Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 23


__ADS_3

Aidentengah berada didalam


sebuah taxi. Ia berniat untuk kembali ke Indonesia dan mengelola perusahaan


Wiratama. Walau berat, tetapi ia tidak bisa terus menerus menetap di sini tanpa


pekerjaan apapun.


                Ia menatap keluar


jendela. Pikirannya melalang buana mengingat kejadian kemarin malam dimana ia


mencium Catherine. Saat itu ia merasa dadanya di remas tangan tak kasat mata


dan rasanya ingin menangis.


                Tetapi Aiden tidak


ingin mengambil risiko dan malah semakin membuat Catherine tersakiti. Ia


sendiri kini tidak mempercayai cinta dan takut untuk membangun sebuah hubungan.


Bagaimana kalau sampai gagal dan ia malah semakin menyakiti Catherine yang


sudah berharap padanya.


                Tatapan Aiden


menangkap sosok yang ia kenal.


                Tak jauh di sebrang


sana terlihat Jasmine baru saja turun dari sebuah mobil bersama seorang wanita.


Wanita itu adalah Catherine.


                “Tunggu sebentar,”


perintah Aiden pada sopir taxi yang kini menghentikan mobilnya.


                Catherine terlihat


memeluk Jasmine dan mengecup pipinya. Setelahnya Jasmine terlihat berjalan


menuju gerbang sekolahnya seraya melambaikan tangannya ke arah Catherine.


                “Ternyata mereka


memang sangat dekat,” gumam Aiden.


                Aiden hendak meminta


sopir taxi melanjutkan perjalanan. Tetapi ia melihat seorang pria dengan hodie


hitam dan memakai masker wajah berjalan mendekati Jasmine.


                Mata Aiden membelalak


lebar saat pria itu tiba-tiba saja menusuk perut Jasmine dengan membungkukkan


badannya.


                “Jasmine!” teriak


Catherine yang hendak masuk ke dalam mobilnya langsung berlari menghampiri


Jasmine yang ambruk ke tanah dengan bersimpah darah.


                Aiden langsung turun


dari mobil dan berlari ke arah mereka. Ia mencoba mengejar pria tadi tetapi ia


sudah berlari cepat dan menghilang.


                “Sialan!”


                Aiden berlari kembali


menghampiri Catherine dan Jasmine.


                “Mine bangun!” isak


Catherine sudah memangku tubuh Jasmine yang tak sadarkan diri ke atas


pangkuannya. “Tolongggg.....”


                “Jasmine...” seru


Aiden berjongkok di hadapan mereka.


                “Aiden, tolong...”


isak Catherine.


                “Kita bawa ke rumah


sakit,” ucap Aiden langsung mengambil alih tubuh Jasmine dan membawanya menuju


mobil.


                Saat hendak pergi,


sopir taxi datang menghampiri seraya


membawa koper besar milik Aiden. Ia meminta Aiden membayar uang


transportasinya.


                Tanpa banyak kata


Aiden pun menyerahkan beberapa lembar uang dan memberikannya ke sopir taxi itu.


Ia membawa masuk koper miliknya ke dalam bagasi mobil. Catherine melihat koper


besar yang dibawa Aiden. Ia yakin Aiden pasti akan kembali ke Indonesia.


                Setelah menempuh


perjalanan yang cukup jauh. Mereka sampai di sebuah rumahsakit. Aiden turun


lebih dulu dan memangku tubuh Mine membawanya masuk ke lobby rumah sakit.


                Aiden terlihat begitu


khawatir dan sedikit berteriak meminta suster atau dokter segera datang.


                Jasmine di larikan ke


ruang UGD untuk di periksa. Aiden dan Catherine menunggu di depan ruang UGD.


                Catherine melihat ke


arah Aiden yang terlihat mondar mandir terlihat sangat khawatir. Ia juga


mengingat betapa khawatirnya Aiden saat melihat Jasmine terluka. Catherine


menundukkan kepalanya, air matanya jatuh membasahi pipinya. Kenapa melihat

__ADS_1


semua itu membuat dirinya begitu terharu. Andai saja Aiden membalas


cintanya....


                Tak lama seorang


Dokter keluar dari ruangan itu. Catherine dan Aiden bergegas menghampiri Dokter


itu.


                “Bagaimana?” tanya


Catherine.


                “Apa kalian


keluarganya?” tanya Dokter itu.


                “Iya, saya Ibu nya,”


seru Catherine membuat Aiden menoleh ke arahnya.


                “Pasien terluka cukup


parah dan kehilangan banyak darah,” jelas sang Dokter. “Golongan darahnya


merupakan golongan darah yang langka. Biasanya hanya orang tua kandungnya yang memiliki kecocokan dengan pasien.”


                “Cath, apa kita perlu


meminta Marinka datang, siapa tau dia memang memiliki darah yang cocok dengan


Jasmine. Atau suami Marinka yang didalam penjara,” seru Aiden.


                “Tidak perlu,” seru


Catherine menggelengkan kepalanya.


                “Emmm,, apa golongan


darahnya, Dok?” tanya Catherine.


                Sang Dokter pun


menyebutkan golongan darah Jasmine.


                “Golongan darahku sama


dengan Jasmine,” ucap Aiden.


                “Apa anda Ayah


pasien?”


                Deg


                Aiden termangu dan menjadi dongkol. Tetapi seketika otaknya


berputar dan menyimpulkan segalanya. Ia langsung menoleh ke arah Catherine yang


hanya menatapnya dengan tatapan sendu dan rasa bersalah.


                Jasmine adalah putri kandungnya...?


                “Ambil darah saya sebanyak mungkin untuk menolong-“ Aiden terdiam sesaat karena


sesak di dadanya. “Mine.”


                Tatapan Aiden masih


terpaut dengan Catherine yang hanya mampu menangis.



dari ruangan perawatan dimana ia melakukan donor darah untuk Jasmine. Mata


tajam Aiden menangkap sosok Catherine yang duduk di ruang tunggu di depan ruang


UGD. Sebentar lagi Jasmine akan melakukan operasi.


                “Eh?”


                Catherine terpekik


saat Aiden dengan cara paksa menarik lengan Catherine hingga ia berdiri dari


duduknya. Aiden menarik Catherine menuju tangga darurat dan masuk ke sana.


                “Ah?” pekik Catherine


saat Aiden menghempaskan lengannya hingga ia mundur beberapa langkah ke


belakang.


                “Kenapa?” bentak Aiden


terlihat matanya memerah menahan emosi. “Kenapa kamu menyembunyikan semua ini,


Cath?”


                “Kenapa kamu sangat


egois? Kenapa kamu hanya memikirkan perasaanmu sendiri dan mengabaikan aku juga


Jasmine? Bagaimana bisa kamu terus menyembunyikan fakta bahwa Jasmine adalah


putri kandungku. Kamu membawa pergi puteriku!” amuk Aiden.


                Catherine merasa


sangat takut. Ini pertama kalinya Aiden sangat marah.


                “Kenapa kamu


menyembunyikan semua ini dariku?” tanya Aiden.


                “Kalau hari ini


Jasmine tidak terluka dan membutuhkan darahku. Apa kamu akan tetap


menyembunyikan kebenaran ini dariku? Kenapa kamu begitu egois, Catherine!” amuk


Aiden.


                “Kenapa harus menunggu


Jasmine terluka dulu!” Catherine hanya bisa menangis mendengar amukan Aiden.


                “Sialan!” amuk Aiden


meninju dinding dengan sangat keras hingga tangannya memar dan memerah.


                Ia menarik napas


dalam-dalam dan menghembuskannya dengan berkacak pinggang untuk meredakan


amarahnya.

__ADS_1


                “Jadi ini alasan


kepergianmu 5 tahun yang lalu?” gumam Aiden.


                “Maafkan aku. Aku


hanya tidak ingin membebanimu,” seru Catherine membuat Aiden melihat ke


arahnya.


                “Membebani?” Aiden


terkekeh nyaring. “Jasmine adalah putriku. Dan kamu membawanya pergi menjauh


dariku hanya karena alasan tidak ingin membebani?”


                “Apa kamu sadar dengan


ucapanmu itu, Cath?” pekik Aiden tak habis pikir.


                “Aku bisa apa,” isak


Catherine. “Kamu masih begitu tergila-gila dan hanya terfokus pada Agneta.


Kalau aku datang begitu saja dan mengatakan kalau aku hamil anakmu, apa kamu


bisa menerimaku?” tanya Catherine. “Bisa di katakan kamu menerimanya, tapi


bagaimana dengan hatimu?”


                Aiden terdiam


mendengar penuturan Catherine.


                “Aku hanya tidak ingin


di kasihani karena mencintaimu dan mengandung anakmu. Aku memang egois, tapi


aku tidak ingin membuatku terus tersakiti seumur hidupku,” isak Catherine.


                “Kamu memang sangat


egois, Cath. Kamu bahkan tidak memikirkan perasaan Jasmine yang hidup tanpa


mengenal siapa Ayahnya,” ucap Aiden lebih tenang. “Kamu membuatku menjadi


seorang yang lebih berengsek dari Davero. Aku membencinya karena ia tega


menelantarkan wanita yang sedang mengandung anaknya. Tapi alasan Dave lebih


bisa di terima di banding aku. Aku jelas jauh lebih berengsek darinya,” seru


Aiden mentertawakan dirinya sendiri.


                “Kalau hari ini aku


tidak melihat kalian dan melihat Jasmine di lukai. Mungkin selamanya aku tidak


akan tau mengenai putriku sendiri. Apalagi hari ini aku berencana kembali ke


Indonesia.” Aiden menghela napasnya. “Terima kasih Cath. Kamu sudah memberiku


hukuman yang sangat berat dan sudah menamparku dengan sangat keras. Betapa


brengseknya aku.”


                “Aiden, aku-“


                Aiden beranjak pergi


tanpa ingin mendengar ucapan dari Catherine.


                ----


                Jasmine tengah


melakukan operasi. Aiden terlihat tak meninggalkan tempat dan berdiri di dekat


pintu ruang operasi. Sedangkan Catherine duduk di kursi,


                Mereka berdua


sama-sama saling membisu tanpa ingin mengeluarkan suara satu sama lainnya.


                Setelah menghabiskan


waktu beberapa jam, lampu di atas pintu ruang operasi pun berubah menjadi


hijau.


                Dokter diikuti dokter


lainnya keluar dari ruang operasi. Aiden dan Catherine bergegas menghampiri


sang Dokter.


                “Syukurlah operasinya


berjalan lancar tanpa hambatan. Pasien masih dalam pengaruh anestesi, belum


bisa di temui. Kami akan memindahkannya ke ruang rawat,” jelas Dokter.


                Mereka berpamitan


pergi meninggalkan Aiden dan Catherine.


                Empat orang keluar


dengan memakai pakaian operasi seraya mendorong brankar dimana Jasmine


berbaring.


                Aiden menatap wajah


cantik Jasmine yang terpejam.


                “Jasmine...” gumamnya


terus melihat Jasmine tanpa memalingkan tatapannya. Air mata menggantung di


pelupuk matanya yang memerah.


                Uncle Tampan.....


                Panggil aku Mine.....


                Tak kuasa lagi menahan sesak di dada dan tangisannya. Air mata itupun luruh


membasahi pipinya.


                Aiden mengusap kedua


matanya dan beranjak pergi. Catherine hanya mampu melihat Aiden yang pergi


meninggalkan dirinya.


                ‘Maafkan aku, Aiden. Sungguh aku tidak bermaksud seperti ini padamu,’ batin

__ADS_1


Catherine.



__ADS_2