
Saat ini Aiden duduk di sofa yang ada di rumah keluarga Wiratama. Setelah
pemakaman Elena kemarin, Devara memaksanya untuk datang kemari, entah akan
membahas apa.
“Kau sudah datang?”
tanya Dave yang baru saja datang dengan setelah casualnya dan duduk di atas
sofa yang ada di hadapan Aiden.
“Ada apa kamu
memanggilku kemari?” tanya Aiden.
“Bukan aku. Aku juga di
minta datang oleh Devara,” seru Dave dengan tenang.
Aiden tidak menjawab
dan memilih diam saja. Suasana di sana menjadi begitu canggung. Dave duduk
dengan angkuh, sebelah kakinya ia angkat ke atas lututnya sendiri.
Aiden hanya duduk
dengan tenang dan memalingkan wajahnya dari Dave.
Ya, mereka berdua
memiliki karakter yang berbanding terbalik.
“Jadi, bagaimana
kabarmu di sana, Kakak?” tanya Dave.
“Baik. Semuanya jauh
lebih baik dari sebelumnya.” Aiden berucap dengan penuh penekanan.
“Aku senang
mendengarnya.” Dave tersenyum kecil.
Tak lama Devara datang
menghampiri mereka.
“Kalian sudah datang
ternyata,” serunya dan duduk di antara mereka.
“Langsung jelaskan
saja, Vara. Aku berniat akan langsung kembali sore ini,” ucap Aiden.
“Kenapa buru-buru
sekali?” tanya Devara.
“Ada banyak pekerjaan
di sana,” ucap Aiden.
“Baiklah.” Devara
membuka berkas di tangannya. “Aiden, aku dan Dave sudah berunding dan pengacara
keluarga kita juga sudah mengetahuinya. Karena kebetulan pagi ini, Mr. Bramono
ada keperluan, jadi kita bicara ini tanpa ada pengacara.”
“Apa ada masalah?”
tanya Aiden mengernyitkan dahinya. “Atau orang tuaku masih memiliki utang?”
“Tenang dulu, Kakak
Sepupu. Kenapa kamu begitu emosional?” seru Dave dengan tenang menyeduh minuman
yang baru saja di sediakan oleh asisten rumah tangga.
“Tidak ada utang
apapun, Aiden. Mengenai utangorang tua mu, perusahaan Wiratama sudah
melunasinya,” seru Devara. “Dan ini adalah sertifikat rumah keluargamu yang
sempat di sita bank. Kami telah menebusnya.”
“Dan berkas ini adalah
berkas kepemilikan 40% saham PT Wiratama. Dan telah kami rubah atas namamu.
Kamu hanya perlu menandatangani nya saja.”
“Apa ini sejenis
sumbangan bantuan?” seru Aiden menatap dua berkas di atas meja.
“Eh?”
“Ck, sudah aku bilang
Vara. Kakak sepupu mu ini hanya akan berpikiran negative pada kita. Dia mana
mau menerima semua kebaikan ini,” ucap Dave.
“Diamlah Dave,” seru
Devara. “Ini bukan sumbangan, Aiden. Kamu adalah pewaris dari keluarga Wiratama
juga. Aku hanya ingin bersikap adil. Itu memang hak kamu,” ucap Devara.
“Sahamku di Wiratama
adalah 30% begitu juga dengan Dave. Kami membagi seperti ini karena kamu adalah
Kakak kami. Cucu sulung dari keluarga Wiratama.” Jelas Devara.
“Sekarang ini Dave
sudah tidak mengurus WT corp lagi. Aku juga sebenarnya hanya ingin menjadi Ibu
Rumah Tangga. Kalau kamu mau, kamu bisa kembali WT Corp dan mengambil alih
posisi direktur utama.”
“Aku datang ke sini
hanya untuk menemui Ibu ku. Aku tidak berminat menetap maupun kembali ke
perusahaan,” ucap Aiden.
Devara dan Dave saling
bertatapan.
“Apa kamu sudah bulat
dengan keputusanmu?” tanya Devara.
“Ya Vara, aku merasa
kehidupanku sekarang adalah di sana,” ucap Aiden.
“Begini saja, mungkin
kamu masih perlu memikirkannya. Untuk sementara aku yang akan mengambil alih
perusahaan. Sampai kamu datang dan siap kembali memimpin perusahaan.” Aiden
hanya terdiam saja.
“Kenapa kalian
melakukan ini? Orangtuaku hampir membuat kalian celaka,” seru Aiden.
“Karena kita ini
keluarga. Biarkahlah masalah mengenai orang tua kita. Mereka sudah tenang di
alam sana. Dan aku tidak ingin hubungan kekeluargaan kita pun jadi hancur
seperti mereka,” ucap Devara.
Aiden masih terdiam.
“Apa kamu masih
membenciku?” tanya Dave kembali bersuara membuat Aiden menoleh ke arahnya.
“Masalah itu sudah
berlalu, Dave. Dan aku rasa tidak ada gunanya lagi aku membencimu,” ucap Aiden.
“Baguslah kalau
begitu.”
Aiden akhirnya
menandatangani berkas yang di berikan oleh Devara. Aiden tetap belum ingin
kembali ke perusahaan dan menetap di Indonesia. Entah kenapa hatinya tertuju ke
kota N dimana ada dua orang yang membuatnya selalu mengingat mereka.
__ADS_1
“Aku akan pergi sore
ini. Jadi sekarang aku pamit.”
“Tidak ingin makan
siang bersama dulu?” ajak Devara.
“Tidak. Lain kali
saja.”
Aiden berdiri dari
duduknya diikuti Dave dan Devara. Ia berjabat tangan dengan kedua sepupunya
sebelum berlalu pergi meninggalkan rumah yang di tempati Devara itu.
Langkah Aiden terhenti
saat berpapasan dengan seseorang di pintu utama.
“Aiden...”
“Neta...”
“Ayah Aiden...!” itu
adalah suara Regan yang berlari dari belakang tubuh Agneta dan menerjang Aiden.
Aiden mengalihkan
tatapannya pada Regan yang kini sudah tumbuh semakin dewasa.
“Hallo Regan,” seru
Aiden mengusap kepala Regan yang kini tingginya sudah sebatas perutnya.
“Kapan datang?” tanya
Regan.
“Sudah tidak cadel
lagi, eh?” seru Aiden membuat Regan terkekeh.
“Tidak,” kekehnya.
“Sudah lama tidak
bertemu, kamu semakin tampan dan dewasa saja,” seru Aiden.
“Iya dong, Ayah Dave
kalah tampannya sama aku,” seru Regan penuh percaya diri.
Benar - benar putra Dave. Pikir Aiden.
“Baguslah,” seru
Aiden. “Om tidak bisa berlama-lama disini. Aku akan kembali ke kota N. Kamu
sehat-sehat dan jangan nakal yah,” seru Aiden.
“Siap!”
“Aku pergi dulu,
Neta.”
“Iya.”
Aiden beranjak
melewati kedua orang yang pernah singgah dalam kehidupannya 5 tahun lalu.
Tetapi rasa itu sudah
tidak ada. Debaran itu sudah hilang. Dan Aiden tidak merasakan sesak maupun
beban apapun lagi saat pergi meninggalkan semuanya kali ini, berbeda dengan 5
tahun yang lalu.
Ꙭ
5 hariberlalu tanpa
Aiden membuat Catherine merasa tidak bersemangat. Aiden benar-benar
mempengaruhi dirinya. Sebelum bertemu kembali dengan Aiden, ia mampu berpijak
dengan kedua kakinya penuh ketegaran. Menghabiskan waktu selama 5 tahun fokus
pada putrinya juga pekerjaannya. Tetapi setelah kembali bertemu dengan Aiden,
hatinya kembali rapuh. Tembok yang ia bangun telah hancur dan membuatnya
juga cintanya Aiden.
Kenapa dirinya begitu
lemah. Sedangkan Aiden masih terlihat acuh tak acuh pada dirinya. Kenapa harus
merasakan rasa sakit karena cinta bertepuk sebelah tangannya.
“AH!”
Catherine memekik
kaget karena tarikan seseorang. Ia melihat sebuah mobil box pengangkut barang
hampir saja menabrak dirinya. Saat itu Catherine memang tengah berjalan-jalan
sediri untuk menghilangkan penat di kepalanya.
“Kenapa tidak
berhati-hati!” seruan itu membuatnya menoleh ke sumber suara.
“Aiden? Ka-kamu sudah
kembali?” serunya menatap wajah tampan pria di depannya.
“Kamu tidak apa-apa?”
tanyanya menyadarkan keterpakuan Catherine. Ia melepaskan pelukan Aiden dan
berjalan mundur.
“Aku baik-baik saja,”
ucap Catherine.
“Mobil itu
mencurigakan. Sepertinya dia memang sengaja ingin menabrakmu,” ucap Aiden
menghubungi pihak kepolisian untuk menyelidiki kasus ini.
Catherine menatap
Aiden yang sibuk menghubungi seseorang. Rasa rindunya kini terobati. Ia pikir
Aiden tidak akan pernah kembali lagi ke sini setelah menemui wanita itu.
“Ayo sebaiknya kita
tinggalkan tempat ini,” ucapnya menarik Catherine menuju mobilnya.
“Pihak polisi akan
menyelidiki kasus ini. Aku sudah memberikan plat nomor mobil tadi,” seru Aiden.
“Kapan kamu kembali?”
tanya Catherine tidak memperdulikan ucapan Aiden.
“Semalam aku baru sampai.
Apa ada masalah selama aku tidak ada?” tanya Aiden dan Catherine menggelengkan
kepalanya.
Ingin sekali Catherine
menanyakan beberapa hal selama Aiden di sana tetapi Catherine merasa itu
terlalu lancang.
“Ibu ku meninggal,”
ucap Aiden membuat Catherine memekik kaget dan menoleh ke arahnya.
“Tante Elena?”
“Iya, dia meninggal
karena penyakit jantung,” seru Aiden.
“Aku turut berduka
cita,” ucap Catherine.
Suasana pun menjadi
hening kembali tak ada yang membuka suara.
Apa Aiden bertemu dengan wanita itu...? batin Catherine.
__ADS_1
Ꙭ
Aiden baru saja sampai
di apartemen miliknya. Ia memilih duduk di kursi dekat pembakaran. Di tangannya
ada berkas yang di berikan Devara saat itu.
Helaan napas keluar
dari mulutnya. Ia menyandarkan punggungnya ke kepala kursi dan memejamkan
matanya.
Kali ini tidak ada
beban apapun yang dia bawa dalam hatinya. Semuanya telah sembuh dan hilang.
Agneta pun tampak bahagia bersama Dave. Mungkin benar mereka sudah di takdirkan
untuk bersama.
Tetapi kenapa... Aiden
masih merasa takut akan menjalin sebuah hubungan. Ia masih begitu trauma.
Dering handphone
menyadarkan dirinya. Ia menatap layar handphone nya kemudian mengangkatnya.
“Hallo...”
“....”
“Benar.”
“....”
“Sudah menemukan
pelakunya?”
“....”
“Baik, aku segera ke
sana.”
Aiden menutup
sambungan telponnya dan bergegas mengambil mantel hitamnya juga kunci mobilnya
kemudian bergegas meninggalkan apartemennya.
Ꙭ
Kantor Kepolisian...
Saat ini Aiden baru
saja sampai di kantor kepolisian, ia bergegas masuk ke dalam sana.
“Selamat malam. Saya
Pengacara Aiden. Dimana pelaku tabrak lari itu?” tanyanya.
“Silakan masuk ke
dalam ruangan di sana.” Seru petugas yang berjaga di depan.
Aiden masuk ke dalam
ruangan itu.
“Catherine? Kau di
sini?”
Panggilan itu membuat
Catherine menoleh ke belakang.
“A-aiden?” tubuh
Catherine tampak membeku di tempatnya.
“Kenapa kamu di sini?”
tanya Aiden.
“Itu aku...” bibir
Catherine tampak kelu.
“Selamat malam Mr.
Aiden. Kami telah menangkap pelaku yang hampir menabrak Ny. Catherine dan
penculikan pada Jasmine.”
“Jasmine?” seru Aiden
dan tatapannya kini kembali tertuju pada Catherine yang membeku.
“Kamu mengenal
Jasmine? Aku rasa, aku tidak melaporkan kasus mengenai penculikan Jasmine.”
“Untuk laporan kasus
penculikan Jasmine, memang Ny. Catherine yang membuat laporan.” Catherine
menghela napasnya karena polisi itu terlalu banyak berbicara.
Aiden menatap ke arah
Catherine yang sepertinya tidak ingin mengatakan apapun.
“Saya akan mengantar
kalian melihat pelakunya,” seru Polisi itu.
Aiden dan Catherine
akhirnya sama-sama berjalan mengikuti polisi itu.
Tak lama mereka pun
sampai di salah satu sel dimana pria itu
berada. Sel itu memang di peruntukan untuk orang jahat yang baru di tangkap dan
di interogasi sebelum akhirnya
di pindahkan ke dalam sel yang lebih mengerikan.
“Kau?” pekik Catherine
saat melihat siapa sosok itu.
“Kamu mengenalnya?”
tanya Aiden.
“Dia adalah adik dari
suaminya Marinka. Jadi kamu yang selama ini ingin mencelakaiku dan emm
Jasmine?” tanya Catherine sedikit melirik Aiden.
“Aku muak denganmu,
wanita sialan! Karena ulahmu, Kakakku jadi masuk penjara!” amuk pria itu
mendekati Catherine dan berteriak.
Spontan Aiden
merangkul pundak Catherine seraya melindunginya. Catherine melirik ke arah
tangan Aiden di pundaknya. Entah kenapa rasanya begitu hangat.
“Jadi ini merupakan
kejahatan yang di rencanakan,” seru Aiden.
“Kau pengacara itu!
Semua juga karena ulahmu yang sok pintar!”
“Jaga sikapmu!” seru
polisi memukul jeruji besi dengan tongkatnya.
Setelah mengetahui
motif penjahat itu. Aiden dan Catherine bersedia menjadi saksi saat di
pengadilan nanti.
Saat ini mereka berdua
berjalan bersama keluar dari kantor polisi.
“Jadi, siapa Jasmine
itu?”
Deg
__ADS_1
Ꙭ