
Catherinecukup di
repotkan dengan beberapa wartawan yang terus menerus mengejar dirinya untuk
mendapatkan informasi darinya mengenai hubungan dirinya dengan pria misterius
itu.
Catherine menghela napasnya
dan merasa sangat lelah terus menerus bersembunyi layaknya buronan.
Pagi ini dia harus
pergi ke kantor, tetapi wartawan sudah memenuhi area rumahnya membuatnya tidak
bisa keluar. Dia sungguh terjebak.
Ia yakin kalau semua
ini ulah Robert. Bagaimana para wartawan itu mendapatkan alamatnya.
“Oh God. Sampai kapan
akan seperti ini,” keluhnya.
Ia masih mengintip
dari balik jendela rumahnya. Ia sungguh terjebak.
“Nona Catherine tolong
keluar.”
“Nona Catherine tolong
berikan keterangan anda mengenai perselingkuhan anda.”
“Bagaimana mungkin
anda tega berselingkuh dari seorang Robert Castayol.”
Dan berbagai
pertanyaan lainnya.
“Bagaimana ini,”
gumamnya.
Ia melihat sebuah
mobil terparkir di depan rumahnya dan seseorang menuruni mobil itu dan berjalan
menerobos kerumunan para wartawan. Catherine masih mengintip dari balik
jendela.
“Aiden...” gumamnya.
“Apa yang kalian
lakukan di kediaman Ny. Catherine? Apa kalian ingin mengusik ketenagannya?”
seru Aiden di depan semua wartawan.
“Kami hanya
membutuhkan beberapa informasi dari Nona Catherine mengenai perselingkuhannya
dan pertunangannya yang batal dengan Mr. Robert.”
“Anda siapa? Kenapa
datang kemari?”
“Saya Aiden. Saya
adalah pengacaran dari perusahaan SR. Saya pengacara dari Ny. Catherine.” Aiden
memperlihatkan kartu namanya ke para wartawan.
“Karena kalian telah
mengganggu ketenangan seorang warga, maka aku bisa melaporkan kalian semua dan
menuntut kalian melalui jalur hukum. Bahkan kalian merusak halaman depan rumah
seseorang. Kalian tau bukan kerugian apa yang akan kalian dan perusahaan kalian
dapatkan kalau aku sampai menuntut kalian,” seru Aiden membuat para wartawan
itu saling menatap satu sama lainnya dan terdengar kasak kusuk di antara
mereka.
“Tapi kami juga butuh
informasi dan berita ini.”
“Baiklah begini saja.
Aku akan melihat jadwalnya Ny. Catherine. Kemudian aku akan mengadakan
konferensi pers . jadi nanti kalian bisa bertanya sepuasnya pada yang
bersangkutan,” ucap Aiden.
“Sekarang sebaiknya
kalian pergi saja. Daripada mengganggu ketenangan seseorang,” seru Aiden.
Terdengar kasak kusuk
dari para wartawan yang akhirnya memilih pergi meninggalkan area kediaman
Catherine.
Catherine
memperhatikan Aiden saat semua wartawan pergi meninggalkan kediamannya.
‘Kenapa harus selalu Aiden yang menolongku? Bagaimana aku bisa
melupakannya kalau seperti ini,’ batin Catherine.
Bel rumah terdengar
dan suara Aiden pun terdengar di intercom yang mengatakan kalau semua wartawan
sudah pergi.
Catherine menghela napasnya
kemudian membuka pintu hingga tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata tajam
nan teduh.
Dengan cepat Catherine
memalingkan pandangannya.
“Terima kasih.”
Setelah mengatakan
itu, Catheirine berjalan melewati Aiden menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dairi posisi Aiden berdiri.
Tanpa repot-repot
menunggu Aiden dan berpamitan pada Aiden. Catherine langsung menginjak gas
mobilnya meninggalkan area rumahnya.
__ADS_1
Aiden hanya menatap
kepergian Catherine dalam diam.
----
Didalam mobil, ingatan
Catherine kembali pada kejadian saat ia mengutarakan perasaannya pada Aiden.
Air matanya tanpa bisa
di tahan lagi, mengalir membasahi pipinya.
Sungguh sakit sekali
rasanya. Hanya jatuh cinta saja kenapa harus sesakit ini....
Catherine mencengkram
kuat setir mobilnya dan air mata tak urungnya reda.
Ꙭ
“Sir, ada tamu untuk
anda,” seru Sekretaris Aiden melalui intercom.
“Siapa?”
“Dia mengaku bernama
Nona Evelyn.”
“Silakan dia masuk.”
Tak lama setelah
mengatakan itu, pintu ruangan terbuka dan menampakkan sosok wanita cantik nan anggun.
“Selamat siang, Mr.
Aiden. Apa aku mengganggumu?” tanyanya diiringi senyuman menawannya.
“Tidak, silakan
duduk,” seru Aiden mempersilakan Evelyn untuk duduk di sofa yang ada di
ruangannya.
Evelyn pun duduk di
sana sesuai arahan. Aiden ikut bergabung duduk di sana dengan maskulin
membuat Evelyn tak mampu berpaling dari
sosok Aiden di hadapannya.
“Ada apa datang
kemari, bahkan tanpa memberitauku dulu,” seru Aiden.
“Tidak ada hal
penting. Aku hanya kebetulan lewat saja. Kalau Mr. Aiden tidak sibuk, bagaimana
kalau kita makan siang bersama?” ajaknya penuh harap.
“Bagaimana yah, sebenarnya pekerjaan saya masih banyak,” seru
Aiden.
“Kalau begitu
kedatangan saya kemari sungguh tidak tepat sekali,” serunya terlihat raut
kekecewaan di sana.
“Begini saja,
membuat tatapan Evelyn kembali bersinar cerah.
“Nanti malam pukul 8
di restaurant sebrang apartemen,. Bagaimana?” seru Aiden.
“Aku setuju. Aku akan
menunggu Mr. Aiden.”
“Panggil saja Aiden,
tanpa embel-embel,” ucap Aiden.
“Baiklah Aiden.”
Evelyn tersenyum
merekah. Sedangkan Aiden hanya bisa tersenyum kecil.
Ꙭ
Saatini Aiden
menemui Evelyn di restaurant yang ada di sebrang apartemen mereka.
Aiden tengah berjalan
menuju ke arah meja dimana Evelyn sudah duduk dengan anggun dan tersenyum ke
arahnya.
“Hai,” sapa Evelyn
membuat Aiden tersenyum dan duduk di hadapan Evelyn.
“Sudah menunggu lama?”
tanya Aiden.
“Tidak. Aku baru
sampai 5 menit yang lalu,” seru Evelyn.
“Sudah pesan?” tanya
Aiden.
“Belum. Aku menunggu
kamu. Baiklah mau pesan apa?” tanya Evelyn seraya melambaikan tangannya pada
salah satu waiter.
Mereka berdua memesan
makanan kepada waiters.
“Jangan lupa satu
botol anggur terbaik,” seru Evelyn yang di angguki oleh waiters itu dan berlalu
pergi meninggalkan mereka berdua.
“Jadi apa yang sedang
kamu kerjakan sekarang?” tanya Aiden.
“Aku kembali ke pekerjaanku
sebelumnya. Tetapi bukan sebagai asisten desaigner lagi, sekarang akulah
desaignernya,” seru Evelyn.
__ADS_1
“Syukurlah. Sudah aku
katakan kamu itu berbakat Eve.”
Evelyn tersenyum
tersipu. “Lalu kamu sendiri bagaimana? Apa sekarang kamu sudah menemukan seseorang
setelah 3 tahun berlalu?” tanya Evelyn sangat berharap Aiden masih sendiri.
Aiden hanya tersenyum
kecil.
“Tidak ada yang
berubah dengan hidupku, Eve. Aku masih tetap sama seperti dulu,” jawab Aiden
mampu membuat Evelyn sangat bahagia mendengarnya.
Pesanan mereka datang.
Dua piring steak kini tersaji di hadapan mereka. Waiter itu kini menuangkan
anggur jenis terbaik ke dalam gelas berkaki.
“Mari kita bersulang
terlebih dahulu. Untuk pertemuan kita berdua,” seru Evelyn mengangkat gelas
miliknya.
“Baiklah,” seru Aiden
ikut mengangkat gelasnya dan mereka bersulang bersama.
Setelah menyesap
sedikit anggurnya, mereka berdua pun menikmati makanan mereka dengan berbagai
obrolan mengenai banyak hal.
---
Aiden baru saja sampai
di apartemennya setelah menikmati makan malam bersama Evelyn.
Ia mendaratkan
pantatnya ke atas sofa. Dering handphone menyadarkannya. Aiden mengangkat
sambungan telpon itu.
“Ya Mike?
“......”
“Apa kamu sudah bisa
mengatasi berita berita yang saat ini tranding itu?” tanya Aiden.
“.....”
“Kenapa sulit?
Biasanya kamu sangat mampu menyelesaikan masalah seperti ini.”
“.....”
“Kalau begitu, coba
kamu cari informasi yang lebih tranding untuk meredakan berita tentang
Catherine.”
“......”
“Ah, aku ada beberapa
informasi tentang salah satu menteri yang memiliki skandal. Aku ingin kamu
menyebarkan informasi ini.”
“......”
“Kalau terjadi
sesuatu, aku yang akan bertanggung jawab.”
“......”
“Aku harus
menolongnya. Tolong lakukan ini untukku.”
“.....”
“Catherine bukan siapa-siapa.”
“......”
“Aku perduli padanya.”
“......”
“Ya, aku tau resikonya
kalau berurusan dengan seorang Menteri. Aku tidak masalah kalau harus di
berhentikan dari firma hukum.”
“.......”
“Lakukan saja.”
“.....”
“Apa? Tidak Mike, aku
tidak mencintainya.”
“.....”
“Sudahlah jangan
banyak bertanya. Kau lakukan saja, dan nanti datanya aku email kepadamu.”
“.....”
“Baiklah weekend ini
kita bertemu di klab nya Harry.”
“.....”
Aiden menutup
sambungan telponnya dan termenung sesaat.
Kau sudah gila, Aiden. Kenapa kamu ingin melakukan semua ini demi wanita itu. Apa kamu mencintainya....
Kau bahkan bisa di berhentikan
dari firma hukum karena ini.
Aiden termenung memikirkan ucapan Mike. Apakah dia mencintai Catherine?
“Tidak, itu tidak
mungkin,” gumam Aiden mengusap wajahnya. “Aku hanya perduli padanya sebagai
sahabat.”
__ADS_1
Ꙭ