Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 2


__ADS_3

“Catherin....”


                “Aiden...”


Keduanyaterlihat begitu


kaget dan sama-sama membelalak lebar.


                Setelah 5 tahun berlalu....


                Lamunan mereka terusik


oleh suara pintu tertutup.


Aiden berdehem kecil.“Silakan duduk,” serunyamempersilakan Catherin yang terlihat menawan dengan gaun


seatas lutut berwarna violet.


                Catherin menurut dan


mengambil duduk tepat di kursi yang berhadapan dengan Aiden.


                “Emmm... mau pesan


apa?” tanya Aiden masih terasa begitu canggung.


“Aku sudah memesannya tadi pada pelayan,”


seru Catherin menolak beradu pandang dengan Aiden.Ia sangat


tidak menyangka akan bertemu dengan Aiden di sini.


“Bagaimana kabarmu?” tanya Aiden.


“Seperti yang kamu lihat,” jawab Catherin.


“Bagaimana kabarmu?”


“Seperti yang kamu lihat juga,” jawab Aiden.


Keduanya sama-samadiam dalam kecanggungan. Hingga seorang pelayan masuk dan menyimpan


minuman pesanan Catherin.


Mereka masih diam membisu dengan posisi


saling berhadapan setelah pelayan itu pergi. Suasana di sana terasa begitu


canggung dan tidak nyaman.


“Jadi ini kasusmu?” tanya Aiden menatap manik


mata Catherin. “Apa kamu benar-benar tidak mendapatkan perlakuan baik dari


suamimu?”


Catherin hanya diam membisu.


“Aku sempat kaget saat melihat kedatanganmu.


Aku tidak menyangka kita akan kembali bertemu setelah 5 tahun berlalu dalam


keadaan seperti ini,” seru Aiden dan Catherin masih memilih diam membisu.


“Sejak kapan kamu menikah? Apa kamu sudah


memiliki anak?” tanya Aiden. “Dan sejak kapan suamimu melakukan KDRT padamu?”


“Sebelum aku menjawab semua pertanyaanmu.


Sebaiknya kamu membaca dulu nama dari korban,” seru Catherin, akhirnya membuka


suara setelah lama diam membisu.


Aiden mengernyitkan dahinya bingungdan kembali membuka berkasnya.


“Marenka?”


“Iya Marenka dan bukan aku,” seru Catherin. “Aku


yang melaporkan kasus ini, Marenka adalah sahabatku.”


“Aku pikir kamu yang...” ucapan Aiden


menggantung di udara.


“Baiklah lupakan itu. Lalu dimana Marenka?”


“Marenka masih menjalani perawatan di rumah


sakit. Karena perlakuan suaminya, kaki kanannya patah dan tulang punggungnya


ada yang retak karena di pukuli. Aku datang kemari untuk memberikan beberapa


keterangan yang aku ketahui dan juga buktinya, aku adalah saksi dari Marenka,”


seru Catherin dengan wajah datarnya tanpa ekspresi.


“Emm begitu, bisa kamu serahkan bukti-bukti


yang kamu bawa,” seru Aiden.


Catherin menyerahkannya pada Aiden.


Aiden mulai memeriksa semua buktinya dengan


membuka laptop yang ia bawa dan memasukan USB yang dibawa Catherin ke dalam


laptop.


“Jadi sejak kapan kamu ada di kota ini?”


tanya Aiden.


“Sekitar 3 tahun yang lalu,” jawab Catherin.


“Apa yang kamu kerjakan? Kamu sudah menikah?”


tanya Aiden.


“Apa buktinya sudah jelas?” tanya Catherin yang


menjawab pertanyaan Aiden dengan pertanyaan. Jelas sekali Catherine tidak ingin


membahas sesuatu mengenai dirinya.


Aiden memalingkan pandangannya dari layar


laptop ke wajah Catherin.“Sudah, aku akan memeriksanya kembali di kantor.”


“Aku harap kamu bisa membantu memenangkan


kasus ini dan menghukum tersangka dengan hukuman yang setimpal,” seru Catherin.


Aiden sadar, Catherin tidak lagi sama dengan


Catherin yang dulu ia kenal. Kini sosok Catherin yang berada di hadapannya


terlihat begitu dingin dan tak tersentuh. Sangat asing di mata Aiden.


“Akan aku usahakan,” seru Aiden.


“Kalau begitu tidak ada lagi yang perlu kita


bicarakan. Kalau kamu ingin bertemu


dengan Marenka, kamu bisa menghubungiku. Nomorku ada di data saksi,” ucap


Catherin yang dia angguki Aiden.


“Kalau begitu aku pergi,” seru Catherin

__ADS_1


beranjak dari duduknya.


“Cath...”


Panggilan itu menghentikan gerakan Catherin yang hendak


pergi.


“Maafkan aku... sejak lama aku ingin


mengatakan ini. Maafkan aku Catherine...”


Deg


Ekspresi Catherine terlihat berubah menjadi


muram dan terlihat marah. “Kenapa harus minta maaf? Tidak ada yang perlu di maafkan


disini,” seru Catherin dengan nada dingin.


“Tapi aku...”


“Lupakan semua itu, itu adalah kesalahan


terbesarku,” jawabnya dan beranjak pergi meninggalkan Aiden yang hanya bisa


terpaku di tempatnya.



                Aiden telah kembali ke


apartemen miliknya. Ia menyimpan jas miliknya di kepala sofa. Ia berjalan menuju dapur dan mengambil minuman dingin. Ia


membuka tutup botolnya, kemudian meneguknya, setelahnya ia kembali termenung.


                “Catherine...”


gumamnya. “Aku tidak pernah menyangka bisa bertemu kembalidenganmu.”


                Aiden menghela napasnya,


didalam hatinya masih ada rasa bersalah pada Catherine. Walau malam itu


Catherine mengatakan baik-baik saja dan menganggap semua itu tak pernah


terjadi, tetapi Aiden sungguh tidak bisa melupakannya.


                Serpihan kenangan di


malam itu kembali memenuhi kepala Aiden.


                “Setelah 5 tahun


berlalu...” Aiden kembali menghela napasnya berat.


                Sebenarnya ia telah


mulai berbenah diri dan memulai kehidupannya yang baru. Akhirnya setelah sekian


lama, ia mampu merelakan Agneta walau nyatanya sangat sulit dan bahkan hampir


membuatnya terbunuh karena rasa sesak di dadanya.


                Tetapi pertemuannya


dengan Catherine hari ini, seakan mengingatkan dirinya pada kesalahan di masa


lalu. Bahwa ada seorang wanita yang telah ia sakiti.



Aidenbaru saja sampai


di sebuah rumah sakit. Hari ini ia membuat janji temu dengan Catherine untuk


menemui Marenka yang merupakan korban dari kasus yang di laporkan oleh


                Aiden berdiri dengan


bersandar pada mobilnya, sebatang rokok tersalip indah di bibirnya dan sebelah


tangannya di masukan ke dalam saku celananya. Ia tampak tampan dengan setelan


jas berwarna abu itu.


                Ia menghisap rokoknya


dan mengepulkan asapnya. Pandangannya yang tajam menatap ke depan dan


mengabaikan setiap tatapan memuja dari beberapa wanita yang berlalu


lalangdan terang-terangan memperhatikannya.


                Sebuah mobil sport


berwarna putih tiba di sana dan terparkir indah tak jauh dari Aiden. Tak lama,


sang pemilik mobil itu menuruni mobilnya. Ia menoleh ke arah Aiden hingga


tatapan mereka beradu.


                Pemilik mobil tersebut


tak lain adalah Catherine. Ia terlihat begitu cantik dan anggun mengenakan


dress berwarna merah.


                Catherine berjalan


mendekati Aiden yang masih menatap dirinya.


                “Hai,” sapa Catherine.


“Sudah lama menunggu?”


                “Emm lumayan,” jawab


Aiden membuang rokoknya, kemudian menginjaknya. “Ayo masuk.”


                Aiden berjalan


terlebih dulu meninggalkan Catherine yang memperhatikan punggung lebarnya.


Catherine memandang Aiden dengan tatapan yang tidak bisa di baca. Kemudian ia


menghela napas panjang dan berjalan mengikuti Aiden.


                “Sejak kapan temanmu


ini menerima perlakuan kasar dari suaminya ini?” tanya Aiden saat mereka


berjalan menyusuri lorong rumah sakit.


                “Sudah 2 tahun


lamanya, ia baru bisa berani melaporkannya sekarang,” jawab Catherine.


                “Apa ada faktor


tertentu hingga membuat suaminya bertindak kasar padanya?” tanya Aiden.


                “Dia menikahi pria


yang tidak mencintainya. Mereka terpaksa menikah karena sebuah perjodohan. Dan


suaminya itu masih mencintai mantan kekasihnya. Dia mulai berlaku kasar dan


temperamen pada Marenka sejak mantan kekasihnya itu menikah dengan pria lain.”


                “Jadi suaminya ini

__ADS_1


melampiaskan rasa sakit hatinya dengan menyiksa Marenka?” tanya Aiden.


                “Hmmm begitulah.


Marenka tidak boleh melakukan sedikit saja kesalahan, kalau sampai itu terjadi


maka siksaan yang dia dapatkan. Bahkan dalam berhubungan intimpun, suaminya


masih menyiksa Marenka, bahkan terus memanggil nama mantan kekasihnya saat


melakukannya. Membuat Marenka sangat terluka luar dandalam.”


                Ucapan Catherine


barusan menghentikan langkah Aiden.


                Catherine yang sudah


berjalan dua langkah di depan Aiden menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah


Aiden.


                “Ada apa?”


                “Tidak apa-apa,” jawab


Aiden segera merubah raut wajahnya kembali menjadi datar. “Ayo kita temui


Marenka.”


                Mereka berjalan


bersama menyusuri lorong rumah sakit yang tidak begitu ramai. Kali ini mereka


berdua memilih diam dan fokus pada pikiran masing-masing.


                Sesampainya di sebuah


ruangan, terlihat seorang wanita dengan wajahnya masih terdapat beberapa luka


dan membiru. Iatengah duduk bersandar


di atas brankar. Wanita itu melihat ke arah mereka berdua.


                “Ren, ini adalah Mr.


Aiden, pengacara kamu,” seru Catherin.


                “Selamat siang, Mrs.


Marenka.”


                “Selamat siang, Mr.


Aiden.”


                “Luka ini-?” ucapan


Aiden menggantung di udara saat melihat kondisi Marenka.


                “Ini adalah perbuatan suamiku,”


serunya dengan nada serak seakan ingin menangis.


                Aiden menekan tombol


alat perekam dari pennya yang ada didalam saku jas yang ia gunakan.


                Marenka terlihat


menangis terisak seraya menjelaskan semua kejadian yang menimpa dirinya.


Semuanya ia katakan tanpa ada yang terlewatkan.


                “Begitu yah,” gumam


Aiden yang sudah duduk di kursi  yang


berada di sisi brankar. “Sejak kapan suamimu melakukan kekerasan ini?” tanya


Aiden.


                “Sejak kami menikah,


dia sudah menyiksaku. Selain itu juga, dia suka berjudi dan selalu membawa


wanita ke rumah tanpa memperdulikanku lagi. Apalagi menghargai ku sebagai


seorang perempuan.”


                Marenka semakin


menangis setiap menceritakan kejadian pahit yang menimpanya.


                “Sepertinya informasi


ini sudah cukup,” seru Aiden. “Aku akan berusaha membantumu memenangkan kasus


ini dan menjebloskannya ke dalam penjara.”


                “Terima kasih, Mr.


Aiden.”


                “Sama-sama,” seru


Aiden terlihat tersenyum.


                ----


                Saat ini Aiden dan


Catherin telah meninggalkan ruangan Marenka. Saat ini mereka telah berada di


parkiran basement.


                “Apa kamu masih


membutuhkan bukti lainnya lagi?” tanya Catherin.


                “Aku rasa sudah cukup,


kita hanya perlu menang dalam persidangan nanti. Oh iya, kalau bisa minta


pembantu di rumahnya untuk menjadi saksinya,” seru Aiden.


                “Baiklah, apa perlu


saksi lainnya?” tanya Catherin.


                “Tidak, kamu dan dia


sudah cukup. Di tambah bukti-bukti ini, semuanya sudah jelas dan aku yakin dia


akan menerima hukuman yang setimpal,” seru Aiden yang di angguki Catherin.


                “Sekarang kamu akan ke


mana?” tanya Aiden setelah mereka terdiam sesaat.


                “Aku mau pulang, masih


ada pekerjaan. Kalau wawancara ini sudah selesai, aku pergi. Sampai bertemu di


persidangan nanti, Mr. Aiden.” Seru Catherin masih dengan nada dingin dan formal. Ia berlalu pergi meninggalkan Aiden menuju


mobilnya.


                Aiden hanya diam


menatap punggung Catherin yang menjauh.

__ADS_1



__ADS_2