Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 15


__ADS_3

Catherinecukup di


repotkan dengan beberapa wartawan yang terus menerus mengejar dirinya untuk


mendapatkan informasi darinya mengenai hubungan dirinya dengan pria misterius


itu.


Catherine menghela napasnya


dan merasa sangat lelah terus menerus bersembunyi layaknya buronan.


Pagi ini dia harus


pergi ke kantor, tetapi wartawan sudah memenuhi area rumahnya membuatnya tidak


bisa keluar. Dia sungguh terjebak.


Ia yakin kalau semua


ini ulah Robert. Bagaimana para wartawan itu mendapatkan alamatnya.


“Oh God. Sampai kapan


akan seperti ini,” keluhnya.


Ia masih mengintip


dari balik jendela rumahnya. Ia sungguh terjebak.


“Nona Catherine tolong


keluar.”


“Nona Catherine tolong


berikan keterangan anda mengenai perselingkuhan anda.”


“Bagaimana mungkin


anda tega berselingkuh dari seorang Robert Castayol.”


Dan berbagai


pertanyaan lainnya.


“Bagaimana ini,”


gumamnya.


Ia melihat sebuah


mobil terparkir di depan rumahnya dan seseorang menuruni mobil itu dan berjalan


menerobos kerumunan para wartawan. Catherine masih mengintip dari balik


jendela.


“Aiden...” gumamnya.


“Apa yang kalian


lakukan di kediaman Ny. Catherine? Apa kalian ingin mengusik ketenagannya?”


seru Aiden di depan semua wartawan.


“Kami hanya


membutuhkan beberapa informasi dari Nona Catherine mengenai perselingkuhannya


dan pertunangannya yang batal dengan Mr. Robert.”


“Anda siapa? Kenapa


datang kemari?”


“Saya Aiden. Saya


adalah pengacaran dari perusahaan SR. Saya pengacara dari Ny. Catherine.” Aiden


memperlihatkan kartu namanya ke para wartawan.


“Karena kalian telah


mengganggu ketenangan seorang warga, maka aku bisa melaporkan kalian semua dan


menuntut kalian melalui jalur hukum. Bahkan kalian merusak halaman depan rumah


seseorang. Kalian tau bukan kerugian apa yang akan kalian dan perusahaan kalian


dapatkan kalau aku sampai menuntut kalian,” seru Aiden membuat para wartawan


itu saling menatap satu sama lainnya dan terdengar kasak kusuk di antara


mereka.


“Tapi kami juga butuh


informasi dan berita ini.”


“Baiklah begini saja.


Aku akan melihat jadwalnya Ny. Catherine. Kemudian aku akan mengadakan


konferensi pers . jadi nanti kalian bisa bertanya sepuasnya pada yang


bersangkutan,” ucap Aiden.


“Sekarang sebaiknya


kalian pergi saja. Daripada mengganggu ketenangan seseorang,” seru Aiden.


Terdengar kasak kusuk


dari para wartawan yang akhirnya memilih pergi meninggalkan area kediaman


Catherine.


Catherine


memperhatikan Aiden saat semua wartawan pergi meninggalkan kediamannya.


‘Kenapa harus selalu Aiden yang menolongku? Bagaimana aku bisa


melupakannya kalau seperti ini,’ batin Catherine.


Bel rumah terdengar


dan suara Aiden pun terdengar di intercom yang mengatakan kalau semua wartawan


sudah pergi.


Catherine menghela napasnya


kemudian membuka pintu hingga tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata tajam


nan teduh.


Dengan cepat Catherine


memalingkan pandangannya.


“Terima kasih.”


Setelah mengatakan


itu, Catheirine berjalan melewati Aiden menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dairi posisi Aiden berdiri.


Tanpa repot-repot


menunggu Aiden dan berpamitan pada Aiden. Catherine langsung menginjak gas


mobilnya meninggalkan area rumahnya.

__ADS_1


Aiden hanya menatap


kepergian Catherine dalam diam.


----


Didalam mobil, ingatan


Catherine kembali pada kejadian saat ia mengutarakan perasaannya pada Aiden.


Air matanya tanpa bisa


di tahan lagi, mengalir membasahi pipinya.


Sungguh sakit sekali


rasanya. Hanya jatuh cinta saja kenapa harus sesakit ini....


Catherine mencengkram


kuat setir mobilnya dan air mata tak urungnya reda.



“Sir, ada tamu untuk


anda,” seru Sekretaris Aiden melalui intercom.


“Siapa?”


“Dia mengaku bernama


Nona Evelyn.”


“Silakan dia masuk.”


Tak lama setelah


mengatakan itu, pintu ruangan terbuka dan menampakkan sosok wanita cantik nan anggun.


“Selamat siang, Mr.


Aiden. Apa aku mengganggumu?” tanyanya diiringi senyuman menawannya.


“Tidak, silakan


duduk,” seru Aiden mempersilakan Evelyn untuk duduk di sofa yang ada di


ruangannya.


Evelyn pun duduk di


sana sesuai arahan. Aiden ikut bergabung duduk di sana dengan maskulin


membuat  Evelyn tak mampu berpaling dari


sosok Aiden di hadapannya.


“Ada apa datang


kemari, bahkan tanpa memberitauku dulu,” seru Aiden.


“Tidak ada hal


penting. Aku hanya kebetulan lewat saja. Kalau Mr. Aiden tidak sibuk, bagaimana


kalau kita makan siang bersama?” ajaknya penuh harap.


“Bagaimana yah, sebenarnya pekerjaan saya masih banyak,” seru


Aiden.


“Kalau begitu


kedatangan saya kemari sungguh tidak tepat sekali,” serunya terlihat raut


kekecewaan di sana.


“Begini saja,


membuat tatapan Evelyn kembali bersinar cerah.


“Nanti malam pukul 8


di restaurant sebrang apartemen,. Bagaimana?” seru Aiden.


“Aku setuju. Aku akan


menunggu Mr. Aiden.”


“Panggil saja Aiden,


tanpa embel-embel,” ucap Aiden.


“Baiklah Aiden.”


Evelyn tersenyum


merekah. Sedangkan Aiden hanya bisa tersenyum kecil.



Saatini Aiden


menemui Evelyn di restaurant yang ada di sebrang apartemen mereka.


Aiden tengah berjalan


menuju ke arah meja dimana Evelyn sudah duduk dengan anggun dan tersenyum ke


arahnya.


“Hai,” sapa Evelyn


membuat Aiden tersenyum dan duduk di hadapan Evelyn.


“Sudah menunggu lama?”


tanya Aiden.


“Tidak. Aku baru


sampai 5 menit yang lalu,” seru Evelyn.


“Sudah pesan?” tanya


Aiden.


“Belum. Aku menunggu


kamu. Baiklah mau pesan apa?” tanya Evelyn seraya melambaikan tangannya pada


salah satu waiter.


Mereka berdua memesan


makanan kepada waiters.


“Jangan lupa satu


botol anggur terbaik,” seru Evelyn yang di angguki oleh waiters itu dan berlalu


pergi meninggalkan mereka berdua.


“Jadi apa yang sedang


kamu kerjakan sekarang?” tanya Aiden.


“Aku kembali ke pekerjaanku


sebelumnya. Tetapi bukan sebagai asisten desaigner lagi, sekarang akulah


desaignernya,” seru Evelyn.

__ADS_1


“Syukurlah. Sudah aku


katakan kamu itu berbakat Eve.”


Evelyn tersenyum


tersipu. “Lalu kamu sendiri bagaimana? Apa sekarang kamu sudah menemukan seseorang


setelah 3 tahun berlalu?” tanya Evelyn sangat berharap Aiden masih sendiri.


Aiden hanya tersenyum


kecil.


“Tidak ada yang


berubah dengan hidupku, Eve. Aku masih tetap sama seperti dulu,” jawab Aiden


mampu membuat Evelyn sangat bahagia mendengarnya.


Pesanan mereka datang.


Dua piring steak kini tersaji di hadapan mereka. Waiter itu kini menuangkan


anggur jenis terbaik ke dalam gelas berkaki.


“Mari kita bersulang


terlebih dahulu. Untuk pertemuan kita berdua,” seru Evelyn mengangkat gelas


miliknya.


“Baiklah,” seru Aiden


ikut mengangkat gelasnya dan mereka bersulang bersama.


Setelah menyesap


sedikit anggurnya, mereka berdua pun menikmati makanan mereka dengan berbagai


obrolan mengenai banyak hal.


---


Aiden baru saja sampai


di apartemennya setelah menikmati makan malam bersama Evelyn.


Ia mendaratkan


pantatnya ke atas sofa. Dering handphone menyadarkannya. Aiden mengangkat


sambungan telpon itu.


“Ya Mike?


“......”


“Apa kamu sudah bisa


mengatasi berita berita yang saat ini tranding itu?” tanya Aiden.


“.....”


“Kenapa sulit?


Biasanya kamu sangat mampu menyelesaikan masalah seperti ini.”


“.....”


“Kalau begitu, coba


kamu cari informasi yang lebih tranding untuk meredakan berita tentang


Catherine.”


“......”


“Ah, aku ada beberapa


informasi tentang salah satu menteri yang memiliki skandal. Aku ingin kamu


menyebarkan informasi ini.”


“......”


“Kalau terjadi


sesuatu, aku yang akan bertanggung jawab.”


“......”


“Aku harus


menolongnya. Tolong lakukan ini untukku.”


“.....”


“Catherine bukan siapa-siapa.”


“......”


“Aku perduli padanya.”


“......”


“Ya, aku tau resikonya


kalau berurusan dengan seorang Menteri. Aku tidak masalah kalau harus di


berhentikan dari firma hukum.”


“.......”


“Lakukan saja.”


“.....”


“Apa? Tidak Mike, aku


tidak mencintainya.”


“.....”


“Sudahlah jangan


banyak bertanya. Kau lakukan saja, dan nanti datanya aku email kepadamu.”


“.....”


“Baiklah weekend ini


kita bertemu di klab nya Harry.”


“.....”


Aiden menutup


sambungan telponnya dan termenung sesaat.


Kau sudah gila, Aiden. Kenapa kamu ingin melakukan semua ini demi wanita itu. Apa kamu mencintainya....


Kau bahkan bisa di berhentikan


dari firma hukum karena ini.


Aiden termenung memikirkan ucapan Mike. Apakah dia mencintai Catherine?


“Tidak, itu tidak


mungkin,” gumam Aiden mengusap wajahnya. “Aku hanya perduli padanya sebagai


sahabat.”

__ADS_1



__ADS_2