Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 7


__ADS_3

Catherinemengeratkan


mantel yang ia gunakan. Ucapan Aiden tadi siang terus saja terngiang di


telinganya. Ada rasa bahagia didalam hatinya mengingat kalau Aiden masih


menganggapnya begitu penting walau hanya sebagai teman.


                “Aku ingin kita


seperti dulu tetapi aku takut. Aku takut semakin jatuh cinta padamu dan


mengulang kesalahan yang sama,” gumamnya.


                Ia takut kembali harus


terluka karena cinta. Cinta ini sungguh menyesakkan dadanya dan membunuhnya


secara perlahan. Di sisi lain rasa rindu tetapi di sisi lain lagi ia sangat


ketakutan. Takut kembali jatuh karena cintanya.


                “Mom...”


                Panggilan itu


membuatnya menoleh.


                Tatapan polos itu


selalu mengingatkannya pada cinta itu. Cinta yang masih tertanam di lubuk


hatinya.


Catherine tidak pernah menunjukkan


kelemahannya di hadapan Jasmine. Ia selalu menampilkan sosok Ibu yang selalu


tegas, disiplin dan kuat.


                “Kenapa keluar? Kamu belum


tidur, Hm?” seru Catherine yang saat ini berdiri di dekat kolam renang.


                “Aku haus dan ingin


mengambil minum. Mommy belum tidur?” tanyanya yang kini berdiri di hadapan


Catherine.


Catherine berjongkok di hadapannya.


                “Kalau begitu ayo kita


tidur,” seru Catherine membawa Jasmine ke dalam gendongannya dan membawanya ke


dalam kamar setelah mengambilkan air minum.


                “Mom...” panggil


Jasmine saat tubuhnya di rebahkan di atas ranjang oleh Catherine.


                “Hmm...”


                “Apa benar pernikahan


Mom dan Uncle Robert di percepat?” tanya Jasmine.


                “Kamu tau dari mana?”


tanya Catherine.


                “Grandpa,”


                Catherine hanya diam


tak menjawabnya.


                “Mom, bisakah jangan


menikah dengannya,” ucap Jasmine.


                “Kenapa?”


                “ Mine tidak


menyukainya, dia tidak baik,” serunya.


                “Kamu tau dari mana kalau


dia tidak baik?” seru Catherine.


                “Kelihatan dari


sikapnya saja, apalagi dia baik padaku hanya di depan Mom saja.”


                Catherine hanya


menampilkan senyuman kecilnya. “Kamu belum mengenalnya, lama kelamaan juga


kalian akan akrab. Sudahlah jangan pikirkan itu, sebaiknya kamu fokus dengan


study mu.”


                “Apa aku tidak boleh


berpendapat?” seru Jasmine yang begitu pintar.


                Melihatnya seperti ini


selalu mengingatkannya pada sosok Aiden yang tidak pernah menyerah dan selalu


ingin penjelasan yang bisa ia terima.


                “Mom sedang tidak


ingin membahas ini, Sayang.”


                “Mom selalu saja


menghindar setiap aku bertanya hal ini,” seru Jasmine dengan wajah cemberut.


                “Kenapa kamu ingin


tau, bocah kecil.” Catherine dengan gemas mengelus rambut Jasmine. “Kamu ini


bocah kecil yang ingin cepat dewasa.” Kekehnya.


                “Apa sih Mom, aku kan


memang sudah dewasa,” kekehnya.


                “Benarkah sudah


dewasa? Coba mana sini Mom lihat yang sudah dewasa itu,” serunya menggelitik


tubuh Jasmine.


                “Ah Mom geli, haha...”


                Mereka berdua tertawa


terbahak-bahak.



                Aiden baru saja sampai


di kantornya. Ia mengambil duduk di kursi kebesarannya dan hendak mengambil


sebuah berkas yang ada di atas mejanya, sebelum dering handphone mengalihkan


perhatiannya.


Ia menatap layar handphone nya.


                Devara...


                Ada keraguan didalam dirinya untuk menerima panggilan itu. Aiden telah meninggalkan


masa lalu nya  5 tahun lalu dan ia tidak


ingin ada hubungan lagi dengan masa lalunya. Ada ketakutan didalam hatinya.Ia


bahkan benar-benar tidak ingin mendengar kabar apapun dari orang-orang di masa


lalunya.


                Aiden mengingat saat


terakhir ia melihat Dave dan Agneta. Hatinya hancur lebur saat harapannya


pupus, hatinya seperti di koyak saat melihat Agneta lebih memilih Davero.


                Aiden memang tidak


menyalahkan Agneta, ia sadar kalau cinta Agneta hanya untuk Dave dan itu tidak


bisa di paksakan. Tetapi Aiden juga tidak bisa mengesampingkan rasa saktitnya


yang begitu dalam. Bahkan setelah 5 tahun berlalu, ia masih merasakan sakit


juga trauma akan cinta.


                Dering handphone nya


kembali menyadarkan dirinya dari lamunan tentang masa lalu.Dan nama Devara


masih muncul di sana.


                Ada apa...? batin Aiden.


                Setelah


mempertimbangkan cukup lama, Aiden akhirnya menerima telpon itu.


                “Akhirnya kamu mau menerima


telpon ini.”


                “Ada apa, Vara?” tanya Aiden.


                “Emm kamu masih mengingatku?”


                “Ada apa?” tanya Aiden seakan tidak ingin berlama-lama.


                “Tante Elena masuk rumah sakit dan keadaannya kritis. Dia ingin bertemu


denganmu, Aiden.”


                “Aku sibuk.”


                “Bagaimanapun dia Ibu mu. Dan hanya kamu yang dia miliki saat ini.”


                “Bukankah ada kalian,” seru Aiden.


                “Aiden, kembalilah dan beri kesempatan untuk Ibu mu. Aku tidak


berbohong, keadaannya sangat kritis.”


                Aiden termangu di

__ADS_1


tempatnya mendengar penuturan dari Devara.


                “Aku tunggu kabarmu saat datang kemari.”


                Devara menutup telponnya membuat Aiden menurunkan tangannya yang tengah


memegang handphone di telinganya.


                Kembali ke Indonesia??


                Bagaimana kalau ia


kembali bertemu dengan Agneta. Apa dia akan sanggup?



                Jasmine baru saja keluar


dari area sekolahnya. Ia celingak celinguk mencari Ibu angkatnya dan mobil yang


datang menjemputnya.


                “Ibu Angkat apa belum


datang yah?” gumamnya.


                Jasmine berdiri


menunggu jemputan di depan sekolah. Suasana mulai sepi karena para siswa sudah


banyak yang di jemput pulang.


                Dari sudut kanan


keluarlah sosok pria dengan menggunakan jaket dan penutup kepala. Sosok tinggi


itu sungguh mencurigakan dan berjalan mendekati Jasmine.


                “Adik kecil.”


                “Iya Paman?” seru


Jasmine pada sosok yang kini berdiri di sampingnya.


                “Bisakah kamu


mengantarku ke Jl. Xxx.”


                “Maaf Paman, tapi aku


tidak bisa mengantarmu. Jalan itu ada di depan sana. Paman hanya tinggal belok


ke arah kiri.” Jasmine menjelaskannya dengan pintar.


                “Aku takut salah, ayo


antar aku.” Sosok pria itu tiba-tiba menarik tangan Jasmine membuatnya


ketakutan.


                “Tidak Paman, lepaskan


aku!” jeritnya.


                Karena takut security


yang tadi masuk ke dalam sekolah kembali keluar, sosok pria itu langsung membawa


Jasmine ke dalam gendongannya dengan membekap mulutnya.


                “Emmm...!!!!”


                Jasmine berontak


meminta di lepas, tetapi cengkraman pria itu sangat kuat dan membawa Jasmine ke


mobil miliknya.


                “Jasmine?” gumam Aiden


yang kebetulan melewati jalan itu. Ia segera meminggirkan mobilnya dan berlari


menuju ke arah Jasmine yang kini sudah di paksa masuk ke dalam mobil.


                “Lepaskan dia!”


                Aiden meluncurkan


bogemnya hingga mengenai rahang pria itu. Jasmine terlempar dari gendongannya.


                “Uncle Tampan!”


panggil Jasmine berusaha kembali berdiri.


                Karena keributan itu


juga, Security yang berjaga di sekolah langsung menghampiri mereka. Karena


kaget melihat banyak orang yang datang, sosok itupun memilih kabur menggunakan


mobilnya.


                “Catat plat nomornya,”


seru Aiden yang di angguki security.


                Aiden berjalan


mendekati Jasmine yang menangis.


                “Kamu tidak apa-apa?”


tanya Aiden meneliti Jasmine takut ada luka.


                “Aku baik-baik saja,


                “Syukurlah. Jemputanmu


belum datang?” tanya Aiden yang di jawab anggukan kepala oleh Jasmine.


                “Kalau begitu ayo Uncle


antar kamu pulang.”


                “Tapi bagaimana kalau


jemputannya datang?” seru Jasmine.


                “Biar security ini


yang memberitau.”


                “Tapi anda siapanya


Jasmine? Kami tidak bisa membiarkan Jasmine pergi dengan sembarang orang,” seru


Security itu.


                “Dia temannya Jasmine,


Pak. Dia orang baik,” seru Jasmine.


                “Baiklah kalau Jasmine


memang mengenal anda dengan baik,” seru Security itu.


                “Ayo Mine.”


Jasmine menganggukkan kepalanya dan menerima


uluran tangan Aiden untuk berjalan mendekati mobil Aiden.



                Sebelum sampai ke rumah,


Aiden sudah sempat membelikan makanan siap saji dan es cream untuk Jasmine.


Awalnya Aiden mengajak Jasmine untuk makan siang bersama, tetapi Jasmine


menolak karena takut orang rumah mencarinya.


                Setelah menempuh


beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah Jasmine yang


terlihat cukup besar dan begitu elegant.


                “Ini rumahmu?” tanya


Aiden saat mereka sampai di depan gerbang rumahnya,


                “Iya Uncle, ayo masuk


dulu,” ajak Jasmine.


                “Tidak, lain kali


saja. Sekarang kamu masuk gih,” seru Aiden yang di angguki oleh Jasmine.


                “Uncle tampan terima


kasih banyak,” ucap Jasmine spontan memeluk Aiden hingga membuat Aiden mematung


kaku.


                “Sampai jumpa Uncle.”


Jasmine melepaskan pelukannya dan menuruni mobil.


                “Ada apa denganku?”


gumam Aiden saat merasakan ada kehangatan familiar yang di salurkan oleh


Jasmine untuk dirinya.


                “Gadis itu, kenapa aku


begitu menyukai bocah kecil itu,” gumamnya menatap Jasmine yang kini masuk ke


area rumahnya.



                “Jasmine!”


                Catherine membuka


pintu kamarnya dengan kencang membuat Jasmine menoleh ke arahnya.


                “Mom?”


                Catherine berjalan


cepat mendekati Jasmine kemudian menariknya ke dalam pelukannya. “Bagaimana


keadaanmu? Apa mereka menyakitimu?”


                “Tidak apa-apa kok


Mom, untuk ada Uncle tampan yang menolongku,” seru Jasmine melepaskan pelukan

__ADS_1


Catherine.


                “Uncle Tampan?” seru


Catherine mengernyitkan dahinya bingung.


                “Iya Mom, dia yang


nolongin aku,” ucap Jasmine.


                Aiden...


                “Apa kamu sudah berterima kasih pada Uncle Tampan itu?” tanya Catherine.


                “Sudah Mom.”


                “Anak pintar.” Catherine


mengusap kepala Jasmine dengan lembut.


                “Mom, bisakah kita


undang Uncle Tampan untuk makan malam bersama?” seru Jasmine. “Aku ingin


mengajaknya makan malam bersama. Dan memperkenalkannya pada Mommy.”


                Catherine terpaku


mendengar penuturan Jasmine barusan. Bagaimana mungkin mereka bisa bertemu dan


makan malam bersama. Bisa-bisa Aiden mengetahui identitas Jasmine. Hal yang


paling ia takutkan. Ia takut Aiden akan merebut Jasmine darinya.


                “Aku yakin Mom akan


suka padanya. Dia sangat baik,” puji Jasmine. “Apalagi dia sangat tampan, lebih


tampan dari Uncle Robert.”


                “Kamu ini ngomong apa


sih,” seru Catherine merasa tak nyaman. “Sudahlah sebaiknya kamu istirahat saja


dulu. Mom akan menemui Ibu angkat dulu.”



                Catherin saat ini


tengah berada di kantor polisi mengenai kasus percobaan penculikan pada


putrinya kemarin.


                “Bagaimana Pak, apa


ada kabar?”


                Polisi yang berada di


hadapan Catherin hanya menghela napas dan mempersilakan Catherin untuk duduk


dengan tenang. Catherine menurut dan kini duduk di hadapan polisi hanya


terhalang sebuah meja kerja.


                “Bagaimana?”


                “Kami masih belum bisa


menemukan pelakunya. Sepertinya si perlaku ini sudah mempersiapkan segalanya.


CCTV di jalan itu pun rusak juga di depan gerbang sekolah anak anda CCTV nya


mati. Kami mencari mereka hanya berpegang pada nomor polisi mobil itu yang


ternyata itu sebuah mobil yang di curi. Kini mobil itu tampak rusak dan


terbakar hangus hingga kami tidak bisa mencari sidik jari atau tanda-tanda dari


si pelaku,” ucap polisi tersebut membuat Catherine merenung.


                “Kalau tidak salah,


saya dengar kalau putri anda di selamatkan oleh seorang pria. Bisakah anda


meminta pria itu untuk datang kemari. Kami butuh keterangan dari saksi mata,


dan hanya dia yang melihat sosok penculik itu.”


                Catherine terpaku di tempatnya


saat mendengar penuturan dari polisi. Bagaimana dia bisa meminta Aiden untuk


bersaksi. Itu sama saja semua rahasianya akan terbongkar.


                Tidak bisa! Catherine


tidak bisa melakukan itu. Kalau Aiden mengetahui mengenai Jasmine, ia takut


Aiden akan memisahkannya dengan Jasmine dan mengambil alih hak asuh. Catherine


tidak bisa membiarkan itu terjadi.


                “Bagaimana Ny.


William?”


                “Saya tidak mengenal


pria itu, tetapi saya akan berusaha mencari keberadaannya,” seru Catherine


merahasiakan fakta dirinya mengenal Aiden.


                “Baiklah kalau begitu,


kami juga akan terus melacak keberadaan penculik itu,” ucap Polisi.


                “Terima kasih Pak.”


                Setelah itu Catherine


pergi meninggalkan kantor polisi. Ia menghubungi pengasuh Jasmine untuk selalu


berada di sisi Jasmine dan akan ada dua bodyguard yang melindungi Jasmine juga


pengasuhnya.



                “Kau kelihatan tidak


sehat.”


                Seruan itu membuat


Catherine menoleh dan terlihat Aiden masuk ke dalam ruangannya.


                “Bukan urusanmu! Dan


bisakah anda mengetuk pintu dulu sebelum masuk ke dalam ruangan ini, Mr.


Aiden!” seru Catherine dengan nada dingin.


                “Aku sudah mengetuk


beberapa kali, dan kamu malah sibuk dengan berbagai macam pikiranmu.” Seru


Aiden membuat Catherine terdiam.


                “Apa kamu terkena


masalah?” tanya Aiden dengan santai duduk di hadapan Catherine yang hanya


terhalang meja kerja.


                “Aku baik-baik saja,”


seru Catherine.


                “Baiklah kalau


begitu,” seru Aiden dengan santai. “Ini beberapa berkas kerja sama dengan


perusahaan Horlang. Kamu hanya tinggal menandatanginya dan membaca kembali


perjanjiannya,” ucap Aiden menyerahkan berkas kepada Catherine.


                Catherine menerima


berkas itu dan membacanya. Aiden memang begitu handal, pekerjaannya sangat


memuaskan dan bahkan Catherine merasa begitu terbantu oleh Aiden. Aiden


memahami dirinya dan apa yang ia inginkan.


                “Sepertinya kamu puas


dengan pekerjaanku,” seru Aiden saat melihat raut wajah Catherine.


                Catherine melihat ke


arah Aiden. “Jangan terlalu berbangga diri dulu.”


                Aiden hanya tersenyum.


“Aku akan mengambil cuti beberapa hari ke depan,” serunya membuat Catherine


mengernyitkan dahinya.


                “Aku akan ke


Indonesia,” seru Aiden saat melihat raut wajah Catherine yang seakan menanyakan


kenapa.


                “Oh.”


                Catherine menjawab


seperti itu, walau hatinya merasa cemas dan ada ketakutan. Mungkinkah Aiden akan


kembali bertemu dengan Agneta, dan apa perasaannya pada Agneta masih ada.


Bagaimana kalau mereka kembali menjalin hubungan.


                Catherine


menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pemikiran itu. Untuk apa dia


mengkhawatirkan hal itu. Toh ada tidaknya Agneta, perasaan Aiden tetap bukan


untuk dirinya.


                “Kenapa?” tanya Aiden


yang masih menatap Catherine.                “Tidak


ada. Kalau begitu kamu tidak perlu mengkhawatirkan pekerjaan.”


                “Baiklah.”

__ADS_1



__ADS_2