

Castnya Catherine yah...
****
"Hallo Nyonya," sapa Evelyn menghampiri Catherin yang tengah berada di halaman belakang tengah membaca sebuah buku.
"Masih ingat punya sahabat. Lama banget gak datang," seru Catherine.
"Ciee ada yang kangen aku," kekeh Evelyn mengambil duduk di kursi taman dekat Catherin.
"Kemana saja selama ini? Tidak biasanya kamu menghilang begitu lama."
"Aku tuh sedang memberimu waktu buat deket sama Aiden," kekehnya membuat Catherine menoleh ke arahnya. "Jadi bagaimana perkembangan hubungan kalian?"
Catherine kembali menatap ke depan seraya menutup buku yanh ada dalam genggamannya.
"Dia jadi sedikit aneh," seru Catherine.
"Aneh bagaimana?" tanya Evelyn sangat penasaran.
"Dia jadi sedikit genit dan sangat manis, entah apa yang telah terjadi kepadanya, akupun tidak tau."
Evelyn seketika tertawa mendengar seruan dari Catherin. "Itu dia sedang berusaha untuk di terima olehmu lagi. Ayolah Cath, apalagi yang kamu tunggu, dia sudah mengatakan kalau dia mencintaimu, bukan."
"Aku hanya ingin meyakinkan diriku sendiri kalau dia sungguh mencintaiku. Eve, aku sudah berkali-kali menerima penolakan darinya dan saat ini untuk mempercayai kalau dia mencintaiku itu sulit. Aku hanya takut," gumamnya.
"Kenapa kalian berdua begitu banyak pertimbangan dan keraguan. Aku merasa gatal sendiri melihatnya, kalau kallian saling cinta kenapa gak saling mengungkapkan saja dan menerima satu sama lainnya," seru Evelyn dan Catherine hanya diam membisu.
"Lupakan tentang diriku, kamu sendiri bagaimana dengan Harry. Kalian sungguh memiliki hubungan?" tanya Catherin menoleh ke arah Evelyn.
"Hubungan kami semakin baik dan kami sudah beberapa kali kencan bersama," seru Eve tersenyum merekah.
"Kau ini sungguh-sungguh gerak cepat," kekeh Catherin.
"Heh memangnya kalian berdua yang lambat dan berputar di situ-situ saja. Kalau aku sih gak mau yah biarin hati aku terus tersakiti, dan syukurlah sekarang sudah ada pengganti Aiden di dalam hatiku. Jadi aku tidak akan terus-menerus patah hati karena cinta sepihak," ucap Evelyn panjang lebar membuat Catherin terkekeh.
"Syukurlah."
"Makanya cepat terima Aiden dan kalian mulailah hidup bersama, jangan membuat hatimu terus terbelenggu dalam rasa sakit yang tidak penting," ucap Evelyn.
Catherine hanya diam membisu.
***
Hari ini Catherine melakukan terapy pertamanya di temani Aiden. Aiden sudah lebih tau jadwal terapy Catherine dan dia yang mengingatkan Catherine.
Sesampainya di rumah sakit, Catherine melakukan pemeriksaan seperti biasa, kemudian memasuki ruangan terapy dan di minta untuk berdiri dan berjalan dengan berpegangan pada pegangan besi yang berada di sisi kiri dan kanan.
Seorang suster membantu Catherine untuk berdiri, di sisi lain Aiden berjongkok dan menurunkan kedua kaki Catherine dari injakan kursi roda hingga menyentuh lantai. Kemudian ia berdiri dan membantu Catherine berdiri hingga Suster itu akhirnya membiarkan Aiden yang menuntun Catherine.
"Kamu tidak kesakitan?" tanya Aiden membuat Catherine menggelengkan kepalanya.
"Aku masih merasa kedua kakiku berat dan mati rasa," ucap Catherine.
"Kamu pasti bisa," seru Aiden membantu Catherine berpegangan pada kedua sisi yang ada di sisi kiri dan kanannya. Kemudian Aiden melepaskan pegangannya pada Catherine dan membiarkan Catherine berjalan sendirian.
Perlahan Catherine menggerakkan kakinya, terlihat di tarik tanpa bisa di angkat. perlahan-lahan ia bisa berjalan dengan menarik kedua kakinya yang terasa berat itu.
"Kamu pasti bisa, Sayang."
Mendengar panggilan itu, langkah Catherine berhenti saat sampai di ujung batas pegangan dan konsentrasinya buyar membuat tubuhnya oleng hingga hampir membentur lantai kalau saja kedua tangan kekar itu tidak segap merengkuh pinggang ramping Catherine hingga tubuh Catherine jatuh ke dalam pelukannya.
Sepenuhnya tubuh Catherine bertompang pada tubuh Aiden dan tatapan mereka berdua terpaut satu sama lainnya.
__ADS_1
Melihat tatapan tajam Aiden dari dekat terasa memancarkan kehangatan dan kenyamanan yang sebelumnya tidak Catherine dapatkan. Selama ini ia selalu melihat tatapan gelap dan kelam Aiden hingga ia selalu bingung dan tidak mampu menebak apa yang Aiden rasakan dan pikirkan. Tapi kali ini berbeda. Bahkan jantung Catherine semakin berdebar dan darahnya berdesir cepat karena kehangatan yang di salurankan oleh Aiden.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Aiden.
"Tidak," jawab Catherine menggelengkan kepalanya.
Catherine kembali melakukan terapy dengan baik.
***
Aiden baru saja menghentikan mobilnya di depan rumah Catherine, mereka baru saja pulang terapy dan langitpun terlihat sudah gelap.
Aiden menoleh ke arah Catherine di sisinya yang sudah terlelap. Ia terlihat sangat kelelahan. Aiden menuruni mobilnya dan berjalan memutari mobil menuju pintu penumpang. Ia kemudian meraup tubuh Catherine ke dalam gendongannya dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Mouli terlihat membukakan pintu saat Aiden menekan bel rumah.
"Mine sudah tidur?" tanya Aiden.
"Sudah."
Setelah mendapatkan jawaban dari Mouli, Aiden kembali meneruskan perjalanannya menuju kamar Catherine. Sesampainya di sana ia pun merebahkan tubuh Catherine di atas ranjang king size nya. Kemudian ia melepaskan sandal di kedua kaki Catherine dan duduk di sisi ranjang.
Aiden menatap Catherine yang terlelap damai. Ia terlihat sangat cantik saat tertidur seperti ini bagaikan seorang balita mungil yang menggemaskan. Tangan Aiden terulur membelai rambut Catherine. Ia merasa betah menatap wajah catherine seperti ini, ia seperti menemukan sesuatu yang menyenangkan.
"Cepatlah buka hati kamu dan terima aku, Catherine," gumam Aiden.
Aiden membungkukkan badannya untuk mengecup kening Catherine, kemudian ia mengecup singkat bibir merekah Catherine yang selalu menggodanya itu.
Aiden menarik kembali tubuhnya setelah memberi kecupan pada Catherine, ia pun beranjak dari duduknya. Saat hendak berbalik dan pergi, gerakannya terhenti karena tangan lembut memegang tangannya. Tatapan Aiden tertuju pada tangannya yang di genggam Catherine, kemudian tatapannya mengarah para wajah Catherine yang masih terlelap. Ia hanya tersenyum dan kembali duduk di sisi ranjang.
***
"Selamat malam Nona, kau mau pesan apa? Atau biar aku yang menentukannya untuk Nona yang cantik ini," seru Louis saat melihat Evelyn sampai di dekat meja bartender.
"Maaf tapi aku tidak sedang ingin memesan minuman. Ngomong-ngomong, apa saya bisa menemui Mr. Harry?" tanya Evelyn.
"Oh ternyata kekasihnya Harry," seru Louis.
"Ayo aku antar ke ruangan pak Bos," seru Louis yang di angguki Evelyn.
Evelyn di antar oleh Louis menuju ruangan Harry.
"Silahkan masuk," seru Louis membukakan pintu ruangan Harry.
"Terima kasih."
Evelyn berjalan masuk ke dalam ruangan yang ternyata kosong, kemudian ia mendengar suara pintu tertutup dari belakang.
"Hei?" seru Evelyn kaget dirinya di tinggalkan sendirian.
Evelyn kembali melihat sekeliling ruangan yang kosong itu. "Hallo..."
Saat dalam kebingungan dan berniat pergi meninggalkan ruangan itu, terdengar suara pintu terbuka di bagian lainnya. Mata awas Evelyn langsung tertuju pada pintu lain yang berada di depannya dan terlihat Harry baru saja keluar dari sana. Evelyn mampu bernafas dengan lega.
"Lho Eve?" seru Harry saat melihat keberadaan Evelyn di sana.
"Ah hai Harry," sapa Evelyn diiringi senyumannya.
"Aku tidak menyangka kamu akan datang kemari," serunya tersenyum merekah dan terlihat bahagia melihat keberadaan Evelyn.
"Ayo duduk," serunya.
Evelyn pun duduk di sofa bersama dengan Harry.
"Aku akan ambilkan minuman," ucapnya mengambilkan dua gelas kecil yang sudah diisi es batu, kemudian Harry menuangkan Wine jenis terbaik yang ia miliki.
"Silahkan," serunya menyodorkan segelas wine ke Evelyn.
__ADS_1
"Ada apa kamu datang kemari? Aku sangat kaget tetapi juga bahagia," seru Harry tersenyum lebar,
"itu- sebenarnya tidak ada. Aku hanya ingin menemuimu," seru Evelyn tersenyum membuat Harry semakin tersenyum merekah.
"Kamu tau, aku juga sudah begitu merindukanmu," ucap Harry sekarang tidak menahan dirinya lagi.
Harry kemudian beranjak dari duduknya dan berpindah ke sisi Evelyn tanpa ada penolakan dari Evelyn.
"Kamu senang melihatku datang kemari?" tanya Evelyn.
"Sangat," seru Harry menatap Evelyn begitu dalam.
Tanpa mampu menahan diri lagi, Harry mendekatkan wajahnya ke Evelyn dan memangut bibir Evelyn. Tanpa di sangka-sangka Evelyn pun membalas ciuman Harry dengan mengalungkan kedua tangannya di leher Harry. Mendapatkan respon dari Evelyn, Harry semakin memperdalam ciumannya dan merengkuh pinggang Evelyn.
***
Catherine menahan pergelangan tangan Aiden yang hendak beranjak pergi. Aiden menoleh ke arahnya yang sedang duduk di kursi roda dengan memegang tangannya.
"Aku mencintaimu Aiden, jangan tinggalkan aku lagi," seru Catherin.
Aiden terlihat tersenyum merekah mendengarnya.
"Aku juga mencintaimu, Catherine."
Catherine membuka matanya, dan hanya suasana kamar yang pencahayaannya minim yang ia dapatkan. Ternyata itu hanya mimpi saja.
Catherine hendak menarik tangannya tetapi sulit. Ia kemudian mengalihkan pandangannya dimana tangannya di genggam seseorang. Tidak, lebih tepatnya menggenggam tangan seseorang. Aiden terlihat tengah duduk di sisi ranjang memperhatikannya.
"Kamu-?"
"Apa aku mengganggumu?" tanya Aiden.
"Ti-tidak, kamu ada di sini?" tanya Catherine.
"Ya, kamu menggenggam tanganku, aku tidak bisa pergi karena takut mengganggumu," ucap Aiden.
Catherine merasa malu karena masih saja menggenggam tangan Aiden. Ia pun melepaskan pegangan tangannya.
"Tidurlah, aku akan pulang," ucap Aiden beranjak dari duduknya.
"Aiden, ini sudah malam," ucap Catherine menghentikan gerakan Aiden. "Emm,, tidurlah di sini."
Aiden menoleh ke arahnya, kemudian melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Baiklah, aku akan tidur di sofa ruang keluarga," ucap Aiden.
"Tidak Aiden... Emm tidurlah di sini, a-aku aku tidak masalah berbagi ranjang denganmu," ucap Catherine yang akhirnya mengutuk dirinya sendiri karena mengusulkan hal konyol itu.
Aiden menaikkan sebelah alisnya. "Apa kamu serius?" tanya Aiden.
Catherine diam membisu dan bingung harus menjawab apa. Apalagi saat ini pasti wajahnya sudah memerah karena malu.
"Baiklah, aku akan tidur disini. Dan kamu tidak bisa menarik ucapanmu lagi," seru Aiden tersenyum.
Aiden melepaskan jas yang ia gunakan, kemudian merebahkan tubuhnya di sisi Catherine membuat Catherine memalingkan wajahnya karena jantungnya semakin berdebar cepat.
"Eh?"
Catherine memekik kaget saat Aiden menggenggam tangannya. Ia menoleh ke arah Aiden yang juga tengah menatap ke arahnya.
"Kamu boleh menggenggam tanganku lagi," ucap Aiden tersenyum merekah. "Dan ini terasa sangat nyaman."
Aiden mampu membuat wajah Catherine bulshing...
***
TBC...
27-05-2020
__ADS_1
Minal Aidzin Wal Faidzin. Mohon Maaf lahir dan batin semuanya.
Indri :D