Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 27


__ADS_3

Aiden tengah berada di dalam sebuah taxi. Ia berniat untuk kembali ke Indonesia dan mengelola perusahaan Wiratama. Walau berat, tetapi ia tidak bisa terus menerus menetap di sini tanpa pekerjaan apapun.


Ia menatap keluar jendela. Pikirannya melalang buana mengingat kejadian kemarin malam dimana ia mencium Catherine. Saat itu ia merasa dadanya di remas tangan tak kasat mata dan rasanya ingin menangis.


Tetapi Aiden tidak ingin mengambil resiko dan malah semakin membuat Catherine tersakiti. Ia sendiri kini tidak mempercayai cinta dan takut untuk membangun sebuah hubungan. Bagaimana kalau sampai gagal dan ia malah semakin menyakiti Catherine yang sudah berharap padanya.


Tatapan Aiden menangkap sosok yang ia kenal.


Tak jauh di sebrang sana terlihat Jasmine baru saja turun dari sebuah mobil bersama seorang wanita. Wanita itu adalah Catherine.


"Tunggu sebentar," perintah Aiden pada sopir taxi yang kini menghentikan mobilnya.


Catherine terlihat memeluk Jasmine dan mengecup pipinya. Setelahnya Jasmine terlihat berjalan menuju gerbang sekolahnya seraya melambaikan tangannya ke arah Catherine.


"Ternyata mereka memang sangat dekat," gumam Aiden.


Aiden hendak meminta sopir taxi melanjutkan perjalanan. Tetapi ia melihat seorang pria dengan hodie hitam dan memakai masker wajah berjalan mendekati Jasmine.


Mata Aiden membelalak lebar saat pria itu tiba-tiba saja menusuk perut Jasmine dengan membungkukkan badannya.


"Jasmine!" teriak Catherine yang hendak masuk ke dalam mobilnya langsung berlari menghampiri Jasmine yang ambruk ke tanah dengan bersimpah darah.


Aiden langsung turun dari mobil dan berlari ke arah mereka. Ia mencoba mengejar pria tadi tetapi ia sudah berlari cepat dan menghilang.


"Sialan!"


Aiden berlari kembali menghampiri Catherine dan Jasmine.


"Mine bangun!" isak Catherine sudah memangku tubuh Jasmine yang tak sadarkan diri ke atas pangkuannya. "Tolongggg....."


"Jasmine..." seru Aiden berjongkok di hadapan mereka.


"Aiden, tolong..." isak Catherine.


"Kita bawa ke rumah sakit," ucap Aiden langsung mengambil alih tubuh Jasmine dan membawanya menuju mobil.


Saat hendak pergi, sopir taxi datang meghampiri seraya membawa koper besar milik Aiden. Ia meminta Aiden membayar uang transportasinya.


Tanpa banyak kata Aiden pun menyerahkan beberapa lembar uang dan memberikannya ke sopir taxi itu. Ia membawa masuk koper miliknya ke dalam bagasi mobil. Catherine melihat koper besar yang di bawa Aiden. Ia yakin Aiden pasti akan kembali ke Indonesia.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Mereka sampai di sebuah rumahsakit. Aiden turun lebih dulu dan memangku tubuh Mine membawanya masuk ke lobby rumah sakit.


Aiden terlihat begitu khawatir dan sedikit berteriak meminta suster atau dokter segera datang.


Jasmine di larikan ke ruang UGD untuk di periksa. Aiden dan Catherine menunggu di depan ruang UGD.


Catherine melihat ke arah Aiden yang terlihat mondar mandir terlihat sangat khawatir. Ia juga mengingat betapa khawatirnya Aiden saat melihat Jasmine terluka. Catherine menundukkan kepalanya, air matanya jatuh membasahi pipinya. Kenapa melihat semua itu membuat dirinya begitu terharu. Andai saja Aiden membalas cintanya....


Tak lama seorang Dokter keluar dari ruangan itu. Catherine dan Aiden bergegas menghampiri Dokter itu.


"Bagaimana?" tanya Catherine.


"Apa kalian keluarganya?" tanya Dokter itu.

__ADS_1


"Iya, saya Ibu nya," seru Catherine membuat Aiden menoleh ke arahnya.


"Pasien terluka cukup parah dan kehilangan banyak darah," jelas sang Dokter. "Golongan darahnya merupakan golongan darah yang langka. Biasaya hanya orangtua kandungnya yang memiliki kecocokan dengan pasien."


"Cath, apa kita perlu meminta Marinka datang, siapa tau dia memang memiliki darah yang cocok dengan Jasmine. Atau suami Marinka yang di dalam penjara," seru Aiden.


"Tidak perlu," seru Catherine menggelengkan kepalanya.


"Emmm,, apa golongan darahnya, Dok?" tanya Catherine.


Sang Dokter pun menyebutkan golongan darah Jasmine.


"Golongan darahku sama dengan Jasmine," ucap Aiden.


"Apa anda Ayah pasien?"


Deg


Aiden termangu dan menjadi dongkol. Tetapi seketika otaknya berputar dan menyimpulkan segalanya. Ia langsung menoleh ke arah Catherine yang hanya menatapnya dengan tatapan sendu dan rasa bersalah.


Jasmine adalah putri kandungnya...?


"Ambil darah saya sebanyak mungkin untuk menolong-" Aiden terdiam sesaat karena sesak di dadanya. "Mine."


Tatapan Aiden masih terpaut dengan Catherine yang hanya mampu menangis.


***


"Eh?"


Catherine terpekik saat Aiden dengan cara paksa menarik lengan Catherine hingga ia berdiri dari duduknya. Aiden menarik Catherine menuju tangga darurat dan masuk ke sana.


"Ah?" pekik Catherine saat Aiden menghempaskan lengannya hingga ia mundur beberapa langkah ke belakang.


"Kenapa?" bentak Aiden terlihat matanya memerah menahan emosi. "Kenapa kamu menyembunyikan semua ini, Cath?"


"Kenapa kamu sangat egois? Kenapa kamu hanya memikirkan perasaanmu sendiri dan mengabaikan aku juga Jasmine? Bagaimana bisa kamu terus menyembunyikan fakta bahwa Jasmine adalah putri kandungku. Kamu membawa pergi puteriku!" amuk Aiden.


Catherine merasa sangat takut. Ini pertama kalinya Aiden sangat marah.


"Kenapa kamu menyembunyikan semua ini dariku?" tanya Aiden.


"Kalau hari ini Jasmine tidak terluka dan membutuhkan darahku. Apa kamu akan tetap menyembunyikan kebenaran ini dariku? Kenapa kamu begitu egois, Catherine!" amuk Aiden.


"Kenapa harus menunggu Jasmine terluka dulu!" Catherine hanya bisa menangis mendengar amukan Aiden.


"Sialan!" amuk Aiden meninju dinding dengan sangat keras hingga tangannya memar dan memerah.


Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan berkacak pinggang untuk meredakan amarahnya.


"Jadi ini alasan kepergianmu 5 tahun yang lalu?" gumam Aiden.


"Maafkan aku. Aku hanya tidak ingin membebanimu," seru Catherine membuat Aiden melihat ke arahnya.

__ADS_1


"Membebani?" Aiden terkekeh nyaring. "Jasmine adalah putriku. Dan kamu membawanya pergi menjauh dariku hanya karena alasan tidak ingin membebani?"


"Apa kau sadar dengan ucapanmu itu, Cath?" pekik Aiden tak habis pikir.


"Aku bisa apa," isak Catherine. "Kamu masih begitu tergila-gila dan hanya terfokus pada Agneta. Kalau aku datang begitu saja dan mengatakan kalau aku hamil anakmu, apa kamu bisa menerimaku?" tanya Catherine. "Bisa di katakan kamu menerimanya, tapi bagaimana dengan hatimu?"


Aiden terdiam mendengar penuturan Catherine.


"Aku hanya tidak ingin di kasihani karena mencintaimu dan mengandung anakmu. Aku memang egois, tapi aku tidak ingin membuatku terus tersakiti seumur hidupku," isak Catherine.


"Kamu memang sangat egois, Cath. Kamu bahkan tidak memikirkan perasaan Jasmine yang hidup tanpa mengenal siapa Ayahnya," ucap Aiden lebih tenang. "Kamu membuatku menjadi seorang yang lebih brengsek dari Davero. Aku membencinya karena ia tega menelantarkan wanita yang sedang mengandung anaknya. Tapi alasan Dave lebih bisa di terima di banding aku. Aku jelas jauh lebih brengsek darinya," seru Aiden mentertawakan dirinya sendiri.


"Kalau hari ini aku tidak melihat kalian dan melihat Jasmine di lukai. Mungkin selamanya aku tidak akan tau mengenai putriku sendiri. Apalagi hari ini aku berencana kembali ke Indonesia." Aiden menghela nafasnya. "Terima kasih Cath. Kamu sudah memberiku hukuman yang sangat berat dan sudah menamparku dengan sangat keras. Betapa brengseknya aku."


"Aiden, aku-"


Aiden beranjak pergi tanpa ingin mendengar ucapan dari Catherine.


----


Jasmine tengah melakukan operasi. Aiden terlihat tak meninggalkan tempat dan berdiri di dekat pintu ruang operasi. Sedangkan Catherine duduk di kursi,


Mereka berdua sama-sama saling membisu tanpa ingin mengeluarkan suara satu sama lainnya.


Setelah menghabiskan waktu beberapa jam, lampu di atas pintu ruang operasi pun berubah menjadi hijau.


Dokter diikuti dokter lainnya keluar dari ruang operasi. Aiden dan Catherine bergegas menghampiri sang Dokter.


"Syukurlah operasinya berjalan lancar tanpa hambatan. Pasien masih dalam pengaruh anestesi, belum bisa di temui. Kami akan memindahkannya ke ruang rawat," jelas Dokter.


Mereka berpamitan pergi meninggalkan Aiden dan Catherine.


Empat orang keluar dengan memakai pakaian operasi seraya mendorong blangkar dimana Jasmine berbaring.


Aiden menatap wajah cantik Jasmine yang terpejam.


"Jasmine..." gumamnya terus melihat Jasmine tanpa memalingkan tatapannya. Air mata menggantung di pelupuk matanya yang memerah.


Uncle Tampan.....


Panggil aku Mine.....


Tak kuasa lagi menahan sesak di dada dan tangisannya. Air mata itupun luruh membasahi pipinya.


Aiden mengusap kedua matanya dan beranjak pergi. Catherine hanya mampu melihat Aiden yang pergi meninggalkan dirinya.


'Maafkan aku, Aiden. Sungguh aku tidak bermaksud seperti ini padamu,' batin Catherine.


*** 


TBC...


18-04-2020

__ADS_1


__ADS_2