Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 22


__ADS_3

Saat ini William berdiri memunggungi Catherine dengan keangkuhannya.


                “Katakan kenapa kamu


membatalkan begitu saja pertunanganmu dengan Robert?” tanya William yang kini


berbalik ke arah Catherine. “Siapa pria yang ada di foto itu?”


                “Aku tidak menyukai


Robert dan dia hanya ingin memanfaatkanku untuk merebut semua kekuasaan milik


keluarga kita.”


                “Benarkah? Bukankah


karena kamu berselingkuh?” tanya William. “Jaga sikapmu, Catherine. Kamu ini


seorang Nona dari SR Group. Jangan mempermalukan nama baik keluarga kita!”


                “Aku tidak


berselingkuh. Pria itu adalah orang yang menyelamatkanku dari penganiayaan


Robert,” seru Catherine.


                “Apa? Tapi Robert


berkata kalau kamu mencampakkannya karena pria itu.”


                Catherine menghela napasnya.


                “Ayah, selama ini aku


selalu menurutimu. Apapun yang anda katakan, selalu saya lakukan. Apa aku harus


menipumu seperti ini? Untuk apa, apa aku memiliki alasan untuk memberontak?”


tanya Catherine membuat William menghela napasnya.


                “Putriku, maafkan


Ayah.” William berjalan mendekati Catherine dan membawanya ke dalam pelukan


Ayahnya. “Maafkan Ayah karena meragukanmu. Seharusnya Ayah tidak mempercayai


bajingan sialan itu. Apa, apa dia melecehkanmu?” tanya William melepaskan


pelukannya dan menatap Catherine dengan sendu.


                “Hampir, tapi itu


tidak berhasil.” Jawab Catherine. “Ayah, bisakah anda tidak menjualku lagi


untuk bisnis?”


                Pertanyaan Catherine


membuat William terpaku.


                “Apa yang kamu


katakan. Ayah tidak pernah menjualmu, Ayah hanya ingin yang terbaik untukmu.”


                “Ayah, kalau memang


seperti itu, maka mulai sekarang biarkan aku menjalani hidupku sesuai


keinginanku. Anda telah banyak menjodohkanku dengan beberapa pria dari kalangan


pebisnis tetapi akhirnya gagal juga. Aku sudah mendapatkan gelar sebagai wanita


yang gagal.” Wiliam masih diam mendengarkan perkataan Catherine.


                “Untuk saat ini aku


ingin hidup tenang bersama Jasmine. Tolong jangan jual aku lagi,” serunya.


                “Baiklah aku akan


menyetujuinya.  Tetapi ingatlah, kalau


kamu memiliki pria yang kamu cintai dan kamu ingin hidup dengannya. Aku yang tetap memutuskan apa pria itu


layak atau tidak.”


                “Jangan sampai


reputasi keluarga kita di permalukan.”



                Aiden baru saja sampai


di gedung tempat peragaan busana yang di adakan oleh Evelyn. Ia berjalan masuk


seraya menyerahkan undangan yang ia bawa.


                Ia di arahkan ke


tempat duduk VIP di bagian depan. Ternyata ini merupakan peragaan besar di kota


N ini. Aiden mendaratkan pantatnya di atas kursi yang ada di sana. Ia duduk


dengan tenang hingga tatapannya menangkap sosok yang ia kenal.


                “Catherine?” gumamnya

__ADS_1


melihat Catherine duduk tak jauh darinya. Dan Catherine terlihat datang bersama


Alan.


                ‘Dia datang bersama pria itu lagi. Sebenarnya ada hubungan apa di


antara mereka berdua? Apa mereka sungguh memiliki hubungan? Apa secepat ini


Catherine berpaling dariku? Apa memangnya cintanya tidak setulus yang aku


bayangkan?’ batin Aiden.


                Acara pun di mulai.


Seseorang sedang membawakan acara pembukaannya.


                Tak lama, mereka


memanggil Evelyn selaku desaignernya. Evelyn tampak memberikan sambutannya.


Tetapi pandangan Aiden bukan ke Evelyn melainkan pada Catherine yang terlihat


sangat akrab dengan pria bernama Alan itu.


                Aiden sungguh di buat


terbakar dan sangat kesal melihat semua itu. Sebenarnya ada apa dengan dirinya.


                Acara pun berlanjut


dengan beberapa model yang mulai memperlihatkan beberapa model pakaian musim


dingin yang sangat memukau.


                Aiden yang merasa


sudah sangat gerah dan kesal memilih meninggalkan tempat itu dan berjalan


keluar gedung. Kepergian Aiden tak luput dari pandangan Catherine yang menoleh


dan melihat punggung Aiden yang menjauh.


                “Ada apa?” tanya Alan.


                “Emmm tidak ada.” Seru


Catherine kembali melihat ke arah panggung. “Aku ke toilet dulu,” ucap


Catherine beranjak pergi meninggalkan Alan.


                Catherine tidak pergi


ke kamar mandi, melainkan pergi keluar gedung itu mencari keberadaan Aiden.


Entah kenapa ia terus kepikiran Aiden, apalagi mendengar kalau Aiden berhenti


dari Firma hukum. Sebenarnya apa yang terjadi? Bukankah menjadi seorang


                Ia melihat ke kiri dan


ke kanan mencari keberadaan Aiden tetapi tak ia temukan. Ia terus berjalan dan


melihat Aiden berdiri di dekat hutan kota yang ada di samping gedung ini. Aiden


terlihat bersandar ke batang pohon dengan sebelah tangannya yang di masukan ke


dalam saku mantelnya. Dan sebelah tangannya lagi tampak memegang sebatang rokok


yang sesekali ia hisap.


                Mendengar derap


langkah kaki membuatnya menoleh dan matanya langsung beradu dengan mata


seseorang yang entah kenapa kali ini mampu membuatnya berdebar.


                “Aku hanya sedang


mencari udara segar,” ucap Catherine menjadi gugup dan salah tingkah. “Baiklah


aku akan kembali masuk.”


                “Sudah menemukanku,


kenapa malah kembali masuk,” ucap Aiden kini berjalan menghampiri Catherine


seraya membuang rokoknya ke tanah yang sudah di penuhi salju.


                Aiden kini berdiri di


hadapan Catherine yang masih tidak berani melihat ke arah Aiden.


                “Aku hanya ingin tau


apa kamu baik-baik saja. Kenapa kamu bisa berhenti dari Firma?” tanya Catherine


kini melihat ke arah Aiden yang berada di depannya.


                Aiden hanya diam dan


menatap Catherine dengan seksama.


                “Emm ada apa? Kenapa


kamu menatapku seperti itu?” tanya Catherine semakin di buat gugup.


                “Aku hanya sedang

__ADS_1


berpikir, apa kita akan terus seperti ini,” ucap Aiden.


                “Memang apa yang kamu


inginkan. Bukankah kamu sendiri yang yang ingin seperti ini,” seru Catherine.


                “Aku tidak tau apa


yang aku inginkan.hatiku penuh dengan ketakutan. Mungkin sebaiknya aku kembali


ke Indonesia.”


                “Apa maksudmu?” seru


Catherine sedikit kaget.


                “Aku tidak memiliki


tujuan hidup, Cath. Aku merasa tersesat dan aku tidak memahami diriku sendiri.


Aku lelah dengan semua rasa yang aku rasakan ini. Aku lelah dengan rasa takut


ini. Aku tidak ingin hidupku semakin menyulitkanmu. Aku ingin berterima kasih


karena kamu masih memperdulikanku.”


                “Jangan seperti itu.”


Seru Catherine.


                Catherine menatap


Aiden dengan sendu. “Kenapa kamu harus seperti ini, Aiden? Kamu selalu


membuatku kebingungan dan merasa serba salah. Aku tidak paham akan dirimu yang


sekarang, dan aku sendiripun tidak tau harus bagaimana menghadapimu,” ucap


Catherine terlihat berkaca-kaca.


                Tanpa kata Aiden


tiba-tiba saja memegang pipi Catherine dan mendekatkan wajahnya dengan wajah


Catherine. Ia mendaratkan bibirnya di bibir Catherine. Catherine tidak


memberikan perlawanan ataupun membalasnya. Ia hanya diam membeku mendapatkan


ciuman mendadak dari Aiden.


                Mereka berciuman di


bawah hujan salju.


                Cukup lama berciuman,


Aiden melepaskan ciumannya dan tatapan mereka kembali beradu dalam jarak yang


sangat dekat. Bahkan hidung keduanya sudah memerah karena kedinginan.


                Air mata Catherine


jatuh membasahi pipinya tanpa bisa ia tahan lagi. Kenapa harus sesakit ini


rasanya.


                “Maafkan aku karena


aku begitu ketakutan akan cinta. Luka itu membekas sangat dalam didalam hatiku.


Aku ingin keluar dari semua ini tapi rasanya tidak bisa. Aku tidak percaya akan


cinta lagi,” ucap Aiden.


                Aiden mengeluarkan


sesuatu dari saku mantelnya. Ia menyimpan kalung di telapak tangan Catherine.


                “Aku mohon simpanlah


ini. Sebagai tanda kalau aku pernah ada dalam hidupmu.” Aiden membelai pipi


Catherine. “Jangan menangis lagi karena aku.”


                Aiden menghapus air


mata Catherine. ‘Andai aku bisa terlepas


dari belenggu ini dan bisa mencintaimu. Aku akan sangat bahagia. Apa kamu bisa membawaku keluar dari rasa takut ini,


Cath?’ batin Aiden.


                Aiden beranjak pergi


meninggalkan Catherine sendiri dengan matanya yang memerah menahan air matanya.


Catherine menatap punggung Aiden yang semakin menjauh. Tadi ia sempat melihat


air mata di pelupuk mata Aiden.


                Catherine menundukkan


kepalanya dan melihat kalung di telapak tangannya. Air matanya kembali jatuh


membasahi pipinya.


                ‘Sebenarnya apa yang membuatmu begitu takut, Aiden?’ batin

__ADS_1


Catherine.



__ADS_2