
“Apakamu masih memiliki perasaan untuk Agneta?” tanya
Catherine.
“Cath, apa yang
sebenarnya ingin kamu pastikan?” pertanyaan Aiden tepat sasaran membuat
Catherine membeku di tempatnya.
“Itu-“ Catherine
terdiam.
“Kalau begitu mari
kita balik pertanyaannya. Apa yang membuatmu menjauhiku 5 tahun lalu dan pergi
meninggalkanku. Apa yang membuatmu menghindariku, Cath? Apa ada sesuatu yang
kamu sembunyikan dan tidak boleh aku ketahui?”
Tatapan Aiden
menyiratkan kecurigaan membuat Catherine menjadi salah tingkah dan menjadi
gugup. Sekuat tenaga ia menahan dirinya untuk tidak mengatakan apapun yang bisa
mempermalukan dirinya.
“Makanannya sudah
datang. Sebaiknya kita makan saja,” seru Catherine karena beberapa waiters datang
menyajikan pesanan mereka.
Keduanya menikmati
makanan dalam diam tanpa suara.
----
Catherine berjalan
terlebih dahulu meninggalkan restaurant itu setelah menyelesaikan makanannya,
menuju parkiran mobil.
“Catherine tunggu!”
Aiden menarik lengan Catherine sebelum mereka sampai dimana mobil mereka di
parkir.
“Ada apa Aiden?” tanya
Catherine.
“Kamu belum menjawab
pertanyaanku tadi. Sebenarnya apa yang membuatmu mejauhiku? Apa kejadian di
malam itu, atau ada hal lain yang kamu sembunyikan?” tanya Aiden.
“Kenapa kamu begitu
ingin tau?”
“Aku perlu akan hal
itu,” seru Aiden dengan tegas.
“Semua itu tidak
penting lagi sekarang,” ucap Catherine kembali beranjak meninggalkan Aiden
tetapi Aiden kembali menarik tangan Catherine hingga tubuh Catherine menabrak
dada bidang Aiden.
“Katakan apa yang
terjadi, Cath?” tanya Aiden terus menuntut Catherine.
“Aiden, kamu
menyakitiku,” seru Catherine berusaha melepaskan dirinya tetapi sulit.
“Cath, tatap mata aku
dan kini katakan apa yang kamu sembunyikan dariku. Kenapa kamu begitu saja
meninggalkanku?” tanya Aiden.
Catherine menghela napasnya.
“Lepaskan aku dulu,” serunya.
Aiden pun melepaskan
cengkramannya di kedua lengan Catherine.
“Apa dayaku saat itu
aku hanyalah seorang gadis bodoh yang terjebak akan perasaanku sendiri,” seru
Catherine memalingkan wajahnya dengan air mata yang menggantung di pelupuk
matanya.
__ADS_1
“Apa maksud kamu?”
“Aiden, aku mencintai
kamu.”
Deg
Aiden membeku di tempatnya dan menatap Catherine dengan
tatapan tidak percaya.
“Aku memang bodoh,”
serunya tersenyum kecil dan tanpa sadar air matanya jatuh dari pelupuk matanya.
“Saat itu Tante Elena
datang menemui Ayahku. Ia ingin membuat sebuah ikatan kekeluargaan dengan
menikahkan kita. Sebenarnya saat itu aku sudah jatuh cinta padamu, tetapi aku
terlalu malu dan segan untuk mengatakan yang sebenarnya. Kemudian kamu begitu
saja mengatakan kalau kamu memiliki wanita yang kamu cintai dan tidak bisa
menerima perjodohan ini. Saat itu aku merasa telah di tolak. Tetapi aku terlalu
munafik dan bermuka tebal. Aku mengabaikan perasaanku sendiri dan mengatakan
kalau aku juga tidak menginginkan pernikahan ini. Bodoh sekali,” serunya
menundukkan kepalanya diiringi tangisannya yang pecah. Ia tak mampu lagi
menahan air matanya yang terus saja mengalir membasahi pipinya tanpa bisa di
hentikan.
“Aku sangat bodoh
sampai aku rela membiarkanmu merenggut kesucianku dan menganggapku sebagai
Agneta. Aku menerimanya walau hatiku hancur lebur dan rasanya sangat
menyakitkan,” ucapnya menatap Aiden dengan tatapan yang sangat terluka.”Aku
pergi meninggalkanmu bukan karena aku membencimu ataupun marah karena kejadian
malam itu. Aku sungguh tidak menyalahkanmu, karena aku sadar akulah yang bodoh
menyerahkannya. Akulah yang bodoh karena terus mencintaimu dan berharap kamu akan
membalas cinta ini. Akulah yang bodoh.”
Aiden tampak membeku
di tempatnya tanpa bisa mengatakan apapun.
karena cinta ini. Aku tau sampai kapanpun juga aku tidak akan pernah ada
dihatimu. Aku sadar akan hal itu, maka dari itu aku memutuskan pergi dan
berusahaan melupakanmu. Tapi sekarang, sekarang kamu kembali datang dan rasa
itu sama sekali tidak menghilang,” gumamnya.
“Maafkan aku Cath. Aku
sungguh tidak tau akan hal ini. Aku juga bodoh karena tidak melihat kepadamu
juga perasaanmu. Aku tau rasanya di abaikan, aku juga tau sakitnya cinta yang
terbalaskan,” seru Aiden. “Aku tidak berpikir kamu akan mencintaiku.”
Catherine hanya
terdiam, air matanya tak urung berhenti.
Tangan Aiden terulur
membelai pipi Catherine dan menghapus air matanya. “Aku sungguh menyayangimu
dan menganggapmu sebagai sahabatku. Aku tidak berharap kamu akan mencintaiku.
Sekarang bahkan aku sudah tidak mempercayai lagi cinta. Aku trauma akan cinta
dan sebuah hubungan. Aku sendiripun tidak memiliki tujuan hidup. Aku hanya
ingin menjaga orang-orang yang aku sayangi.”
“Aku tau, maka dari
itu aku tidak berani berharap apapun padamu,” seru Catherine.
“Lupakan aku, Cath.”
Catherine menatap manik mata Aiden saat mendengar ucapan Aiden itu. “Aku merasa
aku tidak pantas untukmu. Aku sungguh menyayangimu dan menganggapmu sebagai
sahabatku. Aku selalu berharap kamu bisa memiliki akhir yang bahagia, tidak
seperti diriku.”
Catherine tersenyum
bersamaan dengan air matanya yang luruh kembali dari pelupuk matanya.
“Kamu memintaku untuk
__ADS_1
melupakanmu, tapi kamu tidak tau. Aku sudah terbiasa dengan rasa sakit karena
di abaikan dan sakit karena cinta yang terbalaskan. Dulu aku jatuh cinta padamu
dan sekarang juga aku jatuh cinta padamu. Mungkin karena kamu terlalu tampan,”
seru Catherine terkekeh kecil dalam tangisnya.
Catherine mengeluarkan
kalung dari saku mantelnya. Itu adalah kalung yang dulu pernah Aiden berikan
pada Catherine saat mereka sedang berjalan-jalan bersama.
Catherine memasukan
kalung itu ke saku jas Aiden di bagian dadanya.
“Kalau begitu
sebaiknya kita tidak perlu bertemu kembali. Masalah pekerjaan bisa kamu bahas
dengan Sekretarisku saja. Aku sungguh tidak ingin jatuh cinta lagi padamu di
kehidupan ini. Selamat tinggal, Aiden.”
Setelah mengatakan
itu, Catherine mengusap kedua air mata di pipinya dan beranjak meninggalkan Aiden yang masih mematung di tempatnya.
Catherine memilih
berjalan dan keluar dari area restaurant. Tadi ia datang menggunakan mobil
Aiden.
Ꙭ
Aiden duduk di meja
pantry apartemennya dan menatap kalung yang di tinggalkan Catherine tadi.
Setiap kata yang
Catherine ucapkan terngiang di kepalanya. Entah kenapa ada rasa sakit didalam
hatinya yang bahkan ia tak paham.
Ada rasa tak rela saat
Catherine memilih pergi menjauh darinya. Dan mengucapkan selamat tinggal
padanya.
Ia menghela napasnya
kasar seraya mengusap wajahnya gusar. Ia sungguh tidak percaya kalau Catherine
bisa mencintai dirinya.
Ꙭ
Tigahari berlalu,
Aiden tidak bertemu dengan Catherine dan lebih memilih menyibukkan diri di
kantornya. Berita di media pun mulai heboh memberitakan kabar mengenai batalnya
pertunangan Catherine dan Robert dengan alasan Catherine yang berselingkuh.
Bahkan media mendapat beberapa foto Catherine dengan seorang pria yang tengah
berpelukan. Itu adalah saat Aiden memeluk Catherine di pesta malam itu.
“Mouli, jangan sampai
Jasmine melihat berita. Dan besok bawa dia ke rumah Marinka untuk sementara,”
seru Catherine. “Aku takut akan banyak wartawan datang kemari, dan aku tidak
ingin mereka menemui Jasmine.”
“Baik Bu.”
“Aku sudah menghubugi
Marinka. Besok setelah pulang sekolah, kalian langsung saja ke rumahnya. Dan
bawa beberapa pakaian Jasmine.”
“Baik.”
Setelahnya Mouli
berlalu pergi meninggalkan Catherine seorang diri. Helaan napas kasar terdengar
keluar dari bibir Catherine.
Belum sembuh rasa
sakit di dadanya, kini masalah kembali datang. Robert benar-benar orang yang
berbahaya dan begitu menyulitkannya. Sekarang media begitu menjunjung dirinya
yang berlaga menjadi korban dan begitu terluka.
Catherine memejamkan
matanya sejenak. Beberapa malam ia tak bisa tidur nyenyak karena ucapan Aiden
__ADS_1
saat itu terus mengusik dirinya.
Ꙭ