
"Kalau menikah, jangan lupa undang kami. Awas saja kalau tidak," seru Devara.
"Iya Vara. Aku akan mengundangmu tetapi tidak dengan kembaranmu," seru Aiden.
"Aku juga tidak berniat menghadiri pernikahanmu yang membosankan," seru Dave menyeduh kopi yang dia buat.
"Sebenarnya aku malas bertanya padamu, Dave. Tapi aku penasaran, apa yang membuat WT Corp memutuskan kontrak kerja sama dengan SR?" tanya Aiden.
Dave yang berdiri dengan bersandar ke meja sudut menyimpan kopinya di atas meja dan memasukkan kedua tangannya ke saku celana nya.
"William terlalu serakah. Aku tidak setuju dengan kontrak yang dia ajukan," jawab Dave dengan santai. "Kau tau sendiri, aku tidak terbiasa banyak pertimbangan. Kalau menurutku tidak kompeten dan tidak menguntungkan maka aku coret saja," seru Dave mengedikkan bahunya acuh.
"Apa kamu punya berkas-berkasnya?" tanya Aiden.
"Aku tidak menyimpan berkas-berkas tidak penting seperti itu. Kau tanyakan saja ke sekretaris Hanna," seru Dave.
Aiden mengangguk.
"Apa itu sangat penting?" tanya Devara.
"Sangat Vara. Itu adalah senjataku untuk membuat William takluk," seru Aiden.
"Dulu kau di jodohkan dengan anaknya William. Apa itu ada hubungannya dengan ini?" tebak Dave yang memang feelingnya selalu kuat.
"Aku akan menikahi putrinya," jawab Aiden santai.
"Ah sudah aku tebak. Apa anakmu dari wanita itu seusia dengan putri bungsuku?" tanya Dave penuh kecurigaan.
"Ck, bukan urusanmu."
"Aku tebak itu benar. Jadi memang sejak awal kau memang sama berengseknya denganku," seru Dave membuat Aiden hanya mendesis saja tak mampu menepisnya karena memang itu adalah kenyataan.
"Sudahlah pokoknya kalau menikah kamu harus undang kami, Aiden. Kami ini keluargamu," seru Devara.
"Jangan memaksa Vara."
"Dave diamlah."
"Aku akan mengundangmu, Vara. Aku tidak mungkin hadir di pernikahanku tanpa keluarga, bukan?" seru Aiden.
Mereka bertiga sebenarnya saling perduli satu sama lainnya dan saling menyayangi. Walau interaksi Aiden dan Dave selalu seperti itu, tetapi Devara yang memiliki sikap lemah lembut dan keibuan selalu menjadi penengah bagi mereka. Dan bagusnya baik Aiden maupun Dave, keduanya tidak ada yang bisa membantah Devara.
***
__ADS_1
TBC...
11-06-2020