Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 28


__ADS_3

Aiden berdiri di taman yang berada di dekat rumah sakit, ia menatap nyalang ke depan, lampu-lampu tampak indah di sana. Malam tanpa bintang menyelimuti kota N dengan cuaca yang sangat dingin. Salju masih setia menghujani kota N.


Aiden memejamkan matanya mengingat perkataan Dokter sebelumnya yang menyebutkan golongan darah dari Jasmine.


Ternyata Jasmine adalah putri biologisnya yang bahkan tidak ia ketahui. Pantas saja saat pertama kali bertemu dengannya, ia merasa begitu familiar dan ada perasaan hangat yang mengaliri hatinya.


'Kenapa Catherine begitu tega meyembunyikan fakta sebesar ini.' Batin Aiden.


Bagaimana kalau Aiden tidak melihat mereka berdua tadi. Mungkin selamanya ia tidak akan mengetahui fakta mengenai Jasmine.


Jasmine adalah putrinya.


Air mata Aiden luruh membasahi pipinya. Hatinya merasa sangat terharu dan tak menyangka, ternyata ia masih memiliki keluarga. Setidaknya ia memiliki alasan penting untuk tetap hidup.


----


Di sisi lain, Catherine duduk di sisi tubuh Jasmine yang terkulai tak sadarkan diri di atas blangkar. Ia menatap wajah tenang dan lelap putri kesayangannya itu. Di ambilnya tangan Jasmine dan ia memegangnya dengan lembut.


"Akhirnya keinginanmu terkabul, Mine. Uncle tampan adalah Daddy mu," gumam Catherine dengan air mata yang luruh membasahi pipi.


Catherine memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya. Akankah Aiden membawa pergi Jasmine darinya.


Catherine masih mengingat ekspresi kecewa dari Aiden tadi. Ia menjadi merasa sangat bersalah pada Aiden. Mungkin ia memang sudah sangat menyakiti Aiden.


Kamu membuatku menjadi seorang yang lebih brengsek dari Davero. Aku membencinya karena ia tega menelantarkan wanita yang sedang mengandung anaknya. Tapi alasan Dave lebih bisa di terima di banding aku. Aku jelas jauh lebih brengsek darinya...


Kata-kata Aiden terus saja terngiang di telinganya membuatnya semakin merasa begitu bersalah.


Catherine beranjak dari duduknya dan berjalan menuju jendela besar yang menjadi pembatas dinding di sana. Ia menatap keluar dimana salju masih turun dan lampu-lampu kota begitu terlihat indah.


***


Pagi-pagi Evelyn datang dengan sangat tergesa dan masuk ke dalam ruangan Jasmine.


"Mine, Catherine."


Catherine menoleh ke sumber suara, ia baru terbangun dari tidurnya yang tidur di sofa ruangan tempat Jasmine di rawat.

__ADS_1


"Kamu datang," ucap Catherine mengusap kedua matanya. Tatapannya tertuju pada Jasmine yang belum sadarkan diri.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Evelyn berjalan mendekati blangkar Jasmine diikuti Catherine.


"Aku juga tidak tau. Kemarin saat aku mengantarnya ke sekolah, tiba-tiba saja seorang pria mendekatinya dan langsung menusuknya."


"Terus apa sudah lapor polisi?" tanya Evelyn.


"Sudah. Tapi jejaknya sulit di temukan."


"Ya Tuhan. Mine sayang, malang sekali. Siapa sebenarnya orang yang ingin mencelakai anak kecil seperti Mine. Tega sekali," seru Evelyn mengusap kepala Jasmine.


"Lalu apa kata Dokter? Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Evelyn.


"Kemarin dia melakukan operasi. Dan katanya sudah melalui masa kritisnya," seru Catherine. "Semua ini berkat dia. Kalau tidak ada dia, mungkin Mine tidak bisa tertolong," ucap Catherine menatap sendu Mine.


"Dia? Siapa dia?" tanya Evelyn mengernyitkan dahinya.


"Ayah biologisnya Jasmine," ucap Catherine dengan tenang membuat Evelyn menoleh ke arahnya dengan kaget.


"Pria brengsek itu? Dimana dia sekarang? Aku akan memberi dia pelajaran. Enak saja datang begitu saja setelah meninggalkan dan menelantarkan kalian berdua hanya karena dia gak bisa move on!" seru Evelyn sangat berapi-api.


"Bagaimana bukan salah dia. Jelas-jelas dia menelantarkan kalian!" seru Evelyn.


"Aku yang salah Eve. Aku yang memilih pergi darinya. Bahkan saat mengetahui kebenaran kalau Jasmine adalah anak biologisnya, dia sangat marah padaku," seru Catherine mengingat kejadian semalam saat Aiden marah besar padanya.


"Ck, kenapa hubungan kalian rumit sekali," seru Evelyn menghela nafasnya. Ia tidak memahami hubungan Catherine dengan pria yang merupakan Ayah biologisnya Mine.


"Baiklah, aku akan belikan sarapan untukmu. Kamu tunggu di sini," seru Evelyn beranjak pergi meninggalkan Catheirne seorang diri.


----


Selang 20 menit dari kepergian Evelyn, Aiden masuk ke dalam ruangan Jasmine.


"Bagaimana keadaannya? Apa dia sudah siuman?" tanya Aiden membuat Catherine mengangkat kepalanya menatap ke sumber suara.


Ia sedikit canggung saat melihat Aiden berdiri di depannya menatap ke arah Jasmine. Pakaiannya masih sama seperti kemarin. Ternyata Aiden tidak pulang. Mungkin Aiden sengaja menghindari dirinya.

__ADS_1


"Dia belum sadar," jawab Catherine.


Aiden berjalan mendekati blangkar dan sedikit menunduk. Ia mengusap kepala Jasmine, kemudian mencium kepala Jasmine penuh sayang.


Catherine yang melihat semua itu merasa tersentuh. Ia ingat kalau Jasmine selalu saja menanyakan perihal Daddy nya. Bagaimana Daddy nya itu, apa dia tampan apa dia baik. Kenapa dia meninggalkan Jasmine.


Semua itu kembali terlintas di benak Catherine membuat air matanya tak mampu ia tahan lagi. Dia merasa sangat jahat karena meyembunyikan semua ini hanya karena keegoisannya. Tetapi kalau waktu itu ia berkata jujur pada Aiden. Apa Aiden akan menerima dirinya dan mampu mencintainya? Atau hanya sebatas tanggung jawab saja.


"Masalah kemarin aku minta maaf. Mungkin aku terlalu kasar padamu," ucap Aiden membuat Catherine kini menatap ke arah Aiden dengan tatapan sendu.


Aiden kini sudah menghadap ke arah Catherine dan menatap manik mata Catherine yang berkabut karena air matanya.


"Aku sadar semua ini adalah kesalahanku. Aku yang sangat pecundang dan begitu brengsek. Aku sungguh minta maaf karena membuatmu harus menanggung semua ini," ucap Aiden.


Catherine ingin berbicara tetapi tetapi tenggorokannya terasa tersumbat sesuatu dan ia sulit untuk mengeluarkan suaranya sendiri.


"Cath, aku sudah belikan sarapan untuk- Aiden?" seru Evelyn berdiri di ambang pintu melihat ke arah mereka berdua yang kini melihat ke arahnya.


"Aiden, kenapa kamu ada di sini?" tanyanya tersenyum. "Apa kamu mengenal Catherine?"


Evelyn menatap Catherine dan Aiden secara bergantian dan perlahan senyumannya memudar.


"Aiden... Cath..." gumamnya semakin berdebar kencang menyimpulkan sesuatu yang pasti membuatnya akan terluka. "Jadi Aiden ini-?"


Evelyn menutup mulutnya hingga menjatuhkan makanan yang ia bawa. Kemudian ia langsung berlalu pergi meninggalkan ruangan itu.


"Eve...?"


Baik Aiden maupun Catherine, keduanya sama-sama bingung.


*** 


TBC...


21-04-2020


Sabar menanti kelanjutannya yah. Karena kalau di update sekaligus. Rasanya gak akan sedapat saat bersambung. 

__ADS_1


Di tunggu kelanjutannya...


__ADS_2