
Aidenberdiri
di jembatan tempat biasa dirinya menenangkan diri. Salju masih setia menghujani
kota N. Udara dingin menusuk tulang juga sendi-sendi. Tetapi semua itu tak
berpengaruh pada Aiden.
"Kamu
dimana Cath," gumam Aiden menatap nyalang ke depan.
Kini
ia dapat merasakan, sesaknya kehilangan. Sesaknya di tinggalkan dan sesaknya
rasa rindu ini.
Beribu
kali ia menguntuk dirinya yang seakan mengunci dirinya sendiri dalam belenggu
itu.
Benar
kata Evelyn. Catherine dan Agneta berbeda, jelas kalau Catherine mencintainya.
Sedangkan Agneta-?
Bahkan
Aiden sendiri pun tidak bisa menjawabnya. Agneta memilih bersama nya karena
balas budi, tidak lebih dari itu.
Betapa
menyedihkannya Aiden. Bahkan ia tidak mampu membedakan mana cinta yang tulus
dan mana yang hanya balas budi.
Aiden
menghela napasnya panjang seraya mengusap wajahnya yang terasa dingin dan
seakan beku. Ia memejamkan matanya dan merasakan salju dingin menyentuh
wajahnya.
Ia
kembali membuka matanya dan bayangan wajah Catherine saat menangis berada tepat
di hadapannya.
"Cath-"
panggilnya tetapi bayangan itu perlahan menghilang.
Kemudian
ia melihat bayangan Cath yang mengatakan kalau ia mencintainya dan kata-kata
menyakitkan lainnya. Tangan Aiden terangkat ingin menggapai bayangan itu tetal
lenyap begitu saja. Air mata Aiden tanpa sadar luruh dari sudut matanya.
"Maafkan
aku," gumamnya. "Aku terlalu bodoh."
Aiden
mengepalkan kedua tangannya yang memegang pagar pembatas jembatan. Dering
handphone menyadarkan lamunannya.
"Ya
Harry?"
"...."
"Benarkah?
Aku akan segera datang." Aiden memutuskan sambungan telponnya dan bergegas
pergi meninggalkan tempat itu.
Ꙭ
Catherine
masih duduk di tempatnya dengan wajah pucat. Ia merasa seluruh tubuhnya kaku
juga ngilu. Udara di sini pun begitu dingin dan menusuk. Ia menatap sekeliling
yang tidak terlihat ada satu orang pun di sana.
"Hmm..."
gumamnya memejamkan matanya sesaat dan kembali membuka matanya. 'Aku harap keadaan Mine baik-baik sana.'
batinnya.
Sekelebat
bayangan Aiden muncul di kepalanya. 'Aiden... Apa kamu mencariku?' batin
Catherine.
---
Saat
ini Aiden dan Harry tengah berada didalam mobil milik Harry. Beberapa anak buah
Harry mengikut di mobil belakang dan satu mobil yang memimpin di bagian depan.
"Apa
ini tidak begitu ramai untuk menyelamatkan Catherine? Aku takut akan mengundang
kecurigaan Robert dan membuat Catherine terancam," seru Aiden.
"Santai
saja," seru Harry yang tengah duduk santai di samping Aiden.
Di
depan ada dua orang anak buah Harry yang menyetir mobil dan satunya lagi duduk
di kursi penumpang depan.
Harry
adalah pewaris tunggal dari perusahaan besar di bidang hiburan dan pelatihan
__ADS_1
untuk para bodyguard.
"Apa
sudah pasti Catherine di sekap di sana?" tanya Aiden.
"Aku
percaya anak buah ku tidak akan keliru," seru Harry dengan penuh percaya diri.
"Kau
terlalu percaya diri. Aku takut semua ini hanya jebakan Robert," ucap
Aiden.
"Ck.
Kau ini kenapa jadi begitu cerewet sih," seru Harry. "Bahkan melebihi
si Mike. Benar sekali kalau orang di landa penyakit cinta itu akan keluar dari
karakter sesungguhnya."
"Bicara
apa kamu ini," seru Aiden.
"Ngomong-ngomong
aku sudah membantumu sebesar ini. Apa kamu tidak berniat membalas budi?"
seru Harry.
"Dengan
teman sendiri pun begitu perhitungan," seru Aiden.
"Hoho
bisnis is bisnis. Tidak ada namanya teman," seru Harry.
"Ck.
Baiklah aku akan membayarmu nanti," seru Aiden.
"Memangnya
apa yang bisa kamu bayarkan. Kau kan sekarang pengangguran," ejek Harry
membuat Aiden mencibir.
"Aku
tinggal sombong sebenarnya. Tapi aku akan membuatmu kecewa. Aku bukanlah
pengangguran, aku masih memiliki saham di WT. Ya walaupun saham warisan,"
seru Aiden.
"Jadi
kamu berniat menikahi Catherine dan memboyong dia dan Jasmine ke
Indonesia?" tanya Harry.
"Ah
kamu berpikir kejauhan," ucap Aiden.
"Hey.
Apa kamu tidak berniat menikahi Catherine?" seru Harry.
bukan begitu. Aku hanya takut Catherine kembali menolak ku," seru Aiden
merenung sesaat. "Yang jelas sekarang aku ingin menolongnya dari pria berengsek
itu," ucap Aiden.
"Baiklah
terserah kamu." Harry terdiam sesaat. "Oh iya beberapa hari lalu aku
melihatmu dengan seorang wanita. Dia adalah seorang designer terkenal di kota
ini. Bagaimana kalau bayaran dari bantuanku ini, kamu memperkenalkan ku dengan
wanita cantik itu," seru Harry membuat Aiden menoleh ke arahnya.
"Maksudmu
Evelyn?" tanya Aiden.
"Ya,
nona Evelyn. Sudah lama aku memperhatikan dan mengagumi nya. Aku berusaha
mendekatinya tetapi dia seakan menjaga jarak. Makanya saat kemarin melihatmu
dengannya, aku rasa kamu dekat dengannya," ucap Harry.
"Jadi
Brother. Jangan rakus, kamu cukup Catherine saja dan berikan Evelyn
padaku," seru Harry.
"Kau
pikir mereka barang yang bisa di serahkan seenaknya," ucap Aiden.
"Aku akan mengenalkanmu dengan Eve. Setelahnya kamu usaha sendiri."
"Oke."
"Tapi
ingat, Evelyn bukan seperti wanita yang pernah kamu kencani. Jangan sakiti dia,
kalau kamu berniat serius padanya, aku akan mendukungmu."
"Saat
pertama kali bertemu dengannya, aku merasa jantungku berdebar cepat dan rasanya
ingin loncat keluar. Aku tidak pernah merasakan itu sebelumnya saat bertemu
dengan beberapa wanita. Dan semakin ke sini aku semakin di buat penasaran
olehnya." Harry termenung mengingat
kejadian pertemuan pertama dirinya dengan Evelyn.
"Kau
tau sendiri aku tidak pernah mengejar wanita seperti ini," seru Harry.
"Ya
__ADS_1
aku percaya padamu. Evelyn itu sahabatnya Catherine," seru Aiden.
"Wow,
dunia ini sungguh sempit," seru Harry sangat bersemangat.
---
Tak
lama mobil mereka memasuki area pegunungan daan terlihat sepi juga jalanan nya
begitu berbatu.
"Ah
sialan si Robert itu. Dia membawa Catherine kemari," seru Aiden
mengepalkan kedua tangannya. Rasanya ia ingin segera memukul wajah Robert
hingga hancur.
"Kita
akan parkir mobil di sini. Dari sini masih cukup jauh. Tapi kalau dengan
menggunakan mobil kita akan mengundang kecurigaan mereka," seru anak buah
Harry.
Mereka
semua menuruni mobil dan berjalan kaki dengan tanpa meninggalkan jejak dan
mengundang kecurigaan.
---
Setelah
menempuh perjalanan cukup jauh. Mereka melihat sebuah bangunan besar. Lebih
tepatnya sebuah gedung untuk pembuatan sesuatu. Dan terlihat beberapa orang
berjaga di luar bangunan.
"Sekarang
bagaimana?" tanya Aiden.
"Kita
akan mengawasi dulu di sini. Beberapa anak buahku akan menerobos masuk di
setiap sisi," jelas Harry.
"Ngomong-ngomong
apa kamu bisa bela diri?" tanya Harry menatap Aiden.
"Apa
kamu meremehkan ku?" seru Aiden tampak kesal karena Harry meremehkan nya.
"Baguslah
kalau begitu," kekehnya membuat Aiden mencibir.
Harry
memberi instruksi ke beberapa anak buahnya untuk maju. Terlihat beberapa anak
buah Harry dengan mudah menjatuhkan musuh dengan mudah.
"Ayo
kita masuk," seru Harry.
Mereka
berdua berjalan masuk ke dalam gedung itu. Gedung itu sangat besar dan memiliki
banyak lorong.
Aiden
dan Harry semakin masuk ke bagian dalam bangunan dan meninggalkan beberapa anak
buah Harry yang tengah menjatuhkan beberapa penjaga.
Aiden
dan Harry berjalan menyusuri lorong panjang hingga mereka mendengar suara
langkah kaki. Dengan cepat Harry menarik Aiden memasuki sebuah ruangan.
"Ruangan
apa ini," gumam Harry saat melihat ruangan besar itu dengan beberapa
akuarium besar dan kandang binatang.
"Oh
God!" pekik Aiden saat melihat beberapa binatang seperti ular, burung,
harimau, beruang, dan beberapa jenis ikan.
"Ini
semua adalah binatang yang di lindungi," seru Aiden.
"Berarti
si Robert ini melakukan jual beli gelap," seru Harry.
"Dia
benar-benar lintah," tambah Harry.
"Apa
hubungannya dengan lintah? Lintah itu seperti rentenir yang meminjamkan uang
dengan bunga tinggi. Kalau tidak memahami perumpamaan jangan asal bicara,"
seru Aiden membuat Harry mencibir kesal.
"Hah,
baiklah," seru Harry.
"Kita
harus melaporkan semua ini," ucap Aiden berjalan mendekati pintu dan
mengintip.
"Sepertinya
__ADS_1
sudah tidak ada orang lagi. Ayo keluar," ucap Aiden yang di angguki Harry.
Ꙭ