Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 4


__ADS_3

“Jasmine, lain kali kalau bertemu lagi dengan Uncle itu, kamu menghindarlah


dan cepat pergi,” seru Catherin saat mereka telah sampai di rumah.


                “Kenapa Mom? Uncle itu


baik kok sama Mine,” seru Jasmine.


                “Pokoknya turuti saja kata-kata Mommy.Jangan bicara dengan orang asing. Kamu paham?” seru Catherin.


                “Yes Mom,” seru Jasmine.


                “Sekarang pergilah ke


kamarmu dan mandi,” seru Catherin yang di angguki Jasmine.


                Jasmine walau masih


sangat kecil, usianya bahkan belum genap 5 tahun tetapi dia begitu pintar dan


sudah masuk sekolah. Bahkan dia begitu mandiri. Catherin memang tidak bisa


selalu bersamanya setiap saat karena tuntutan pekerjaan.


                “Mouli,” seru Catherin


pada wanita paruh baya itu. “Ke depannya jangan sampai Jasmine lepas dari


pandanganmu. Dan kalau pria yang selalu


di sebut Uncle tampan itu datang menghampirinya, segera kamu bawa Jasmine


pergi.”


                “Baik Nyonya,” seru


Mouli.


                Catherin berjalan


masuk ke dalam kamarnya. Ia menghela napasnya. Sekuat apapun dia menyembunyikan


Jasmine, akhirnya Aiden bertemu dengannya juga. Apa ini memang sudah suratan


takdir?


                Tetapi Catherin akan


berusaha menutupi apa hubungan Jasmine dengan Aiden. Untuk saat ini hanya


Jasmine lah pelipur laranya, ia tidak ingin Aiden merebut Jasmine dari dirinya.


                5 tahun yang lalu,


setelah kejadian malam itu Catherin berusaha melupakannya dan menyibukkan


dirinya sendiri dengan berbagai kegiatan dan pekerjaan. Tetapi sebulan berlalu


sebuah fakta mencengangkan, dimana dirinya positif tengah mengandung. Seorang janin tumbuh didalam rahimnya. Anak yang bahkan


tidak tau apapun mengenai apa yang terjadi dengan Ibu juga Ayah biologisnya. Anak


yang tidak berdosa.


                Setelah mengetahui


dirinya mengandung, Catherin memutuskan pergi dan mengasingkan dirinya,


bersembunyi dari Aiden. Ia tidak ingin bertemu kembali atau berhubungan lagi


dengan Aiden. Tetapi ternyata takdir sudah merencanakan hal lain. Kini Aiden


telah bertemu dengan Jasmine. Apa yang akan terjadi kalau Aiden sampai


mengetahui kalau Jasmine adalah putri kandungnya.



                “Jadi kamu bertemu


lagi dengannya?” tanya Harry menuangkan wine ke dalam gelas berkaki.


                Saat ini Aiden tengah


berada di klab milik Harry dan mereka duduk bersama di atas sofa yang ada di


ruangan kerja Harry.


                “Ya, aku nggak nyangka


bisa bertemu lagi dengannya setelah 5 tahun berlalu,” seru Aiden menerima gelas


wine dari Harry dan meneguknya begitu juga Harry.


                “Bagaimana reaksinya?


Apa sekarang kalian menjalin hubungan kembali?”


                “Hanya dalam mimpi,”


jawab Aiden. “Dia berbeda dan berubah. Dia bukan lagi wanita yang dulu aku


kenal,” seru Aiden menerawang ke depan.


                “Ck, paling dia hanya


menjaga egonya saja karena gengsi. Kamu kayak nggak paham perempuan saja,” ucap


Harry meneguk minumannya dengan santai. “Kamu hanya perlu berusaha sedikit


merayunya, lama kelamaan juga dia akan luluh sendiri."


                “Tidak Har, aku rasa


ada sesuatu yang membuatnya enggan berhubungan lagi denganku.” Aiden menghela napasnya


dan melihat ke arah Harry. “Dia bukan perempuan kebanyakan yang mudah di rayu.”


                “Kamu sangat


mengenalnya,” seru Harry.


                “Ya, aku tau dia bukan


seperti perempuan kebanyakan,” ucap Aiden.


                “Lalu apa langkahmu


selanjutnya?”


                “Emm entahlah. Mungkin

__ADS_1


kami tidak akan pernah bertemu lagi. Tapi mengetahui dia baik-baik saja, itu


sudah cukup membuatku tenang,” seru Aiden meneguk minumannya.


                “Ini nih, ini


kekurangan kamu, Aiden. Karena sikapmu yang seperti ini membuat wanitamu di


rebut pria lain,” seru Harry membuat Aiden mengernyitkan dahinya bingung.


                “Jangan menyerah gitu aja, perjuangin cinta kamu. Ayolah, bermain


sedikit saja buat dapetin hatinya lagi,” seru Harry terlihat gemas sendiri.


                “Catherin bukan


kekasihku, dia hanya-“ ucapan Aiden menggantung di udara.


                Catherin itu apa bagi


Aiden sebenarnya? Kalau memang sahabat atau teman, apa hubungannya sampai harus


seintim itu. Tetapi kejadian malam itu sungguh di luar dugaan.


                Aiden menghela napasnya.


“Sudahlah jangan di bahas lagi.”


                “Baiklah lupakan


Catherinmu itu. Sekarang untuk percobaan


bagaimana kalau kamu dekati si Lala. Dengan hanya sapaanmu saja dia sudah akan


menyerah di atas ranjangmu.”


                “Ck, aku tidak


tertarik,” seru Aiden tampak enggan.


                “Come on Aiden. Sampai kapan kamu akan menjadi seperti manusia


alim yang tidak menyentuh perempuan? Kau masih normal, bukan?” tanya Harry.


“Apa jangan-jangan kamu-?“ Harry sedikit


mundur dengan menyilangkan tangannya di dada.


                “Berengsek! Aku belum


se-frustasi itu,” jawab Aiden terkekeh kecil.


                “Wait! Kamu terkekeh?” seru Harry tampak `kaget.


                “Memangnya ada yang


salah?” tanya Aiden.


                “Kamu sehat,bukan? Apa kamu kerasukan roh halus atau sejenis vampir?”


seru Harry.


                “Come on Harry! Ekspresimu konyol sekali.” Aiden masih tersenyum


seraya meneguk minumannya.


                “Aku mengenalmu berapa


ganteng!”  seru Harry membuat Aiden


semakin tertawa.


                “Apa kamu sedang


mencoba merayuku, Har?” seru Aiden hanya bisa menggelengkan kepalanya.“Sayangnya aku tidak tertarik.”


                “Ck sayang sekali


punya aset spesial buat luluhin para wanita, tapi nggak kamu gunain dengan


baik,” keluh Harry. “Si Catherin itu memang berpengaruh besar padamu.”


                Aiden tidak


menjawabnya lagi dan hanya fokus menikmati wine nya. Mengabaikan Harry yang


terheran-heran.



Catherinbaru saja masuk


ke dalam ruangan miliknya diikuti sekretaris pribadinya.


“Ada berita terbaru?” tanya Catherin


menyimpan tas brandednya di sisi meja kerjanya kemudian ia duduk di atas kursi


kebesarannya.


Sekretaris wanita yang tengah memeluk berkas


di dadanya itu berjalan lebih dekat ke meja kerja Catherin.


“Siang nanti pengacara perusahaan pengganti


Mr. Branden akan datang,” seru sekretaris bernama Hellen itu.


“Baiklah Helen, tolong bawakan berkas berkas


yang perlu saya tanda tangani,” seru Catherin.


“Baik, Bu.”


Wanita bernama Hellen itu berlalu


meninggalkan Catherin seorang diri.


Terlihat di papan meja itu tertulis jelas


nama Catherin.


Catherina William


Director


Catherin mulai menandatangani beberapa berkas


yang di serahkan oleh Hellen barusan. Seraya menatap ke laptopnya  mengerjakan sesuatu.


__ADS_1


                “Permisi Mrs.


Catherin. Pengacara yang di utus Mr. Branden sudah datang,” seru Hellen di


ambang pintu.


                “Baiklah, minta dia


masuk,” jawab Catherin tanpa menoleh dan tetapfokus pada laptopnya.


                Setelah cukup lama, ia


mendengar suara langkah pelan nan teratur.


                “Silakan Mr.”


Terdengar suara Hellen dan tak lama suara pintu di tutup.


                “Good Afternoon, Mrs. Catherin,” seruan itu membuat Catherin menoleh


ke sumber suara dan seketika pupil matanya melebar.


                “Aiden?”


                Pria itu adalah Aiden


yang kini terlihat tersenyum ke arah Catherin dan berjalan mendekati Catherin


yang sudah beranjak dari duduknya.


                “Bukankah ini sebuah


takdir? Saat kamu ingin memutuskan hubungan dan tidak ingin bertemu kembali


denganku. Takdir malah berkhianat


dan membuat kita semakin dekat dengan status rekan kerja,” seru Aiden dengan


santai.


                Catherin memalingkan


wajahnya seraya menghirup udara untuk menenangkan dirinya.


                “Silakan duduk, Mr.


Aiden,” seru Catherin seraya kembali duduk di kursi kebesarannya.


                Aiden mengambil duduk


di atas kursi yang berhadapan dengan Catherin.


                “Jadi sekarang tuan


putri sudah turun tangan ke dunia bisnis,” seru Aiden.


                “Aku tidak menyangka


Mr. Branden memilihmu untuk menjadi penggantinya,” seru Catherin. “Tetapi


kehebatanmu memang tidak dapat di ragukan lagi.”


                “Apa kamu tidak


percaya dengan takdir?” tanya Aiden.


                “Sama sekali tidak.Dan aku tidak tertarik membahasnya,” jawab Catherin dengan


nada dingin membuat Aiden tersenyum kecil.


                “Kamu tidak bisa terus


menyembunyikan diri dariku. Ternyata kamu belum berubah, tetap tuan putri yang


galak,” seruan Aiden membuat Catherin menatapnya hingga tatapan mereka berdua


terpaut satu sama lainnya.


                “Baiklah kita mulai


bahas pekerjaan dan beberapa aturan di perusahaan ini,” seru Catherin


memalingkan tatapannya.


                Dan merekapun mulai


membahas tentang pekerjaan.



                Catherin baru saja


keluar dari kantornya dan sebuah mobil berhenti di depannya saat ia keluar dari


lobby kantor. Tak lama seorang pria tampan menuruni mobil dan berjalan


mendekati Catherin yang berdiri di dekat mobilnya.


                “Hai Cath,” seru pria


itu.


                “Robert? Kenapa kamu


di sini?” tanya Catherin.


                “Apa lagi kalau bukan


menjemputmu. Ayo pulang,” seru pria bernama Robert itu.


                “Tidak, aku bawa mobil


sendiri,” jawab Catherin dengan nada dingin.


                “Tinggalkan saja


mobilmu di sini, dan kamu ikut denganku,” seru pria itu.


                “Tapi kan-“


                “Ayolah Cath.” Robert


menarik pergelangan tangan Catherin dan membawanya masuk ke dalam mobilnya.


                Tak jauh dari mereka,Aiden terlihat hendak keluar dari kantor juga dengan dua


orang pria paruh baya. Tatapan Aiden tertuju pada Catherin yang dibawa oleh


seorang pria dengan mobil miliknya.


__ADS_1


__ADS_2