
Aiden terlihat sibuk di dapur saat Catherine mendorong roda kursi rodanya ke dapur rumah mereka.
Deg
Catherine membeku di tempatnya saat melihat Aiden sibuk memasak dengan begitu cekatan. Ia terlihat seksi dan sangat tampan. Kaos lengan panjang yang bagian lengannya ditarik hingga siku dan membuat lengan-lengan kekar dan bersih itu terlihat kuat dan seksi. Celemek putih melekat di tubuhnya yang tegap. Sungguh ini adalah pemandangan terindah yang sedang Catherine lihat.
"Sudah bangun?" tanya Aiden menyadarkan lamunan Catherine.
Tatapan Catherine melihat ke arah mata Aiden yang kini menghadap ke arahnya dengan melipat tangannya di dada.
"Kamu sudah baikan? Padahal biarkan saja Mouli yang membuatkan sarapan," seru Catherine.
"Tidak bisa. Selama ada aku, kamu dan Mine harus makan makanan yang aku masak," ucap Aiden berjalan mendekati Catherine dan mengecup bibirnya begitu saja membuat Catherine kaget.
"A-apa yang kamu lakukan?" tanya Catherine menyentuh bibirnya.
"Morning kiss," jawab Aiden dengan santai diiringi senyuman manisnya yang menawan.
Sial... dia tampan sekali. Batin Catherine.
Aiden kembali sibuk memasak. Catherine memperhatikannya dari samping.
Gaya rambutnya, wajahnya, rahangnya yang tegas, bulu-bulu halus nan tipis di rahangnya semakin membuatnya menawan. Lehernya yang terlihat kokoh dengan jakunnya yang naik turun terlihat begitu seksi, belum lagi pundaknya yang lebar dan kekar, rasanya Catherine ingin merebahkan kepalanya di sana. Selain itu tubuhnya yang langsing nan kekar, ingin sekali Catherine memeluknya.
Tidak pernah Catherine mengagumi sosok pria seperti ini. Tetapi Aiden memang sangat sempurna dan paket komplit. Apalagi saat dia memasak seperti ini, ketampanan, keseksiannya bertambah 100%.
Wajah Catherine bersemu merah karena begitu mengagumi sosok Aiden.
"Air liurmu bisa saja jatuh, Cath."
Seruan itu membuat Aiden dan Catherine menoleh ke arah pintu.
"Eve? Sedang apa kau di sini?" tanya Catherine sedikit kesal.
"Hey biasa saja tatapannya," seru Evelyn yang sangat mengenal Catherine. "Aku datang karena kemarin Aiden menghubungiku menanyakan kamu. Dan nomormu tidak bisa di hubungi. Apalagi dengar dari Harry kalau anak buahnya yang di tugaskan untuk melindungi kamu masuk rumah sakit. Aku sampai kembali dari liburanku karena khawatir padamu dan Mine. Tapi ini kah respon pertamamu?" seru Evelyn.
"Keluar! Ayo cepat ikut aku," seru Catherine mendorong kursi rodanya meninggalkan dapur.
"Cepat ikuti aku, Eve."
Teriak Catherine yang sudah keluar dari dapur dan Evelyn masih diam di tempatnya.
"Oke oke."
Evelyn akhirnya mengikuti Catherine menuju taman belakang dekat kolam renang.
"Kenapa sih?" tanya Evelyn saat sampai di sana.
"Aku nggak akan biarin yah siapapun melihat Aiden saat kondisi dia sedang tampan maksimal dan begitu Hot," seru Catherine.
"WHAT?"
Evelyn melotot sempurna melihat ke arah Catherine. "Sejak kapan kau jadi seperti ini?"
Catherine menoleh ke arahnya. "Aku beneran nggak ikhlas siapapun melihat kondisi Aiden saat memasak. Hanya aku yang boleh melihatnya seperti itu," seru Catherine menjadi sangat posesive.
"Whoaa!" Evelyn tak mampu berkata-kata. "Karena cinta kau sampai bersikap seperti ini pada Sahabatmu sendiri?"
"Itu harus, karena aku tidak ingin siapapun terpesona dan menikmati pemandangan indah yang hanya menjadi milikku itu," seru Catherine sekarang dia tidak menahan dirinya lagi dan keluarlah sifat aslinya yang sebenarnya begitu posesif.
"Hah, kau sampai memaki sahabatmu seperti ini? Aku bahkan tidak melihatnya lebih dari 1 menit."
"Tetap saja kau melihatnya. Aku tidak suka!" seru Catherine.
"Aku sudah punya Harry yah. Dan dia itu lebih seksi dan hot. Bahkan dia sangat perkasa," seru Evelyn.
"Tidak. Aku rasa Aiden lebih dari siapapun."
"Kau hanya di butakan oleh cinta."
"Kau juga begitu. Harry Harry dan Harry!"
"Mommy, Mommy angkat. Kenapa kalian berdebar di pagi hari?" tanya Mine menatap kedua wanita itu dengan tatapan herannya.
Baik Catherine maupun Evelyn mereka sama-sama melihat dongkol ke arah Mine.
"Lupakan mereka yang sedang berdebat memperebutkan sesuatu yang tidak jelas. Sebaiknya kamu sarapan dengan Daddy," seru Aiden yang muncul di belakang Mine dan menggendong Mine meninggalkan kedua wanita itu.
"Apa dia mendengar semuanya?" tanya Catherine yang masih syok melihat keberadaan Mine dan Aiden di sana.
"Sepertinya begitu," jawab Evelyn. Keduanya sama-sama menatap ke arah pintu.
"Ah bagaimana aku menghadapi Aiden kalau begitu," seru Catherine menjadi begitu malu.
"Mau aku galikan lobang untuk menguburkan dirimu sendiri ke tanah?" seru Evelyn membuat Catherine melihat ke arahnya dengan tatapan sengit.
__ADS_1
"Ini semua gara-gara kamu!"
"Enak saja. Kamu yang duluan nuduh-nuduh aku dan melarang aku melihat Aidenmu yang katanya seksi dan hot itu," seru Evelyn yang kini saling berhadapan satu sama lainnya.
"Lagian ngapain kamu ke sini pagi-pagi? Merusak moodku saja!"
"Hey hey, aku datang karena khawatir padamu, tau! Gara-gara kamu, aku sampai mempercepat liburan kami dan pulang, tau!" seru Evelyn.
"Apa kalian berdua akan terus berdebat seperti ini?" tanya Aiden yang berdiri di ambang pintu penghubung menghentikan perdebatan kedua gadis itu.
"Evelyn masuklah dan temani Mine sarapan," seru Aiden.
"Oke." Evelyn meleletkan lidahnya ke arah Catherine sebelum pergi meninggalkan mereka berdua di sana.
Sepeninggalan Evelyn. Catherine di buat malu sekaligus gugup. Ia memalingkan wajahnya tidak ingin melihat Aiden yang saat ini tengah berjalan mendekatinya.
"Aku akan menemani Mine sarapan," ucap Catherine mendorong rodanya tetapi terlambat karena Aiden sudah memegang pegangan kursi roda di belakang membuat Catherine tidak mampu menggerakkannya.
"Sudah ada Evelyn yang menemaninya. Apa kamu berniat kembali berdebat di meja makan?" tanya Aiden yang berdiri di samping Catherine.
"Tidak."
Catherine memalingkan wajahnya seraya menggigit bibir bawahnya. Ah rasanya ia ingin mengubur dirinya dan menyembunyikan wajahnya dari Aiden. Ia sungguh malu karena ini. Bagaimana bisa dia kehilangan kesadarannya, dan melupakan etikanya. Dia seperti gadis bar bar yang sedang menegur wanita lain yang berniat merebut kekasihnya.
Aiden membungkukkan badannya dan mendekatkan bibirnya ke telinga Catherine.
"Bersikap posesif seperti tadi bagus, aku suka. Tapi kamu tidak perlu khawatir karena aku hanya akan menjadi milikmu," bisik Aiden membuat Catherine menoleh ke arahnya. Wajah mereka berdua berjarak sangat dekat hingga hembusan napas mint milik Aiden menerpa wajahnya.
Cup
Aiden kembali mengecup bibir Catherine yang sedikit terbuka. Catherine masih bergeming. Aiden mengecup bibir bagian bawah Catherine.
"Saat seperti inipun kamu terlihat begitu seksi dan manis, sampai rasanya aku ingin melahapmu," bisik Aiden menatap mata Catherine yang berjarak begitu dekat dengannya. Ia menggigit bibir bawah Catherine gemas membuat Catherine mengerang pelan.
Aiden tersenyum seraya berdiri tegak. "Sekarang kita sarapan, dan lanjut lagi nanti malam. Aku akan mengajakmu berkencan. Kencan pertama kita."
Catherine hanya diam saja saat Aiden mendorong kursi rodanya membawanya masuk ke dalam.
Sebenarnya Catherine diam karena menahan debaran di dadanya yang seakan ingin meledak. Sikap manis Aiden sungguh membuat jantungnya semakin bermasalah, selain itu darahnya berdesir menimbulkan panas di tubuhnya.
Ꙭ
Malam menjelang, Aiden membawa Catherine untuk pergi berkencan berdua sesuai rencana Aiden.
Aiden menghentikkan langkahnya dan mengambil duduk di atas kursi taman. Kencan yang sederhana, yang diinginkan oleh Aiden dan Catherine.
"Bagaimana semua pekerjaanmu di Indonesia?" tanya Catherine.
"Semuanya lancar. Aku hanya perlu masuk yang mengelanjutkan pekerjaan yang sudah ada, ucap Aiden."
Mereka berdua sama-sama diam menatap ke depan. Catherine di buat kaget dengan tangan Aiden yang menggenggam tangannya. Ia menggenggamnya tidak begitu erat tetapi juga tidak longgar. Catherine seakan merasa terlindungi dan merasakan kehangatan yang di salurkan oleh Aiden.
"Aiden, boleh aku bertanya sesuatu," seru Catherine membuat Aiden menoleh ke arahnya.
"Tanyakan saja. Ada apa?"
"Emmm... sebenarnya apa alasan kamu di pecat dari Firma Hukum saat itu?" tanya Catherine membuat Aiden terdiam. "Aku mohon katakan sejujurnya."
"Kenapa harus membahas itu?" tanya Aiden.
"Aku ingin tau semuanya. Aku ingin kamu mengatakan kejujurannya. Apa ini ada hubungannya dengan kasusku saat itu karena fitnah dari Robert?" tanya Catherine menatap Aiden dengan tatapan penuh harap.
Aiden tersenyum dan merapikan anak rambut Catherine yang tertiup angin. "Aku tidak ingin kamu mendapatkan sesuatu hal yang buruk. Aku tidak ingin kamu di tuduh yang tidak-tidak," seru Aiden.
"Jadi kamu di pecat karena aku?" tanya Catherine.
"Karena aku sendiri, Cath."
Catherine langsung menarik Aiden dan merebahkan kepalanya di dada bidang Aiden seraya memejamkan matanya.
"Jangan melakukan pengorbanan apapun lagi untukku. Sudah cukup semuanya," seru Catherine.
"Aku mencintaimu, Cath." Aiden menarik Catherine menjauh dari pelukannya dan menangkup wajah Catherine. Ia menatap Catherine dengan penuh rasa cinta. "Aku akan melakukan apapun untukmu."
"Berkat kamu, aku bisa kembali merasa hidup. Berkat kamu, aku bisa menghirup udara tanpa rasa sesak didalam dada ini. Karena kamu, aku bisa melupakan rasa sakit di dada ini yang hampir setiap hari meremas hatiku hingga aku rasanya ingin mengeluarkannya. Pengorbananku tidak berarti apapun dengan kepercayaan yang kamu berikan padaku. Dengan ketulusan cinta darimu," seru Aiden.
"Aku tidak ingin kehilanganmu lagi, Cath. Dulu aku bodoh karena membiarkanmu pergi dariku. Sekarang aku tidak akan membiarkan kamu pergi dariku lagi," seru Aiden.
Catherine tersenyum seraya membelai pipi Aiden dengan lembut. "Aku juga mencintaimu, Aiden. Dan aku tidak akan membiarkanmu pergi meninggalkanku," seru Catherine membuat Aiden tersenyum.
Aiden kemudian mencium bibir Catherine dengan menekan tengkuknya.
Kini taka da lagi perasaan yang harus di pendam. Tak ada lagi rasa takut untuk menerima dan mencintai. Tak ada lagi rasa trauma dan takut akan terkhianati.
Baik Aiden maupun Catherine mereka tak menahan lagi perasaannya.
__ADS_1
----
"Turunkan aku," seru Catherine saat mereka sampai di rumah dan Aiden membawanya dengan menggendong ala bridal style.
"Ssssttt Mine sudah tidur," seru Aiden membawa Catherine ke dalam kamar mereka.
Mereka sampai didalam kamar yang gelap. Aiden merebahkan tubuh Catherin di atas ranjang seraya menyalakan lampu tidur hingga wajah Catherine mampu terlihat jelas.
Kemudian ia membungkukkan tubuhnya dan menaiki ranjang. Posisinya berada di atas tubuh Catherine yang memegang dada Aiden.
Aiden tersenyum dan kemudian ia kembali mencium bibir Catherine. Catherine tak menolaknya dan malah mengalungkan kedua tangannya di leher Aiden dan membiarkan apa yang akan Aiden lakukan.
Ciuman Aiden berambat ke bagian lehernya dan terus turun ke bawah. Dengan sebelah tangannya yang dengan cekatan membuka pakaian Catherine.
"Emmmm...."
Catherine pun tak tinggal diam, ia membuka kancing kemeja yang di gunakan Aiden. Kemudian kedua tangan mungilnya merambat membelai dada bidang Aiden membuat Aiden mulai terbakar gairah, begitu juga dengan Catherine.
"Ah Catherine..."
Deg
Catherine menatap Aiden saat mendengar nama itu. Hatinya menghangat. Dulu nama wanita lain yang sempat di lontarkan Aiden. Tetapi kali ini namanya yang terucap.
"Ada apa?" bisik Aiden.
"Emmm tidak ada," jawab Catherine tersenyum. Mata Aiden terlihat sudah menggelap karena gairah.
Kegiatan mereka pun berlanjut ke tahap berikutnya. Di malam yang indah dengan panasnya gairah yang membakar darah mereka berdua.
---
Aiden dan Catherine sudah menyelesaikan kegiatan ranjang mereka. Kini Aiden terlihat duduk bersandar ke kepala ranjang dengan membiarkan tubuh bagian atasnya terekspos. Dan Catherine bersandar di dadanya dengan selimut yang menutupi tubuh telanjang mereka berdua.
Aiden memeluknya dari belakang dan Catherine kembali menautkan jemari tangan mereka berdua seakan tak ingin sampai terlepas.
"Apa kamu senang?" tanya Aiden.
"Sangat," jawab Catherine tersenyum dengan wajah yang merona.
Baik Aiden maupun Catherine. Keduanya tak pernah melakukan hubungan intim dengan orang lain setelah kejadian yang terjadi di 5 tahun lalu.
"Terima kasih," bisik Aiden.
"Untuk apa?"
"Karena sudah memberiku kesempatan dan menerimaku," seru Aiden.
"Aku juga terima kasih, karena akhirnya kamu membalas cintaku," kekeh Catherine.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita lanjut?" bisik Aiden membuat Catherine menoleh ke arahnya dengan kernyitan di dahinya.
Aiden mendorong pelan Catherine hingga kini berada di bawah kungkungannya lagi.
"Aku masih mengingnkannya," seru Aiden dan tak menunggu lama lagi langsung menenggelamkan wajahnya di lekukan leher Catherine.
Catherine hanya mampu terkekeh dan menerimanya.
Kencan yang sempurna...
Ꙭ
Tbc...
18-06-2020
Hai hai, aku punya kabar gembira buat kalian yang semakin penasaran dengan cerita ini.
Taraaaa.....
Sudah tersedia versi ebook ya di playbook dan lebih lengkap yah. Di sini nanti aku hanya akan share sampai ending saja. Untuk selanjutnya atau extra part terdapat di versi ebook dan cetaknya.
Untuk open Po cerita ini nanti akan di buka di awal bulan Juli setelah No Isbn nya keluar.
Harga buku cetaknya? Hanya ya 100.000 (blm termasuk ongkir)
So, ini penampakan dalamnya yah. Dan untuk extra part sendiri punya 4 bagian.
__ADS_1