
Chaterine mendorong kursi rodanya menuju kamar Mine. Sejak kejadian tadi pagi, ia sama sekali tidak berani bertemu dengan Aiden. Dan sepertinya Aiden juga tidak berniat menemuinya dan menyuruh Mouli yang mengantarkan makanan ke dalam kamarnya.
Catherine menghentikan dorongan nya pada roda kursi roda yang ia duduki. Tatapan matanya tertuju ke dalam kamar yang pintunya sedikit tertutup. Ia masih mampu melihat di dalam sana Aiden terlihat tengah membacakan buku dongeng kepada Mine dan mereka terlihat sangat dekat dan sangat akrab. Mine terlihat tertawa karena candaan Aiden.
Melihat semua itu hati Catherine terasa menghangat. Ia senang melihat Mine akhirnya bisa bahagia dan tertawa lepas. Ia melihat sosok Mine berbeda dari biasa. Ia tidak pernah menemani Mine sampai tidur. Kadang ia pulang Mine sudah tertidur. Ibu macam apa dirinya ini yang bahkan melupakan kebahagiaan anaknya sendiri. Dirinya sungguh sangat egois.
"Kami belum tidur?" pertanyaan itu menyadarkan lamunan Catherine. Ia melihat sosok jangkung Aiden sudah berdiri di hadapannya. Kemudian ia mengalihkan tatapannya pada Mine yang terlihat sudah terlelap.
"Ayo aku antar ke kamarmu," ucap Aiden mendorong kursi roda Catherine menuju kamar Catherine.
"Kamu juga pasti belum minum obat," ucap Aiden saat sampai di kamar Catherine.
Ia bergegas mengangkat tubuh Catherine menuju ranjang.
"Aiden..."
Panggilan itu menghentikan gerakan Aiden yang hendak membopong tubuhnya.
"Ada apa?" tanya Aiden.
"Terima kasih karena sudah membuat Mine sangat bahagia," ucap Catherine terlihat pandangan matanya begitu tulus.
"Aku ayahnya. Sudah sepatutnya aku membahagiakan Mine dan juga kamu."
Deg
Aiden memangku tubuh Catherine dan merebahkannya di atas ranjang. Kemudian ia mengambil obat dan segelas air yang ada di atas meja nakas. Aiden menyodorkannya ke Catherine.
Catherine menerima nya dan kemudian meminum obat itu.
"Aku akan pulang, besok pagi sebelum Mine bangun aku akan datang lagi," ucap Aiden mengambil gelas di tangan Catherine.
"Jarak apartementmu dan rumah ini cukup jauh. Bagaimana kamu bisa beristirahat," seru Catherine.
"Aku tidak apa-apa," seru Aiden.
"Aiden." Catherine menatap manik mata Aiden yang berdiri di sisi ranjang dengan tatapan ragu. "Kata-kata kamu tadi, kenapa ingin membahagiakan aku?" tanya Catherine.
Aiden masih diam memperhatikan Catherine.
"Aiden, mengenai apa yang menimpaku, itu bukanlah kesalahanmu. Jadi jangan merasa bersalah lagi. Aku tidak ingin kamu terus bersimpati kepadaku, sungguh aku baik-baik saja. Kalau kamu terus memandang ku dengan rasa bersalahmu dan bersimpati padaku, aku yang merasa sangat terbebani," ucap Catherine menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku mohon berhentilah mengasihaniku, itu membuatku sangat tidak nyaman."
"Ajak saja Mine ke apartemen mu untuk sementara waktu, aku bisa mengurus diriku sendiri. Aku rasa cukup saat di rumah sakit kamu memgasihaniku," seru Catherine memalingkan wajahnya.
"Apa aku sungguh tidak bisa di percaya olehmu?" tanya Aiden membuat Catherine melihat ke arahnya. "Kenapa kamu selalu mengambil kesimpulan sendiri?"
Aiden tampak menghela nafasnya dan berdecak. "Catherine, aku sama sekali tidak sedang mengasihanimu," ucap Aiden.
"Kalau begitu jangan terus memandang ku sebagai ibunya Mine. Anggap saja aku tidak ada dan kamu bisa lebih dekat dengan Mine. Aiden, jangan memberiku harapan apapun lagi. Jangan menarik ulurku lagi. Aku sangat ketakutan saat ini, aku merasa sangat tidak tenang. Aku takut perasaan ini akan kembali hanyut dan terluka. Aku tidak ingin terluka laghmmmp..."
Ucapan Catherine terhenti karena Aiden begitu saja mencium bibirnya seakan ingin membungkam mulut Catherine.
Sebelah tangan Aiden memegang rahang Catherine, dengan sebelah kakinya yang naik ke atas ranjang. Ia sedikit menundukkan kepalanya dan membuat Catherine menengadahkan kepalanya.
Perlahan Aiden melepaskan ciumannya membuat kedua pipi Catherine bersemu merah.
"Aku mencintaimu Catherine."
Deg
Mata Catherine membelalak lebar.
"Aku mencintaimu, apa alasan itu tidak lebih cukup untuk aku membahagiakan mu?" tanya Aiden.
"Sekarang beristirahatlah," ucap Aiden menarik kembali tubuhnya untuk menjauh dari Catherine dan menuruni ranjang. "Aku akan pulang."
Aiden berjalan meninggalkan Catherine yang masih membeku di tempatnya.
Saat sampai di ambang pintu, langkah Aiden berhenti dan kembali menoleh ke arah Catherine.
"Jangan melarang ku mendekatimu. Aku ingin membuktikan padamu, kalau selama ini aku salah, aku bukan bersimpati padamu. Tapi aku sungguh mencintaimu, Catherine. Aku akan buktikan kalau aku tidak salah menyimpulkan." setelah mengatakan hal itu, Aiden pun beranjak pergi meninggalkan Catherine yang semakin membeku.
Catherine merasa jantungnya berdegup semakin cepat dan pasokan udara di sekitarnya terasa menipis.
Aku mencintaimu Catherine...
Aku mencintaimu Catherine...
Aku mencintaimu Catherine...
"A-apa ini mimpi?" gumamnya.
__ADS_1
***
Catherine keluar dari dalam kamarnya dan melihat Aiden tengah memasak dan menyiapkan sarapan dengan celemek hitam terpasang indah di tubuh kekarnya.
Melihat itu, Catherine merasa sangat terpesona. Aiden sangat tampan dan memukau. Kalau saja dalam cerita komik, mungkin saat ini Catherine sudah mimisan.
"Mommy..."
Panggilan Mine menyadarkan lamunannya. Catherine tersenyum ke arah Mine dan mendorong rodanya mendekati meja makan.
"Kamu sudah bangun," seru Aiden terlihat santai. Ia bahkan tersenyum dengan begitu ramah ke arah Catherine.
Catherine memalingkan wajahnya karena tidak tahan dengan kilauan cahaya yang di pancarkan oleh Aiden. Sungguh itu merusak kinerja jantungnya.
"Sarapan untuk kalian sudah siap. Aku hanya membuatkan sandwich untuk kalian," ucap Aiden menyuguhkan sarapan di atas meja.
"Ini sandwich terenak yang pernah Mine makan. Daddy memang sangatlah hebat," seru Mine membuat Aiden tersenyum.
"Kalau begitu habiskanlah dan jangan lupa susunya juga di minum," perintah Aiden yang di angguki Mine.
Catherine menikmati makanannya dalam diam dan hanya celotehan Mine yang di tanggapi oleh Aiden yang menjadi begitu ramai.
"Aku sudah habis," ucap Mine. "Daddy jadikan antar Mine ke sekolah?"
"Jadi Princes," seru Aiden.
"Kalau begitu Mine ambil tas dulu." Mine menuruni kursi dan berlari menuju kamarnya.
"Ibu angkat, dimana tas Mine..." teriak Mine.
Kini tinggal Aiden dan Catherine berdua saja yang sama-sama diam membisu.
"Aiden, mengenai ucapanmu semalam. Bisakah aku mempercayai nya?" tanya Catherine menatap ke arah Aiden.
"Tidak perlu secepat itu kamu mempercayainya. Lihat saja pembuktian dariku," ucap Aiden mengedipkan sebelah matanya.
Deg
"Aku akan mengantar Mine ke sekolah. Nanti aku akan kembali lagi," ucap Aiden tiba-tiba berjalan mendekati Catherine dan ia begitu saja mengecup kepala Catherine membuat Catherine semakin membeku dan degup jantungnya semakin berpacu dengan cepat.
"Jangan biasakan tidak mengunci kamar saat kamu bertelanjang. Karena aku tidak bisa menjamin akan terus menahan diri," bisik Aiden membuat bulu kuduk Catherine meremang. Ia menatap Aiden yang sudah berdiri tegak dan tersenyum ramah ke arahnya.
__ADS_1
***
TBC..