
“Tidakmungkin Aiden, kan?” gumam Evelyn menangis didalam
mobilnya.
“Kenapa harus Aiden?”
Evelyn merasa hancur dan begitu terluka. Ia
sudah lama memendam rasa pada Aiden. Tetapi kenapa sekarang malah seperti ini.
Pria yang dia anggap berengsek
adalah pria yang sangat ia kagumi.
“Kenapa harus Aiden,”
isaknya merasa sangat tidak rela.
----
Di sisi lain Catherine
tengah membersihkan makanan yang tadi di jatuhkan oleh Evelyn.
“Kamu mengenal Eve?”
tanya Aiden yang kini duduk di sofa ruangan.
“Dia adalah
sahabatku,” jawab Catherine membuang makanan yang sudah tak layak di makan itu
ke tong sampah.
“Kamu mengenal Eve?”
tanya Catherine.
“Ya, dia salah satu clientku 3 tahun yang lalu,” seru Aiden.
“Oh begitu,” jawab
Catherine tanpa menaruh kecurigaan apapun.
“Haus... minum....”
Samar-samar mereka
berdua mendengar suara gumaman. Dengan kompak mereka berdua berdiri mendekati
brankar.
“Mine,” seru Catherine
yang berdiri di sisi brankar.
“Mommy, aku haus,”
serunya dengan masih lemah.
Aiden berdiri di ujung
brankar memperhatikan Mine yang sedang di bantu minum oleh Catherine.
“Mine ada dimana,
Mom?” tanya Jasmine.
“Kamu ada di rumah
sakit, Sayang.”
“Kepala dan perut Mine
sakit,” serunya. Jasmine.
“Aku akan panggilkan
Dokter,” seru Aiden membuat Jasmine menoleh ke sumber suara.
“Uncle tampan, kok
uncle disini?” tanya Jasmine mengernyitkan dahinya bingung.
“Jasmine, Uncle tampan
ini sebenarnya-“ Aiden memberi kode kepada Catherine untuk tidak mengatakannya.
“Uncle datang menengok
Mine. Apa Mine senang?” tanya Aiden.
__ADS_1
“Aku sangat seneng ada
Uncle. Akhirnya Uncle ketemu Mommy aku,” seru Jasmine tersenyum lebar.
“Tunggu sebentar yah,”
seru Aiden beranjak pergi.
Tak lama Dokter
bersama suster datang dan memeriksa Jasmine. Catherine dan Aiden menunggu di
dekat sofa dan melihat Jasmine yang tengah di periksa.
“Perut kamu akan
terasa sakit, kamu harus tahan yah anak cantik. Nanti juga sakitnya hilang,”
seru Dokter.
“Iya Dokter. Mine anak
yang kuat.” Jasmine tersenyum merekah dan
mampu menularkan rasa bahagia ke yang lain.
Tanpa sadar mata Aiden
berair dan hampir jatuh membasahi pipinya. Aiden segera mengusap kedua matanya
dan menoleh ke arah Catherine yang ternyata tengah menatap dirinya.
Mereka berdua saling
bertatapan cukup lama. Hingga seruan Dokter menyadarkan mereka berdua.
“Kondisinya berangsur
baik. Kita hanya tinggal menunggu luka operasinya mengering. Jangan dulu di
beri makanan yang keras dan terlalu banyak,” seru Dokter yang di angguki oleh
Catherine.
“Kalau begitu kami
permisi.”
pun beranjak pergi meninggalkan ruangan.
“ Mom, sudah kenal
Uncle tampan?” tanya Jasmine membuat Catherine berjalan mendekati Jasmine.
“Iya,” jawab Catherine
melihat ke arah Aiden yang berdiri di ujung brankar.
“Tampan kan Mom?” seru
Jasmine.
Catherine menatap
Aiden yang juga menatapnya. “Ya, tampan,” seru Catherine kini kembali melihat
ke arah Jasmine.
“Anak yang kuat, kamu
harus habiskan obat yang di berikan Dokter supaya cepat sehat dan bisa pulang,”
ucap Catherine.
“Iya Mom.”
“Aku akan menebus
obatnya dan membeli sarapan. Kamu akan temani Jasmine disini?” tanya Catherine.
“Baiklah.” Jawab
Aiden.
“Sebentar yah Cantik.”
Catherine mengecup kepala Jasmine da beranjak pergi meninggalkan Aiden da
Jasmine.
Ia ingin memberikan
__ADS_1
waktu untuk mereka berdua.
Aiden berjalan dan
mengambil duduk di sisi brankar.
“Hi cantik. Apa
perutnya masih sakit?” tanya Aiden.
“Sudah tidak terlalu,
Uncle. Mine kan gadis yang kuat kayak wonder woman,” serunya dengan lucu
membuat Aiden merasa gemas sendiri.
“Kamu memang peri
kecil yang sangat cantik,” seru Aiden mengusap kepala Mine. Tatapannya begitu
teduh dan air mata tanpa terasa jatuh membasahi pipinya.
“Uncle kenapa nangis?”
tanya Jasmine.
“Tidak apa-apa. Uncle
hanya senang melihatmu,” ucap Aiden tersenyum kecil seraya membelai pipi
Jasmine. “Kamu tau, aku sangat beruntung kalau memiliki putri cantik dan cerdas
seperti kamu, Sayang.”
“Aku juga sangat ingin
memiliki Daddy seperti Uncle Tampan,” ucap Jasmine. “Mine nggak suka sama om
Robert itu. Mine nggak suka kalau Mommy sampai menikah dengan om Robert.”
Aiden tersenyum
mendengarnya. “Lalu kamu ingin Daddy seperti apa?” tanyanya.
“Sejak dulu Mine
sangat ingin memiliki Daddy yang bisa bermain dengan Mine. Sangat perhatian,
dan sangat tampan. Jadi saat mengantar Mine ke sekolah supaya teman-teman yang sudah
ngehina Mine karena nggak punya Daddy akan melihat setampan apa Daddy nya
Mine.”
“Teman-temanmu
menghina apa?” tanya Aiden.
“Katanya aku anak
haram yang nggak punya Ayah. Katanya aku pembawa sial dan juga berkata kalau
Mommy adalah seorang wanita simpanan.”
Aiden terpaku
mendengar ucapan dari Jasmine. Hatinya merasa begitu teriris mendengar
penuturan Jasmine yang begitu polos. Semua ini adalah kesalahannya. Dia yang
terlalu bodoh hingga tidak menyadari semua ini.
“Uncle.” Jasmine
memegang tangan Aiden membuatnya menatap Jasmine dengan penuh kehangatan.
“Uncle maukah Uncle
menikah dengan Mommy dan menjadi Daddy aku.”
Deg
Aiden membeku di tempatnya mendengar penuturan Jasmine
yang terlihat penuh harap dengan tatapan polosnya.
Di ambang pintu,
Catherine pun membeku mendengar penuturan Jasmine. Ia sudah sejak lama berdiri
di sana dan mendengarkan ucapan Jasmine.
__ADS_1
Ꙭ