
Aiden berdiri di taman yang berada di dekat rumah sakit, ia menatap nyalang ke depan, lampu-lampu tampak indah di sana. Malam tanpa bintang menyelimuti kota N dengan cuaca yang
sangat dingin. Salju masih setia menghujani kota N.
Aiden memejamkan matanya mengingat perkataan Dokter sebelumnya yang menyebutkan golongan darah dari Jasmine.
Ternyata Jasmine adalah putri biologisnya yang bahkan tidak ia ketahui. Pantas saja saat pertama kali bertemu dengannya, ia merasa begitu familiar dan ada perasaan hangat yang
mengaliri hatinya.
‘Kenapa Catherine begitu tega menyembunyikan fakta
sebesar ini.’ Batin Aiden.
Bagaimana kalau Aiden
tidak melihat mereka berdua tadi. Mungkin selamanya ia tidak akan mengetahui
fakta mengenai Jasmine.
Jasmine adalah
putrinya.
Air mata Aiden luruh
membasahi pipinya. Hatinya merasa sangat terharu dan tak menyangka, ternyata ia
masih memiliki keluarga. Setidaknya ia memiliki alasan penting untuk tetap
hidup.
----
Di sisi lain,
Catherine duduk di sisi tubuh Jasmine yang terkulai tak sadarkan diri di atas brankar.
Ia menatap wajah tenang dan lelap putri kesayangannya itu. Di ambilnya tangan
Jasmine dan ia memegangnya dengan lembut.
“Akhirnya keinginanmu
terkabul, Mine. Uncle tampan adalah Daddy mu,” gumam Catherine dengan air mata
yang luruh membasahi pipi.
Catherine memikirkan
apa yang akan terjadi ke depannya. Akankah Aiden membawa pergi Jasmine darinya.
Catherine masih
mengingat ekspresi kecewa dari Aiden tadi. Ia menjadi merasa sangat bersalah
pada Aiden. Mungkin ia memang sudah sangat menyakiti Aiden.
Kamu membuatku menjadi seorang
yang lebih berengsek dari Davero. Aku membencinya karena ia tega menelantarkan
wanita yang sedang mengandung anaknya. Tapi alasan Dave lebih bisa di terima di
banding aku. Aku jelas jauh lebih berengsek darinya...
Kata-kata Aiden terus saja terngiang di
telinganya membuatnya semakin merasa begitu bersalah.
Catherine beranjak dari duduknya dan berjalan
menuju jendela besar yang menjadi pembatas dinding di sana. Ia menatap keluar
dimana salju masih turun dan lampu-lampu kota begitu terlihat indah.
Ꙭ
Pagi-pagi Evelyn
datang dengan sangat tergesa dan masuk ke dalam ruangan Jasmine.
“Mine, Catherine.”
Catherine menoleh ke
sumber suara, ia baru terbangun dari tidurnya yang tidur di sofa ruangan tempat
Jasmine di rawat.
“Kamu datang,” ucap
Catherine mengusap kedua matanya. Tatapannya tertuju pada Jasmine yang belum
sadarkan diri.
__ADS_1
“Bagaimana ini bisa terjadi?”
tanya Evelyn berjalan mendekati brankar Jasmine diikuti Catherine.
“Aku juga tidak tau.
Kemarin saat aku mengantarnya ke sekolah, tiba-tiba saja seorang pria
mendekatinya dan langsung menusuknya.”
“Terus apa sudah lapor
polisi?” tanya Evelyn.
“Sudah. Tapi jejaknya
sulit di temukan.”
“Ya Tuhan. Mine
sayang, malang sekali. Siapa sebenarnya orang yang ingin mencelakai anak kecil
seperti Mine. Tega sekali,” seru Evelyn mengusap kepala Jasmine.
“Lalu apa kata Dokter?
Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Evelyn.
“Kemarin dia melakukan
operasi. Dan katanya sudah melalui masa kritisnya,” seru Catherine. “Semua ini
berkat dia. Kalau tidak ada dia, mungkin Mine tidak bisa tertolong,” ucap
Catherine menatap sendu Mine.
“Dia? Siapa dia?”
tanya Evelyn mengernyitkan dahinya.
“Ayah biologisnya Jasmine,”
ucap Catherine dengan tenang membuat Evelyn menoleh ke arahnya dengan kaget.
“Pria berengsek itu?
Dimana dia sekarang? Aku akan memberi dia pelajaran. Enak saja datang begitu
saja setelah meninggalkan dan menelantarkan kalian berdua hanya karena dia nggak
“Sudah aku katakan,
ini bukan salah dia,” jelas Catherine berjalan menjauhi brankar dan duduk di
atas sofa diikuti Evelyn.
“Bagaimana bukan salah
dia. Jelas-jelas dia menelantarkan kalian!” seru Evelyn.
“Aku yang salah Eve.
Aku yang memilih pergi darinya. Bahkan
saat mengetahui kebenaran kalau Jasmine adalah anak biologisnya, dia sangat
marah padaku,” seru Catherine mengingat kejadian semalam saat Aiden marah besar
padanya.
“Ck, kenapa hubungan
kalian rumit sekali,” seru Evelyn menghela napasnya. Ia tidak memahami hubungan
Catherine dengan pria yang merupakan Ayah biologisnya Mine.
“Baiklah, aku akan
belikan sarapan untukmu. Kamu tunggu di sini,” seru Evelyn beranjak pergi
meninggalkan Catherine seorang diri.
----
Selang 20 menit dari
kepergian Evelyn, Aiden masuk ke dalam ruangan Jasmine.
“Bagaimana keadaannya?
Apa dia sudah siuman?” tanya Aiden membuat Catherine mengangkat kepalanya
menatap ke sumber suara.
Ia sedikit canggung
__ADS_1
saat melihat Aiden berdiri di depannya menatap ke arah Jasmine. Pakaiannya
masih sama seperti kemarin. Ternyata Aiden tidak pulang. Mungkin Aiden sengaja
menghindari dirinya.
“Dia belum sadar,”
jawab Catherine.
Aiden berjalan
mendekati brankar dan sedikit menunduk. Ia mengusap kepala Jasmine, kemudian
mencium kepala Jasmine penuh sayang.
Catherine yang melihat
semua itu merasa tersentuh. Ia ingat kalau Jasmine selalu saja menanyakan
perihal Daddy nya. Bagaimana Daddy nya itu, apa dia tampan apa dia baik. Kenapa
dia meninggalkan Jasmine.
Semua itu kembali
terlintas di benak Catherine membuat air matanya tak mampu ia tahan lagi. Dia
merasa sangat jahat karena menyembunyikan semua
ini hanya karena keegoisannya. Tetapi kalau waktu itu ia berkata jujur pada
Aiden. Apa Aiden akan menerima dirinya dan mampu mencintainya? Atau hanya
sebatas tanggung jawab saja.
“Masalah kemarin aku
minta maaf. Mungkin aku terlalu kasar padamu,” ucap Aiden membuat Catherine
kini menatap ke arah Aiden dengan tatapan sendu.
Aiden kini sudah
menghadap ke arah Catherine dan menatap manik mata Catherine yang berkabut
karena air matanya.
“Aku sadar semua ini
adalah kesalahanku. Aku yang sangat pecundang dan begitu berengsek. Aku sungguh
minta maaf karena membuatmu harus menanggung semua ini,” ucap Aiden.
Catherine ingin
berbicara tetapi tetapi tenggorokannya terasa tersumbat sesuatu dan ia sulit
untuk mengeluarkan suaranya sendiri.
“Cath, aku sudah
belikan sarapan untuk- Aiden?” seru
Evelyn berdiri di ambang pintu melihat ke arah mereka berdua yang kini melihat
ke arahnya.
“Aiden, kenapa kamu
ada di sini?” tanyanya tersenyum. “Apa kamu mengenal Catherine?”
Evelyn menatap Catherine
dan Aiden secara bergantian dan perlahan senyumannya memudar.
“Aiden... Cath...”
gumamnya semakin berdebar kencang menyimpulkan sesuatu yang pasti membuatnya
akan terluka. “Jadi Aiden ini-?”
Evelyn menutup
mulutnya hingga menjatuhkan makanan yang ia bawa. Kemudian ia langsung berlalu
pergi meninggalkan ruangan itu.
“Eve...?”
Baik Aiden maupun
Catherine, keduanya sama-sama bingung.
Ꙭ
__ADS_1