
Aidentengah berada didalam
sebuah taxi. Ia berniat untuk kembali ke Indonesia dan mengelola perusahaan
Wiratama. Walau berat, tetapi ia tidak bisa terus menerus menetap di sini tanpa
pekerjaan apapun.
Ia menatap keluar
jendela. Pikirannya melalang buana mengingat kejadian kemarin malam dimana ia
mencium Catherine. Saat itu ia merasa dadanya di remas tangan tak kasat mata
dan rasanya ingin menangis.
Tetapi Aiden tidak
ingin mengambil risiko dan malah semakin membuat Catherine tersakiti. Ia
sendiri kini tidak mempercayai cinta dan takut untuk membangun sebuah hubungan.
Bagaimana kalau sampai gagal dan ia malah semakin menyakiti Catherine yang
sudah berharap padanya.
Tatapan Aiden
menangkap sosok yang ia kenal.
Tak jauh di sebrang
sana terlihat Jasmine baru saja turun dari sebuah mobil bersama seorang wanita.
Wanita itu adalah Catherine.
“Tunggu sebentar,”
perintah Aiden pada sopir taxi yang kini menghentikan mobilnya.
Catherine terlihat
memeluk Jasmine dan mengecup pipinya. Setelahnya Jasmine terlihat berjalan
menuju gerbang sekolahnya seraya melambaikan tangannya ke arah Catherine.
“Ternyata mereka
memang sangat dekat,” gumam Aiden.
Aiden hendak meminta
sopir taxi melanjutkan perjalanan. Tetapi ia melihat seorang pria dengan hodie
hitam dan memakai masker wajah berjalan mendekati Jasmine.
Mata Aiden membelalak
lebar saat pria itu tiba-tiba saja menusuk perut Jasmine dengan membungkukkan
badannya.
“Jasmine!” teriak
Catherine yang hendak masuk ke dalam mobilnya langsung berlari menghampiri
Jasmine yang ambruk ke tanah dengan bersimpah darah.
Aiden langsung turun
dari mobil dan berlari ke arah mereka. Ia mencoba mengejar pria tadi tetapi ia
sudah berlari cepat dan menghilang.
“Sialan!”
Aiden berlari kembali
menghampiri Catherine dan Jasmine.
“Mine bangun!” isak
Catherine sudah memangku tubuh Jasmine yang tak sadarkan diri ke atas
pangkuannya. “Tolongggg.....”
“Jasmine...” seru
Aiden berjongkok di hadapan mereka.
“Aiden, tolong...”
isak Catherine.
“Kita bawa ke rumah
sakit,” ucap Aiden langsung mengambil alih tubuh Jasmine dan membawanya menuju
mobil.
Saat hendak pergi,
sopir taxi datang menghampiri seraya
membawa koper besar milik Aiden. Ia meminta Aiden membayar uang
transportasinya.
Tanpa banyak kata
Aiden pun menyerahkan beberapa lembar uang dan memberikannya ke sopir taxi itu.
Ia membawa masuk koper miliknya ke dalam bagasi mobil. Catherine melihat koper
besar yang dibawa Aiden. Ia yakin Aiden pasti akan kembali ke Indonesia.
Setelah menempuh
perjalanan yang cukup jauh. Mereka sampai di sebuah rumahsakit. Aiden turun
lebih dulu dan memangku tubuh Mine membawanya masuk ke lobby rumah sakit.
Aiden terlihat begitu
khawatir dan sedikit berteriak meminta suster atau dokter segera datang.
Jasmine di larikan ke
ruang UGD untuk di periksa. Aiden dan Catherine menunggu di depan ruang UGD.
Catherine melihat ke
arah Aiden yang terlihat mondar mandir terlihat sangat khawatir. Ia juga
mengingat betapa khawatirnya Aiden saat melihat Jasmine terluka. Catherine
menundukkan kepalanya, air matanya jatuh membasahi pipinya. Kenapa melihat
__ADS_1
semua itu membuat dirinya begitu terharu. Andai saja Aiden membalas
cintanya....
Tak lama seorang
Dokter keluar dari ruangan itu. Catherine dan Aiden bergegas menghampiri Dokter
itu.
“Bagaimana?” tanya
Catherine.
“Apa kalian
keluarganya?” tanya Dokter itu.
“Iya, saya Ibu nya,”
seru Catherine membuat Aiden menoleh ke arahnya.
“Pasien terluka cukup
parah dan kehilangan banyak darah,” jelas sang Dokter. “Golongan darahnya
merupakan golongan darah yang langka. Biasanya hanya orang tua kandungnya yang memiliki kecocokan dengan pasien.”
“Cath, apa kita perlu
meminta Marinka datang, siapa tau dia memang memiliki darah yang cocok dengan
Jasmine. Atau suami Marinka yang didalam penjara,” seru Aiden.
“Tidak perlu,” seru
Catherine menggelengkan kepalanya.
“Emmm,, apa golongan
darahnya, Dok?” tanya Catherine.
Sang Dokter pun
menyebutkan golongan darah Jasmine.
“Golongan darahku sama
dengan Jasmine,” ucap Aiden.
“Apa anda Ayah
pasien?”
Deg
Aiden termangu dan menjadi dongkol. Tetapi seketika otaknya
berputar dan menyimpulkan segalanya. Ia langsung menoleh ke arah Catherine yang
hanya menatapnya dengan tatapan sendu dan rasa bersalah.
Jasmine adalah putri kandungnya...?
“Ambil darah saya sebanyak mungkin untuk menolong-“ Aiden terdiam sesaat karena
sesak di dadanya. “Mine.”
Tatapan Aiden masih
terpaut dengan Catherine yang hanya mampu menangis.
Ꙭ
dari ruangan perawatan dimana ia melakukan donor darah untuk Jasmine. Mata
tajam Aiden menangkap sosok Catherine yang duduk di ruang tunggu di depan ruang
UGD. Sebentar lagi Jasmine akan melakukan operasi.
“Eh?”
Catherine terpekik
saat Aiden dengan cara paksa menarik lengan Catherine hingga ia berdiri dari
duduknya. Aiden menarik Catherine menuju tangga darurat dan masuk ke sana.
“Ah?” pekik Catherine
saat Aiden menghempaskan lengannya hingga ia mundur beberapa langkah ke
belakang.
“Kenapa?” bentak Aiden
terlihat matanya memerah menahan emosi. “Kenapa kamu menyembunyikan semua ini,
Cath?”
“Kenapa kamu sangat
egois? Kenapa kamu hanya memikirkan perasaanmu sendiri dan mengabaikan aku juga
Jasmine? Bagaimana bisa kamu terus menyembunyikan fakta bahwa Jasmine adalah
putri kandungku. Kamu membawa pergi puteriku!” amuk Aiden.
Catherine merasa
sangat takut. Ini pertama kalinya Aiden sangat marah.
“Kenapa kamu
menyembunyikan semua ini dariku?” tanya Aiden.
“Kalau hari ini
Jasmine tidak terluka dan membutuhkan darahku. Apa kamu akan tetap
menyembunyikan kebenaran ini dariku? Kenapa kamu begitu egois, Catherine!” amuk
Aiden.
“Kenapa harus menunggu
Jasmine terluka dulu!” Catherine hanya bisa menangis mendengar amukan Aiden.
“Sialan!” amuk Aiden
meninju dinding dengan sangat keras hingga tangannya memar dan memerah.
Ia menarik napas
dalam-dalam dan menghembuskannya dengan berkacak pinggang untuk meredakan
amarahnya.
__ADS_1
“Jadi ini alasan
kepergianmu 5 tahun yang lalu?” gumam Aiden.
“Maafkan aku. Aku
hanya tidak ingin membebanimu,” seru Catherine membuat Aiden melihat ke
arahnya.
“Membebani?” Aiden
terkekeh nyaring. “Jasmine adalah putriku. Dan kamu membawanya pergi menjauh
dariku hanya karena alasan tidak ingin membebani?”
“Apa kamu sadar dengan
ucapanmu itu, Cath?” pekik Aiden tak habis pikir.
“Aku bisa apa,” isak
Catherine. “Kamu masih begitu tergila-gila dan hanya terfokus pada Agneta.
Kalau aku datang begitu saja dan mengatakan kalau aku hamil anakmu, apa kamu
bisa menerimaku?” tanya Catherine. “Bisa di katakan kamu menerimanya, tapi
bagaimana dengan hatimu?”
Aiden terdiam
mendengar penuturan Catherine.
“Aku hanya tidak ingin
di kasihani karena mencintaimu dan mengandung anakmu. Aku memang egois, tapi
aku tidak ingin membuatku terus tersakiti seumur hidupku,” isak Catherine.
“Kamu memang sangat
egois, Cath. Kamu bahkan tidak memikirkan perasaan Jasmine yang hidup tanpa
mengenal siapa Ayahnya,” ucap Aiden lebih tenang. “Kamu membuatku menjadi
seorang yang lebih berengsek dari Davero. Aku membencinya karena ia tega
menelantarkan wanita yang sedang mengandung anaknya. Tapi alasan Dave lebih
bisa di terima di banding aku. Aku jelas jauh lebih berengsek darinya,” seru
Aiden mentertawakan dirinya sendiri.
“Kalau hari ini aku
tidak melihat kalian dan melihat Jasmine di lukai. Mungkin selamanya aku tidak
akan tau mengenai putriku sendiri. Apalagi hari ini aku berencana kembali ke
Indonesia.” Aiden menghela napasnya. “Terima kasih Cath. Kamu sudah memberiku
hukuman yang sangat berat dan sudah menamparku dengan sangat keras. Betapa
brengseknya aku.”
“Aiden, aku-“
Aiden beranjak pergi
tanpa ingin mendengar ucapan dari Catherine.
----
Jasmine tengah
melakukan operasi. Aiden terlihat tak meninggalkan tempat dan berdiri di dekat
pintu ruang operasi. Sedangkan Catherine duduk di kursi,
Mereka berdua
sama-sama saling membisu tanpa ingin mengeluarkan suara satu sama lainnya.
Setelah menghabiskan
waktu beberapa jam, lampu di atas pintu ruang operasi pun berubah menjadi
hijau.
Dokter diikuti dokter
lainnya keluar dari ruang operasi. Aiden dan Catherine bergegas menghampiri
sang Dokter.
“Syukurlah operasinya
berjalan lancar tanpa hambatan. Pasien masih dalam pengaruh anestesi, belum
bisa di temui. Kami akan memindahkannya ke ruang rawat,” jelas Dokter.
Mereka berpamitan
pergi meninggalkan Aiden dan Catherine.
Empat orang keluar
dengan memakai pakaian operasi seraya mendorong brankar dimana Jasmine
berbaring.
Aiden menatap wajah
cantik Jasmine yang terpejam.
“Jasmine...” gumamnya
terus melihat Jasmine tanpa memalingkan tatapannya. Air mata menggantung di
pelupuk matanya yang memerah.
Uncle Tampan.....
Panggil aku Mine.....
Tak kuasa lagi menahan sesak di dada dan tangisannya. Air mata itupun luruh
membasahi pipinya.
Aiden mengusap kedua
matanya dan beranjak pergi. Catherine hanya mampu melihat Aiden yang pergi
meninggalkan dirinya.
‘Maafkan aku, Aiden. Sungguh aku tidak bermaksud seperti ini padamu,’ batin
__ADS_1
Catherine.
Ꙭ