Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 24


__ADS_3

Aiden berdiri di taman yang berada di dekat rumah sakit, ia menatap nyalang ke depan, lampu-lampu tampak indah di sana. Malam tanpa bintang menyelimuti kota N dengan cuaca yang


sangat dingin. Salju masih setia menghujani kota N.


Aiden memejamkan matanya mengingat perkataan Dokter sebelumnya yang menyebutkan golongan darah dari Jasmine.


Ternyata Jasmine adalah putri biologisnya yang bahkan tidak ia ketahui. Pantas saja saat pertama kali bertemu dengannya, ia merasa begitu familiar dan ada perasaan hangat yang


mengaliri hatinya.


                ‘Kenapa Catherine begitu tega menyembunyikan fakta


sebesar ini.’ Batin Aiden.


                Bagaimana kalau Aiden


tidak melihat mereka berdua tadi. Mungkin selamanya ia tidak akan mengetahui


fakta mengenai Jasmine.


                Jasmine adalah


putrinya.


                Air mata Aiden luruh


membasahi pipinya. Hatinya merasa sangat terharu dan tak menyangka, ternyata ia


masih memiliki keluarga. Setidaknya ia memiliki alasan penting untuk tetap


hidup.


                ----


                Di sisi lain,


Catherine duduk di sisi tubuh Jasmine yang terkulai tak sadarkan diri di atas brankar.


Ia menatap wajah tenang dan lelap putri kesayangannya itu. Di ambilnya tangan


Jasmine dan ia memegangnya dengan lembut.


                “Akhirnya keinginanmu


terkabul, Mine. Uncle tampan adalah Daddy mu,” gumam Catherine dengan air mata


yang luruh membasahi pipi.


                Catherine memikirkan


apa yang akan terjadi ke depannya. Akankah Aiden membawa pergi Jasmine darinya.


                Catherine masih


mengingat ekspresi kecewa dari Aiden tadi. Ia menjadi merasa sangat bersalah


pada Aiden. Mungkin ia memang sudah sangat menyakiti Aiden.


                Kamu membuatku menjadi seorang


yang lebih berengsek dari Davero. Aku membencinya karena ia tega menelantarkan


wanita yang sedang mengandung anaknya. Tapi alasan Dave lebih bisa di terima di


banding aku. Aku jelas jauh lebih berengsek darinya...


Kata-kata Aiden terus saja terngiang di


telinganya membuatnya semakin merasa begitu bersalah.


Catherine beranjak dari duduknya dan berjalan


menuju jendela besar yang menjadi pembatas dinding di sana. Ia menatap keluar


dimana salju masih turun dan lampu-lampu kota begitu terlihat indah.



                Pagi-pagi Evelyn


datang dengan sangat tergesa dan masuk ke dalam ruangan Jasmine.


                “Mine, Catherine.”


                Catherine menoleh ke


sumber suara, ia baru terbangun dari tidurnya yang tidur di sofa ruangan tempat


Jasmine di rawat.


                “Kamu datang,” ucap


Catherine mengusap kedua matanya. Tatapannya tertuju pada Jasmine yang belum


sadarkan diri.

__ADS_1


                “Bagaimana ini bisa terjadi?”


tanya Evelyn berjalan mendekati brankar Jasmine diikuti Catherine.


                “Aku juga tidak tau.


Kemarin saat aku mengantarnya ke sekolah, tiba-tiba saja seorang pria


mendekatinya dan langsung menusuknya.”


                “Terus apa sudah lapor


polisi?” tanya Evelyn.


                “Sudah. Tapi jejaknya


sulit di temukan.”


                “Ya Tuhan. Mine


sayang, malang sekali. Siapa sebenarnya orang yang ingin mencelakai anak kecil


seperti Mine. Tega sekali,” seru Evelyn mengusap kepala Jasmine.


                “Lalu apa kata Dokter?


Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Evelyn.


                “Kemarin dia melakukan


operasi. Dan katanya sudah melalui masa kritisnya,” seru Catherine. “Semua ini


berkat dia. Kalau tidak ada dia, mungkin Mine tidak bisa tertolong,” ucap


Catherine menatap sendu Mine.


                “Dia? Siapa dia?”


tanya Evelyn mengernyitkan dahinya.


                “Ayah biologisnya Jasmine,”


ucap Catherine dengan tenang membuat Evelyn menoleh ke arahnya dengan kaget.


                “Pria berengsek itu?


Dimana dia sekarang? Aku akan memberi dia pelajaran. Enak saja datang begitu


saja setelah meninggalkan dan menelantarkan kalian berdua hanya karena dia nggak


                “Sudah aku katakan,


ini bukan salah dia,” jelas Catherine berjalan menjauhi brankar dan duduk di


atas sofa diikuti Evelyn.


                “Bagaimana bukan salah


dia. Jelas-jelas dia menelantarkan kalian!” seru Evelyn.


                “Aku yang salah Eve.


Aku yang memilih pergi darinya.  Bahkan


saat mengetahui kebenaran kalau Jasmine adalah anak biologisnya, dia sangat


marah padaku,” seru Catherine mengingat kejadian semalam saat Aiden marah besar


padanya.


                “Ck, kenapa hubungan


kalian rumit sekali,” seru Evelyn menghela napasnya. Ia tidak memahami hubungan


Catherine dengan pria yang merupakan Ayah biologisnya Mine.


                “Baiklah, aku akan


belikan sarapan untukmu. Kamu tunggu di sini,” seru Evelyn beranjak pergi


meninggalkan Catherine seorang diri.


                ----


                Selang 20 menit dari


kepergian Evelyn, Aiden masuk ke dalam ruangan Jasmine.


                “Bagaimana keadaannya?


Apa dia sudah siuman?” tanya Aiden membuat Catherine mengangkat kepalanya


menatap ke sumber suara.


                Ia sedikit canggung

__ADS_1


saat melihat Aiden berdiri di depannya menatap ke arah Jasmine. Pakaiannya


masih sama seperti kemarin. Ternyata Aiden tidak pulang. Mungkin Aiden sengaja


menghindari dirinya.


                “Dia belum sadar,”


jawab Catherine.


                Aiden berjalan


mendekati brankar dan sedikit menunduk. Ia mengusap kepala Jasmine, kemudian


mencium kepala Jasmine penuh sayang.


                Catherine yang melihat


semua itu merasa tersentuh. Ia ingat kalau Jasmine selalu saja menanyakan


perihal Daddy nya. Bagaimana Daddy nya itu, apa dia tampan apa dia baik. Kenapa


dia meninggalkan Jasmine.


                Semua itu kembali


terlintas di benak Catherine membuat air matanya tak mampu ia tahan lagi. Dia


merasa sangat jahat karena menyembunyikan semua


ini hanya karena keegoisannya. Tetapi kalau waktu itu ia berkata jujur pada


Aiden. Apa Aiden akan menerima dirinya dan mampu mencintainya? Atau hanya


sebatas tanggung jawab saja.


                “Masalah kemarin aku


minta maaf. Mungkin aku terlalu kasar padamu,” ucap Aiden membuat Catherine


kini menatap ke arah Aiden dengan tatapan sendu.


                Aiden kini sudah


menghadap ke arah Catherine dan menatap manik mata Catherine yang berkabut


karena air matanya.


                “Aku sadar semua ini


adalah kesalahanku. Aku yang sangat pecundang dan begitu berengsek. Aku sungguh


minta maaf karena membuatmu harus menanggung semua ini,” ucap Aiden.


                Catherine ingin


berbicara tetapi tetapi tenggorokannya terasa tersumbat sesuatu dan ia sulit


untuk mengeluarkan suaranya sendiri.


                “Cath, aku sudah


belikan sarapan untuk-  Aiden?” seru


Evelyn berdiri di ambang pintu melihat ke arah mereka berdua yang kini melihat


ke arahnya.


                “Aiden, kenapa kamu


ada di sini?” tanyanya tersenyum. “Apa kamu mengenal Catherine?”


                Evelyn menatap Catherine


dan Aiden secara bergantian dan perlahan senyumannya memudar.


                “Aiden... Cath...”


gumamnya semakin berdebar kencang menyimpulkan sesuatu yang pasti membuatnya


akan terluka. “Jadi Aiden ini-?”


                Evelyn menutup


mulutnya hingga menjatuhkan makanan yang ia bawa. Kemudian ia langsung berlalu


pergi meninggalkan ruangan itu.


                “Eve...?”


                Baik Aiden maupun


Catherine, keduanya sama-sama bingung.


__ADS_1


__ADS_2