
“Jadi siapa Jasmine itu?”
Deg
TubuhCatherine
kembali membeku dan ia menjadi sangat bingung harus menjawab pertanyaan dari
Aiden.
“Tatap aku Cath.”
Aiden menarik kedua pundak Catherine hingga kini ia menatap ke arah Aiden. “Apa
Jasmine adalah-“
“Tidak Aiden. Dia
bukan anakmu,” ucap Catherine mendorong dada Aiden supaya lepas melepaskan
cengkraman tangannya dan ia berjalan mundur.
Ada raut kekecewaan di
mata Aiden. Padahal ia merasa dekat dan familiar dengan Jasmine.
“Dia adalah anak
angkatnya Marinka,” seru Catherine.
“Anak angkat?” tanya
Aiden mengernyitkan dahinya.
“Iya,” jawab
Catherine.
“Tapi kenapa saat itu
kalian tidak menyinggung masalah Jasmine?” tanya Aiden terlihat tidak percaya.
“Itu karena statusnya
yang tidak jelas. Dan kami memutuskan menyembunyikan keberadaan Jasmine,” seru
Catherine.
“Benarkah?”
“Kamu bisa menanyakan
langsung pada Marinka,” seru Catherine berusaha menyembunyikan fakta
sebenarnya.
“Baiklah, aku percaya.
Ayo aku antarkan kamu pulang,” seru Aiden.
“Aku bawa mobil
sendiri,” seru Catherine. “Kita berpisah di sini saja. Sampai jumpa.”
Catherine tidak ingin
berlama-lama lagi dan memutuskan untuk pergi terlebih dulu meninggalkan Aiden sediri
yang masih menatap Catherine.
Ꙭ
Catherine baru saja
sampai di rumahnya. Ia melemparkan mantelnya ke atas sofa. Kemudian ia mengambil sebotol wine dalam rak
yang ada didalam kamarnya. Tak lupa juga membawa gelas kecil. Kemudian berjalan
menuju kursi yang berada di dekat jendela dan perapian didalam kamarnya.
Ia menuangkan wine
dari dalam botol ke dalam gelas, kemudian meneguknya dalam satu tegukan. Helaan
napas terdengar.
Ia kembali menuangkan
wine ke dalam gelasnya kemudian meneguknya. Matanya terpejam, dadanya terasa
terbakar. Dan sakit...
Ia terpaksa berbohong
mengenai Jasmine pada Aiden. Hanya itu satu-satunya cara supaya ia tidak di
pisahkan dari Jasmine. Dan juga tidak membuat Aiden membuat suatu hubungan
dengan dirinya hanya karena Jasmine. Hanya karena ingin Jasmine memiliki keluarga
yang utuh.
Tidak... Catherine
tidak bisa menerima itu. Ia tidak ingin menerima belas kasihan Aiden. Ia tidak
ingin perasaannya semakin hancur dan semakin sakit karena tidak terbalaskan.
Ia hanya ingin Aiden
membalas cintanya, perasaannya. Bukan karena alasan apapun. Apa itu bisa?
Tanpa sadar air mata
__ADS_1
Catherine menetes membasahi pipinya. Ia sadar dirinya sangat egois, tetapi ia
bukan wanita yang tabah dan bisa menerima hidup bersama dengan pria yang
mengasihani dirinya. Ia tidak bisa menerima itu.
Apa salah kalau
dirinya ingin cintanya terbalaskan. Apa salah kalau dirinya ingin di cintai?
Kenapa? Kenapa
mencintai harus sesakit ini?
Ia menangis dalam diam
seraya meneguk wine didalam gelasnya. Kerongkongan dan hatinya terasa terbakar.
Ꙭ
Keesokan harinya
Catherine menemani Robert mengunjungi sebuah undangan pesta salah satu klien
mereka.
Catherine terlihat
cantik dengan gaun berwarna biru langit dengan bagian atas berbentuk sabrina.
Dan gaun lurus itu mencetak jelas lekukan tubuh seksinya. Terdapat sebuah
belahan di sisi kirinya hingga batas paha. Rambutnya ia biarkan tergerai indah
dan bergelombang sebatas punggung.
Ia melingkarkan
tangannya di lengan Robert dan mereka langsung di sambut hangat oleh tuan
rumah.
Mereka saling
bercengkraman satu sama lainnya dan seperti biasa membahas mengenai pekerjaan.
Di sisi lain Aiden
juga ada di sana dengan mengenakan tuxedo berwarna mocca dan sangat pas di
tubuh atletisnya. Ia tengah berbincang dengan seseorang seraya meneguk minuman
di tangannya. Tatapannya tertuju pada sosok Catherine yang berada tak jauh
darinya.
“Catherine, ini adalah
Mr. Bernard dari perusahaan Gill.”
Bernard,” ucap Catherine berjabat tangan dengannya.
“Mr. Bernard ini yang
berencana membeli tanah di daerah SI.”
“A-apa?” Catherine
mengernyitkan dahinya menatap ke arah Robert dengan bertanya-tanya. Bukankah
sebelumnya ia sudah jelaskan kalau daerah itu tidak akan pernah ia jual.
“Saya sangat tertarik
dengan tanah di daerah SI. Saya harap, kita bisa menjalin kerja sama yang
baik,” seru Mr. Bernard.
Catherine hanya
tersenyum kecil.
“Emm permisi
sebentar,” seru Catherine menarik lengan Robert untuk menjauh dari keramaian
dan orang-orang di sana.
“Apa maksud semua ini,
Robert?” tanya Catherine saat mereka sampai di taman belakang.
“Kenapa? Apa ada
masalah?” tanya Robert dengan santai.
“Aku sudah katakan,
daerah itu tidak boleh di jual. Dan aku tidak berniat untuk menjualnya!”
“Aku tidak menjualnya.
Aku hanya akan menyewakannya dan mendapatkan untung juga saham dari perusahaan
Gill.”
“Apa kamu gila? Aku
tidak menyetujui semua itu!”
“Aku tidak butuh
persetujuanmu!”
__ADS_1
“A-apa?”
“Dengar?” tatapanRobert berubah menjadi tatapan tajam dan mencengkram
kedua pipi Catherine. “Sebentar lagi kita akan menikah. Kau hanya perlu
pikirkan bagaimana cara menyenangkanku di atas ranjangku. Mengenai perusahaan,
aku yang akan mengurus segalanya.”
“Kita menikah untuk
membantu perusahaanmu, bukan untuk memberikan seluruh kekuasaan perusahaan
William padamu!” seru Catherine.
“Apa kamu bodoh? Kau
pikir aku akan menerima semua itu, hah?” seru Robert. “Kalau hanya itu aku
tidak akan repot-repot menikah dengan seorang wanita ****** yang memiliki putri
haram di luar nikah.” Bisiknya membuat Catherine melotot marah.
“Bersikaplah baik, Cath.
Kalau kamu tidak ingin menyesal,” seru Robert melepaskan cengkramannya.
Plak
“Kau benar-benar bajingan!” pekik Catherine menampar
Robert.
“Dasar ****** tak tau
di untung!”
Robert mengangkat
tangannya ke udara siap memukul Catherine yang sudah menutup wajahnya dengan
tangannya.
“Berani sekali kamu
mengangkat tangan pada seorang wanita!” seru seseorang yang menahan lengan
Robert membuat keduanya menoleh ke sumber suara.
“Aiden..” gumam
Catherine.
“Siapa kamu? Beraninya
kamu ikut campur urusanku dan tunanganku!” seru Robert terlihat lemah.
“Bukan siapapun, tapi
aku tidak terbiasa membiarkan seorang pria menganiaya seorang wanita.” Ucapnya
membuat Robert kesal.
Robert melayangkan
bogemnya hendak memukul Aiden, tetapi Aiden menahannya dan mengacungkan
bogemnya ke pipi Robert juga ke bagian perutnya hingga ia membungkuk dan mundur
dua langkah.
“Sialan kalian!” seru
Robert dan berlalu pergi meninggalkan mereka berdua di sana.
“Sudah aku bilang,
jangan jual kebahagiaanmu hanya demi bisnis,” seru Aiden melepaskan jasnya
kemudian memasangkannya pada tubuh Catherine yang sudah menangis seraya
memalingkan wajahnya.
Aiden menarik dagu
Catherine hingga kepalanya terangkat dan tatapan mereka beradu.
“Kamu berhak bahagia,
kamu berhak mengejar keinginanmu sendiri. Jangan jual kebahagiaanmu dan hidupmu
demi bisnis. Tinggalkan pria sialan itu,” seru Aiden dan Catherine masih diam
membisu.
“Kita pulang,” ujarnya
melepaskan pegangannya pada dagu Catherine dan beralih menghapus air mata Catherine.
“Ayo.”
Aiden berjalan
terlebih dahulu. Tapi baru satu langkah, tangannya di genggam oleh Catherine
membuat Aiden kembali menghadap ke arah Catherine.
Tanpa kata Catherine
melangkah mendekati Aiden dan memeluk tubuhnya. Ia menyandarkan kepalanya di
dada bidang Aiden dan melingkarkan kedua tangannya di tubuh Aiden. Aiden
__ADS_1
membalas pelukannya dan membelai pelan pundak Catherine.
Ꙭ