Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
episode 39


__ADS_3

Catherine sudah kembali pulang ke rumahnya. Ia hanya perlu kontrol kakinya saja.


Catherine mampu bernafas lega akhirnya ia bisa sedikit jauh dengan Aiden. Sebenarnya terus bersama dengan Aiden, sangat tidak baik untuk kondisi jantungnya.


Catherine belum kembali bekerja. Ia hanya bekerja dari rumah dan sekretaris nya yang datang ke rumah saat membutuhkan tanda tangannya.


Pagi itu Catherine baru saja bangun tidur. Ia sedikit merenggangkan ototnya. Ia mendengar suara berisik dan gelak tawa dari luar kamar.


"Apa yang terjadi yah?" gumam Catherine. Kemudian ia mengikat rambutnya asal. Dengan gerakan pelan ia berpindah tempat ke atas kursi roda dan membawanya keluar dari kamar.


Karena untuk sementara ia pindah kamar ke lantai satu. Yang langsung menghubungkannya ke ruang keluarga dan dapur tanpa ada sekat dinding. Matanya sedikit melebar saat melihat sosok tinggi dengan celemek menempel di tubuh nya sedang memasak di dapur. Dan Mine terlihat duduk di atas meja pantry dengan bertepuk tangan dan terlihat bahagia.


Seketika wajah Catherine memanas melihat sosok Aiden yang terlihat sangat seksi dan memukau dengan celemek di tubuhnya.


"Selamat pagi Cath. Kamu sudah bangun?" sapaan itu menyadarkan Catherine dari keterpakuannya.


"Ehem..." Catherine sedikit berdehem untuk menghilangkan kegugupannya.


"Iya. Kalian lanjutkan saja," ucap Catherine berniat pergi tetapi Aiden menahan kursi rodanya membuat Catherine menoleh ke arah Aiden yang berdiri menjulang di sampingnya.


"Ada apa?" tanya Catherine.


"Kita sarapan bersama," seru Aiden.


"Aku tidak lapar. Kalian saja berdua," ucap Catherine.


"Apa ini wajah bangun tidur kamu?" tanya Aiden menatapnya dengan insten membuat Catherine memalingkan wajahnya karena malu. Ia bahkan belum mencuci wajahnya.


"Bukan urusanmu!" Catherine memalingkan wajahnya.


"Aku gak menyangka wajah bangun tidur kamu terlihat sangat manis dan imut."


Deg


Wajah Catherine langsung memerah mendengar penuturan Aiden untuk pertama kalinya ia memuji dirinya.


Seorang Aiden...?


"Apa kamu salah makan?" seru Catherine masih tidak berani menatap ke arah Aiden yang masih memakai celemeknya terlihat sangat seksi.


"Memangnya kenapa? Aku berkata jujur Cath. Kamu selalu tidak mempercayai ku," seru Aiden.


"Daddy..  Mommy ayo sarapan. Aku terlambat ke sekolah," seru Mine.


"Ayo kita sarapan," ujar Aiden hendak mendorong kursi roda Catherine.


"Tidak perlu. Aku ingin mandi dulu," ucap Catherine.


"Sudahlah lebih sarapan dulu," seru Aiden.


"Aku bahkan belum cuci muka dan gosok gigi. Aku tidak terbiasa makan sebelum gosok gigi," seru Catherine masih berusaha menolak.


"Baiklah. Aku antar kamu ke kamar."

__ADS_1


***


Aiden baru saja mengantarkan Mine bersama Mouli ke depan rumah. Ia meminta satu orang bodyguard yang ia sewa dari Harry untuk menjadi sopir pribadi Mine.


Aiden belum bisa mengantarkan Mine ke sekolah karena ia tidak bisa membiarkan Catherine sendirian di rumah.


Aiden membawakan sarapan dan jus ke kamar Catherine. Ia membuka pintu kamar Catherine yang tidak di kunci.


Deg


Tubuh Aiden membeku saat tatapannya melebar melihat pemandangan di depannya.


Catherine terlihat duduk di atas ranjang dengan memunggungi pintu.


Kulit punggung nya yang putih pucat dan halus terpangpang jelas.


Catherine terlihat memakai handuk yang bagian belakangnya sudah terbuka.


"Mouli. Tolong ambilkan pakaian yang ada di atas kursi dan bantu aku berpakaian," ucap Catherine tanpa menoleh ke belakang.


Aiden menyimpan nampan yang di bawanya di atas meja nakas.


Aiden melihat sebuah dress berwarna berwarna cream bermotif bunga sakura tergeletak  di atas sofa. Sepertinya sebelum ke kamar mandi, Catherine sudah lebih dulu membawa baju itu.


Aiden menelan salivanya sendiri saat di bawah dress itu terlihat bra dan cd dengan warna senada.


Ia merasa sangat tidak nyaman. Dan mendadak seluruh tubuhnya terasa panas.


Aiden membawa dress berserta dalamannya dan berjalan mendekati Catherine yang masih memunggunginya.


"Apa kamu memang selalu tidak waspada seperti ini."


Deg


Secepat kilat Catherine menoleh sampai lehernya terasa sakit.


"Aiden?"


"Kenapa? Kamu tidak menyangka aku yang masuk yah," seru Aiden melipat kedua tangannya di dada dengan memegang pakaian Catherine.


Melihat pakaiannya di pegang Aiden, Catherine segera mengambilnya tetapi Aiden menghindar.


"Berikan pakaianku dan kamu boleh tunggu di luar," seru Catherine.


Aiden membungkukkan badannya di hadapan Catherine membuat Catherine sedikit menghindar dengan masih memegang handuk yang menutupi tubuh bagian depannya.


"Kamu bersikap dingin kepadaku, tetapi wajahmu tidak menunjukkan seperti itu. Kamu merona, eh?"


Goda Aiden membuat Catherine menjadi salah tingkah dan semakin merona.


"Ka-kamu mau apa?" tanya Catherine sudah setengah rebahan.


"Membantumu berpakaian," seru Aiden tersenyum penuh arti.

__ADS_1


"Dasar mesum. Aku bisa berpakaian sendiri," seru Catherine.


"Bukankah kamu yang memintanya," seru Aiden.


"Ada Mine, jangan macam-macam?" seru Catherine menatap manik mata Aiden.


"Mine sudah berangkat sekolah. Dan di rumah ini hanya kita berdua. Jadi bagaimana kalau kita mulai," seru Aiden menekan ranjang di sisi tubuh Catherine untuk menompang tubuhnya yang semakin membungkuk dan menyudutkan Catherine.


"Aiden jangan macam-macam. Aku minta kamu keluar dari kamarku!" usir Catherine dengan nada gugup walau ia berusaha tegas.


Aiden terlihat tersenyum menatap Catherine dan ia kembali berdiri membuat Catherine menatap ke arahnya.


"Pakai ini. Aku akan membantumu memasangkannya dari belakang," ucap Aiden menyimpan pakaian Catherine di atas pangkuan Catherine.


"Tidak perlu, aku-"


"Kamu tidak berniat bertelanjang seperti ini sampai Mouli kembali, bukan?" seruan Aiden mampu membungkam mulut Catherine.


Akhirnya Catherine membiarkan Aiden membantu dirinya berpakaian.


Aiden terlihat mengikatkan tali spageti dari bra milik Catherine di punggung Catherine. Kini ia sudah berada di belakang tubuh Catherine.


Sekuat tenaga ia menahan dirinya dan menekan bagian bawahnya yang terasa mengeras.


Ia bahkan berkali-kali menelan salivanya sendiri. Come on Aiden juga pria normal walaupun ia tidak pernah berhubungan dengan wanita lain. Terakhir ia berhubungan dengan Catherine pada 5 tahun lalu. Dan seperti nya miliknya merespon karena Catherine pernah tidur bersamanya.


Aiden di kenal sebagai pria yang mampu menahan nafsu birahinya. Hanya melihat wanita seksi atau tak berpakaianpun itu tidak pernah berpengaruh padanya. Tetapi melihat Catherine, hanya melihat bagian punggungnya saja, miliknya langsung siaga membuat dirinya begitu frustasi.


"Sekarang bagaimana?" tanya Aiden.


Catherine menarik rilsleting dress-nya dan memasukkan ke bagian kepalanya. Aiden membantu Catherine dan seketika handuk di tubuh Catherine jatuh ke pahanya yang awalnya menutupi bagian depan tubuh Catherine.


Aiden semakin membeku karena posisi ia berdiri tepat di balakang tubuh Catherine yang duduk. Ia mampu melihat bagian perut dan bawah perut. Aiden langsung memalingkan wajahnya seraya berdehem, telinganya sudah terlihat memerah. Catherine juga langsung menarik handuknya menutupi bagian intimnya.


Aiden kembali membantu memakaikan dress di tubuh Catherine dengan memalingkan wajahnya. Kemudian ia menarik rilsleting dress itu.


"Selanjutnya aku bisa sendiri. Emm apa kamu bisa menungguku di luar," ucap Catherine terdengar sangat gugup.


"Emm baiklah. Sarapan kamu sudah ada di meja balas. Panggil aku saat kamu butuh bantuan," ucap Aiden.


"Baik."


Aiden berjalan cepat keluar kamar Catherine


"Oh shit..!" Aiden mengumpat beberapa kali seraya mondar mandir di ruang keluarga. Ia merasa sangat tersiksa dan miliknya terasa sangat nyeri.


"Kau menyiksa ku Cath." gumamnya mengusap wajahnya gusar.


***


TBC


18-05-2020

__ADS_1


__ADS_2