
Aiden baru saja sampak di kota N. ia kembali ke sini tanpa memberitau Catherine. Ia ingin memberikan kejutan pada Catherine.
Taksi yang ia tumpangi sudah sampai di depan area rumah Catherine.
Aiden menderek kopernya dan terlihat rumah itu sepi sekali. Ia kebingungan karena begitu sepi.
Aiden menekan berkali-kali bel rumah tetapi tak kunjung ada yang membukanya.
"Catherine! Mouli...." Panggil Aiden tetapi tak kunjung ada yang membukanya.
Aiden kemudian menekan knop pintunya dan ternyata tidak di kunci. Ia masuk ke dalam rumah dan menyusuri setiap ruangan dengan langkah lebar seraya memanggil nama Catherine dan Mine.
Rumah itu kosong, taka da orang satupun. Aiden merogoh saku celananya dan mencoba menghubungi Catherine. Tetapi nomornya tidak aktif. Ia juga mencoba menghubungi Mouli tetapi juga tidak aktif.
"Kalian ke mana sebenarnya," gumam Aiden menjambak rambutnya frustasi. Ada rasa takut didalam hatinya. Ia takut Catherine menghilang lagi seperti dulu, meninggalkan dirinya sendirian. Ia takut kehilangan Catherine dan Mine.
Aiden mencoba menghubungi Evelyn dan dalam dering ketiga Evelyn mengangkat telponnya.
"Hallo Eve. Apa Catherine bersamamu?" tanya Aiden to the point.
"...."
"Apa? Kau pergi berlibur dengan Harry sejak 3 hari lalu?"
"...."
"Kalau begitu, bisakah aku berbicara dengan Harry."
"...."
"Dimana anak buah yang aku sewa untuk melindungi Catherine dan Mine."
"...."
"Mereka tidak ada di rumah dan juga tidak bisa aku hubungi. Mereka semua menghilang."
"....."
"Coba kau hubungi mereka tanpa memutuskan sambungan telpon ini."
"...."
__ADS_1
Aiden terdiam lesu dan mengambil duduk di atas sofa saat menunggu Harry menghubungi orang-orangnya.
"...."
"Kenapa Har?"
"......"
"Mereka masuk rumah sakit?"
"......"
"Jadi Catherine dan Mine dibawa William? Dan anak buahmu di tembak hingga masuk rumah sakit."
"....."
"Sialan!" umpat Aiden. " Eve, apa kau memiliki alamat milik William."
"....."
"Baiklah kalau begitu terima kasih."
Aiden mengusap wajahnya dengan gusar. Evelyn tidak mengetahui alamat dari William.
Mata awas Aiden menangkap tas Mine yang berserakan dengan sebuah buku yang terbuka di lantai dekat meja. Ia mengambil buku itu dan ternyata ada catatan dengan tulisan yang masih acak-acakan, tetapi Aiden masih mampu memahaminya.
Daddy datang ke alamay ini. Jl. Xxxx No. 000. Ini alamat rumah Grandpa. Mine tunggu Daddy....
"Anak cerdas," gumam Aiden.
Tanpa pikir panjang Aiden beranjak dengan membawa kertas itu menuju alamat tersebut.
Ꙭ
"Mommy kenapa Mommy tidak mau makan?" tanya Mine.
Mereka berdua di kurung oleh William didalam kamar. Catherine berusaha memberontak, tetapi William malah membawa beberapa bodyguardnya untuk menjaga mereka berdua.
"Mommy, ayo makan," seru Mine.
"Mommy tidak lapar," seru Catherine.
__ADS_1
Catherine menatap putrinya dengan sendu. "Maaf karena Mommy tidak berdaya," seru Catherine membawa Mine ke dalam pelukannya.
"Kenapa harus minta maaf, ini bukan salah Mommy. Mine nggak menyangka Grandpa jahat," seru Mine.
"Maaf karena Mommy membiarkan Grandpa membawa kita dan menjauh dari Daddy. Padahal kamu baru sebentar dekat dengan Daddy," ucap Catherine.
"Nggak Mommy, jangan meminta maaf. Ini bukan salah Mommy. Lagipula Mine yakin Daddy akan datang menjemput kita," seru Mine membuat Catherine mengernyitkan dahinya.
"Bagaimana Daddy bisa datang kemari?" tanya Catherine.
"Kemarin saat Grandpa sibuk berdebat dengan Mommy. Mine menuliskan alamat rumah ini. Kebetulan Mine mengingatnya," seru Mine. "Mine biarin bukunya terbuka di dekat meja keluarga. Mine harap Daddy Aiden membacanya."
Catherine terkekeh, entah kenapa dia merasa sangat senang mendengarnya. "Anak cerdas," serunya mengecup kepala Mine.
Ꙭ
Aiden baru saja sampai di depan gerbang sebuah rumah yang sangat mewah. Daerah ini adalah kawasan Villa elit yang ada di kota ini. Penjagaan di gerbang utama sangatlah ketat. Aiden meyakinkan dirinya untuk masuk.
Ia menekan bel di samping gerbang dan berbicara di sana.
"Ini Aiden. Buka pintunya aku ingin bertemu Catherine dan Mine," ucapnya.
Tak ada jawaban dari sebrang sana. Tetapi tak lama pintu gerbang terbuka.
Aiden berjalan masuk ke dalam dengan memegang sebuah berkas di tangannya.
Ternyata tak semudah itu dia masuk. Para bodyguard atau anjing peliharaan Wiliam berdiri menghadangnya. Kira-kira ada 10 orang.
"Ck menyusahkan," gumam Aiden.
Tanpa pikir panjang mereka maju untuk mengeroyok Aiden. Aiden pun melawan mereka dengan sekuat tenaga.
Walau perut, rahang dan dadanya terkena tinju dan tendangan, tetapi Aiden tetap berusaha melawan sekuat tenaga. Sampai akhirnya ia berhasil memukul telak mereka semua.
"Bawa aku menemui William. Katakan padanya, aku ada penawaran," seru Aiden menahan sakit di perutnya.
Para bodyguard itu membawa Aiden untuk masuk ke dalam rumah.
Ꙭ
TBC...
__ADS_1
16-06-2020