Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 31


__ADS_3

Catherineterlihat


sedang bekerja dengan laptopnya di atas brankar. Aiden masih duduk


memperhatikan nya. Sebenarnya Catherine sudah menyelesaikan pekerjaan nya yang


hanya mengecek beberapa laporan. Tetapi ia merasa gugup dan salah tingkah di


tatap seperti itu oleh Aiden. Karena merasa jengah, akhirnya Catherine menatap


ke arah Aiden.


"Apa


kamu sungguh tidak ada kegiatan? Kenapa berada di sini terus?" seru


Catherine.


"Apa


salah kalau aku di sini? Kamu sendiri tau, kalau aku sudah tidak bekerja


lagi," ucap Aiden dengan santai.


Aiden


sudah terbiasa dengan pengusiran dari Catherine. Ini bukan yang pertama kali


nya.


"Kalau


begitu lakukan apa saja, kenapa harus berada di sini terus" ucap


Catherine.


"Karena


di sini aku memiliki kegiatan. Berbeda kalau di apartemen paling aku tidur.


Jadi mending di sini kan. Lagipula kalau aku tidak ada di sini, kamu mau di


temani siapa," seru Aiden.


"Aku


terbiasa sendiri."


"Benarkah.


Kalau begitu kenapa kemarin saat aku pergi melihat Mine, kamu sudah kelabakan


dan menghubungi Evelyn beberapa kali untuk menemanimu," ucap Aiden.


Catherine


merasa dongkol. Evelyn dan Aiden benar-benar bekerja sama.


"Aku


ingin keluar," ucap Catherine menutup laptop di atas pangkuannya.


"Baiklah."


Aiden


beranjak dari duduknya dan mengambil laptop Catherine. Ia menyimpan nya di atas


nakas. Kemudian ia berjongkok di depan Catherine. Ia memasangkan kedua sandal


ke kaki Catherine.


Catherine


terpaku melihat Aiden yang  melakukan hal


itu padanya. Entah kenapa ia merasa terharu juga tersanjung di buatnya.


"Ayo."


Aiden membawa Catherine ke dalam gendongannya dan mendudukannya di atas kursi


roda.


Ia


membawa Catherine keluar ruangan menuju ke taman rumah sakit.


Sesampainya


di sana. Aiden menghentikan gerakannya dan kini berdiri di samping Catherine.


"Rasanya


sudah lama tidak merasakan hembusan angin dan hujan salju," ucap Catherine


menengadahkan telapak tangannya. Sebentar lagi musim dingin akan segera


berakhir.


"Kamu


sangat menyukainya?" tanya Aiden yang memasang kan mantel miliknya di


punggung Catherine.


"Aku


sudah memakai mantel," protes Catherine.


"Udaranya


sangat dingin. Kamu harus menjaga kesehatanmu," ucapnya.


Catherine


akhirnya memilih diam dan menatap ke depan.


"Aiden..."


"Hmmm..."


"Bagaimana


saat itu kamu bisa menemui ku?" tanya Catherine.


"Aku


ingin menemui mu saat itu. Tetapi kata Mine kamu tidak pulang. Aku pikir kamu


menghindari ku," ucap Aiden.


"Saat


itu aku berharap mati saja. Aku tidak ingin semakin menyedihkan. Tetapi tidak

__ADS_1


di sangka kamu datang, dan membuatku memiliki harapan untuk hidup lagi. Tapi


sekarang-"


Ucapan


Catherine tertahan saat Aiden membungkukkan badannya menatap ke arah Catherine


hingga posisi mereka begitu dekat dan wajah mereka saling berhadapan.


"Jangan


menyimpulkan sesuatu yang belum jelas. Aku di sini hanya untuk kamu, bukan


karena balas budi," bisik Aiden mengecup bibir Catherine yang sedikit


terbuka. Tatapan mata Catherine masih membelalak lebar karena kaget.


"Aku


semakin menyukai ini," gumam Aiden kembali mencium bibir Catherine dan


kali ini lebih dalam memangutnya.


"Mommy....!!!"


Panggilan


itu membuat kesadaran Catherine kembali dan ia mendorong dada Aiden dengan


cukup kuat hingga ciuman mereka berdua terlepas.


"Mommy...


Uncle tampan!!!" teriak Mine berlari menghampiri mereka.


"Mom...!"


Mine langsung memeluk Catherine yang sudah menghadap ke arahnya dengan


merentangkan kedua tangannya.


"Mine...


I miss you so much..." bisik Catherine.


"I


miss you too Mom..." Mine semakin erat memeluk Catherine. "Mom, Mine


sangat kaget dan sedih dengar Mom masuk rumah sakit."


Mine


melepaskan pelukan nya dan menatap ke arah Catherine yang duduk di atas kursi


roda. Saat itu juga Evelyn baru saja sampai di tengah-tengah mereka.


"Kamu


datang dengan Mommy Eve?" tanya Catherine.


"Iya


Mom."


"Sorry...


Abis dia merengek terus nanyain kalian berdua," kekeh Evelyn.


"Mom


sini?" tanya Jasmine sedikit merengek.


"Mom


baik-baik saja kok Sayang. Kaki Mom hanya sedikit terluka dan sementara harus


gunain kursi roda," ucap Catherine.


"Uncle...


Uncle yang jagain Mommy?" tanya Mine yang di angguki Aiden.


"Terima


kasih Uncle tampan. Uncle memang the best..." seru Mine membuat Aiden


tersenyum.


"Kok


manggil Uncle. Panggil Daddy dong," seru Evelyn.


"Daddy?"


seru Mine terlibat bingung dan mengernyitkan dahinya.


Seketika


wajahnya berubah jadi berbinar dan begitu bersemangat. "Apa Uncle mau


menikah dengan Mommy aku? Dan jadi Daddy nya Mine?" serunya.


"Tidak,


nggak begitu sayang," seru Catherine.


"Terus


kenapa? Aku pikir kalian akan menikah," ucap Mine kembali kecewa.


Aiden


duduk rengkuh di hadapan Mine. "Kenapa sedih sih?" tanya Aiden.


"Aku


pikir Uncle bakalan jadi Daddy nya Mine," seru Mine.


"Aku


memang Daddy kamu, Sayang."


Mata


polos Mine melebar dan terlihat bingung menatap ke arah Aiden.


"Aku


adalah Daddy kandung kamu. Dulu aku bersalah meninggalkan kamu dan Mommy,"


ucap Aiden.


"A-apa?

__ADS_1


Ja-jadi Uncle adalah Daddy yang tega ninggalin Mine?" seru Mine terlihat


kaget.


"Mom-"


Mine menatap ke arah Catherine seakan meminta penjelasan.


"Iya


sayang. Uncle Aiden adalah Daddy kandung kamu. Maaf karena Mommy tidak


mengatakan semua ini sebelum nya," ucap Catherine.


"Bohong!"


teriak Mine berjalan mundur menjauhi mereka membuat Catherine dan Aiden saling


beradu pandang. "Kalian semua pembohong!"


Mine


menjerit menangis. "Kenapa orang dewasa mudah sekali berbohong. Sedangkan


anak-anak di larang bohong," isak Mine.


"Aku


sering nanya ke Mommy. Siapa Daddy, dimana Daddy, tapi Mommy selalu bilang


kalau Mine nggak punya Daddy. Mine berbeda sama anak lainnya yang punya Daddy.


Ternyata sekarang Mine punya Daddy," isaknya.


"Dan


Uncle juga bohong! Kenapa nggak bilang kalau Uncle itu Daddy nya Mine. Dan


kenapa baru datang sekarang. Mine sudah sering di ejekin temen-temen karena nggak


punya Daddy! Kalian bohong!" jerit Mine.


"Mine,


dengarkan dulu Nak." Aiden berusaha mendekati Mine tapi Mine malah berlari


pergi.


"Mine!"


"Kalian


tenang dulu. Biar aku yang nenangin dia," seru Evelyn berlari mengejar


Jasmine.


"Aiden


bagaimana ini," seru Catherine merasa sangat sedih.


"Kamu


tenang yah. Aku akan berusaha berbicara dengan Mine nanti. Mungkin Mine masih


sangat kaget." Aiden mengusap pundak Catherine yang gelisah memikirkan


Jasmine.



"Mine..."


Evelyn


menghentikan larinya saat Mine berjongkok di sudut ruangan dengan pintu lift.


Evelyn


berjongkok di hadapan Mine yang menangis.


"Mereka


bohongin Mine," isaknya.


"Kamu


nggak paham situasinya sayang. Mereka terpaksa berbohong padamu," ucap


Evelyn.


"Kenapa


sih orang dewasa itu selalu ribet. Padahal kan hanya tinggal berkata jujur


saja. Kan Mommy juga sering ngingetin Mine biar nggak berbohong. Tapi Mommy


sendiri bohongin Mine terus," isaknya.


Evelyn


tersenyum masam. Mine memang anak yang cerdas. Ia juga pasti merasa sangat


kaget sekaligus kecewa.


"Mine


percaya sama Mommy Eve kan?" tanya Evelyn membuat Mine mengangguk.


"Kalau


begitu Mine ikut Mommy Eve pulang. Dan Mommy akan jelaskan segalanya,"


seru Evelyn.


"Mommy


Eve nggak akan bohongin Mine kan kayak Mommy," seru Mine.


"Janji."


Evelyn mengangkat tangannya ke udara tepat di sisi kepalanya sebagai tanda ia


berjanji.


"Ya


sudah kita pulang," seru Mine.


"Anak


pintar." Evelyn mengusap kepala Mine dan membawanya pergi meninggalkan


tempat itu.


__ADS_1


__ADS_2