
Saat ini William berdiri memunggungi Catherine dengan keangkuhannya.
“Katakan kenapa kamu
membatalkan begitu saja pertunanganmu dengan Robert?” tanya William yang kini
berbalik ke arah Catherine. “Siapa pria yang ada di foto itu?”
“Aku tidak menyukai
Robert dan dia hanya ingin memanfaatkanku untuk merebut semua kekuasaan milik
keluarga kita.”
“Benarkah? Bukankah
karena kamu berselingkuh?” tanya William. “Jaga sikapmu, Catherine. Kamu ini
seorang Nona dari SR Group. Jangan mempermalukan nama baik keluarga kita!”
“Aku tidak
berselingkuh. Pria itu adalah orang yang menyelamatkanku dari penganiayaan
Robert,” seru Catherine.
“Apa? Tapi Robert
berkata kalau kamu mencampakkannya karena pria itu.”
Catherine menghela napasnya.
“Ayah, selama ini aku
selalu menurutimu. Apapun yang anda katakan, selalu saya lakukan. Apa aku harus
menipumu seperti ini? Untuk apa, apa aku memiliki alasan untuk memberontak?”
tanya Catherine membuat William menghela napasnya.
“Putriku, maafkan
Ayah.” William berjalan mendekati Catherine dan membawanya ke dalam pelukan
Ayahnya. “Maafkan Ayah karena meragukanmu. Seharusnya Ayah tidak mempercayai
bajingan sialan itu. Apa, apa dia melecehkanmu?” tanya William melepaskan
pelukannya dan menatap Catherine dengan sendu.
“Hampir, tapi itu
tidak berhasil.” Jawab Catherine. “Ayah, bisakah anda tidak menjualku lagi
untuk bisnis?”
Pertanyaan Catherine
membuat William terpaku.
“Apa yang kamu
katakan. Ayah tidak pernah menjualmu, Ayah hanya ingin yang terbaik untukmu.”
“Ayah, kalau memang
seperti itu, maka mulai sekarang biarkan aku menjalani hidupku sesuai
keinginanku. Anda telah banyak menjodohkanku dengan beberapa pria dari kalangan
pebisnis tetapi akhirnya gagal juga. Aku sudah mendapatkan gelar sebagai wanita
yang gagal.” Wiliam masih diam mendengarkan perkataan Catherine.
“Untuk saat ini aku
ingin hidup tenang bersama Jasmine. Tolong jangan jual aku lagi,” serunya.
“Baiklah aku akan
menyetujuinya. Tetapi ingatlah, kalau
kamu memiliki pria yang kamu cintai dan kamu ingin hidup dengannya. Aku yang tetap memutuskan apa pria itu
layak atau tidak.”
“Jangan sampai
reputasi keluarga kita di permalukan.”
Ꙭ
Aiden baru saja sampai
di gedung tempat peragaan busana yang di adakan oleh Evelyn. Ia berjalan masuk
seraya menyerahkan undangan yang ia bawa.
Ia di arahkan ke
tempat duduk VIP di bagian depan. Ternyata ini merupakan peragaan besar di kota
N ini. Aiden mendaratkan pantatnya di atas kursi yang ada di sana. Ia duduk
dengan tenang hingga tatapannya menangkap sosok yang ia kenal.
“Catherine?” gumamnya
__ADS_1
melihat Catherine duduk tak jauh darinya. Dan Catherine terlihat datang bersama
Alan.
‘Dia datang bersama pria itu lagi. Sebenarnya ada hubungan apa di
antara mereka berdua? Apa mereka sungguh memiliki hubungan? Apa secepat ini
Catherine berpaling dariku? Apa memangnya cintanya tidak setulus yang aku
bayangkan?’ batin Aiden.
Acara pun di mulai.
Seseorang sedang membawakan acara pembukaannya.
Tak lama, mereka
memanggil Evelyn selaku desaignernya. Evelyn tampak memberikan sambutannya.
Tetapi pandangan Aiden bukan ke Evelyn melainkan pada Catherine yang terlihat
sangat akrab dengan pria bernama Alan itu.
Aiden sungguh di buat
terbakar dan sangat kesal melihat semua itu. Sebenarnya ada apa dengan dirinya.
Acara pun berlanjut
dengan beberapa model yang mulai memperlihatkan beberapa model pakaian musim
dingin yang sangat memukau.
Aiden yang merasa
sudah sangat gerah dan kesal memilih meninggalkan tempat itu dan berjalan
keluar gedung. Kepergian Aiden tak luput dari pandangan Catherine yang menoleh
dan melihat punggung Aiden yang menjauh.
“Ada apa?” tanya Alan.
“Emmm tidak ada.” Seru
Catherine kembali melihat ke arah panggung. “Aku ke toilet dulu,” ucap
Catherine beranjak pergi meninggalkan Alan.
Catherine tidak pergi
ke kamar mandi, melainkan pergi keluar gedung itu mencari keberadaan Aiden.
Entah kenapa ia terus kepikiran Aiden, apalagi mendengar kalau Aiden berhenti
dari Firma hukum. Sebenarnya apa yang terjadi? Bukankah menjadi seorang
Ia melihat ke kiri dan
ke kanan mencari keberadaan Aiden tetapi tak ia temukan. Ia terus berjalan dan
melihat Aiden berdiri di dekat hutan kota yang ada di samping gedung ini. Aiden
terlihat bersandar ke batang pohon dengan sebelah tangannya yang di masukan ke
dalam saku mantelnya. Dan sebelah tangannya lagi tampak memegang sebatang rokok
yang sesekali ia hisap.
Mendengar derap
langkah kaki membuatnya menoleh dan matanya langsung beradu dengan mata
seseorang yang entah kenapa kali ini mampu membuatnya berdebar.
“Aku hanya sedang
mencari udara segar,” ucap Catherine menjadi gugup dan salah tingkah. “Baiklah
aku akan kembali masuk.”
“Sudah menemukanku,
kenapa malah kembali masuk,” ucap Aiden kini berjalan menghampiri Catherine
seraya membuang rokoknya ke tanah yang sudah di penuhi salju.
Aiden kini berdiri di
hadapan Catherine yang masih tidak berani melihat ke arah Aiden.
“Aku hanya ingin tau
apa kamu baik-baik saja. Kenapa kamu bisa berhenti dari Firma?” tanya Catherine
kini melihat ke arah Aiden yang berada di depannya.
Aiden hanya diam dan
menatap Catherine dengan seksama.
“Emm ada apa? Kenapa
kamu menatapku seperti itu?” tanya Catherine semakin di buat gugup.
“Aku hanya sedang
__ADS_1
berpikir, apa kita akan terus seperti ini,” ucap Aiden.
“Memang apa yang kamu
inginkan. Bukankah kamu sendiri yang yang ingin seperti ini,” seru Catherine.
“Aku tidak tau apa
yang aku inginkan.hatiku penuh dengan ketakutan. Mungkin sebaiknya aku kembali
ke Indonesia.”
“Apa maksudmu?” seru
Catherine sedikit kaget.
“Aku tidak memiliki
tujuan hidup, Cath. Aku merasa tersesat dan aku tidak memahami diriku sendiri.
Aku lelah dengan semua rasa yang aku rasakan ini. Aku lelah dengan rasa takut
ini. Aku tidak ingin hidupku semakin menyulitkanmu. Aku ingin berterima kasih
karena kamu masih memperdulikanku.”
“Jangan seperti itu.”
Seru Catherine.
Catherine menatap
Aiden dengan sendu. “Kenapa kamu harus seperti ini, Aiden? Kamu selalu
membuatku kebingungan dan merasa serba salah. Aku tidak paham akan dirimu yang
sekarang, dan aku sendiripun tidak tau harus bagaimana menghadapimu,” ucap
Catherine terlihat berkaca-kaca.
Tanpa kata Aiden
tiba-tiba saja memegang pipi Catherine dan mendekatkan wajahnya dengan wajah
Catherine. Ia mendaratkan bibirnya di bibir Catherine. Catherine tidak
memberikan perlawanan ataupun membalasnya. Ia hanya diam membeku mendapatkan
ciuman mendadak dari Aiden.
Mereka berciuman di
bawah hujan salju.
Cukup lama berciuman,
Aiden melepaskan ciumannya dan tatapan mereka kembali beradu dalam jarak yang
sangat dekat. Bahkan hidung keduanya sudah memerah karena kedinginan.
Air mata Catherine
jatuh membasahi pipinya tanpa bisa ia tahan lagi. Kenapa harus sesakit ini
rasanya.
“Maafkan aku karena
aku begitu ketakutan akan cinta. Luka itu membekas sangat dalam didalam hatiku.
Aku ingin keluar dari semua ini tapi rasanya tidak bisa. Aku tidak percaya akan
cinta lagi,” ucap Aiden.
Aiden mengeluarkan
sesuatu dari saku mantelnya. Ia menyimpan kalung di telapak tangan Catherine.
“Aku mohon simpanlah
ini. Sebagai tanda kalau aku pernah ada dalam hidupmu.” Aiden membelai pipi
Catherine. “Jangan menangis lagi karena aku.”
Aiden menghapus air
mata Catherine. ‘Andai aku bisa terlepas
dari belenggu ini dan bisa mencintaimu. Aku akan sangat bahagia. Apa kamu bisa membawaku keluar dari rasa takut ini,
Cath?’ batin Aiden.
Aiden beranjak pergi
meninggalkan Catherine sendiri dengan matanya yang memerah menahan air matanya.
Catherine menatap punggung Aiden yang semakin menjauh. Tadi ia sempat melihat
air mata di pelupuk mata Aiden.
Catherine menundukkan
kepalanya dan melihat kalung di telapak tangannya. Air matanya kembali jatuh
membasahi pipinya.
‘Sebenarnya apa yang membuatmu begitu takut, Aiden?’ batin
__ADS_1
Catherine.
Ꙭ