
“Catherin....”
“Aiden...”
Keduanyaterlihat begitu
kaget dan sama-sama membelalak lebar.
Setelah 5 tahun berlalu....
Lamunan mereka terusik
oleh suara pintu tertutup.
Aiden berdehem kecil.“Silakan duduk,” serunyamempersilakan Catherin yang terlihat menawan dengan gaun
seatas lutut berwarna violet.
Catherin menurut dan
mengambil duduk tepat di kursi yang berhadapan dengan Aiden.
“Emmm... mau pesan
apa?” tanya Aiden masih terasa begitu canggung.
“Aku sudah memesannya tadi pada pelayan,”
seru Catherin menolak beradu pandang dengan Aiden.Ia sangat
tidak menyangka akan bertemu dengan Aiden di sini.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Aiden.
“Seperti yang kamu lihat,” jawab Catherin.
“Bagaimana kabarmu?”
“Seperti yang kamu lihat juga,” jawab Aiden.
Keduanya sama-samadiam dalam kecanggungan. Hingga seorang pelayan masuk dan menyimpan
minuman pesanan Catherin.
Mereka masih diam membisu dengan posisi
saling berhadapan setelah pelayan itu pergi. Suasana di sana terasa begitu
canggung dan tidak nyaman.
“Jadi ini kasusmu?” tanya Aiden menatap manik
mata Catherin. “Apa kamu benar-benar tidak mendapatkan perlakuan baik dari
suamimu?”
Catherin hanya diam membisu.
“Aku sempat kaget saat melihat kedatanganmu.
Aku tidak menyangka kita akan kembali bertemu setelah 5 tahun berlalu dalam
keadaan seperti ini,” seru Aiden dan Catherin masih memilih diam membisu.
“Sejak kapan kamu menikah? Apa kamu sudah
memiliki anak?” tanya Aiden. “Dan sejak kapan suamimu melakukan KDRT padamu?”
“Sebelum aku menjawab semua pertanyaanmu.
Sebaiknya kamu membaca dulu nama dari korban,” seru Catherin, akhirnya membuka
suara setelah lama diam membisu.
Aiden mengernyitkan dahinya bingungdan kembali membuka berkasnya.
“Marenka?”
“Iya Marenka dan bukan aku,” seru Catherin. “Aku
yang melaporkan kasus ini, Marenka adalah sahabatku.”
“Aku pikir kamu yang...” ucapan Aiden
menggantung di udara.
“Baiklah lupakan itu. Lalu dimana Marenka?”
“Marenka masih menjalani perawatan di rumah
sakit. Karena perlakuan suaminya, kaki kanannya patah dan tulang punggungnya
ada yang retak karena di pukuli. Aku datang kemari untuk memberikan beberapa
keterangan yang aku ketahui dan juga buktinya, aku adalah saksi dari Marenka,”
seru Catherin dengan wajah datarnya tanpa ekspresi.
“Emm begitu, bisa kamu serahkan bukti-bukti
yang kamu bawa,” seru Aiden.
Catherin menyerahkannya pada Aiden.
Aiden mulai memeriksa semua buktinya dengan
membuka laptop yang ia bawa dan memasukan USB yang dibawa Catherin ke dalam
laptop.
“Jadi sejak kapan kamu ada di kota ini?”
tanya Aiden.
“Sekitar 3 tahun yang lalu,” jawab Catherin.
“Apa yang kamu kerjakan? Kamu sudah menikah?”
tanya Aiden.
“Apa buktinya sudah jelas?” tanya Catherin yang
menjawab pertanyaan Aiden dengan pertanyaan. Jelas sekali Catherine tidak ingin
membahas sesuatu mengenai dirinya.
Aiden memalingkan pandangannya dari layar
laptop ke wajah Catherin.“Sudah, aku akan memeriksanya kembali di kantor.”
“Aku harap kamu bisa membantu memenangkan
kasus ini dan menghukum tersangka dengan hukuman yang setimpal,” seru Catherin.
Aiden sadar, Catherin tidak lagi sama dengan
Catherin yang dulu ia kenal. Kini sosok Catherin yang berada di hadapannya
terlihat begitu dingin dan tak tersentuh. Sangat asing di mata Aiden.
“Akan aku usahakan,” seru Aiden.
“Kalau begitu tidak ada lagi yang perlu kita
bicarakan. Kalau kamu ingin bertemu
dengan Marenka, kamu bisa menghubungiku. Nomorku ada di data saksi,” ucap
Catherin yang dia angguki Aiden.
“Kalau begitu aku pergi,” seru Catherin
__ADS_1
beranjak dari duduknya.
“Cath...”
Panggilan itu menghentikan gerakan Catherin yang hendak
pergi.
“Maafkan aku... sejak lama aku ingin
mengatakan ini. Maafkan aku Catherine...”
Deg
Ekspresi Catherine terlihat berubah menjadi
muram dan terlihat marah. “Kenapa harus minta maaf? Tidak ada yang perlu di maafkan
disini,” seru Catherin dengan nada dingin.
“Tapi aku...”
“Lupakan semua itu, itu adalah kesalahan
terbesarku,” jawabnya dan beranjak pergi meninggalkan Aiden yang hanya bisa
terpaku di tempatnya.
Ꙭ
Aiden telah kembali ke
apartemen miliknya. Ia menyimpan jas miliknya di kepala sofa. Ia berjalan menuju dapur dan mengambil minuman dingin. Ia
membuka tutup botolnya, kemudian meneguknya, setelahnya ia kembali termenung.
“Catherine...”
gumamnya. “Aku tidak pernah menyangka bisa bertemu kembalidenganmu.”
Aiden menghela napasnya,
didalam hatinya masih ada rasa bersalah pada Catherine. Walau malam itu
Catherine mengatakan baik-baik saja dan menganggap semua itu tak pernah
terjadi, tetapi Aiden sungguh tidak bisa melupakannya.
Serpihan kenangan di
malam itu kembali memenuhi kepala Aiden.
“Setelah 5 tahun
berlalu...” Aiden kembali menghela napasnya berat.
Sebenarnya ia telah
mulai berbenah diri dan memulai kehidupannya yang baru. Akhirnya setelah sekian
lama, ia mampu merelakan Agneta walau nyatanya sangat sulit dan bahkan hampir
membuatnya terbunuh karena rasa sesak di dadanya.
Tetapi pertemuannya
dengan Catherine hari ini, seakan mengingatkan dirinya pada kesalahan di masa
lalu. Bahwa ada seorang wanita yang telah ia sakiti.
Ꙭ
Aidenbaru saja sampai
di sebuah rumah sakit. Hari ini ia membuat janji temu dengan Catherine untuk
menemui Marenka yang merupakan korban dari kasus yang di laporkan oleh
Aiden berdiri dengan
bersandar pada mobilnya, sebatang rokok tersalip indah di bibirnya dan sebelah
tangannya di masukan ke dalam saku celananya. Ia tampak tampan dengan setelan
jas berwarna abu itu.
Ia menghisap rokoknya
dan mengepulkan asapnya. Pandangannya yang tajam menatap ke depan dan
mengabaikan setiap tatapan memuja dari beberapa wanita yang berlalu
lalangdan terang-terangan memperhatikannya.
Sebuah mobil sport
berwarna putih tiba di sana dan terparkir indah tak jauh dari Aiden. Tak lama,
sang pemilik mobil itu menuruni mobilnya. Ia menoleh ke arah Aiden hingga
tatapan mereka beradu.
Pemilik mobil tersebut
tak lain adalah Catherine. Ia terlihat begitu cantik dan anggun mengenakan
dress berwarna merah.
Catherine berjalan
mendekati Aiden yang masih menatap dirinya.
“Hai,” sapa Catherine.
“Sudah lama menunggu?”
“Emm lumayan,” jawab
Aiden membuang rokoknya, kemudian menginjaknya. “Ayo masuk.”
Aiden berjalan
terlebih dulu meninggalkan Catherine yang memperhatikan punggung lebarnya.
Catherine memandang Aiden dengan tatapan yang tidak bisa di baca. Kemudian ia
menghela napas panjang dan berjalan mengikuti Aiden.
“Sejak kapan temanmu
ini menerima perlakuan kasar dari suaminya ini?” tanya Aiden saat mereka
berjalan menyusuri lorong rumah sakit.
“Sudah 2 tahun
lamanya, ia baru bisa berani melaporkannya sekarang,” jawab Catherine.
“Apa ada faktor
tertentu hingga membuat suaminya bertindak kasar padanya?” tanya Aiden.
“Dia menikahi pria
yang tidak mencintainya. Mereka terpaksa menikah karena sebuah perjodohan. Dan
suaminya itu masih mencintai mantan kekasihnya. Dia mulai berlaku kasar dan
temperamen pada Marenka sejak mantan kekasihnya itu menikah dengan pria lain.”
“Jadi suaminya ini
__ADS_1
melampiaskan rasa sakit hatinya dengan menyiksa Marenka?” tanya Aiden.
“Hmmm begitulah.
Marenka tidak boleh melakukan sedikit saja kesalahan, kalau sampai itu terjadi
maka siksaan yang dia dapatkan. Bahkan dalam berhubungan intimpun, suaminya
masih menyiksa Marenka, bahkan terus memanggil nama mantan kekasihnya saat
melakukannya. Membuat Marenka sangat terluka luar dandalam.”
Ucapan Catherine
barusan menghentikan langkah Aiden.
Catherine yang sudah
berjalan dua langkah di depan Aiden menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah
Aiden.
“Ada apa?”
“Tidak apa-apa,” jawab
Aiden segera merubah raut wajahnya kembali menjadi datar. “Ayo kita temui
Marenka.”
Mereka berjalan
bersama menyusuri lorong rumah sakit yang tidak begitu ramai. Kali ini mereka
berdua memilih diam dan fokus pada pikiran masing-masing.
Sesampainya di sebuah
ruangan, terlihat seorang wanita dengan wajahnya masih terdapat beberapa luka
dan membiru. Iatengah duduk bersandar
di atas brankar. Wanita itu melihat ke arah mereka berdua.
“Ren, ini adalah Mr.
Aiden, pengacara kamu,” seru Catherin.
“Selamat siang, Mrs.
Marenka.”
“Selamat siang, Mr.
Aiden.”
“Luka ini-?” ucapan
Aiden menggantung di udara saat melihat kondisi Marenka.
“Ini adalah perbuatan suamiku,”
serunya dengan nada serak seakan ingin menangis.
Aiden menekan tombol
alat perekam dari pennya yang ada didalam saku jas yang ia gunakan.
Marenka terlihat
menangis terisak seraya menjelaskan semua kejadian yang menimpa dirinya.
Semuanya ia katakan tanpa ada yang terlewatkan.
“Begitu yah,” gumam
Aiden yang sudah duduk di kursi yang
berada di sisi brankar. “Sejak kapan suamimu melakukan kekerasan ini?” tanya
Aiden.
“Sejak kami menikah,
dia sudah menyiksaku. Selain itu juga, dia suka berjudi dan selalu membawa
wanita ke rumah tanpa memperdulikanku lagi. Apalagi menghargai ku sebagai
seorang perempuan.”
Marenka semakin
menangis setiap menceritakan kejadian pahit yang menimpanya.
“Sepertinya informasi
ini sudah cukup,” seru Aiden. “Aku akan berusaha membantumu memenangkan kasus
ini dan menjebloskannya ke dalam penjara.”
“Terima kasih, Mr.
Aiden.”
“Sama-sama,” seru
Aiden terlihat tersenyum.
----
Saat ini Aiden dan
Catherin telah meninggalkan ruangan Marenka. Saat ini mereka telah berada di
parkiran basement.
“Apa kamu masih
membutuhkan bukti lainnya lagi?” tanya Catherin.
“Aku rasa sudah cukup,
kita hanya perlu menang dalam persidangan nanti. Oh iya, kalau bisa minta
pembantu di rumahnya untuk menjadi saksinya,” seru Aiden.
“Baiklah, apa perlu
saksi lainnya?” tanya Catherin.
“Tidak, kamu dan dia
sudah cukup. Di tambah bukti-bukti ini, semuanya sudah jelas dan aku yakin dia
akan menerima hukuman yang setimpal,” seru Aiden yang di angguki Catherin.
“Sekarang kamu akan ke
mana?” tanya Aiden setelah mereka terdiam sesaat.
“Aku mau pulang, masih
ada pekerjaan. Kalau wawancara ini sudah selesai, aku pergi. Sampai bertemu di
persidangan nanti, Mr. Aiden.” Seru Catherin masih dengan nada dingin dan formal. Ia berlalu pergi meninggalkan Aiden menuju
mobilnya.
Aiden hanya diam
menatap punggung Catherin yang menjauh.
__ADS_1
Ꙭ