Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 21


__ADS_3

                Catherine cukup di repotkan dengan beberapa wartawan yang terus menerus mengejar dirinya untuk mendapatkan informasi darinya mengenai hubungan dirinya dengan pria misterius itu.


Catherine menghela nafasnya dan merasa sangat lelah terus menerus bersembunyi layaknya buronan.


Pagi ini dia harus pergi ke kantor, tetapi wartawan sudah memenuhi area rumahnya membuatnya tidak bisa keluar. Dia sungguh terjebak.


Ia yakin kalau semua ini ulah Robert. Bagaimana para wartawan itu mendapatkan alamatnya.


"Oh God. Sampai kapan akan seperti ini," keluhnya.


Ia masih mengintip dari balik jendela rumahnya. Ia sungguh terjebak.


"Nona Catherine tolong keluar."


"Nona Catherine tolong berikan keterangan anda mengenai perselingkuhan anda."


"Bagaimana mungkin anda tega menyelingkuhi seorang Robert Castayol."


Dan berbagai pertanyaan lainnya.


"Bagaimana ini," gumamnya.


Ia melihat sebuah mobil terparkir di depan rumahnya dan seseorang menuruni mobil itu dan berjalan menerobos kerumunan para wartawan. Catherine masih mengintip dari balik jendela.


"Aiden..." gumamnya.


"Apa yang kalian lakukan di kediaman Ny. Catherine? Apa kalian ingin mengusik ketenagannya?" seru Aiden di depan semua wartawan.


"Kami hanya membutuhkan beberapa informasi dari Nona Catherine mengenai perselingkuhannya dan pertunangannya yang batal dengan Mr. Robert."


"Anda siapa? Kenapa datang kemari?"


"Saya Aiden. Saya adalah pengacaran dari perusahaan SR. Saya pengacara dari Ny. Catherine." Aiden memperlihatkan kartu namanya ke para wartawan.


"Karena kalian telah mengganggu ketenangan seorang warga, maka aku bisa melaporkan kalian semua dan menuntut kalian melalui jalur hukum. Bahkan kalian merusak halaman depan rumah seseorang. Kalian tau bukan kerugian apa yang akan kalian dan perusahaan kalian dapatkan kalau aku sampai menuntut kalian," seru Aiden membuat para wartawan itu saling menatap satu sama lainnya dan terdengar kasak kusuk di antara mereka.


"Tapi kami juga butuh informasi dan berita ini."

__ADS_1


"Baiklah begini saja. Aku akan melihat jadwalnya Ny. Catherine. Kemudian aku akan mengadakan konferensi pers . jadi nanti kalian bisa bertanya sepuasnya pada yang bersangkutan," ucap Aiden.


"Sekarang sebaiknya kalian pergi saja. Daripada mengganggu ketenangan seseorang," seru Aiden.


Terdengar kasak kusuk dari para wartawan yang akhirnya memilih pergi meninggalkan area kediaman Catherine.


Catherine memperhatikan Aiden saat semua wartawan pergi meniggalkan kediamannya.


'Kenapa harus selalu Aiden yang menolongku? Bagaimana aku bisa melupakannya kalau seperti ini,' batin Catherine.


Bel rumah terdengar dan suara Aiden pun terdengar di intercom yang mengatakan kalau semua wartawan sudah pergi.


Catherine menghela nafasnya kemudian membuka pintu hingga tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata tajam nan teduh.


Dengan cepat Catherine memalingkan pandangannya.


"Terima kasih."


Setelah mengatakan itu, Catheirine berjalan melewati Aiden meuju mobilnya yang terparkir tak jauh dairi posisi Aiden berdiri.


Aiden hanya menatap kepergian Catherine dalam diam.


----


Di dalam mobil, ingatan Catherine kembali pada kejadian saat ia mengutarakan perasaannya pada Aiden.


Air matanya tanpa bisa di tahan lagi, mengalir membasahi pipinya.


Sungguh sakit sekali rasanya. Hanya jatuh cinta saja kenapa harus sesakit ini....


Catherine mencengkram kuat setir mobilnya dan air mata tak urungnya reda.


***


"Sir, ada tamu untuk anda," seru Sekretaris Aiden melalui intercom.


"Siapa?"

__ADS_1


"Dia mengaku bernama Nona Evelyn."


"Silahkan dia masuk."


Tak lama setelah mengatakan itu, pintu ruangan terbuka dan menampakan sosok wanita cantik nan anggun.


"Selamat siang, Mr. Aiden. Apa aku mengganggumu?" tanyanya diiringi senyuman menawannya.


"Tidak, silahkan duduk," seru Aiden mempersilahkan Evelyn untuk duduk di sofa yang ada di ruangannya.


Evelyn pun duduk di sana sesuai arahan. Aiden ikut bergabung duduk di sana dengan maskulin membuat Evelyn tak mampu berpaling dari sosok Aiden di hadapannya.


"Ada apa datang kemari, bahkan tanpa memberitahuku dulu," seru Aiden.


"Tidak ada hal penting. Aku hanya kebetulan lewat saja. Kalau Mr. Aiden tidak sibuk, bagaimana kalau kita makan siang bersama?" ajaknya penuh harap.


"Bagaimaa yah, sebenarnya pekerjaan saya masih banyak," seru Aiden.


"Kalau begitu kedatangan saya kemari sungguh tidak tepat sekali," serunya terlihat raut kekecewaan di sana.


"Begini saja, bagaimana kalau makan siangnya di ganti menjadi makan malam saja," seru Aiden membuat tatapan Evelyn kembali bersinar cerah.


"Nanti malam pukul 8 di restaurant sebrang apartement,. Bagaimana?" seru Aiden.


"Aku setuju. Aku akan menunggu Mr. Aiden."


"Panggil saja Aiden, tanpa embel-embel," ucap Aiden.


"Baiklah Aiden."


Evelyn tersenyum merekah. Sedangkan Aiden hanya bisa tersenyum kecil.


*** 


TBC...


08-04-2020

__ADS_1


__ADS_2