Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 28


__ADS_3

Aidenberdiri


di jembatan tempat biasa dirinya menenangkan diri. Salju masih setia menghujani


kota N. Udara dingin menusuk tulang juga sendi-sendi. Tetapi semua itu tak


berpengaruh pada Aiden.


"Kamu


dimana Cath," gumam Aiden menatap nyalang ke depan.


Kini


ia dapat merasakan, sesaknya kehilangan. Sesaknya di tinggalkan dan sesaknya


rasa rindu ini.


Beribu


kali ia menguntuk dirinya yang seakan mengunci dirinya sendiri dalam belenggu


itu.


Benar


kata Evelyn. Catherine dan Agneta berbeda, jelas kalau Catherine mencintainya.


Sedangkan Agneta-?


Bahkan


Aiden sendiri pun tidak bisa menjawabnya. Agneta memilih bersama nya karena


balas budi, tidak lebih dari itu.


Betapa


menyedihkannya Aiden. Bahkan ia tidak mampu membedakan mana cinta yang tulus


dan mana yang hanya balas budi.


Aiden


menghela napasnya panjang seraya mengusap wajahnya yang terasa dingin dan


seakan beku. Ia memejamkan matanya dan merasakan salju dingin menyentuh


wajahnya.


Ia


kembali membuka matanya dan bayangan wajah Catherine saat menangis berada tepat


di hadapannya.


"Cath-"


panggilnya tetapi bayangan itu perlahan menghilang.


Kemudian


ia melihat bayangan Cath yang mengatakan kalau ia mencintainya dan kata-kata


menyakitkan lainnya. Tangan Aiden terangkat ingin menggapai bayangan itu tetal


lenyap begitu saja. Air mata Aiden tanpa sadar luruh dari sudut matanya.


"Maafkan


aku," gumamnya. "Aku terlalu bodoh."


Aiden


mengepalkan kedua tangannya yang memegang pagar pembatas jembatan. Dering


handphone menyadarkan lamunannya.


"Ya


Harry?"


"...."


"Benarkah?


Aku akan segera datang." Aiden memutuskan sambungan telponnya dan bergegas


pergi meninggalkan tempat itu.



Catherine


masih duduk di tempatnya dengan wajah pucat. Ia merasa seluruh tubuhnya kaku


juga ngilu. Udara di sini pun begitu dingin dan menusuk. Ia menatap sekeliling


yang tidak terlihat ada satu orang pun di sana.


"Hmm..."


gumamnya memejamkan matanya sesaat dan kembali membuka matanya. 'Aku harap keadaan Mine baik-baik sana.'


batinnya.


Sekelebat


bayangan Aiden muncul di kepalanya. 'Aiden... Apa kamu mencariku?' batin


Catherine.


---


Saat


ini Aiden dan Harry tengah berada didalam mobil milik Harry. Beberapa anak buah


Harry mengikut di mobil belakang dan satu mobil yang memimpin di bagian depan.


"Apa


ini tidak begitu ramai untuk menyelamatkan Catherine? Aku takut akan mengundang


kecurigaan Robert dan membuat Catherine terancam," seru Aiden.


"Santai


saja," seru Harry yang tengah duduk santai di samping Aiden.


Di


depan ada dua orang anak buah Harry yang menyetir mobil dan satunya lagi duduk


di kursi penumpang depan.


Harry


adalah pewaris tunggal dari perusahaan besar di bidang hiburan dan pelatihan

__ADS_1


untuk para bodyguard.


"Apa


sudah pasti Catherine di sekap di sana?" tanya Aiden.


"Aku


percaya anak buah ku tidak akan keliru," seru Harry dengan penuh percaya diri.


"Kau


terlalu percaya diri. Aku takut semua ini hanya jebakan Robert," ucap


Aiden.


"Ck.


Kau ini kenapa jadi begitu cerewet sih," seru Harry. "Bahkan melebihi


si Mike. Benar sekali kalau orang di landa penyakit cinta itu akan keluar dari


karakter sesungguhnya."


"Bicara


apa kamu ini," seru Aiden.


"Ngomong-ngomong


aku sudah membantumu sebesar ini. Apa kamu tidak berniat membalas budi?"


seru Harry.


"Dengan


teman sendiri pun begitu perhitungan," seru Aiden.


"Hoho


bisnis is bisnis. Tidak ada namanya teman," seru Harry.


"Ck.


Baiklah aku akan membayarmu nanti," seru Aiden.


"Memangnya


apa yang bisa kamu bayarkan. Kau kan sekarang pengangguran," ejek Harry


membuat Aiden mencibir.


"Aku


tinggal sombong sebenarnya. Tapi aku akan membuatmu kecewa. Aku bukanlah


pengangguran, aku masih memiliki saham di WT. Ya walaupun saham warisan,"


seru Aiden.


"Jadi


kamu berniat menikahi Catherine dan memboyong dia dan Jasmine ke


Indonesia?" tanya Harry.


"Ah


kamu berpikir kejauhan," ucap Aiden.


"Hey.


Apa kamu tidak berniat menikahi Catherine?" seru Harry.


bukan begitu. Aku hanya takut Catherine kembali menolak ku," seru Aiden


merenung sesaat. "Yang jelas sekarang aku ingin menolongnya dari pria berengsek


itu," ucap Aiden.


"Baiklah


terserah kamu." Harry terdiam sesaat. "Oh iya beberapa hari lalu aku


melihatmu dengan seorang wanita. Dia adalah seorang designer terkenal di kota


ini. Bagaimana kalau bayaran dari bantuanku ini, kamu memperkenalkan ku dengan


wanita cantik itu," seru Harry membuat Aiden menoleh ke arahnya.


"Maksudmu


Evelyn?" tanya Aiden.


"Ya,


nona Evelyn. Sudah lama aku memperhatikan dan mengagumi nya. Aku berusaha


mendekatinya tetapi dia seakan menjaga jarak. Makanya saat kemarin melihatmu


dengannya, aku rasa kamu dekat dengannya," ucap Harry.


"Jadi


Brother. Jangan rakus, kamu cukup Catherine saja dan berikan Evelyn


padaku," seru Harry.


"Kau


pikir mereka barang yang bisa di serahkan seenaknya," ucap Aiden.


"Aku akan mengenalkanmu dengan Eve. Setelahnya kamu usaha sendiri."


"Oke."


"Tapi


ingat, Evelyn bukan seperti wanita yang pernah kamu kencani. Jangan sakiti dia,


kalau kamu berniat serius padanya, aku akan mendukungmu."


"Saat


pertama kali bertemu dengannya, aku merasa jantungku berdebar cepat dan rasanya


ingin loncat keluar. Aku tidak pernah merasakan itu sebelumnya saat bertemu


dengan beberapa wanita. Dan semakin ke sini aku semakin di buat penasaran


olehnya."  Harry termenung mengingat


kejadian pertemuan pertama dirinya dengan Evelyn.


"Kau


tau sendiri aku tidak pernah mengejar wanita seperti ini," seru Harry.


"Ya

__ADS_1


aku percaya padamu. Evelyn itu sahabatnya Catherine," seru Aiden.


"Wow,


dunia ini sungguh sempit," seru Harry sangat bersemangat.


---


Tak


lama mobil mereka memasuki area pegunungan daan terlihat sepi juga jalanan nya


begitu berbatu.


"Ah


sialan si Robert itu. Dia membawa Catherine kemari," seru Aiden


mengepalkan kedua tangannya. Rasanya ia ingin segera memukul wajah Robert


hingga hancur.


"Kita


akan parkir mobil di sini. Dari sini masih cukup jauh. Tapi kalau dengan


menggunakan mobil kita akan mengundang kecurigaan mereka," seru anak buah


Harry.


Mereka


semua menuruni mobil dan berjalan kaki dengan tanpa meninggalkan jejak dan


mengundang kecurigaan.


---


Setelah


menempuh perjalanan cukup jauh. Mereka melihat sebuah bangunan besar. Lebih


tepatnya sebuah gedung untuk pembuatan sesuatu. Dan terlihat beberapa orang


berjaga di luar bangunan.


"Sekarang


bagaimana?" tanya Aiden.


"Kita


akan mengawasi dulu di sini. Beberapa anak buahku akan menerobos masuk di


setiap sisi," jelas Harry.


"Ngomong-ngomong


apa kamu bisa bela diri?" tanya Harry menatap Aiden.


"Apa


kamu meremehkan ku?" seru Aiden tampak kesal karena Harry meremehkan nya.


"Baguslah


kalau begitu," kekehnya membuat Aiden mencibir.


Harry


memberi instruksi ke beberapa anak buahnya untuk maju. Terlihat beberapa anak


buah Harry dengan mudah menjatuhkan musuh dengan mudah.


"Ayo


kita masuk," seru Harry.


Mereka


berdua berjalan masuk ke dalam gedung itu. Gedung itu sangat besar dan memiliki


banyak lorong.


Aiden


dan Harry semakin masuk ke bagian dalam bangunan dan meninggalkan beberapa anak


buah Harry yang tengah menjatuhkan beberapa penjaga.


Aiden


dan Harry berjalan menyusuri lorong panjang hingga mereka mendengar suara


langkah kaki. Dengan cepat Harry menarik Aiden memasuki sebuah ruangan.


"Ruangan


apa ini," gumam Harry saat melihat ruangan besar itu dengan beberapa


akuarium besar dan kandang binatang.


"Oh


God!" pekik Aiden saat melihat beberapa binatang seperti ular, burung,


harimau, beruang, dan beberapa jenis ikan.


"Ini


semua adalah binatang yang di lindungi," seru Aiden.


"Berarti


si Robert ini melakukan jual beli gelap," seru Harry.


"Dia


benar-benar lintah," tambah Harry.


"Apa


hubungannya dengan lintah? Lintah itu seperti rentenir yang meminjamkan uang


dengan bunga tinggi. Kalau tidak memahami perumpamaan jangan asal bicara,"


seru Aiden membuat Harry mencibir kesal.


"Hah,


baiklah," seru Harry.


"Kita


harus melaporkan semua ini," ucap Aiden berjalan mendekati pintu dan


mengintip.


"Sepertinya

__ADS_1


sudah tidak ada orang lagi. Ayo keluar," ucap Aiden yang di angguki Harry.



__ADS_2