Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 10


__ADS_3

Saat ini Aiden duduk di sofa yang ada di rumah keluarga Wiratama. Setelah


pemakaman Elena kemarin, Devara memaksanya untuk datang kemari, entah akan


membahas apa.


                “Kau sudah datang?”


tanya Dave yang baru saja datang dengan setelah casualnya dan duduk di atas


sofa yang ada di hadapan Aiden.


                “Ada apa kamu


memanggilku kemari?” tanya Aiden.


                “Bukan aku. Aku juga di


minta datang oleh Devara,” seru Dave dengan tenang.


                Aiden tidak menjawab


dan memilih diam saja. Suasana di sana menjadi begitu canggung. Dave duduk


dengan angkuh, sebelah kakinya ia angkat ke atas lututnya sendiri.


                Aiden hanya duduk


dengan tenang dan memalingkan wajahnya dari Dave.


                Ya, mereka berdua


memiliki karakter yang berbanding terbalik.


                “Jadi, bagaimana


kabarmu di sana, Kakak?” tanya Dave.


                “Baik. Semuanya jauh


lebih baik dari sebelumnya.” Aiden berucap dengan penuh penekanan.


                “Aku senang


mendengarnya.” Dave tersenyum kecil.


                Tak lama Devara datang


menghampiri mereka.


                “Kalian sudah datang


ternyata,” serunya dan duduk di antara mereka.


                “Langsung jelaskan


saja, Vara. Aku berniat akan langsung kembali sore ini,” ucap Aiden.


                “Kenapa buru-buru


sekali?” tanya Devara.


                “Ada banyak pekerjaan


di sana,” ucap Aiden.


                “Baiklah.” Devara


membuka berkas di tangannya. “Aiden, aku dan Dave sudah berunding dan pengacara


keluarga kita juga sudah mengetahuinya. Karena kebetulan pagi ini, Mr. Bramono


ada keperluan, jadi kita bicara ini tanpa ada pengacara.”


                “Apa ada masalah?”


tanya Aiden mengernyitkan dahinya. “Atau orang tuaku masih memiliki utang?”


                “Tenang dulu, Kakak


Sepupu. Kenapa kamu begitu emosional?” seru Dave dengan tenang menyeduh minuman


yang baru saja di sediakan oleh asisten rumah tangga.


                “Tidak ada utang


apapun, Aiden. Mengenai utangorang tua mu, perusahaan Wiratama sudah


melunasinya,” seru Devara. “Dan ini adalah sertifikat rumah keluargamu yang


sempat di sita bank. Kami telah menebusnya.”


                “Dan berkas ini adalah


berkas kepemilikan 40% saham PT Wiratama. Dan telah kami rubah atas namamu.


Kamu hanya perlu menandatangani nya saja.”


                “Apa ini sejenis


sumbangan bantuan?” seru Aiden menatap dua berkas di atas meja.


                “Eh?”


                “Ck, sudah aku bilang


Vara. Kakak sepupu mu ini hanya akan berpikiran negative pada kita. Dia mana


mau menerima semua kebaikan ini,” ucap Dave.


                “Diamlah Dave,” seru


Devara. “Ini bukan sumbangan, Aiden. Kamu adalah pewaris dari keluarga Wiratama


juga. Aku hanya ingin bersikap adil. Itu memang hak kamu,” ucap Devara.


                “Sahamku di Wiratama


adalah 30% begitu juga dengan Dave. Kami membagi seperti ini karena kamu adalah


Kakak kami. Cucu sulung dari keluarga Wiratama.” Jelas Devara.


                “Sekarang ini Dave


sudah tidak mengurus WT corp lagi. Aku juga sebenarnya hanya ingin menjadi Ibu


Rumah Tangga. Kalau kamu mau, kamu bisa kembali WT Corp dan mengambil alih


posisi direktur utama.”


                “Aku datang ke sini


hanya untuk menemui Ibu ku. Aku tidak berminat menetap maupun kembali ke


perusahaan,” ucap Aiden.


                Devara dan Dave saling


bertatapan.


                “Apa kamu sudah bulat


dengan keputusanmu?” tanya Devara.


                “Ya Vara, aku merasa


kehidupanku sekarang adalah di sana,” ucap Aiden.


                “Begini saja, mungkin


kamu masih perlu memikirkannya. Untuk sementara aku yang akan mengambil alih


perusahaan. Sampai kamu datang dan siap kembali memimpin perusahaan.” Aiden


hanya terdiam saja.


                “Kenapa kalian


melakukan ini? Orangtuaku hampir membuat kalian celaka,” seru Aiden.


                “Karena kita ini


keluarga. Biarkahlah masalah mengenai orang tua kita. Mereka sudah tenang di


alam sana. Dan aku tidak ingin hubungan kekeluargaan kita pun jadi hancur


seperti mereka,” ucap Devara.


                Aiden masih terdiam.


                “Apa kamu masih


membenciku?” tanya Dave kembali bersuara membuat Aiden menoleh ke arahnya.


                “Masalah itu sudah


berlalu, Dave. Dan aku rasa tidak ada gunanya lagi aku membencimu,” ucap Aiden.


                “Baguslah kalau


begitu.”


                Aiden akhirnya


menandatangani berkas yang di berikan oleh Devara. Aiden tetap belum ingin


kembali ke perusahaan dan menetap di Indonesia. Entah kenapa hatinya tertuju ke


kota N dimana ada dua orang yang membuatnya selalu mengingat mereka.

__ADS_1


                “Aku akan pergi sore


ini. Jadi sekarang aku pamit.”


                “Tidak ingin makan


siang bersama dulu?” ajak Devara.


                “Tidak. Lain kali


saja.”


                Aiden berdiri dari


duduknya diikuti Dave dan Devara. Ia berjabat tangan dengan kedua sepupunya


sebelum berlalu pergi meninggalkan rumah yang di tempati Devara itu.


                Langkah Aiden terhenti


saat berpapasan dengan seseorang di pintu utama.


                “Aiden...”


                “Neta...”


                “Ayah Aiden...!” itu


adalah suara Regan yang berlari dari belakang tubuh Agneta dan menerjang Aiden.


                Aiden mengalihkan


tatapannya pada Regan yang kini sudah tumbuh semakin dewasa.


                “Hallo Regan,” seru


Aiden mengusap kepala Regan yang kini tingginya sudah sebatas perutnya.


                “Kapan datang?” tanya


Regan.


                “Sudah tidak cadel


lagi, eh?” seru Aiden membuat Regan terkekeh.


                “Tidak,” kekehnya.


                “Sudah lama tidak


bertemu, kamu semakin tampan dan dewasa saja,” seru Aiden.


                “Iya dong, Ayah Dave


kalah tampannya sama aku,” seru Regan penuh percaya diri.


                Benar - benar putra Dave. Pikir Aiden.


                “Baguslah,” seru


Aiden. “Om tidak bisa berlama-lama disini. Aku akan kembali ke kota N. Kamu


sehat-sehat dan jangan nakal yah,” seru Aiden.


                “Siap!”


                “Aku pergi dulu,


Neta.”


                “Iya.”


                Aiden beranjak


melewati kedua orang yang pernah singgah dalam kehidupannya 5 tahun lalu.


                Tetapi rasa itu sudah


tidak ada. Debaran itu sudah hilang. Dan Aiden tidak merasakan sesak maupun


beban apapun lagi saat pergi meninggalkan semuanya kali ini, berbeda dengan 5


tahun yang lalu.



5 hariberlalu tanpa


Aiden membuat Catherine merasa tidak bersemangat. Aiden benar-benar


mempengaruhi dirinya. Sebelum bertemu kembali dengan Aiden, ia mampu berpijak


dengan kedua kakinya penuh ketegaran. Menghabiskan waktu selama 5 tahun fokus


pada putrinya juga pekerjaannya. Tetapi setelah kembali bertemu dengan Aiden,


hatinya kembali rapuh. Tembok yang ia bangun telah hancur dan membuatnya


juga cintanya Aiden.


                Kenapa dirinya begitu


lemah. Sedangkan Aiden masih terlihat acuh tak acuh pada dirinya. Kenapa harus


merasakan rasa sakit karena cinta bertepuk sebelah tangannya.


                “AH!”


                Catherine memekik


kaget karena tarikan seseorang. Ia melihat sebuah mobil box pengangkut barang


hampir saja menabrak dirinya. Saat itu Catherine memang tengah berjalan-jalan


sediri untuk menghilangkan penat di kepalanya.


                “Kenapa tidak


berhati-hati!” seruan itu membuatnya menoleh ke sumber suara.


                “Aiden? Ka-kamu sudah


kembali?” serunya menatap wajah tampan pria di depannya.


                “Kamu tidak apa-apa?”


tanyanya menyadarkan keterpakuan Catherine. Ia melepaskan pelukan Aiden dan


berjalan mundur.


                “Aku baik-baik saja,”


ucap Catherine.


                “Mobil itu


mencurigakan. Sepertinya dia memang sengaja ingin menabrakmu,” ucap Aiden


menghubungi pihak kepolisian untuk menyelidiki kasus ini.


                Catherine menatap


Aiden yang sibuk menghubungi seseorang. Rasa rindunya kini terobati. Ia pikir


Aiden tidak akan pernah kembali lagi ke sini setelah menemui wanita itu.


                “Ayo sebaiknya kita


tinggalkan tempat ini,” ucapnya menarik Catherine menuju mobilnya.


                “Pihak polisi akan


menyelidiki kasus ini. Aku sudah memberikan plat nomor mobil tadi,” seru Aiden.


                “Kapan kamu kembali?”


tanya Catherine tidak memperdulikan ucapan Aiden.


                “Semalam aku baru sampai.


Apa ada masalah selama aku tidak ada?” tanya Aiden dan Catherine menggelengkan


kepalanya.


                Ingin sekali Catherine


menanyakan beberapa hal selama Aiden di sana tetapi Catherine merasa itu


terlalu lancang.


                “Ibu ku meninggal,”


ucap Aiden membuat Catherine memekik kaget dan menoleh ke arahnya.


                “Tante Elena?”


                “Iya, dia meninggal


karena penyakit jantung,” seru Aiden.


                “Aku turut berduka


cita,” ucap Catherine.


                Suasana pun menjadi


hening kembali tak ada yang membuka suara.


                Apa Aiden bertemu dengan wanita itu...? batin Catherine.

__ADS_1



                Aiden baru saja sampai


di apartemen miliknya. Ia memilih duduk di kursi dekat pembakaran. Di tangannya


ada berkas yang di berikan Devara saat itu.


                Helaan napas keluar


dari mulutnya. Ia menyandarkan punggungnya ke kepala kursi dan memejamkan


matanya.


                Kali ini tidak ada


beban apapun yang dia bawa dalam hatinya. Semuanya telah sembuh dan hilang.


Agneta pun tampak bahagia bersama Dave. Mungkin benar mereka sudah di takdirkan


untuk bersama.


                Tetapi kenapa... Aiden


masih merasa takut akan menjalin sebuah hubungan. Ia masih begitu trauma.


                Dering handphone


menyadarkan dirinya. Ia menatap layar handphone nya kemudian mengangkatnya.


                “Hallo...”


                “....”


                “Benar.”


                “....”


                “Sudah menemukan


pelakunya?”


                “....”


                “Baik, aku segera ke


sana.”


                Aiden menutup


sambungan telponnya dan bergegas mengambil mantel hitamnya juga kunci mobilnya


kemudian bergegas meninggalkan apartemennya.



                Kantor Kepolisian...


                Saat ini Aiden baru


saja sampai di kantor kepolisian, ia bergegas masuk ke dalam sana.


                “Selamat malam. Saya


Pengacara Aiden. Dimana pelaku tabrak lari itu?” tanyanya.


                “Silakan masuk ke


dalam ruangan di sana.” Seru petugas yang berjaga di depan.


                Aiden masuk ke dalam


ruangan itu.


                “Catherine? Kau di


sini?”


                Panggilan itu membuat


Catherine menoleh ke belakang.


                “A-aiden?” tubuh


Catherine tampak membeku di tempatnya.


                “Kenapa kamu di sini?”


tanya Aiden.


                “Itu aku...” bibir


Catherine tampak kelu.


                “Selamat malam Mr.


Aiden. Kami telah menangkap pelaku yang hampir menabrak Ny. Catherine dan


penculikan pada Jasmine.”


                “Jasmine?” seru Aiden


dan tatapannya kini kembali tertuju pada Catherine yang membeku.


                “Kamu mengenal


Jasmine? Aku rasa, aku tidak melaporkan kasus mengenai penculikan Jasmine.”


                “Untuk laporan kasus


penculikan Jasmine, memang Ny. Catherine yang membuat laporan.” Catherine


menghela napasnya karena polisi itu terlalu banyak berbicara.


                Aiden menatap ke arah


Catherine yang sepertinya tidak ingin mengatakan apapun.


                “Saya akan mengantar


kalian melihat pelakunya,” seru Polisi itu.


                Aiden dan Catherine


akhirnya sama-sama berjalan mengikuti polisi itu.


                Tak lama mereka pun


sampai  di salah satu sel dimana pria itu


berada. Sel itu memang di peruntukan untuk orang jahat yang baru di tangkap dan


di interogasi sebelum akhirnya


di pindahkan ke dalam sel yang lebih mengerikan.


                “Kau?” pekik Catherine


saat melihat siapa sosok itu.


                “Kamu mengenalnya?”


tanya Aiden.


                “Dia adalah adik dari


suaminya Marinka. Jadi kamu yang selama ini ingin mencelakaiku dan emm


Jasmine?” tanya Catherine sedikit melirik Aiden.


                “Aku muak denganmu,


wanita sialan! Karena ulahmu, Kakakku jadi masuk penjara!” amuk pria itu


mendekati Catherine dan berteriak.


                Spontan Aiden


merangkul pundak Catherine seraya melindunginya. Catherine melirik ke arah


tangan Aiden di pundaknya. Entah kenapa rasanya begitu hangat.


                “Jadi ini merupakan


kejahatan yang di rencanakan,” seru Aiden.


                “Kau pengacara itu!


Semua juga karena ulahmu yang sok pintar!”


                “Jaga sikapmu!” seru


polisi memukul jeruji besi dengan tongkatnya.


                Setelah mengetahui


motif penjahat itu. Aiden dan Catherine bersedia menjadi saksi saat di


pengadilan nanti.


                Saat ini mereka berdua


berjalan bersama keluar dari kantor polisi.


                “Jadi, siapa Jasmine


itu?”


                Deg

__ADS_1



__ADS_2