Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 3


__ADS_3

Pengadilan....


Aidenmasih sibuk didalam


ruangan pribadi yang berada di sisi ruang persidangan. Ia tengah mempersiapkan


segala bahan ke dalam map untuk di bahas nanti.


                Ketukan pintu


terdengar dan suara pintu terbuka membuatnya menoleh.


                “Catherin,” gumamnya


saat melihat sosok wanita cantik itu yang mendorong kursi roda dimana Marenka


duduk di sana.


                Terlihat Catherin


memalingkan pandanganya ke arah lain untuk menghindari beradu tatapan dengan


Aiden. Kini tatapan Aiden tertuju pada Marenka.


                “Bagaimana keadaan


anda, Mrs. Marenka?” tanya Aiden.


                “Aku sudah merasa


lebih baik,” jawab Marenka.


                “Apa anda sudah siap


menghadapi persidangan ini dan bertemu kembali dengan suami anda?” tanya Aiden.


                “Aku tidak tau, tetapi


aku akan berusaha tetap tenang berhadapan dengannya,” jawab Marenka.


                “Didalam nanti akan


banyak hal di perdebatkan, mungkin juga suami anda memutar balikan fakta dan


memojokkan anda. Saya harap anda bisa bekerja sama dengan saya, anda hanya


cukup diam saja dan percayakan segalanya padaku.”


                Marenka menganggukkan


kepalanya.


                “Emm, Cath bisa kita


bicara sebentar,” seru Aiden kali ini menatap ke arah Catherin.


                “Baiklah.”


                Catherin berjalan


mengikuti Aiden keluar ruangan.


                “Bagaimana hasil


pemeriksaan Dokter mengenai mental Mrs. Marenka?” tanya Aiden.


                “Semuanya baik-baik


saja, maka dari itu Dokter membiarkannya keluar dari rumah sakit,” seru


Catherin.


                “Apa kamu membawa


hasil pemeriksaan Dokter psikolog, seperti yang aku minta?” tanya Aiden.


                “Ada,” seru Catherin


mengeluarkan sebuah amplop putih dari dalam tasnya. “Sebenarnya hasil itu untuk


apa? Bukankah hasil medis dari Dokter yang menangani Marenka sudah ada.”


                “Hanya untuk jaga-jaga


saja, takutnya tersangka menuduh Marenka mengalamigangguan mental.”


                Catherin hanya ber-oh saja mendengar seruan dari Aiden.


                “Makasih karena kamu


sudah membantuku,” seru Aiden membuat Catherin merasa tak nyaman. Ia


memalingkan wajahnya dan melihat ke arah lain untuk menghindari tatapan Aiden.


                “Tidak perlu berterima


kasih, aku melakukan ini hanya untuk keadilan temanku, bukan untukmu.” Catherin


menjawab dengan begitu dingin membuat Aiden tersenyum kecil.


                “Setidaknya terima


kasih karena sudah membantu meringankan pekerjaanku,” serunya.


                Aiden kemudian


berjalan melewati tubuh Catherin dan masuk kembali ke dalam ruangan.



                Proses persidangan


begitu menegangkan, apalagi terlihat pengacara dari tersangka terus mengelak tuduhan yang di laporkan istrinya,


juga bukti-bukti yang di serahkan oleh Aiden.


                “Hakim, saya telah


membawa saksi.” Seru Aiden.


                “Di persilakan.”


                Aiden meminta Catherin


untuk maju ke depan dan memberi keterangan.


                Pengacara dari


tersangka terus memberi beberapa pertanyaan kepada Catherin dan sedikit


memojokkannya.


                “Nona Catherin, apa


yang anda ketahui mengenai hubungan suami istri, anda saja tidak memiliki


suami, bukan?”


                “Mr. Aundrey, saya


rasa pertanyaan anda melenceng dari permasalah inti,” seru Aiden berusaha


melindungi Catherin.“Nona Catherin mau sudah menikah atau belum, itu tidak ada


hubungannya.”


                “Ada hubungannya, Mr.


Aiden. Menurut keterangan dari client saya, nona Catherin ini sering datang ke rumah dan menghasut Nyonya Marenka


dalam segala hal, sehingga membuat Nyonya Marenka melawan pada client kami. Nyonya Marenka menjadi


tidak bisa di atur dan sering pulang larut malam dan kadang tidak pulang


pulang. Nona Catherin kehidupanmu begitu bebas, kenapa harus membawa Nyonya Marenka ke dalam duniamu,padahal Nyonya memiliki seorang suami.”


                Catherin mengernyit


mendengar seruan dari pengacara tersangka, jelas-jelas mereka berusaha


memfitnah Catherin.


                “Mr. Audrey, setiap


apa yang anda katakan apa ada buktinya?” tanya Aiden berusaha melindungi dan


membela Catherin. “Jangan lupasetiap ucapan itu perlu di

__ADS_1


pertanggungjawabkan. Kalau anda tidak bisa membuktikannya, itu bisa menjadi sebuah fitnah dan tuduhan pada saksi saya.


Dan anda jelas tau, pasal berapa dan apa hukumannya untuk orang yang menuduh orang


lain tanpa bukti. Bukankah itu sama saja dengan pencemaran nama baik,” seru


Aiden membuat Audrey bungkam dan kesal.


                “Hakim, saya rasa


keterangan dari Nona Catherin sudah cukup,” seru Aiden.


                “Baiklah, anda boleh


kembali ke tempat,” perintah Hakim membuat Catherin kembali ke tempat duduknya


dengan kesal.


                Persidangan terus


berlangsung, Catherin terus menatap Aiden di depan sana. Entah kenapa hatinya menghangat


dan tersentuh dengan pembelaan dari Aiden tadi.


                Ketuk palu sang hakim


terdengar, dengan putusan hukuman untuk tersangka. Aiden sungguh memenangkan


kasus ini dan membuat tersangka mendapatkan hukuman. Rasa senang Marenka sangat


membuncak. Ia berpelukan dengan Catherin dengan perasaan lega.


                “Akhirnya Cath, aku


bisa terlepas dari siluman itu,” seru Marenka membuat Catherin tersenyum lega.


Tatapannya tertuju pada Aiden yang terlihat membereskan semua berkasnya.


                ‘Terima kasih, Aiden...’


                Seseorang yang duduk


tak jauh dari mereka menatap penuh dendam dan kebencian ke arah Catherin dan


Marenka.


                ---


                Aiden mengantar


Catherin dan Marenka keluar dari pengadilan dan sudah berada di sisi mobil


Catherin.


                “Terima kasih banyak,


Mr. Aiden.” Seru Marenka dengan perasaan penuh kelegaan. “Akhirnya kini aku


bisa melanjutkan hidup dengan tenang.”


                “Sama-sama, Mrs.


Marenka. Ini sudah tugas saya,” jawab Aiden.


                “Kalau begitu kami


pergi dulu,” seru Marenka.


                Marenka menaiki mobil


di bantu Catherin dan Aiden. Aiden menyimpan kursi roda yang sudah di lipat ke


dalam bagasi mobil dan menutupnya. Catherin tampak menghampirinya.


                “Mengenai pembelaanmu


tadi, terima kasih,” seru Catherin.


                “Tidak masalah, sudah


seharusnya aku melakukan itu,” seru Aiden tersenyum.


                Untuk kedua kalinya


Aiden tersenyum tulus dari hati kepada seseorang. Pertama pada gadis kecil


hati Aiden tenang dan hangat.


                “Baiklah, aku pergi.”


                “Cath-“ Aiden menahan


lengan Catherin yang hendak melangkah. Tatapan Catherin tertuju pada pegangan


tangan Aiden di lengannya membuat Aiden melepaskannya.


                “Apa setelah ini, kita


masih bisa bertemu dan berteman seperti dulu?” tanya Aiden.


                Raut wajah Catherin


berubah menjadi keras dan kembali menunjukkan ekspresi datarnya.


                “Maaf, tapi aku tidak


tertarik untuk berhubungan kembali denganmu. Aku harap setelah ini, kita tidak


akan pernah bertemu lagi.” Ucapan Catherin barusan membuat Aiden terpaku.


                “Terima kasih Mr.


Aiden karena sudah membantu banyak hal kepada kami. Mengenai pembayaran jasa


anda, saya akan menghubungi sekretaris anda. Permisi,” seru Catherin kembali


datar nan dingin.


                Ia melangkahkan


kakinya masuk ke bagian pengemudi dan tak lama mobilnya bergerak dan


meninggalkan tempat itu.


                ‘Kenapa kamu bersikap seperti


ini lagi padaku...?’ batin Aiden menatap mobil yang semakin menjauh.


                Tak ada yang tau akan


takdir kehidupan. Saat mereka memutuskan tidak akan pernah bertemu kembali,


tetapi takdir telah merencanakan hal lain di depan sana.



Aidenduduk di kursi


kebesarannya. Ingatannya melayang ke masa lalu dimana dirinya menghabiskan


waktu bersama Catherin. Gadis yang begitu ceria, cerewet, kasar dan tampil apa


adanya walaupun dia seorang nona dari keluarga milyader, tetapi sikapnya begitu


polos dan tidak sombong. Aiden begitu nyaman berteman dengannya walau tak lama


mereka saling mengenal dan berteman.


                Catherin mampu


membuatnya melupakan rasa sakit juga kekesalan didalam hatinya. Bahkan mereka


pernah kabur bersama menghindari para bodyguard Catherine dan bersembunyi di


atap sebuah gedung kosong. Di sana mereka membahas banyak hal, bermain kartu


dan tertawa bersama.


                Tetapi sekarang


Catherin telah berubah. Catherin yang sekarang bukan lagi Catherin yang dulu ia


kenal. Entah apa yang membuatnya menjadi berubah 180 derajat seperti ini. Apa


semua karena kesalahannya di masa lalu?


                Saat itu Aiden juga

__ADS_1


tidak ingat apa yang terjadi di malam itu, karena dirinya dalam kondisi mabuk.


Tetapi saat ia sadar dan menemukan Catherin di sampingnya membuatnya menyadari


kalau dia telah menyakiti temannya itu.


                Dan satu hal yang baru


Aiden ketahui juga di hari itu. Bahkan dirinya yang pertama untuk Catherine.


                Aiden ingin meminta


maaf pada Catherin, tetapi sayangnya ia begitu sulit menemukan keberadaan


Catherin. Catherin sengaja menghindari dirinya.



                Di sisi lain Catherin


tengah duduk dengan memegang mug berisi greentea kesukaannya. Ia duduk di atas


kursi pantry menatap nyalang ke depan.


                Ingatannya kembali ke


kejadian kemarin dimana Aiden membela dirinya dan berusaha melindunginya.


Sebenarnya hati Catherin begitu tersentuh dan menghangat karena pembelaan itu.Ada


rasa sakit di hati Catherin saat ingatannya menerawang ke masa lalu, tetapi ia


juga tidak bisa menyalahkan Aiden akan hal ini. Dirinya sendirilah yang


bersalah, Catherin tau, bersama Aiden


seperti buah simalakama. Tetapi Catherin


tetap saja jatuh ke dalam lubang itu, membawa juga hatinya. Catherin tak


berdaya saat itu, iya juga tidak bisa menahan hatinya yang begitu saja jatuh ke


dalam pesona Aiden, sampai malam itu. Dirinya yang tidak berpikir panjang,


menyerahkan segalanya atas dasar cinta walaupun cintanya tak terbalaskan.


Tetapi ternyata rasanya begitu sangat amat menyakitkan dari cintanya yang tak


terbalaskan itu.


                Catherin bukan hanya


merasakan patah hati, tetapi juga hancur hati dan tubuhnya.


                Aiden....


                Catherin telah


bersumpah, ia tidak ingin mengenal nama itu lagi apalagi sampai memiliki


hubungan dengannya. Catherin takut, dia takut terjebak untuk kedua kalinya.


Aiden itu bagaikan buah simalakama.



                Siang itu Aiden yang


sedang menyetir mobil, tak sengaja melihat sosok Jasmine yang sedang duduk di


dekat sebuah bangunan tinggi sendirian.


                Aiden meminggirkan


mobilnya dan turun dari mobil. Ia berjalan menghampiri gadis kecil itu.


                “Hallo Mine,” sapanya


membuat Jasmine menengadahkan kepalanya.


                “Uncle tampan...”


serunya sangat senang.


                “Sedang apa di sini?”


tanya Aiden.


                “Aku sedang menunggu


Mommy menjemputku,” jawabnya.


                “Ibu angkatmu yang


waktu itu?” tanya Aiden.


                “Bukan, ini Mommy ku.


Kalau Ibu angkat hanya pengasuhku saja,” jawabnya membuat Aiden mengangguk.


                “Mommy kamu sedang ke


mana?” tanya Aiden.


                “Bekerja, aku baru


pulang latihan tari balet, dan Mommy biasa jemput aku disini,” serunya dengan


nada lucu.


                Aiden mengangguk


paham.


                “Eh Mommy datang,”


seru Jasmine saat melihat sebuah mobil dari kejauhan.


                Aiden hendak berbalik


ikut melihat tetapi handphone nya berdering. Ia mengurungkan niatnya untuk


menoleh dan mengangkat sambungan telpon.


                “Jasmine, Uncle harus


pergi sekarang. Mommy kamu sudah datang,kan?” seru Aiden.


                “Sudah Uncle,” jawab


Jasmine.


                “Baiklah kalau begitu


Uncle pergi dulu yah,” seru Aiden mengusap kepala Jasmine dan beranjak menuju


mobilnya kemudian meninggalkan tempat itu.


                Selang satu menit dari


kepergian Aiden, sebuah mobil berhenti di depan Jasmine. Jasmine segera


beranjak dari duduknya.


                “Mommy...” serunya


sangat bahagia seraya menaiki mobil.


                Wanita didalam mobil


itu adalah Catherin. Iamenatap ke depan


dimana mobil tadi melaju meninggalkan tempat itu.


                “Siapa yang berbicara


denganmu tadi?” tanya Catherin saat Jasmine sudah duduk di kursi penumpang di


sampingnya.


                “Oh itu Uncle tampan


yang waktu itu aku ceritain ke Mommy,” serunya dengan polos.


                ‘Aiden....!’ batinnya. ‘Apa


ini takdir...?’

__ADS_1



__ADS_2