
Tigahari berlalu,
Aiden tidak bertemu dengan Catherine dan lebih memilih menyibukkan diri di
kantornya. Berita di media pun mulai heboh memberitakan kabar mengenai batalnya
pertunangan Catherine dan Robert dengan alasan Catherine yang berselingkuh.
Bahkan media mendapat beberapa foto Catherine dengan seorang pria yang tengah
berpelukan. Itu adalah saat Aiden memeluk Catherine di pesta malam itu.
“Mouli, jangan sampai
Jasmine melihat berita. Dan besok bawa dia ke rumah Marinka untuk sementara,”
seru Catherine. “Aku takut akan banyak wartawan datang kemari, dan aku tidak
ingin mereka menemui Jasmine.”
“Baik Bu.”
“Aku sudah menghubugi
Marinka. Besok setelah pulang sekolah, kalian langsung saja ke rumahnya. Dan
bawa beberapa pakaian Jasmine.”
“Baik.”
Setelahnya Mouli
berlalu pergi meninggalkan Catherine seorang diri. Helaan napas kasar terdengar
keluar dari bibir Catherine.
Belum sembuh rasa
sakit di dadanya, kini masalah kembali datang. Robert benar-benar orang yang
berbahaya dan begitu menyulitkannya. Sekarang media begitu menjunjung dirinya
yang berlaga menjadi korban dan begitu terluka.
Catherine memejamkan
matanya sejenak. Beberapa malam ia tak bisa tidur nyenyak karena ucapan Aiden
saat itu terus mengusik dirinya.
Ꙭ
“Ibu angkat, kenapa kamu
membawa tas besar?” tanya Jasmine saat keluar dari sekolahnya.
“Kita akan menginap di
rumah Aunty Marinka untuk beberapa saat. Mommy ada pekerjaan di luar kota,”
dusta Mouli.
“Begitu yah. Kok Mommy
nggak cerita sama aku yah,” seru Jasmine mengerucutkan bibirnya.
“Apa yang membuat
princes cantik cemberut,” seruan itu membuat Jasmine menoleh ke sumber suara.
“Uncle tampan!”
serunya langsung berlari kemudian meloncat ke gendongan Aiden.
“Tu-uan,” gumam Mouli.
Ia takut akan menjadi masalah kalau Catherine mengetahuinya.
“Kenapa cemberut?”
tanya Aiden.
“Mommy tidak datang
menjemputku,” serunya dengan lucu membuat Aiden tersenyum.
“Mungkin Mommy kamu
sedang sibuk,” serunya. “Kalau begitu ayo biar Uncle antar kamu pulang.”
“Beneran?” seru
Jasmine.
“Iya dong. Ayo,” Aiden
membawa Jasmine menuju mobilnya.
“Maaf Sir, anda tidak
perlu mengantarkan kami,” seru Mouli berusaha mencegah.
“Kenapa?” tanya Aiden
melihat ke arahnya.
“Kami tidak terbiasa
bersama dengan orang asing. Aku akan mengantarkan Jasmine pulang.”
“Ibu Angkat, Uncle ini
bukan orang asing. Dia temannya Mine,” seru Jasmine terlihat enggan untuk turun
dari gendongan Aiden.
“Sudahlah ayo naik.
Lagipula aku kenal dengan Mommy nya,” seru Aiden membuat mereka berdua kaget.
“Uncle kenal Mommy
aku?” tanya Jasmine.
“Ya, dulu aku yang
menangani kasusnya,” seru Aiden yang berpikir Mommy yang di sebut Jasmine
adalah Marinka.
“Wah luar biasa. Kalau
begitu kapan-kapan kita makan malan bersama,” seru Jasmine begitu antusias
__ADS_1
membuat Aiden terkekeh dan mendudukan Jasmine di kursi penumpang depan dan
Mouli mau tak mau ikut naik di kursi penumpang belakang.
---
Catherine membaca
pesan dari Mouli mengenai Aiden yang mengantar mereka.
Catherine memang tidak
bisa menahan Aiden yang ingin bersama dengan Jasmine. Bagaimanapun juga Aiden
adalah Ayah biologisnya, mereka punya ikatan darah.
“Sepertinya Nyonya
besar sedang sibuk dengan pikirannya sampai mengabaikanku.”
Seruan itu menyadarkan
Catherine dari lamunannya, ia menoleh ke sumber suara.
“Evelyn?” serunya
beranjak dari duduknya dan menyambut kedatangan wanita cantik itu.
“Apa kabar Nyonya
besar,” kekehnya memeluk Catherine.
“Kabarku baik.
Bagaimana denganmu? Kapan datang ke kota N?” seru Catherine mengajak Evelyn
duduk di atas sofa.
“Aku datang sudah seminggu
yang lalu.”
“Dan kenapa baru
menemuiku sekarang?” seru Catherine terlihat marah.
“Maafkan aku. Aku
banyak sekali pekerjaan sampai begitu sibuk dan baru sekarang ini bisa
menemuimu,” seru Evelyn. “Ah ngomong-ngomong apa yang terjadi denganmu?
Sepertinya sekarang kamu menjadi seorang selebritis,” kekehnya.
“Ck. Robert itu
membuat ulah lagi. Aku sungguh tidak paham lagi harus bagaimana menghadapinya,”
keluh Catherine.
“Kan sudah aku bilang,
dia itu pria berengsek,” seru Evelyn.
“Ngomong-ngomong
bagaimana kabar bayi kecil nan cantik itu, siapa sih. Mine,” seru Evelyn.
“Dia sudah bukan bayi
pemikirannya benar-benar membuatku kelimpuhan sendiri kalau menjawab
pertanyaannya,” seru Catherine.
“Ah aku kangen sekali
dengannya. Terakhir ketemu dia masih usia 3 tahun. Sekarang sudah 5 tahun aja,”
kekehnya.
“Kau menghilang begitu
saja selama 2 tahun,” seru Catherine.
“Ya, kalau aku tidak
pergi maka nyawa Ibuku dan juga aku akan selalu terancam. Tetapi pria itu,
sungguh dia adalah pahlawan untuk kehidupan kami,” seru Evelyn tersenyum
membayangkan sosok pria itu.
“Apa kamu sudah
bertemu dengannya?” tanya Catherine.
“Sudah. Oh God.
Mungkin ini yang namanya takdir, ternyata kamar apartemen dia deketan sama aku.
Terhalang satu kamar saja. Aku benar-benar bahagia,” seru Evelyn.
“Sepertinya statusmu
sebentar lagi akan berubah dan meninggalkan kelajanganmu,” kekeh Catherine.
“Semoga saja Cath,”
kekehnya tersenyum merekah.
Ꙭ
Catherinecukup di
repotkan dengan beberapa wartawan yang terus menerus mengejar dirinya untuk
mendapatkan informasi darinya mengenai hubungan dirinya dengan pria misterius
itu.
Catherine menghela napasnya
dan merasa sangat lelah terus menerus bersembunyi layaknya buronan.
Pagi ini dia harus
pergi ke kantor, tetapi wartawan sudah memenuhi area rumahnya membuatnya tidak
bisa keluar. Dia sungguh terjebak.
Ia yakin kalau semua
ini ulah Robert. Bagaimana para wartawan itu mendapatkan alamatnya.
__ADS_1
“Oh God. Sampai kapan
akan seperti ini,” keluhnya.
Ia masih mengintip
dari balik jendela rumahnya. Ia sungguh terjebak.
“Nona Catherine tolong
keluar.”
“Nona Catherine tolong
berikan keterangan anda mengenai perselingkuhan anda.”
“Bagaimana mungkin
anda tega berselingkuh dari seorang Robert Castayol.”
Dan berbagai
pertanyaan lainnya.
“Bagaimana ini,”
gumamnya.
Ia melihat sebuah
mobil terparkir di depan rumahnya dan seseorang menuruni mobil itu dan berjalan
menerobos kerumunan para wartawan. Catherine masih mengintip dari balik
jendela.
“Aiden...” gumamnya.
“Apa yang kalian
lakukan di kediaman Ny. Catherine? Apa kalian ingin mengusik ketenagannya?”
seru Aiden di depan semua wartawan.
“Kami hanya
membutuhkan beberapa informasi dari Nona Catherine mengenai perselingkuhannya
dan pertunangannya yang batal dengan Mr. Robert.”
“Anda siapa? Kenapa
datang kemari?”
“Saya Aiden. Saya
adalah pengacaran dari perusahaan SR. Saya pengacara dari Ny. Catherine.” Aiden
memperlihatkan kartu namanya ke para wartawan.
“Karena kalian telah
mengganggu ketenangan seorang warga, maka aku bisa melaporkan kalian semua dan
menuntut kalian melalui jalur hukum. Bahkan kalian merusak halaman depan rumah
seseorang. Kalian tau bukan kerugian apa yang akan kalian dan perusahaan kalian
dapatkan kalau aku sampai menuntut kalian,” seru Aiden membuat para wartawan
itu saling menatap satu sama lainnya dan terdengar kasak kusuk di antara
mereka.
“Tapi kami juga butuh
informasi dan berita ini.”
“Baiklah begini saja.
Aku akan melihat jadwalnya Ny. Catherine. Kemudian aku akan mengadakan
konferensi pers . jadi nanti kalian bisa bertanya sepuasnya pada yang
bersangkutan,” ucap Aiden.
“Sekarang sebaiknya
kalian pergi saja. Daripada mengganggu ketenangan seseorang,” seru Aiden.
Terdengar kasak kusuk
dari para wartawan yang akhirnya memilih pergi meninggalkan area kediaman
Catherine.
Catherine
memperhatikan Aiden saat semua wartawan pergi meninggalkan kediamannya.
‘Kenapa harus selalu Aiden yang menolongku? Bagaimana aku bisa
melupakannya kalau seperti ini,’ batin Catherine.
Bel rumah terdengar
dan suara Aiden pun terdengar di intercom yang mengatakan kalau semua wartawan
sudah pergi.
Catherine menghela napasnya
kemudian membuka pintu hingga tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata tajam
nan teduh.
Dengan cepat Catherine
memalingkan pandangannya.
“Terima kasih.”
Setelah mengatakan
itu, Catheirine berjalan melewati Aiden menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dairi posisi Aiden berdiri.
Tanpa repot-repot
menunggu Aiden dan berpamitan pada Aiden. Catherine langsung menginjak gas
mobilnya meninggalkan area rumahnya.
Aiden hanya menatap
__ADS_1
kepergian Catherine dalam diam.
----