Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 43


__ADS_3

                Sesuai janji, hari ini Aiden membawa Catherine dan Mine pergi piknik ke sebuah cagar alam. Tempat wisata yang biasa di gunakan untuk piknik bersama.


Selama perjalanan di dalam mobil, Mine bernyanyi dengan riang yang di sambut oleh Catherine yang ikut bernyanyi juga Aiden. Mereka bertiga benar-benar telah menjadi sebuah keluarga yang bahagia.


Tak lama mereka sampai di tempat tujuan. Aiden mendorong kursi roda Catherine dengan membawa tas pembekalan. Mine tampak berlari kecil di depan mereka.


"Baiklah, di sini rasanya lebih nyaman," seru Aiden mengeluarkan tikar lipat yang ada di dalam tas yang ia gendong. Kemudian ia menyimpan keranjang pembekalan di atas tikar itu. Kemudian ia membawa Catherine dan mendudukannya di atas tikar.


"Ayo duduklah dan kita nikmati makan siang kita," seru Aiden.


Mine duduk di antara mereka.


"Dad hanya membuatkan beberapa buah, cemilan dan sandwich saja. Tidak masalah kan hanya membawa ini," seru Aiden.


"Tidak masalah Dad. Yang penting kita bertiga piknik," seru Mine tersenyum lebar.


"Anak pintar."


Aiden memberikan sandwich yang ia buat ke Catherine dan Mine.


"Kemarin kan aku bawa bekal buatan Dad, teman-teman aku nyobain. Mereka mengira aku membawa makanan dari restaurant mahal," seru Mine sangat antusias.


"Lalu?" Tanya Aiden.


"Aku kasih tau saja kalau Daddy yang masak. Aku bilang kalau aku punya Daddy yang sangat sempurna. Daddy nya Mine bukan hanya tampan dan baik hati, tetapi juga jago masak," seru Mine.


"Kamu mempromosikan Daddy kamu?" Tanya Catherine.


Mine hanya nyengir kuda. "Dan ada beberapa Mommy nya teman-temanku menitip salam buat Daddy saat Daddy mengantarku ke sekolah," seru Mine dengan polos dan Catherine melirik ke arah Aiden yang berpura-pura tidak melihatnya.


"Mereka bilang kalau Daddy nya Mine sangat tampan. Mereka ingin dekat dengan Daddy, bahkan kalau Mine dan Daddy sampai di sekolah, para wanita itu langsung mengerumuni Daddy," jelas Mine dengan polosnya.


"Sudah seperti jumpa fans yah," sindir Catherine.


"Tapi Mommy tenang saja, aku sudah jelasin ke mereka kalau Daddy aku hanya milik Mommy seorang," seru Mine dengan semangat.


"Anak pintar," kekeh Aiden mengusap kepala Mine dan menatap ke arah Catherine yang juga menatapnya.


Setelah menikmati makanan mereka. Aiden bermain dengan Mine, mereka saling mengejar, menangkap kupu-kupu. Dan Aiden memangku tubuh Mine ke udara kemudia membawanya berputar membuat Mine tertawa terbahak-bahak.


Melihat pemandangan indah itu, Catherine tak mampu menahan senyuman di bibirnya dan air mata di pelupuk matanya karena terharu. Putrinya baru kali ini terlihat sangat bahagia. Sungguh tak kuasa lagi Catherine menahan rasa harunya. Aiden sungguh merubah kehidupannya dan Mine.


Catherine berharap semua ini bukanlah mimpi. Kalaupun mimpi, Catherine ingin tetap berada di alam mimpi dan tidak ingin terbangun lagi. Ia bahagia, sangat bahagia. Ia merasa kehidupannya tak seperti dulu lagi yang monoton dan tak berwarna.


"Apa ini?"


Catherine tersentak saat merasakan usapan di pipinya. Ia melihat Aiden sudah berada di hadapannya. "Kenapa menangis, eh?"


"Tidak apa-apa," seru Catherine mengusap air matanya dengan sedikit menunduk.


Aiden menarik dagu Catherine supaya melihat ke arahnya.


"Katakan, ada apa?" Tanya Aiden.


"Aiden, terima kasih karena sudah bersama kami," ucap Catherine.

__ADS_1


"Aku yang harus berterima kasih karena kamu memberiku kesempatan lagi. Aku sangat bahagia, apapun yang terjadi aku akan selalu bersama dengan kalian," ucap Aiden.


Catherine membalas senyuman Aiden di depannya.


"Dad, cepat!" panggil Mine membuat Aiden dan Catherine menoleh ke arahnya.


Aiden langsung membawa Catherine ke dalam gendongannya dan ikut bermain bersama Mine yang tengah memainkan pistol gelembung yang ia bawa.


Mine menyemprotkan gelembung itu ke arah Aiden dan Catherine. Aiden membawa Catherine berputar.


Kemudian Aiden membantu Catherine berdiri tegak dengan membiarkan kedua kaki Catherine menginjak kakinya.


"Aku takut jatuh," seru Catherine.


"Tidak akan, aku bersamamu. Aku akan menjadi kakiku," bisik Aiden tepat di telinga Catherine yang memeluk tubuh Catherine dari belakang.


Catherine menoleh ke arah Aiden dengan perasaan hangat.


"Ambil bolanya Mine, dan lempar kesini," seru Aiden.


Mine berlari mengambil bola dan melemparkannya ke arah Aiden dan Catherine. Aiden menggerakkan kaki Catherine dengan kakinya untuk menendang bola. Mereka bertiga bermain bersama dan tertawa terbahak-bahak saat beberapa kali kaki Aiden yang diinjak Catherine gagal menendang bola.


***


Mereka bertiga baru saja sampai di rumah Catherine. Tawa masih mengiringi langkah mereka yang hendak memasuki rumah. Tetapi seketika gerakan mereka dan tawa mereka berhenti saat melihat sosok yang berdiri tegak di depan mereka.


"Grandpa..." teriak Mine berlari ke arah William dengan senangnya yang di sambut oleh Grandpa.


"Hallo Sayangku," seru William mengecup kepala Mine. "Bagaimana kabarmu?"


Tatapan William tertuju pada Aiden dan Catherine. Baik Aiden maupun Catherine dapat melihat tatapan ketidaksukaan dari William.


"Masuk ke kamar dulu, Grandpa ada keperluan dengan Mommy dan Daddy mu," serunya menekankan kata Daddy.


Mine menoleh ke arah Aiden dan Catherine, kemudian ia pun menurut dan masuk ke dalam rumah.


"Kita bicara di ruang kerjaku," seru Catherine.


---


Mereka pun sampai di ruang kerja Catherine. Aiden dan William sudah duduk di sofa dan Catherine masih duduk di kursi roda di antara mereka.


"Jadi benar pria brengsek ini yang menghamilimu?" Tanya William to the point.


"Iya," jawab Catherine. "Lagipula semua itu bukan kesalahannya, aku yang menyerahkan diri," seru Catherine membuat Aiden menoleh ke arahnya.


"Cih, sangat menyusahkan. Aku tidak akan membahas apa yang terjadi di masalalu. Untuk sekarang aku ingin kau pergi menjauh dari putriku Catherine dan cucu ku Jasmine."


Deg


"Ayah!"


"Diam Catherine!"


"Aku tidak akan meninggalkan mereka," seru Aiden dengan nada tenang.

__ADS_1


"Sudah aku duga," seru William tersenyum sinis. "Kau terus menempel pada putriku karena sekarang kau seorang pengangguran. Ahli waris yang sudah di hapus dari daftar keluarga Wiratama karena kelakuan orangtuamu itu, kau juga di pecat dari Firma hokum karena sikap tidak tau dirimu itu. Sekarang kau berusaha menempel pada putriku untuk menumpang hidup. Aku sudah membaca semua niatmu itu," seru William.


Aiden tau ini akan terjadi, ia mengenal siapa William. Pasti juga selama ini William mencari informasi mengenai dirinya.


"Kalau aku bisa membuktikan kalau aku bisa menghidupi Catherine dan Mine tanpa bantuan anda, apa itu sudah cukup?" Tanya Aiden.


"Sama sekali tidak cukup. Aku takut ini hanya gerakan pertamamu. Walaupun kau menemukan Firma hokum yang baru. Menjadi seorang Pengacara pun belum bisa hidup berdampingan dengan putriku," seru William dengan angkuh.


"Ayah, apa yang kamu katakan? Bukankah aku sudah bilang, kali ini jangan ikut campur lagi kehidupan pribadiku. Biarkan aku memilih pasanganku sendiri," protes Catherine.


"Catherine, lihatlah pria seperti apa yang kamu pilih ini, hah? Dia hanya seorang pengangguran yang menumpang hidup padamu," seru William.


"Dengar anak muda. Aku ingin kau setara dengan putriku, baru itu adil. Kalau kau tidak mampu maka tinggalkan putriku juga cucuku. Jangan bermimpi untuk bersama mereka," seru William.


Aiden hanya diam saja.


"Ayah, kenapa hanya materi yang selalu Ayah pikirkan. Tidakkah Ayah memikirkan kebahagiaanku?" seru Catherine.


"Ini juga demi dirimu!" William beranjak dari duduknya. "Jadi cepatlah kau tinggalkan rumah ini dan menjauh dari putriku juga cucuku. Aku beri kamu waktu dalam dua minggu. Kalau kamu tidak mampu, maka pergilah sejauh mungkin dari putri dan cucuku. Jangan berharap kau bisa menempel dan bergantung hidup pada mereka seperti parasit!"


Setelah mengatakan itu, William berlalu pergi meninggalkan mereka berdua yang terdiam membisu.


Kenapa? Baru saja kebahagiaan itu datang menghampiri mereka, kini harus di renggut kembali. Apa tidak bisa mereka menikmati kebahagiaan ini lebih lama.


"Aiden, jangan dengarkan ucapan Ayahku. Dia memang begitu tamak dan selalu mengutamakan bisnis," seru Catherine.


"Cath, bisakah kamu membantuku," seru Aiden.


"Apa?"


"Caritau mengenai kerjasama perusahaan Ayahmu dengan WT Corp," seru Aiden membuat Catherine membelalak lebar.


"A-apa kamu berniat kembali ke WT Corp? tapi bukankah orangtuamu?" Tanya Catherine.


"Aku masih memiliki saham di sana. Mungkin memang sebaiknya aku kembali ke WT Corp, hanya ini jalan satu-satunya," seru Aiden.


"Bukankah impianmu adalah menjadi seorang pengacara? Jangan dengarkan Ayahku. Aku akan membantumu menemukan Firma hukum yang cocok denganmu dan kamu bisa kembali bekerja menjadi pengacara di sana tanpa harus kembali ke WT Corp yang membuatmu kesakitan," seru Catherine.


Aiden beranjak dari duduknya dan duduk rengkuh di hadapan Catherine. Ia menggenggam kedua tangan Catherine.


"Impianku saat ini adalah kamu dan Mine. Dan aku tidak akan bisa jauh dan melepaskan kalian."


"Catherine, kehidupanku berubah drastic setelah bersama kalian. Banyak hal baru yang aku temukan dan yang pasti aku menemukan apa yang namanya kebahagiaan dan hidup. Maka aku tidak akan pernah pergi meninggalkan kalian sampai kapanpun juga. Aku akan memperjuangkan apapun untuk selalu bersamamu dan Mine."


Deg


Mendengar penuturan Aiden barusan, hati Catherine sangat menghangat dan ia merasa sangat terharu. Ia merasa di cintai dan sangat di perjuangkan.


"Aku... aku selalu bersamamu dan mendukungmu," ucap Catherine.


"Itulah yang aku butuhkan. Aku mencintaimu," ucap Aiden mendekatkan wajahnya ke arah Catherine, kemudian mengecup bibir Catherine.


*** 


TBC...

__ADS_1


04-06-2020


__ADS_2