
Catherinebaru saja keluar
dari rumahnya. Ia menatap ke langit saat butiran salju jatuh ke tanah. Ia
menengadahkan telapak tangannya hingga butiran salju itu menyentuh kulit
tangannya.
Tidak terasa, sekarang
sudah masuk ke musim dingin dimana salju pertama sudah turun.
Saat tengah menikmati
hujan salju pertama, tiba-tiba seseorang berdiri di hadapannya membuatnya
melihat ke arah seseorang itu.
“Alan?” seru
Catherine.
“Hai, selamat pagi,”
sapanya dengan senyuman lebar.
“Kamu? Kenapa ke sini?”
tanya Catherine mengernyitkan dahinya.
“Sengaja aku datang
kemari untuk mengantarmu ke kantor,” seru Alan.
“Tapi arah menuju
kantor berbeda denganmu,” seru Catherine.
“Tidak masalah. Ayo
aku antar kamu ke kantor,” ucap Alan menarik pergelangan tangan Catherine dan
masuk ke dalam mobil Alan.
Dari kejauhan sebuah
mobil tampak berhenti dan sang sopir terlihat mengawasi Catherine yang masuk ke
dalam mobil Alan. Kedua tangannya terlihat mencengkram setir mobil.
“Ada apa denganku,”
gumamnya yang tak lain adalah Aiden.
“Kenapa rasanya sangat
marah melihat Catherine bersama pria itu.”
Aiden memukul setir
mobilnya karena kesal. Sesaat ia terdiam menyandarkan kepalanya ke sandaran jok
mobil seraya menghembuskan napasnya dengan kasar.
Ꙭ
“Mr. Aiden, anda di
minta datang ke ruangan Mr. George,” seru Sekretaris Aiden saat ia hendak masuk
ke dalam ruangannya.
Aiden sudah tau cepat
atau lambat ia akan di panggil oleh pemimpin Firma hukum dimana ia bekerja.
Kasus Menteri itu sepertinya telah sampai ke telinga atasannya.
“Baik,” jawab Aiden.
---
Saat ini Aiden sudah
berdiri di depan pintu besar. Ia menguatkan dirinya sebelum mengetuk ruangan
itu.
Setelah mendapatkan
jawaban dari dalam, ia pun membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan.
“Selamat Pagi, Mr.”
“Silakan duduk,
Aiden,” seru pria tua itu.
Aiden mengambil duduk
di hadapan Mr. George yang terlihat emosi.
“Anda memanggil saya?”
tanya Aiden.
“Lihat ini!” George
melemparkan koran ke atas meja di hadapan Aiden. “Apa-apaan ini Aiden. Bisa kamu
jelaskan?”
Geroge terlihat emosi
sekaligus kesal.
“Apa ada masalah Pak?”
tanya Aiden dengan nada tenang.
“Kamu jelas sudah
mengetahuinya. Bagaimana media mendapatkan aib Menteri Lian. Bukankah berkas
bukti skandalnya kamu yang simpan,” serunya. “Kamu yang menangani kasusnya saat
itu.”
“Ya,” jawab Aiden.
__ADS_1
“Apanya yang Ya!”
Brak
George menggebrak meja karena emosi. “Jadi benar kamu
yang menyebarkan berita ini?” tanya George.
“Tanpa aku sebar pun,
Menteri Lian memang sudah sangat banyak melakukan penggelapan dana dan bermain
wanita di luar. Aku hanya tidak suka melindungi seorang penjahat,” jawab Aiden
dengan tenang.
“Dimana otakmu, hah?
Apa kamu ingin Firma ini hancur dan di tutup!” pekik George. “Jangan kelewatan
batasanmu, Aiden. Kau di sini hanya seorang Pengacara! Kau harus mengikuti
aturan yang aku buat!”
Aiden tersenyum kecil.
“Apa Menteri itu sangat berpengaruh pada Firma ini?” tanya Aiden.
“Kalau Firma ini
berjalan karena melindungi para penjahat. Maka aku akan senang hati
mengundurkan diri dari sini,” ucap Aiden.
“Jangan sombong kamu
Aiden. Karena kamu pengacara yang begitu handal dan berbakat di sini. Kau akan
tamat saat aku mencabut ijinmu,” seru George dengan nada angkuh.
George menghela napasnya
seraya kembali duduk di kursi kebesarannya.
“Kau harus menarik
kembali semua berita ini dan mengakui kalau kamu yang telah memfitnah Menteri
Lian. Katakan kalau dia tidak bersalah,” seru George.
“Maaf tapi aku tidak bisa.
Aku bekerja untuk kejujuran.”
“Kau sungguh angkuh
dan sombong,” ejek George.
Aiden hanya diam
membisu.
“Baiklah kalau kamu
memang tidak ingin melakukan hal itu. Karena kamu sudah membuatku rugi besar
karena tuntutan dari Menteri Lian. Maka aku akan putuskan. Mulai sekarang kamu
Aiden hanya terdiam.
Ia sudah tau risiko apa yang akan dia terima.
“Aku masih berbaik
hati tidak mencabut ijinmu sebagai seorang pengacara.” Ucap George.
“Terima kasih Mr.
George. Kalau begitu saya permisi,” sahut Aiden berjalan keluar ruangan Geroge.
Ꙭ
Aiden berdiri di
sebuah jembatan dengan memegang minuman kaleng. Tatapannya tertuju menatap ke
depan, sebelah tangannya ia masukkan ke dalam saku celana dan sebelah lagi
memegang bir dalam kaleng. Ia meneguknya sesekali.
“Ah jadi sekarang
dalam sekejap kamu berubah menjadi seorang pengangguran,” seru Mike berdiri di
sisi Aiden bersandar ke pegangan jembatan seraya meneguk bir dalam kalengnya.
“Hmmm... apa kamu akan
membantuku mencari pekerjaan?” tanya Aiden.
“Ck. Aku saja kerja
serabutan. Kalau kamu ingin pekerjaan, minta saja pada Harry,” seru Mike
membuat Aiden tersenyum kecil.
“Aiden, sebenarnya aku
penasaran. Kamu melakukan pengorbanan besar untuk wanita itu. Apa kamu begitu
mencintainya?” tanya Mike.
“Aku tidak tau. Aku
hanya ingin melindunginya, dan aku tidak ingin dia di hina dan di tuduh sebagai
wanita tidak baik dan bermoral,” ucap Aiden.
“Ah ternyata kamu
memang mencintainya,” seru Mike.
“Benarkah? Apa yang kamu
tau tentang cinta, Mike?” tanya Aiden melihat ke arah Mike. “Apa kamu pernah
mencintai seseorang?”
“Belum sih,” kekeh
__ADS_1
Mike.
“Aku tidak akan pernah
percaya pendapatmu tentang cinta. Kamu sendiri pun tidak pernah jatuh cinta dan
pekerjaanmu hanya bersenang-senang dengan beberapa wanita,” seru Aiden.
“Tapi aku juga tidak
begitu bodoh mengenai cinta. Sebenarnya aku masih tidak menyangka. Demi dia,
kamu rela melepaskan impianmu,” seru Mike membuat Aiden terdiam dan fokus
menikmati minumannya.
Ꙭ
Saat ini Aiden
mendatangi kantor Catherine dengan memakai pakaian casual dan mantel berwarna cokelat.
Ia berjalan melewati lobby kantor dan menuju ke lift.
Ting
Pintu lift terbuka dan memperlihatkan pemandangan yang
menyesakkannya.
Di depannya Alan
tengah berpelukan dengan Catherine. Mendengar suara lift, Catherine terlihat
mendorong dada Alan dan menoleh ke arah lift. Tatapannya melebar saat beradu
pandang dengan mata tajam Aiden.
“Baiklah Cath, sampai
ketemu akhir pekan nanti. Aku pergi yah,” seru Alan.
“Iya, hati-hati,” seru
Catherine tersenyum kecil.
Alan masuk ke dalam
lift dan Aiden berjalan keluar dari lift dengan perasaan tidak karuan. Ia
berjalan terlebih dulu meninggalkan Catherine yang sepertinya masih ingin
melihat kepergian Alan.
Aiden mengambil duduk
di kursi yang ada di ruangan Catherine menunggu kedatangan Catherine. Tak lama
terdengar derap langkah anggun dan hentakan sepatu yang teratur.
Catherine masuk ke
dalam ruangan, kemudian mengambil duduk di kursi kebesarannya tepat berhadapan
dengan Aiden.
“Sepertinya kamu
semakin dekat dengan Ceo itu,” seru Aiden.
“Ada apa kamu datang
kemari? Bukankah dokumen perjanjian kemarin sudah di kirim ke kantormu,” ucap
Catherine.
“Aku kemari hanya akan
mengatakan sekaligus berpamitan,” seru Aiden membuat Catherine menegang.
Pamitan....?
Catherine masih
menanti lanjutan ucapan dari Aiden. Ia berharap ini bukan sesuatu yang akan
sangat menyakitinya.
“Aku berhenti dari
Firma. Ke depannya akan ada pengacara yang menggantikanku untuk bekerja di
sini.”
Deg
“Ke-kenapa?” tanya Catherine.
“Apanya?”
“Kenapa kamu keluar
dari Firma?” tanya Catherine.
“Mungkin aku tidak
cocok bekerja di sana,” jawab Aiden dengan santai.
“Baiklah aku tidak
akan mengganggu mu lebih lama. Aku pergi,” ucap Aiden berdiri dari duduknya
kemudian menyodorkan tangannya ke arah Catherine.
Catherine melihat
tangan Aiden di depannya dengan perasaan tak menentu. Setelah cukup lama, ia
pun menyambut uluran tangan Aiden.
“Terima kasih atas kerja
sama kita selama ini,” ucap Aiden.
“Iya.”
Setelah mengatakan
itu, Aiden pun berlalu pergi meninggalkan ruangan Catherine.
__ADS_1
Ꙭ