Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 19


__ADS_3

Catherinebaru saja keluar


dari rumahnya. Ia menatap ke langit saat butiran salju jatuh ke tanah. Ia


menengadahkan telapak tangannya hingga butiran salju itu menyentuh kulit


tangannya.


                Tidak terasa, sekarang


sudah masuk ke musim dingin dimana salju pertama sudah turun.


                Saat tengah menikmati


hujan salju pertama, tiba-tiba seseorang berdiri di hadapannya membuatnya


melihat ke arah seseorang itu.


                “Alan?” seru


Catherine.


                “Hai, selamat pagi,”


sapanya dengan senyuman lebar.


                “Kamu? Kenapa ke sini?”


tanya Catherine mengernyitkan dahinya.


                “Sengaja aku datang


kemari untuk mengantarmu ke kantor,” seru Alan.


                “Tapi arah menuju


kantor berbeda denganmu,” seru Catherine.


                “Tidak masalah. Ayo


aku antar kamu ke kantor,” ucap Alan menarik pergelangan tangan Catherine dan


masuk ke dalam mobil Alan.


                Dari kejauhan sebuah


mobil tampak berhenti dan sang sopir terlihat mengawasi Catherine yang masuk ke


dalam mobil Alan. Kedua tangannya terlihat mencengkram setir mobil.


                “Ada apa denganku,”


gumamnya yang tak lain adalah Aiden.


                “Kenapa rasanya sangat


marah melihat Catherine bersama pria itu.”


                Aiden memukul setir


mobilnya karena kesal. Sesaat ia terdiam menyandarkan kepalanya ke sandaran jok


mobil seraya menghembuskan napasnya dengan kasar.



                “Mr. Aiden, anda di


minta datang ke ruangan Mr. George,” seru Sekretaris Aiden saat ia hendak masuk


ke dalam ruangannya.


                Aiden sudah tau cepat


atau lambat ia akan di panggil oleh pemimpin Firma hukum dimana ia bekerja.


Kasus Menteri itu sepertinya telah sampai ke telinga atasannya.


                “Baik,” jawab Aiden.


                ---


                Saat ini Aiden sudah


berdiri di depan pintu besar. Ia menguatkan dirinya sebelum mengetuk ruangan


itu.


                Setelah mendapatkan


jawaban dari dalam, ia pun membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan.


                “Selamat Pagi, Mr.”


                “Silakan duduk,


Aiden,” seru pria tua itu.


                Aiden mengambil duduk


di hadapan Mr. George yang terlihat emosi.


                “Anda memanggil saya?”


tanya Aiden.


                “Lihat ini!” George


melemparkan koran ke atas meja di hadapan Aiden. “Apa-apaan ini Aiden. Bisa kamu


jelaskan?”


                Geroge terlihat emosi


sekaligus kesal.


                “Apa ada masalah Pak?”


tanya Aiden dengan nada tenang.


                “Kamu jelas sudah


mengetahuinya. Bagaimana media mendapatkan aib Menteri Lian. Bukankah berkas


bukti skandalnya kamu yang simpan,” serunya. “Kamu yang menangani kasusnya saat


itu.”


                “Ya,” jawab Aiden.

__ADS_1


                “Apanya yang Ya!”


                Brak


                George menggebrak meja karena emosi. “Jadi benar kamu


yang menyebarkan berita ini?” tanya George.


                “Tanpa aku sebar pun,


Menteri Lian memang sudah sangat banyak melakukan penggelapan dana dan bermain


wanita di luar. Aku hanya tidak suka melindungi seorang penjahat,” jawab Aiden


dengan tenang.


                “Dimana otakmu, hah?


Apa kamu ingin Firma ini hancur dan di tutup!” pekik George. “Jangan kelewatan


batasanmu, Aiden. Kau di sini hanya seorang Pengacara! Kau harus mengikuti


aturan yang aku buat!”


                Aiden tersenyum kecil.


“Apa Menteri itu sangat berpengaruh pada Firma ini?” tanya Aiden.


                “Kalau Firma ini


berjalan karena melindungi para penjahat. Maka aku akan senang hati


mengundurkan diri dari sini,” ucap Aiden.


                “Jangan sombong kamu


Aiden. Karena kamu pengacara yang begitu handal dan berbakat di sini. Kau akan


tamat saat aku mencabut ijinmu,” seru George dengan nada angkuh.


                George menghela napasnya


seraya kembali duduk di kursi kebesarannya.


                “Kau harus menarik


kembali semua berita ini dan mengakui kalau kamu yang telah memfitnah Menteri


Lian. Katakan kalau dia tidak bersalah,” seru George.


                “Maaf tapi aku tidak bisa.


Aku bekerja untuk kejujuran.”


                “Kau sungguh angkuh


dan sombong,” ejek George.


                Aiden hanya diam


membisu.


                “Baiklah kalau kamu


memang tidak ingin melakukan hal itu. Karena kamu sudah membuatku rugi besar


karena tuntutan dari Menteri Lian. Maka aku akan putuskan. Mulai sekarang kamu


                Aiden hanya terdiam.


Ia sudah tau risiko apa yang akan dia terima.


                “Aku masih berbaik


hati tidak mencabut ijinmu sebagai seorang pengacara.” Ucap George.


                “Terima kasih Mr.


George. Kalau begitu saya permisi,” sahut Aiden berjalan keluar ruangan Geroge.



                Aiden berdiri di


sebuah jembatan dengan memegang minuman kaleng. Tatapannya tertuju menatap ke


depan, sebelah tangannya ia masukkan ke dalam saku celana dan sebelah lagi


memegang bir dalam kaleng. Ia meneguknya sesekali.


                “Ah jadi sekarang


dalam sekejap kamu berubah menjadi seorang pengangguran,” seru Mike berdiri di


sisi Aiden bersandar ke pegangan jembatan seraya meneguk bir dalam kalengnya.


                “Hmmm... apa kamu akan


membantuku mencari pekerjaan?” tanya Aiden.


                “Ck. Aku saja kerja


serabutan. Kalau kamu ingin pekerjaan, minta saja pada Harry,” seru Mike


membuat Aiden tersenyum kecil.


                “Aiden, sebenarnya aku


penasaran. Kamu melakukan pengorbanan besar untuk wanita itu. Apa kamu begitu


mencintainya?” tanya Mike.


                “Aku tidak tau. Aku


hanya ingin melindunginya, dan aku tidak ingin dia di hina dan di tuduh sebagai


wanita tidak baik dan bermoral,” ucap Aiden.


                “Ah ternyata kamu


memang mencintainya,” seru Mike.


                “Benarkah? Apa yang kamu


tau tentang cinta, Mike?” tanya Aiden melihat ke arah Mike. “Apa kamu pernah


mencintai seseorang?”


                “Belum sih,” kekeh

__ADS_1


Mike.


                “Aku tidak akan pernah


percaya pendapatmu tentang cinta. Kamu sendiri pun tidak pernah jatuh cinta dan


pekerjaanmu hanya bersenang-senang dengan beberapa wanita,” seru Aiden.


                “Tapi aku juga tidak


begitu bodoh mengenai cinta. Sebenarnya aku masih tidak menyangka. Demi dia,


kamu rela melepaskan impianmu,” seru Mike membuat Aiden terdiam dan fokus


menikmati minumannya.



                Saat ini Aiden


mendatangi kantor Catherine dengan memakai pakaian casual dan mantel berwarna cokelat.


Ia berjalan melewati lobby kantor dan menuju ke lift.


                Ting


                Pintu lift terbuka dan memperlihatkan pemandangan yang


menyesakkannya.


                Di depannya Alan


tengah berpelukan dengan Catherine. Mendengar suara lift, Catherine terlihat


mendorong dada Alan dan menoleh ke arah lift. Tatapannya melebar saat beradu


pandang dengan mata tajam Aiden.


                “Baiklah Cath, sampai


ketemu akhir pekan nanti. Aku pergi yah,” seru Alan.


                “Iya, hati-hati,” seru


Catherine tersenyum kecil.


                Alan masuk ke dalam


lift dan Aiden berjalan keluar dari lift dengan perasaan tidak karuan. Ia


berjalan terlebih dulu meninggalkan Catherine yang sepertinya masih ingin


melihat kepergian Alan.


                Aiden mengambil duduk


di kursi yang ada di ruangan Catherine menunggu kedatangan Catherine. Tak lama


terdengar derap langkah anggun dan hentakan sepatu yang teratur.


                Catherine masuk ke


dalam ruangan, kemudian mengambil duduk di kursi kebesarannya tepat berhadapan


dengan Aiden.


                “Sepertinya kamu


semakin dekat dengan Ceo itu,” seru Aiden.


                “Ada apa kamu datang


kemari? Bukankah dokumen perjanjian kemarin sudah di kirim ke kantormu,” ucap


Catherine.


                “Aku kemari hanya akan


mengatakan sekaligus berpamitan,” seru Aiden membuat Catherine menegang.


                Pamitan....?


                Catherine masih


menanti lanjutan ucapan dari Aiden. Ia berharap ini bukan sesuatu yang akan


sangat menyakitinya.


                “Aku berhenti dari


Firma. Ke depannya akan ada pengacara yang menggantikanku untuk bekerja di


sini.”


                Deg


                “Ke-kenapa?” tanya Catherine.


                “Apanya?”


                “Kenapa kamu keluar


dari Firma?” tanya Catherine.


                “Mungkin aku tidak


cocok bekerja di sana,” jawab Aiden dengan santai.


                “Baiklah aku tidak


akan mengganggu mu lebih lama. Aku pergi,” ucap Aiden berdiri dari duduknya


kemudian menyodorkan tangannya ke arah Catherine.


                Catherine melihat


tangan Aiden di depannya dengan perasaan tak menentu. Setelah cukup lama, ia


pun menyambut uluran tangan Aiden.


                “Terima kasih atas kerja


sama kita selama ini,” ucap Aiden.


                “Iya.”


                Setelah mengatakan


itu, Aiden pun berlalu pergi meninggalkan ruangan Catherine.

__ADS_1



__ADS_2