Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 11


__ADS_3

“Jadi siapa Jasmine itu?”


                Deg


TubuhCatherine


kembali membeku dan ia menjadi sangat bingung harus menjawab pertanyaan dari


Aiden.


                “Tatap aku Cath.”


Aiden menarik kedua pundak Catherine hingga kini ia menatap ke arah Aiden. “Apa


Jasmine adalah-“


                “Tidak Aiden. Dia


bukan anakmu,” ucap Catherine mendorong dada Aiden supaya lepas melepaskan


cengkraman tangannya dan ia berjalan mundur.


                Ada raut kekecewaan di


mata Aiden. Padahal ia merasa dekat dan familiar dengan Jasmine.


                “Dia adalah anak


angkatnya Marinka,” seru Catherine.


                “Anak angkat?” tanya


Aiden mengernyitkan dahinya.


                “Iya,” jawab


Catherine.


                “Tapi kenapa saat itu


kalian tidak menyinggung masalah Jasmine?” tanya Aiden terlihat tidak percaya.


                “Itu karena statusnya


yang tidak jelas. Dan kami memutuskan menyembunyikan keberadaan Jasmine,” seru


Catherine.


                “Benarkah?”


                “Kamu bisa menanyakan


langsung pada Marinka,” seru Catherine berusaha menyembunyikan fakta


sebenarnya.


                “Baiklah, aku percaya.


Ayo aku antarkan kamu pulang,” seru Aiden.


                “Aku bawa mobil


sendiri,” seru Catherine. “Kita berpisah di sini saja. Sampai jumpa.”


                Catherine tidak ingin


berlama-lama lagi dan memutuskan untuk pergi terlebih dulu meninggalkan Aiden sediri


yang masih menatap Catherine.



                Catherine baru saja


sampai di rumahnya. Ia melemparkan mantelnya ke atas sofa.  Kemudian ia mengambil sebotol wine dalam rak


yang ada didalam kamarnya. Tak lupa juga membawa gelas kecil. Kemudian berjalan


menuju kursi yang berada di dekat jendela dan perapian didalam kamarnya.


                Ia menuangkan wine


dari dalam botol ke dalam gelas, kemudian meneguknya dalam satu tegukan. Helaan


napas terdengar.


                Ia kembali menuangkan


wine ke dalam gelasnya kemudian meneguknya. Matanya terpejam, dadanya terasa


terbakar. Dan sakit...


                Ia terpaksa berbohong


mengenai Jasmine pada Aiden. Hanya itu satu-satunya cara supaya ia tidak di


pisahkan dari Jasmine. Dan juga tidak membuat Aiden membuat suatu hubungan


dengan dirinya hanya karena Jasmine. Hanya karena ingin Jasmine memiliki keluarga


yang utuh.


                Tidak... Catherine


tidak bisa menerima itu. Ia tidak ingin menerima belas kasihan Aiden. Ia tidak


ingin perasaannya semakin hancur dan semakin sakit karena tidak terbalaskan.


                Ia hanya ingin Aiden


membalas cintanya, perasaannya. Bukan karena alasan apapun. Apa itu bisa?


                Tanpa sadar air mata

__ADS_1


Catherine menetes membasahi pipinya. Ia sadar dirinya sangat egois, tetapi ia


bukan wanita yang tabah dan bisa menerima hidup bersama dengan pria yang


mengasihani dirinya. Ia tidak bisa menerima itu.


                Apa salah kalau


dirinya ingin cintanya terbalaskan. Apa salah kalau dirinya ingin di cintai?


                Kenapa? Kenapa


mencintai harus sesakit ini?


                Ia menangis dalam diam


seraya meneguk wine didalam gelasnya. Kerongkongan dan hatinya terasa terbakar.



                Keesokan harinya


Catherine menemani Robert mengunjungi sebuah undangan pesta salah satu klien


mereka.


                Catherine terlihat


cantik dengan gaun berwarna biru langit dengan bagian atas berbentuk sabrina.


Dan gaun lurus itu mencetak jelas lekukan tubuh seksinya. Terdapat sebuah


belahan di sisi kirinya hingga batas paha. Rambutnya ia biarkan tergerai indah


dan bergelombang sebatas punggung.


                Ia melingkarkan


tangannya di lengan Robert dan mereka langsung di sambut hangat oleh tuan


rumah.


                Mereka saling


bercengkraman satu sama lainnya dan seperti biasa membahas mengenai pekerjaan.


                Di sisi lain Aiden


juga ada di sana dengan mengenakan tuxedo berwarna mocca dan sangat pas di


tubuh atletisnya. Ia tengah berbincang dengan seseorang seraya meneguk minuman


di tangannya. Tatapannya tertuju pada sosok Catherine yang berada tak jauh


darinya.


                “Catherine, ini adalah


Mr. Bernard dari perusahaan Gill.”


Bernard,” ucap Catherine berjabat tangan dengannya.


                “Mr. Bernard ini yang


berencana membeli tanah di daerah SI.”


                “A-apa?” Catherine


mengernyitkan dahinya menatap ke arah Robert dengan bertanya-tanya. Bukankah


sebelumnya ia sudah jelaskan kalau daerah itu tidak akan pernah ia jual.


                “Saya sangat tertarik


dengan tanah di daerah SI. Saya harap, kita bisa menjalin kerja sama yang


baik,” seru Mr. Bernard.


                Catherine hanya


tersenyum kecil.


                “Emm permisi


sebentar,” seru Catherine menarik lengan Robert untuk menjauh dari keramaian


dan orang-orang di sana.


                “Apa maksud semua ini,


Robert?” tanya Catherine saat mereka sampai di taman belakang.


                “Kenapa? Apa ada


masalah?” tanya Robert dengan santai.


                “Aku sudah katakan,


daerah itu tidak boleh di jual. Dan aku tidak berniat untuk menjualnya!”


                “Aku tidak menjualnya.


Aku hanya akan menyewakannya dan mendapatkan untung juga saham dari perusahaan


Gill.”


                “Apa kamu gila? Aku


tidak menyetujui semua itu!”


                “Aku tidak butuh


persetujuanmu!”

__ADS_1


                “A-apa?”


                “Dengar?” tatapanRobert berubah menjadi tatapan tajam dan mencengkram


kedua pipi Catherine. “Sebentar lagi kita akan menikah. Kau hanya perlu


pikirkan bagaimana cara menyenangkanku di atas ranjangku. Mengenai perusahaan,


aku yang akan mengurus segalanya.”


                “Kita menikah untuk


membantu perusahaanmu, bukan untuk memberikan seluruh kekuasaan perusahaan


William padamu!” seru Catherine.


                “Apa kamu bodoh? Kau


pikir aku akan menerima semua itu, hah?” seru Robert. “Kalau hanya itu aku


tidak akan repot-repot menikah dengan seorang wanita ****** yang memiliki putri


haram di luar nikah.” Bisiknya membuat Catherine melotot marah.


                “Bersikaplah baik, Cath.


Kalau kamu tidak ingin menyesal,” seru Robert melepaskan cengkramannya.


                Plak


                “Kau benar-benar bajingan!” pekik Catherine menampar


Robert.


                “Dasar ****** tak tau


di untung!”


                Robert mengangkat


tangannya ke udara siap memukul Catherine yang sudah menutup wajahnya dengan


tangannya.


                “Berani sekali kamu


mengangkat tangan pada seorang wanita!” seru seseorang yang menahan lengan


Robert membuat keduanya menoleh ke sumber suara.


                “Aiden..” gumam


Catherine.


                “Siapa kamu? Beraninya


kamu ikut campur urusanku dan tunanganku!” seru Robert terlihat lemah.


                “Bukan siapapun, tapi


aku tidak terbiasa membiarkan seorang pria menganiaya seorang wanita.” Ucapnya


membuat Robert kesal.


                Robert melayangkan


bogemnya hendak memukul Aiden, tetapi Aiden menahannya dan mengacungkan


bogemnya ke pipi Robert juga ke bagian perutnya hingga ia membungkuk dan mundur


dua langkah.


                “Sialan kalian!” seru


Robert dan berlalu pergi meninggalkan mereka berdua di sana.


                “Sudah aku bilang,


jangan jual kebahagiaanmu hanya demi bisnis,” seru Aiden melepaskan jasnya


kemudian memasangkannya pada tubuh Catherine yang sudah menangis seraya


memalingkan wajahnya.


                Aiden menarik dagu


Catherine hingga kepalanya terangkat dan tatapan mereka beradu.


                “Kamu berhak bahagia,


kamu berhak mengejar keinginanmu sendiri. Jangan jual kebahagiaanmu dan hidupmu


demi bisnis. Tinggalkan pria sialan itu,” seru Aiden dan Catherine masih diam


membisu.


                “Kita pulang,” ujarnya


melepaskan pegangannya pada dagu Catherine dan beralih menghapus air mata Catherine.


                “Ayo.”


                Aiden berjalan


terlebih dahulu. Tapi baru satu langkah, tangannya di genggam oleh Catherine


membuat Aiden kembali menghadap ke arah Catherine.


                Tanpa kata Catherine


melangkah mendekati Aiden dan memeluk tubuhnya. Ia menyandarkan kepalanya di


dada bidang Aiden dan melingkarkan kedua tangannya di tubuh Aiden. Aiden

__ADS_1


membalas pelukannya dan membelai pelan pundak Catherine.



__ADS_2