Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 24


__ADS_3

                Catherine baru saja kembali dari makan siangnya bersama Alan. Mereka berpisah di lobby kantor. Dan kini Catherine berjalan menuju ruangannya setelah keluar dari lift.


Catherine berjalan sedikit melamun hingga tatapannya melebar melihat seseorang berdiri di dekat meja sekretarisnya. Karena kehilangan fokus, tubuhnya mendadak oleng karena kaget dan hampir saja jatuh ke belakang kalau seseorang tidak dengan sigap merengkuh pinggangnya juga memegang lengannya.


Tatapan mereka berdua terkunci satu sama lainnya.


Aiden....


Sekuat tenaga menekan perasaannya sendiri dan berusaha melupakan, tetap saja ujung-ujungnya pertahanannya kembali runtuh dan kembali jatuh dalam perasaan cintanya sendiri.


Aiden membantu Catherine berdiri tegak dan melepaskan pegangannya. Catherine berdehem sedikit dan sedikit menjaga jarak pada Aiden. Ia memalingkan pandangannya ke arah lain. Kebetulan sekretarisnya belum kembali dari makan siangnya.


"Apa ada masalah, Mr. Aiden?" tanya Catherine.


"Kamu makan siang dengan Alan?" tanya Aiden.


"Bukan urusan anda. Kalau ada pertanyaan mengenai pekerjaan, anda bisa bicarakan dengan sekretaris saya," seru Catherine dengan nada formal.


Catherine kembali melajutkan langkahnya menuju ruangannya.


"Cath, apa harus seperti ini?" tanya Aiden menatap Catherine.


Catherine menghentikan langkahnya mendengar pertanyaan AIden. Ia menghela nafasnya kemudian kembali melangkahkan kakinya.


Tetapi sebelum kakinya melangkah, seseorang menarik paksa lengannya membuatnya tertarik dan menabrak sesuatu yang keras.


"Aiden lepaskan aku!" Catherine berusaha mendorong dada Aiden yang kini berada di depannya. Aiden memeluknya dengan paksa.


"Aiden, lepaskan aku!"


"Sebentar saja," ucap Aiden memeluk Catherine dengan erat dan menyandarkan kepala Catherine di dada bidangnya yang berdebar kencang.


"Jangan mempersulitku," gumam Catherine sudah tak mampu berusaha tegar lagi. Pertahanannya kini telah runtuh.


"I Miss You, Cath." Aiden bergumam pelan dan mampu terdengar oleh Catherine.


Catherine memejamkan matanya merasakan sesuatu yang menghangat ke dalam hatinya. Ia sudah ingin menangis dan menjawab ungkapan Aiden. Tetapi lidahnya terasa kelu dan tenggorokannya terasa tersumbat sesuatu yang keras.


"Apa yang kamu inginkan, Aiden? Bukankah kamu sendiri yang mengatakan aku harus melupakanmu dan mencari kebahagiaanku. Kalau kamu terus seperti ini, kamu hanya akan terus menyakitiku," ucap Catherine melepaskan pelukannya dan segera memalingkan wajahnya.


"Jangan seperti ini dan semakin mempersulitku. Aku mohon."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Catherine masuk ke dalam ruangannya dan menutup rapat ruangannya. Ia bersandar ke daun pintu dengan memejamkan matanya. Air mata luruh membasahi pipinya.


'I Miss You too, Aiden...' batin Catherine memegang dadanya yang terasa nyeri.


Aiden berjalan dengan tatapan kosong menyusuri lorong kantor dan masuk ke dalam lift.


Ada apa dengan dirinya....? apa ia memiliki perasaan lebih pada Catherine atau hanya sayang sebagai sahabat?


***


"Cath...."


Panggilan itu membuatnya menengadahkan kepalanya melihat ke arah pintu.


"Eve, kau kemari? Ayo masuk," seru Catherine dan Evelyn pun masuk ke dalam ruangan Catherine.


Mereka duduk bersama di sofa ruangan yang ada di ruangan milik Catherine.


"Kelihatannya kamu sedang bahagia," seru Catherine membuat Evelyn terkekeh.


"Kausudah seperti peramal saja. Tetapi memang benar sih, aku memang sedang senang," ucap Evelyn tersenyum merekah.


"Karena apa?" tanya Catherine.


"Di minum," seru Catherine mengambil gelas dan menyeduhnya.


"Catherin, aku sangat bahagi," seru Evelyn.


"Ada apa? Bukan karena mendapat tender besar, Kan?" tanya Catherine membuat Evelyn menggelengkan kepalanya.


"So?"


"Aku kemarin dinner dengan dia," ucap Evelyn tersenyum lebar.


"Jadi kau berhasil merayu nya dan mengajaknya makan malam denganmu," seru Catherine membuat Evelyn mengerucutkan bibirnya.


"Aku tidak merayu nya. Tetapi ku rasa dia juga menyukaiku," seru Evelyn sangat percaya diri.


"Aku senang mendengarnya. Selamat kalau begitu," ucap Catherine.


"Doakan semoga kali ini berhasil. Aku lelah sendirian terus, apalagi Ibu ku terus saja membicarakan tentang pernikahan dan calon suami," ucap Evelyn.

__ADS_1


"Apa kamu yakin dengan pria ini?" tanya Catherine.


"Sangat Cath. Aku sangat yakin, dia pria yang sangat baik dan punya sopan santun yang tinggi. Aku selalu di buat kagum dan terpesona setiap bersamanya," ucap Evelyn tersenyum merekah membayangkan sosok Aiden.


"Syukurlah kalau begitu. Aku ikut senang mendengarnya," ucap Catherine.


"Eh aku dengar si Alan menemui mu?" tanya Evelyn.


"Ya, kami menjalin kerjasama. Cukup menyenangkan bertemu dengannya lagi," ucap Catherine.


"Kau tau bukan, kalau dia begitu menyukaimu sejak kita kuliah," seru Evelyn membuat Catherine tersenyum kecil seraya menyeruput minumannya. "Kamu masih tidak bisa melupakan pria itu, eh? Ayah biologisnya Mine."


Catherine terdiam sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dari Evelyn. "Aku akan mencoba membuka hati untuk Alan. Kali ini aku ingin bahagia," ucap Catherine.


"Syukurlah kalau begitu. Jangan stuck di masalalu yang menyakitkan," seru Evelyn membuat Catherine terdiam.


***


Aiden duduk termenung memegang gelas kecil berisi cairan coklat dengan es batu di tangannya. Ingatannya melalang buana ke beberapa kejadian sebelumnya dimana Catherine bertemu dengan Alan dan mereka terlihat sangat akrab.


Ia memegang kalung yang di serahkan oleh Catherine dan menatapnya dengan begitu intens.


Ia memejamkan matanya saat rasa sesak menyesakkan dadanya. Ia tak paham dengan apa yang terjadi dengan dirinya. Kenapa setelah ungkapan cinta dari Catherine dan ucapan perpisahan darinya, Aiden merasa begitu kesakitan dan rasanya ada sesuatu yang mencekik dirinya.


Apa ia mencintai Catherine....?


Tapi rasa takut itu masih membekas di dalam hatinya. Luka dan rasa sakit karena cinta masih membekas dan menganga lebar di dalam hati.


Aiden membuka matanya dan matanya memerah menahan air matanya. Entah kenapa ia merasa begitu cengeng karena cinta. Ia meneguk habis minuman dalam gelasnya.


***


"Sialan!"


Robert mengamuk di dalam ruang kerjanya.


"Bagaimana ada seseorang yang menutup kasus perselingkuhan ****** itu? Kenapa mereka tidak becus bekerja!" amuknya melempar segala barang yang ada di ruang kerjanya.


"Catherine, jangan senang dulu. Pembalasanku belum selesai. Kau harus merasakan penderitaan yang sangat dalam dariku!" seru Robert dengan tatapan tajam penuh amarah dan dendam.


*** 

__ADS_1


TBC...


12-04-2020


__ADS_2