Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 25


__ADS_3

“Tidakmungkin Aiden, kan?” gumam Evelyn menangis didalam


mobilnya.


                “Kenapa harus Aiden?”


Evelyn merasa hancur dan begitu terluka. Ia


sudah lama memendam rasa pada Aiden. Tetapi kenapa sekarang malah seperti ini.


                Pria yang dia anggap berengsek


adalah pria yang sangat ia kagumi.


                “Kenapa harus Aiden,”


isaknya merasa sangat tidak rela.


                ----


                Di sisi lain Catherine


tengah membersihkan makanan yang tadi di jatuhkan oleh Evelyn.


                “Kamu mengenal Eve?”


tanya Aiden yang kini duduk di sofa ruangan.


                “Dia adalah


sahabatku,” jawab Catherine membuang makanan yang sudah tak layak di makan itu


ke tong sampah.


                “Kamu mengenal Eve?”


tanya Catherine.


                “Ya, dia salah satu clientku 3 tahun yang lalu,” seru Aiden.


                “Oh begitu,” jawab


Catherine tanpa menaruh kecurigaan apapun.


                “Haus... minum....”


                Samar-samar mereka


berdua mendengar suara gumaman. Dengan kompak mereka berdua berdiri mendekati


brankar.


                “Mine,” seru Catherine


yang berdiri di sisi brankar.


                “Mommy, aku haus,”


serunya dengan masih lemah.


                Aiden berdiri di ujung


brankar memperhatikan Mine yang sedang di bantu minum oleh Catherine.


                “Mine ada dimana,


Mom?” tanya Jasmine.


                “Kamu ada di rumah


sakit, Sayang.”


                “Kepala dan perut Mine


sakit,” serunya. Jasmine.


                “Aku akan panggilkan


Dokter,” seru Aiden membuat Jasmine menoleh ke sumber suara.


                “Uncle tampan, kok


uncle disini?” tanya Jasmine mengernyitkan dahinya bingung.


                “Jasmine, Uncle tampan


ini sebenarnya-“ Aiden memberi kode kepada Catherine untuk tidak mengatakannya.


                “Uncle datang menengok


Mine. Apa Mine senang?” tanya Aiden.

__ADS_1


                “Aku sangat seneng ada


Uncle. Akhirnya Uncle ketemu Mommy aku,” seru Jasmine tersenyum lebar.


                “Tunggu sebentar yah,”


seru Aiden beranjak pergi.


                Tak lama Dokter


bersama suster datang dan memeriksa Jasmine. Catherine dan Aiden menunggu di


dekat sofa dan melihat Jasmine yang tengah di periksa.


                “Perut kamu akan


terasa sakit, kamu harus tahan yah anak cantik. Nanti juga sakitnya hilang,”


seru Dokter.


                “Iya Dokter. Mine anak


yang kuat.” Jasmine tersenyum merekah dan


mampu menularkan rasa bahagia ke yang lain.


                Tanpa sadar mata Aiden


berair dan hampir jatuh membasahi pipinya. Aiden segera mengusap kedua matanya


dan menoleh ke arah Catherine yang ternyata tengah menatap dirinya.


                Mereka berdua saling


bertatapan cukup lama. Hingga seruan Dokter menyadarkan mereka berdua.


                “Kondisinya berangsur


baik. Kita hanya tinggal menunggu luka operasinya mengering. Jangan dulu di


beri makanan yang keras dan terlalu banyak,” seru Dokter yang di angguki oleh


Catherine.


                “Kalau begitu kami


permisi.”


pun beranjak pergi meninggalkan ruangan.


                “ Mom, sudah kenal


Uncle tampan?” tanya Jasmine membuat Catherine berjalan mendekati Jasmine.


                “Iya,” jawab Catherine


melihat ke arah Aiden yang berdiri di ujung brankar.


                “Tampan kan Mom?” seru


Jasmine.


                Catherine menatap


Aiden yang juga menatapnya. “Ya, tampan,” seru Catherine kini kembali melihat


ke arah Jasmine.


                “Anak yang kuat, kamu


harus habiskan obat yang di berikan Dokter supaya cepat sehat dan bisa pulang,”


ucap Catherine.


                “Iya Mom.”


                “Aku akan menebus


obatnya dan membeli sarapan. Kamu akan temani Jasmine disini?” tanya Catherine.


                “Baiklah.” Jawab


Aiden.


                “Sebentar yah Cantik.”


Catherine mengecup kepala Jasmine da beranjak pergi meninggalkan Aiden da


Jasmine.


                Ia ingin memberikan

__ADS_1


waktu untuk mereka berdua.


                Aiden berjalan dan


mengambil duduk di sisi brankar.


                “Hi cantik. Apa


perutnya masih sakit?” tanya Aiden.


                “Sudah tidak terlalu,


Uncle. Mine kan gadis yang kuat kayak wonder woman,” serunya dengan lucu


membuat Aiden merasa gemas sendiri.


                “Kamu memang peri


kecil yang sangat cantik,” seru Aiden mengusap kepala Mine. Tatapannya begitu


teduh dan air mata tanpa terasa jatuh membasahi pipinya.


                “Uncle kenapa nangis?”


tanya Jasmine.


                “Tidak apa-apa. Uncle


hanya senang melihatmu,” ucap Aiden tersenyum kecil seraya membelai pipi


Jasmine. “Kamu tau, aku sangat beruntung kalau memiliki putri cantik dan cerdas


seperti kamu, Sayang.”


                “Aku juga sangat ingin


memiliki Daddy seperti Uncle Tampan,” ucap Jasmine. “Mine nggak suka sama om


Robert itu. Mine nggak suka kalau Mommy sampai menikah dengan om Robert.”


                Aiden tersenyum


mendengarnya. “Lalu kamu ingin Daddy seperti apa?” tanyanya.


                “Sejak dulu Mine


sangat ingin memiliki Daddy yang bisa bermain dengan Mine. Sangat perhatian,


dan sangat tampan. Jadi saat mengantar Mine ke sekolah supaya teman-teman yang sudah


ngehina Mine karena nggak punya Daddy akan melihat setampan apa Daddy nya


Mine.”


                “Teman-temanmu


menghina apa?” tanya Aiden.


                “Katanya aku anak


haram yang nggak punya Ayah. Katanya aku pembawa sial dan juga berkata kalau


Mommy adalah seorang wanita simpanan.”


                Aiden terpaku


mendengar ucapan dari Jasmine. Hatinya merasa begitu teriris mendengar


penuturan Jasmine yang begitu polos. Semua ini adalah kesalahannya. Dia yang


terlalu bodoh hingga tidak menyadari semua ini.


                “Uncle.” Jasmine


memegang tangan Aiden membuatnya menatap Jasmine dengan penuh kehangatan.


                “Uncle maukah Uncle


menikah dengan Mommy dan menjadi Daddy aku.”


                Deg


                Aiden membeku di tempatnya mendengar penuturan Jasmine


yang terlihat penuh harap dengan tatapan polosnya.


                Di ambang pintu,


Catherine pun membeku mendengar penuturan Jasmine. Ia sudah sejak lama berdiri


di sana dan mendengarkan ucapan Jasmine.

__ADS_1



__ADS_2