Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 14


__ADS_3

Tigahari berlalu,


Aiden tidak bertemu dengan Catherine dan lebih memilih menyibukkan diri di


kantornya. Berita di media pun mulai heboh memberitakan kabar mengenai batalnya


pertunangan Catherine dan Robert dengan alasan Catherine yang berselingkuh.


Bahkan media mendapat beberapa foto Catherine dengan seorang pria yang tengah


berpelukan. Itu adalah saat Aiden memeluk Catherine di pesta malam itu.


                “Mouli, jangan sampai


Jasmine melihat berita. Dan besok bawa dia ke rumah Marinka untuk sementara,”


seru Catherine. “Aku takut akan banyak wartawan datang kemari, dan aku tidak


ingin mereka menemui Jasmine.”


                “Baik Bu.”


                “Aku sudah menghubugi


Marinka. Besok setelah pulang sekolah, kalian langsung saja ke rumahnya. Dan


bawa beberapa pakaian Jasmine.”


                “Baik.”


                Setelahnya Mouli


berlalu pergi meninggalkan Catherine seorang diri. Helaan napas kasar terdengar


keluar dari bibir Catherine.


                Belum sembuh rasa


sakit di dadanya, kini masalah kembali datang. Robert benar-benar orang yang


berbahaya dan begitu menyulitkannya. Sekarang media begitu menjunjung dirinya


yang berlaga menjadi korban dan begitu terluka.


                Catherine memejamkan


matanya sejenak. Beberapa malam ia tak bisa tidur nyenyak karena ucapan Aiden


saat itu terus mengusik dirinya.



                “Ibu angkat, kenapa kamu


membawa tas besar?” tanya Jasmine saat keluar dari sekolahnya.


                “Kita akan menginap di


rumah Aunty Marinka untuk beberapa saat. Mommy ada pekerjaan di luar kota,”


dusta Mouli.


                “Begitu yah. Kok Mommy


nggak cerita sama aku yah,” seru Jasmine mengerucutkan bibirnya.


                “Apa yang membuat


princes cantik cemberut,” seruan itu membuat Jasmine menoleh ke sumber suara.


                “Uncle tampan!”


serunya langsung berlari kemudian meloncat ke gendongan Aiden.


                “Tu-uan,” gumam Mouli.


Ia takut akan menjadi masalah kalau Catherine mengetahuinya.


                “Kenapa cemberut?”


tanya Aiden.


                “Mommy tidak datang


menjemputku,” serunya dengan lucu membuat Aiden tersenyum.


                “Mungkin Mommy kamu


sedang sibuk,” serunya. “Kalau begitu ayo biar Uncle antar kamu pulang.”


                “Beneran?” seru


Jasmine.


                “Iya dong. Ayo,” Aiden


membawa Jasmine menuju mobilnya.


                “Maaf Sir, anda tidak


perlu mengantarkan kami,” seru Mouli berusaha mencegah.


                “Kenapa?” tanya Aiden


melihat ke arahnya.


                “Kami tidak terbiasa


bersama dengan orang asing. Aku akan mengantarkan Jasmine pulang.”


                “Ibu Angkat, Uncle ini


bukan orang asing. Dia temannya Mine,” seru Jasmine terlihat enggan untuk turun


dari gendongan Aiden.


                “Sudahlah ayo naik.


Lagipula aku kenal dengan Mommy nya,” seru Aiden membuat mereka berdua kaget.


                “Uncle kenal Mommy


aku?” tanya Jasmine.


                “Ya, dulu aku yang


menangani kasusnya,” seru Aiden yang berpikir Mommy yang di sebut Jasmine


adalah Marinka.


                “Wah luar biasa. Kalau


begitu kapan-kapan kita makan malan bersama,” seru Jasmine begitu antusias

__ADS_1


membuat Aiden terkekeh dan mendudukan Jasmine di kursi penumpang depan dan


Mouli mau tak mau ikut naik di kursi penumpang belakang.


                ---


                Catherine membaca


pesan dari Mouli mengenai Aiden yang mengantar mereka.


                Catherine memang tidak


bisa menahan Aiden yang ingin bersama dengan Jasmine. Bagaimanapun juga Aiden


adalah Ayah biologisnya, mereka punya ikatan darah.


                “Sepertinya Nyonya


besar sedang sibuk dengan pikirannya sampai mengabaikanku.”


                Seruan itu menyadarkan


Catherine dari lamunannya, ia menoleh ke sumber suara.


                “Evelyn?” serunya


beranjak dari duduknya dan menyambut kedatangan wanita cantik itu.


                “Apa kabar Nyonya


besar,” kekehnya memeluk Catherine.


                “Kabarku baik.


Bagaimana denganmu? Kapan datang ke kota N?” seru Catherine mengajak Evelyn


duduk di atas sofa.


                “Aku datang sudah seminggu


yang lalu.”


                “Dan kenapa baru


menemuiku sekarang?” seru Catherine terlihat marah.


                “Maafkan aku. Aku


banyak sekali pekerjaan sampai begitu sibuk dan baru sekarang ini bisa


menemuimu,” seru Evelyn. “Ah ngomong-ngomong apa yang terjadi denganmu?


Sepertinya sekarang kamu menjadi seorang selebritis,” kekehnya.


                “Ck. Robert itu


membuat ulah lagi. Aku sungguh tidak paham lagi harus bagaimana menghadapinya,”


keluh Catherine.


                “Kan sudah aku bilang,


dia itu pria berengsek,” seru Evelyn.


                “Ngomong-ngomong


bagaimana kabar bayi kecil nan cantik itu, siapa sih. Mine,” seru Evelyn.


                “Dia sudah bukan bayi


pemikirannya benar-benar membuatku kelimpuhan sendiri kalau menjawab


pertanyaannya,” seru Catherine.


                “Ah aku kangen sekali


dengannya. Terakhir ketemu dia masih usia 3 tahun. Sekarang sudah 5 tahun aja,”


kekehnya.


                “Kau menghilang begitu


saja selama 2 tahun,” seru Catherine.


                “Ya, kalau aku tidak


pergi maka nyawa Ibuku dan juga aku akan selalu terancam. Tetapi pria itu,


sungguh dia adalah pahlawan untuk kehidupan kami,” seru Evelyn tersenyum


membayangkan sosok pria itu.


                “Apa kamu sudah


bertemu dengannya?” tanya Catherine.


                “Sudah. Oh God.


Mungkin ini yang namanya takdir, ternyata kamar apartemen dia deketan sama aku.


Terhalang satu kamar saja. Aku benar-benar bahagia,” seru Evelyn.


                “Sepertinya statusmu


sebentar lagi akan berubah dan meninggalkan kelajanganmu,” kekeh Catherine.


                “Semoga saja Cath,”


kekehnya tersenyum merekah.



Catherinecukup di


repotkan dengan beberapa wartawan yang terus menerus mengejar dirinya untuk


mendapatkan informasi darinya mengenai hubungan dirinya dengan pria misterius


itu.


                Catherine menghela napasnya


dan merasa sangat lelah terus menerus bersembunyi layaknya buronan.


                Pagi ini dia harus


pergi ke kantor, tetapi wartawan sudah memenuhi area rumahnya membuatnya tidak


bisa keluar. Dia sungguh terjebak.


                Ia yakin kalau semua


ini ulah Robert. Bagaimana para wartawan itu mendapatkan alamatnya.

__ADS_1


                “Oh God. Sampai kapan


akan seperti ini,” keluhnya.


                Ia masih mengintip


dari balik jendela rumahnya. Ia sungguh terjebak.


                “Nona Catherine tolong


keluar.”


                “Nona Catherine tolong


berikan keterangan anda mengenai perselingkuhan anda.”


                “Bagaimana mungkin


anda tega berselingkuh dari seorang Robert Castayol.”


                Dan berbagai


pertanyaan lainnya.


                “Bagaimana ini,”


gumamnya.


                Ia melihat sebuah


mobil terparkir di depan rumahnya dan seseorang menuruni mobil itu dan berjalan


menerobos kerumunan para wartawan. Catherine masih mengintip dari balik


jendela.


                “Aiden...” gumamnya.


                “Apa yang kalian


lakukan di kediaman Ny. Catherine? Apa kalian ingin mengusik ketenagannya?”


seru Aiden di depan semua wartawan.


                “Kami hanya


membutuhkan beberapa informasi dari Nona Catherine mengenai perselingkuhannya


dan pertunangannya yang batal dengan Mr. Robert.”


                “Anda siapa? Kenapa


datang kemari?”


                “Saya Aiden. Saya


adalah pengacaran dari perusahaan SR. Saya pengacara dari Ny. Catherine.” Aiden


memperlihatkan kartu namanya ke para wartawan.


                “Karena kalian telah


mengganggu ketenangan seorang warga, maka aku bisa melaporkan kalian semua dan


menuntut kalian melalui jalur hukum. Bahkan kalian merusak halaman depan rumah


seseorang. Kalian tau bukan kerugian apa yang akan kalian dan perusahaan kalian


dapatkan kalau aku sampai menuntut kalian,” seru Aiden membuat para wartawan


itu saling menatap satu sama lainnya dan terdengar kasak kusuk di antara


mereka.


                “Tapi kami juga butuh


informasi dan berita ini.”


                “Baiklah begini saja.


Aku akan melihat jadwalnya Ny. Catherine. Kemudian aku akan mengadakan


konferensi pers . jadi nanti kalian bisa bertanya sepuasnya pada yang


bersangkutan,” ucap Aiden.


                “Sekarang sebaiknya


kalian pergi saja. Daripada mengganggu ketenangan seseorang,” seru Aiden.


                Terdengar kasak kusuk


dari para wartawan yang akhirnya memilih pergi meninggalkan area kediaman


Catherine.


                Catherine


memperhatikan Aiden saat semua wartawan pergi meninggalkan kediamannya.


                ‘Kenapa harus selalu Aiden yang menolongku? Bagaimana aku bisa


melupakannya kalau seperti ini,’ batin Catherine.


                Bel rumah terdengar


dan suara Aiden pun terdengar di intercom yang mengatakan kalau semua wartawan


sudah pergi.


                Catherine menghela napasnya


kemudian membuka pintu hingga tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata tajam


nan teduh.


                Dengan cepat Catherine


memalingkan pandangannya.


                “Terima kasih.”


                Setelah mengatakan


itu, Catheirine berjalan melewati Aiden menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dairi posisi Aiden berdiri.


                Tanpa repot-repot


menunggu Aiden dan berpamitan pada Aiden. Catherine langsung menginjak gas


mobilnya meninggalkan area rumahnya.


                Aiden hanya menatap

__ADS_1


kepergian Catherine dalam diam.


                ----


__ADS_2