
Catherineterlihat
sedang bekerja dengan laptopnya di atas brankar. Aiden masih duduk
memperhatikan nya. Sebenarnya Catherine sudah menyelesaikan pekerjaan nya yang
hanya mengecek beberapa laporan. Tetapi ia merasa gugup dan salah tingkah di
tatap seperti itu oleh Aiden. Karena merasa jengah, akhirnya Catherine menatap
ke arah Aiden.
"Apa
kamu sungguh tidak ada kegiatan? Kenapa berada di sini terus?" seru
Catherine.
"Apa
salah kalau aku di sini? Kamu sendiri tau, kalau aku sudah tidak bekerja
lagi," ucap Aiden dengan santai.
Aiden
sudah terbiasa dengan pengusiran dari Catherine. Ini bukan yang pertama kali
nya.
"Kalau
begitu lakukan apa saja, kenapa harus berada di sini terus" ucap
Catherine.
"Karena
di sini aku memiliki kegiatan. Berbeda kalau di apartemen paling aku tidur.
Jadi mending di sini kan. Lagipula kalau aku tidak ada di sini, kamu mau di
temani siapa," seru Aiden.
"Aku
terbiasa sendiri."
"Benarkah.
Kalau begitu kenapa kemarin saat aku pergi melihat Mine, kamu sudah kelabakan
dan menghubungi Evelyn beberapa kali untuk menemanimu," ucap Aiden.
Catherine
merasa dongkol. Evelyn dan Aiden benar-benar bekerja sama.
"Aku
ingin keluar," ucap Catherine menutup laptop di atas pangkuannya.
"Baiklah."
Aiden
beranjak dari duduknya dan mengambil laptop Catherine. Ia menyimpan nya di atas
nakas. Kemudian ia berjongkok di depan Catherine. Ia memasangkan kedua sandal
ke kaki Catherine.
Catherine
terpaku melihat Aiden yang melakukan hal
itu padanya. Entah kenapa ia merasa terharu juga tersanjung di buatnya.
"Ayo."
Aiden membawa Catherine ke dalam gendongannya dan mendudukannya di atas kursi
roda.
Ia
membawa Catherine keluar ruangan menuju ke taman rumah sakit.
Sesampainya
di sana. Aiden menghentikan gerakannya dan kini berdiri di samping Catherine.
"Rasanya
sudah lama tidak merasakan hembusan angin dan hujan salju," ucap Catherine
menengadahkan telapak tangannya. Sebentar lagi musim dingin akan segera
berakhir.
"Kamu
sangat menyukainya?" tanya Aiden yang memasang kan mantel miliknya di
punggung Catherine.
"Aku
sudah memakai mantel," protes Catherine.
"Udaranya
sangat dingin. Kamu harus menjaga kesehatanmu," ucapnya.
Catherine
akhirnya memilih diam dan menatap ke depan.
"Aiden..."
"Hmmm..."
"Bagaimana
saat itu kamu bisa menemui ku?" tanya Catherine.
"Aku
ingin menemui mu saat itu. Tetapi kata Mine kamu tidak pulang. Aku pikir kamu
menghindari ku," ucap Aiden.
"Saat
itu aku berharap mati saja. Aku tidak ingin semakin menyedihkan. Tetapi tidak
__ADS_1
di sangka kamu datang, dan membuatku memiliki harapan untuk hidup lagi. Tapi
sekarang-"
Ucapan
Catherine tertahan saat Aiden membungkukkan badannya menatap ke arah Catherine
hingga posisi mereka begitu dekat dan wajah mereka saling berhadapan.
"Jangan
menyimpulkan sesuatu yang belum jelas. Aku di sini hanya untuk kamu, bukan
karena balas budi," bisik Aiden mengecup bibir Catherine yang sedikit
terbuka. Tatapan mata Catherine masih membelalak lebar karena kaget.
"Aku
semakin menyukai ini," gumam Aiden kembali mencium bibir Catherine dan
kali ini lebih dalam memangutnya.
"Mommy....!!!"
Panggilan
itu membuat kesadaran Catherine kembali dan ia mendorong dada Aiden dengan
cukup kuat hingga ciuman mereka berdua terlepas.
"Mommy...
Uncle tampan!!!" teriak Mine berlari menghampiri mereka.
"Mom...!"
Mine langsung memeluk Catherine yang sudah menghadap ke arahnya dengan
merentangkan kedua tangannya.
"Mine...
I miss you so much..." bisik Catherine.
"I
miss you too Mom..." Mine semakin erat memeluk Catherine. "Mom, Mine
sangat kaget dan sedih dengar Mom masuk rumah sakit."
Mine
melepaskan pelukan nya dan menatap ke arah Catherine yang duduk di atas kursi
roda. Saat itu juga Evelyn baru saja sampai di tengah-tengah mereka.
"Kamu
datang dengan Mommy Eve?" tanya Catherine.
"Iya
Mom."
"Sorry...
Abis dia merengek terus nanyain kalian berdua," kekeh Evelyn.
"Mom
sini?" tanya Jasmine sedikit merengek.
"Mom
baik-baik saja kok Sayang. Kaki Mom hanya sedikit terluka dan sementara harus
gunain kursi roda," ucap Catherine.
"Uncle...
Uncle yang jagain Mommy?" tanya Mine yang di angguki Aiden.
"Terima
kasih Uncle tampan. Uncle memang the best..." seru Mine membuat Aiden
tersenyum.
"Kok
manggil Uncle. Panggil Daddy dong," seru Evelyn.
"Daddy?"
seru Mine terlibat bingung dan mengernyitkan dahinya.
Seketika
wajahnya berubah jadi berbinar dan begitu bersemangat. "Apa Uncle mau
menikah dengan Mommy aku? Dan jadi Daddy nya Mine?" serunya.
"Tidak,
nggak begitu sayang," seru Catherine.
"Terus
kenapa? Aku pikir kalian akan menikah," ucap Mine kembali kecewa.
Aiden
duduk rengkuh di hadapan Mine. "Kenapa sedih sih?" tanya Aiden.
"Aku
pikir Uncle bakalan jadi Daddy nya Mine," seru Mine.
"Aku
memang Daddy kamu, Sayang."
Mata
polos Mine melebar dan terlihat bingung menatap ke arah Aiden.
"Aku
adalah Daddy kandung kamu. Dulu aku bersalah meninggalkan kamu dan Mommy,"
ucap Aiden.
"A-apa?
__ADS_1
Ja-jadi Uncle adalah Daddy yang tega ninggalin Mine?" seru Mine terlihat
kaget.
"Mom-"
Mine menatap ke arah Catherine seakan meminta penjelasan.
"Iya
sayang. Uncle Aiden adalah Daddy kandung kamu. Maaf karena Mommy tidak
mengatakan semua ini sebelum nya," ucap Catherine.
"Bohong!"
teriak Mine berjalan mundur menjauhi mereka membuat Catherine dan Aiden saling
beradu pandang. "Kalian semua pembohong!"
Mine
menjerit menangis. "Kenapa orang dewasa mudah sekali berbohong. Sedangkan
anak-anak di larang bohong," isak Mine.
"Aku
sering nanya ke Mommy. Siapa Daddy, dimana Daddy, tapi Mommy selalu bilang
kalau Mine nggak punya Daddy. Mine berbeda sama anak lainnya yang punya Daddy.
Ternyata sekarang Mine punya Daddy," isaknya.
"Dan
Uncle juga bohong! Kenapa nggak bilang kalau Uncle itu Daddy nya Mine. Dan
kenapa baru datang sekarang. Mine sudah sering di ejekin temen-temen karena nggak
punya Daddy! Kalian bohong!" jerit Mine.
"Mine,
dengarkan dulu Nak." Aiden berusaha mendekati Mine tapi Mine malah berlari
pergi.
"Mine!"
"Kalian
tenang dulu. Biar aku yang nenangin dia," seru Evelyn berlari mengejar
Jasmine.
"Aiden
bagaimana ini," seru Catherine merasa sangat sedih.
"Kamu
tenang yah. Aku akan berusaha berbicara dengan Mine nanti. Mungkin Mine masih
sangat kaget." Aiden mengusap pundak Catherine yang gelisah memikirkan
Jasmine.
Ꙭ
"Mine..."
Evelyn
menghentikan larinya saat Mine berjongkok di sudut ruangan dengan pintu lift.
Evelyn
berjongkok di hadapan Mine yang menangis.
"Mereka
bohongin Mine," isaknya.
"Kamu
nggak paham situasinya sayang. Mereka terpaksa berbohong padamu," ucap
Evelyn.
"Kenapa
sih orang dewasa itu selalu ribet. Padahal kan hanya tinggal berkata jujur
saja. Kan Mommy juga sering ngingetin Mine biar nggak berbohong. Tapi Mommy
sendiri bohongin Mine terus," isaknya.
Evelyn
tersenyum masam. Mine memang anak yang cerdas. Ia juga pasti merasa sangat
kaget sekaligus kecewa.
"Mine
percaya sama Mommy Eve kan?" tanya Evelyn membuat Mine mengangguk.
"Kalau
begitu Mine ikut Mommy Eve pulang. Dan Mommy akan jelaskan segalanya,"
seru Evelyn.
"Mommy
Eve nggak akan bohongin Mine kan kayak Mommy," seru Mine.
"Janji."
Evelyn mengangkat tangannya ke udara tepat di sisi kepalanya sebagai tanda ia
berjanji.
"Ya
sudah kita pulang," seru Mine.
"Anak
pintar." Evelyn mengusap kepala Mine dan membawanya pergi meninggalkan
tempat itu.
Ꙭ
__ADS_1