Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 13


__ADS_3

“Apakamu masih memiliki perasaan untuk Agneta?” tanya


Catherine.


                “Cath, apa yang


sebenarnya ingin kamu pastikan?” pertanyaan Aiden tepat sasaran membuat


Catherine membeku di tempatnya.


                “Itu-“ Catherine


terdiam.


                “Kalau begitu mari


kita balik pertanyaannya. Apa yang membuatmu menjauhiku 5 tahun lalu dan pergi


meninggalkanku. Apa yang membuatmu menghindariku, Cath? Apa ada sesuatu yang


kamu sembunyikan dan tidak boleh aku ketahui?”


                Tatapan Aiden


menyiratkan kecurigaan membuat Catherine menjadi salah tingkah dan menjadi


gugup. Sekuat tenaga ia menahan dirinya untuk tidak mengatakan apapun yang bisa


mempermalukan dirinya.


                “Makanannya sudah


datang. Sebaiknya kita makan saja,” seru Catherine karena beberapa waiters datang


menyajikan pesanan mereka.


                Keduanya menikmati


makanan dalam diam tanpa suara.


                ----


                Catherine berjalan


terlebih dahulu meninggalkan restaurant itu setelah menyelesaikan makanannya,


menuju parkiran mobil.


                “Catherine tunggu!”


Aiden menarik lengan Catherine sebelum mereka sampai dimana mobil mereka di


parkir.


                “Ada apa Aiden?” tanya


Catherine.


                “Kamu belum menjawab


pertanyaanku tadi. Sebenarnya apa yang membuatmu mejauhiku? Apa kejadian di


malam itu, atau ada hal lain yang kamu sembunyikan?” tanya Aiden.


                “Kenapa kamu begitu


ingin tau?”


                “Aku perlu akan hal


itu,” seru Aiden dengan tegas.


                “Semua itu tidak


penting lagi sekarang,” ucap Catherine kembali beranjak meninggalkan Aiden


tetapi Aiden kembali menarik tangan Catherine hingga tubuh Catherine menabrak


dada bidang Aiden.


                “Katakan apa yang


terjadi, Cath?” tanya Aiden terus menuntut Catherine.


                “Aiden, kamu


menyakitiku,” seru Catherine berusaha melepaskan dirinya tetapi sulit.


                “Cath, tatap mata aku


dan kini katakan apa yang kamu sembunyikan dariku. Kenapa kamu begitu saja


meninggalkanku?” tanya Aiden.


                Catherine menghela napasnya.


“Lepaskan aku dulu,” serunya.


                Aiden pun melepaskan


cengkramannya di kedua lengan Catherine.


                “Apa dayaku saat itu


aku hanyalah seorang gadis bodoh yang terjebak akan perasaanku sendiri,” seru


Catherine memalingkan wajahnya dengan air mata yang menggantung di pelupuk


matanya.

__ADS_1


                “Apa maksud kamu?”


                “Aiden, aku mencintai


kamu.”


                Deg


                Aiden membeku di tempatnya dan menatap Catherine dengan


tatapan tidak percaya.


                “Aku memang bodoh,”


serunya tersenyum kecil dan tanpa sadar air matanya jatuh dari pelupuk matanya.


                “Saat itu Tante Elena


datang menemui Ayahku. Ia ingin membuat sebuah ikatan kekeluargaan dengan


menikahkan kita. Sebenarnya saat itu aku sudah jatuh cinta padamu, tetapi aku


terlalu malu dan segan untuk mengatakan yang sebenarnya. Kemudian kamu begitu


saja mengatakan kalau kamu memiliki wanita yang kamu cintai dan tidak bisa


menerima perjodohan ini. Saat itu aku merasa telah di tolak. Tetapi aku terlalu


munafik dan bermuka tebal. Aku mengabaikan perasaanku sendiri dan mengatakan


kalau aku juga tidak menginginkan pernikahan ini. Bodoh sekali,” serunya


menundukkan kepalanya diiringi tangisannya yang pecah. Ia tak mampu lagi


menahan air matanya yang terus saja mengalir membasahi pipinya tanpa bisa di


hentikan.


                “Aku sangat bodoh


sampai aku rela membiarkanmu merenggut kesucianku dan menganggapku sebagai


Agneta. Aku menerimanya walau hatiku hancur lebur dan rasanya sangat


menyakitkan,” ucapnya menatap Aiden dengan tatapan yang sangat terluka.”Aku


pergi meninggalkanmu bukan karena aku membencimu ataupun marah karena kejadian


malam itu. Aku sungguh tidak menyalahkanmu, karena aku sadar akulah yang bodoh


menyerahkannya. Akulah yang bodoh karena terus mencintaimu dan berharap kamu akan


membalas cinta ini. Akulah yang bodoh.”


                Aiden tampak membeku


di tempatnya tanpa bisa mengatakan apapun.


karena cinta ini. Aku tau sampai kapanpun juga aku tidak akan pernah ada


dihatimu. Aku sadar akan hal itu, maka dari itu aku memutuskan pergi dan


berusahaan melupakanmu. Tapi sekarang, sekarang kamu kembali datang dan rasa


itu sama sekali tidak menghilang,” gumamnya.


                “Maafkan aku Cath. Aku


sungguh tidak tau akan hal ini. Aku juga bodoh karena tidak melihat kepadamu


juga perasaanmu. Aku tau rasanya di abaikan, aku juga tau sakitnya cinta yang


terbalaskan,” seru Aiden. “Aku tidak berpikir kamu akan mencintaiku.”


                Catherine hanya


terdiam, air matanya tak urung berhenti.


                Tangan Aiden terulur


membelai pipi Catherine dan menghapus air matanya. “Aku sungguh menyayangimu


dan menganggapmu sebagai sahabatku. Aku tidak berharap kamu akan mencintaiku.


Sekarang bahkan aku sudah tidak mempercayai lagi cinta. Aku trauma akan cinta


dan sebuah hubungan. Aku sendiripun tidak memiliki tujuan hidup. Aku hanya


ingin menjaga orang-orang yang aku sayangi.”


                “Aku tau, maka dari


itu aku tidak berani berharap apapun padamu,” seru Catherine.


                “Lupakan aku, Cath.”


Catherine menatap manik mata Aiden saat mendengar ucapan Aiden itu. “Aku merasa


aku tidak pantas untukmu. Aku sungguh menyayangimu dan menganggapmu sebagai


sahabatku. Aku selalu berharap kamu bisa memiliki akhir yang bahagia, tidak


seperti diriku.”


                Catherine tersenyum


bersamaan dengan air matanya yang luruh kembali dari pelupuk matanya.


                “Kamu memintaku untuk

__ADS_1


melupakanmu, tapi kamu tidak tau. Aku sudah terbiasa dengan rasa sakit karena


di abaikan dan sakit karena cinta yang terbalaskan. Dulu aku jatuh cinta padamu


dan sekarang juga aku jatuh cinta padamu. Mungkin karena kamu terlalu tampan,”


seru Catherine terkekeh kecil dalam tangisnya.


                Catherine mengeluarkan


kalung dari saku mantelnya. Itu adalah kalung yang dulu pernah Aiden berikan


pada Catherine saat mereka sedang berjalan-jalan bersama.


                Catherine memasukan


kalung itu ke saku jas Aiden di bagian dadanya.


                “Kalau begitu


sebaiknya kita tidak perlu bertemu kembali. Masalah pekerjaan bisa kamu bahas


dengan Sekretarisku saja. Aku sungguh tidak ingin jatuh cinta lagi padamu di


kehidupan ini. Selamat tinggal, Aiden.”


                Setelah mengatakan


itu, Catherine mengusap kedua air mata di pipinya dan beranjak meninggalkan Aiden yang masih mematung di tempatnya.


                Catherine memilih


berjalan dan keluar dari area restaurant. Tadi ia datang menggunakan mobil


Aiden.



                Aiden duduk di meja


pantry apartemennya dan menatap kalung yang di tinggalkan Catherine tadi.


                Setiap kata yang


Catherine ucapkan terngiang di kepalanya. Entah kenapa ada rasa sakit didalam


hatinya yang bahkan ia tak paham.


                Ada rasa tak rela saat


Catherine memilih pergi menjauh darinya. Dan mengucapkan selamat tinggal


padanya.


                Ia menghela napasnya


kasar seraya mengusap wajahnya gusar. Ia sungguh tidak percaya kalau Catherine


bisa mencintai dirinya.



Tigahari berlalu,


Aiden tidak bertemu dengan Catherine dan lebih memilih menyibukkan diri di


kantornya. Berita di media pun mulai heboh memberitakan kabar mengenai batalnya


pertunangan Catherine dan Robert dengan alasan Catherine yang berselingkuh.


Bahkan media mendapat beberapa foto Catherine dengan seorang pria yang tengah


berpelukan. Itu adalah saat Aiden memeluk Catherine di pesta malam itu.


                “Mouli, jangan sampai


Jasmine melihat berita. Dan besok bawa dia ke rumah Marinka untuk sementara,”


seru Catherine. “Aku takut akan banyak wartawan datang kemari, dan aku tidak


ingin mereka menemui Jasmine.”


                “Baik Bu.”


                “Aku sudah menghubugi


Marinka. Besok setelah pulang sekolah, kalian langsung saja ke rumahnya. Dan


bawa beberapa pakaian Jasmine.”


                “Baik.”


                Setelahnya Mouli


berlalu pergi meninggalkan Catherine seorang diri. Helaan napas kasar terdengar


keluar dari bibir Catherine.


                Belum sembuh rasa


sakit di dadanya, kini masalah kembali datang. Robert benar-benar orang yang


berbahaya dan begitu menyulitkannya. Sekarang media begitu menjunjung dirinya


yang berlaga menjadi korban dan begitu terluka.


                Catherine memejamkan


matanya sejenak. Beberapa malam ia tak bisa tidur nyenyak karena ucapan Aiden

__ADS_1


saat itu terus mengusik dirinya.



__ADS_2