Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan
Episode 51 (End)


__ADS_3

"Ada apa meminta kami datang?" tanya Harry yang datang bersama Evelyn menuju Aiden yang tampak duduk di kursi sebuah restaurant.


"Aku mau meminta tolong pada kalian. Duduklah," ucapnya.


Evelyn dan Harry saling menatap. Kemudian mereka pun mengambil duduk di hadapan Aiden dan memesan makanan mereka.


Tak lama pesanan mereka pun datang.


Aiden menyeduh kopi yang ia pesan, begitu juga dengan Harry dan Evelyn.


"So?"


"Aku butuh bantuan kalian untuk membuat sebuah perayaan kecil," seru Aiden.


"Perayaan apa?" tanya Evelyn tampak bersemangat.


"Begini...." Aiden pun menjelaskan apa maksudnya dana pa saja yang perlu di siapkan.


"Hanya itu?" tanya Harry seakan semua hal itu adalah hal mudah.


"Iya hanya itu. Aku ingin melakukan hal kecil ini sebelum kembali ke Indonesia," seru Aiden.


"Jadi nanti kalian akan menetap di sana?" tanya Evelyn.


"Maybe. Aku harus mendapat persetujuan dulu dari Catherine."


"Kalau hanya hal itu, aku bisa membantumu menyiapkannya. Kau tenang saja," seru Harry.


"Kau memang sangat bisa di andalkan, Har."


"Tidak perlu merasa terharu begitu," jawabnya membuat Aiden mencibir dan Evelyn hanya bisa terkekeh.


"Lalu apa tugasku di sini?" tanya Evelyn.


"Tugasmu hanya perlu mendampingi Harry seterusnya," seru Aiden.


"Ck, itu sih tidak perlu di minta," seru Evelyn.


"Dia akan selalu bersamaku, Aiden. Kami akan menikah," seru Harry merangkul pundak Evelyn.


"Menikah? Seriously?" pekik Aiden terlihat tak percaya.


"Kenapa kau kaget begitu. Memangnya salah kalau kami memutuskan untuk menikah?" tanya Harry.


"Ah tidak sih. Aku senang mendengarnya," kekeh Aiden. "Akhirnya Har, kau menemukan tambatan hatimu."


"Begitulah,"kekehnya menatap Evelyn yang juga tengah tersenyum ke arahnya.


"Aku ikut senang melihatnya."


"Dan semoga rencanamu ini berhasil, Brother." Seru Harry tersenyum ke arah Aiden.



"Kamu pergi ke mana?" tanya Catherine saat Aiden baru saja datang.


"Aku baru saja bertemu dengan Harry. Ada beberapa pekerjaan dengannya," ucap Aiden mengecup kepala Catherine.


"Mine mana?"


"Ada di kamarnya."


"Aku temui Mine dulu," seru Aiden berjalan menuju kamar Mine.


Aiden tersenyum saat Mine terlihat sibuk menggambar sesuatu di buku gambarnya.


"Sedang apa?" tanya Aiden yang duduk di samping Mine.


"Daddy...." Mine terlihat senang melihat kehadiran Aiden di sana.


"Sedang menggambar apa?" tanya Aiden melihat ke arah gambar Mine.

__ADS_1


"Ini Mine lagi gambar Daddy, Mommy dan Mine," seru Jasmine tersenyum merekah seraya menunjukkan gambarnya. "Ini kita lagi piknik kayak waktu itu."


"Gambarnya bagus. Mommy kamu nggak pake kursi roda?" tanya Aiden.


"Nggak Dad. Mine berdoa pada Tuhan setiap hari. Semoga Mommy bisa cepat sembuh dan bisa berjalan lagi kayak dulu. Jadi nanti kita bertiga bisa berjalan bersama saling berpegangan tangan seperti ini," seru Mine dengan nada polosnya membuat Aiden tersenyum.


"Itu pasti, Mommy kamu akan segera sembuh," seru Aiden mengusap kepala Mine seraya mengecupnya.


Catherine tersenyum kecil di ambang pintu kamar Mine. Ia pun mendengar apa yang Mine katakan pada Aiden.


---


"Inia pa?" tanya Catherine saat Aiden menyimpan satu bingkisan besar di atas ranjang kamar mereka.


"Itu buat kamu. Aku akan mengajakmu kencan lagi. Jadi besok berdandanlah yang cantik," seru Aiden mengedipkan sebelah matanya ke arah Catherine.


"Kamu mau mengajakku kencan ke mana?" tanya Catherine.


"Rahasia dong."


"Penuh misteri," ucap Catherine membuka bingkisannya. "Tapi ini makasih yah."


"Sama-sama. Aku akan mengajak Mine membeli ice cream dulu," ucap Aiden mengecup kepala Catherine dan beranjak pergi meninggalkan Catherine sendirian.


Catherine membuka bingkisan itu dimana isinya adalah gaun yang sangat cantik dan indah.


"Ini baju keluaran terbaru dari Eve. Indah banget," seru Catherine seraya mengangkat baju itu tinggi-tinggi untuk melihat keseluruhan gaun.


"Tapi ke mana Aiden akan mengajakku berkencan yah?" gumam Catherine berpikir beberapa saat.



Sesuai rencana, Aiden mengajak Catherine ke suatu tempat. Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya mereka pun sampai di tempat tujuan.


"Kapal pesiar?" gumam Catherine saat Aiden sudah mendorong kursi rodanya mendekati kapal pesiar.


"Ya, kita coba kencan di sana, yah," seru Aiden kembali mendorong kursi roda Catherine.


Aiden membawa Catherine ke bagian belakang kapal di dekat kolam renang dimana banyak sekali bunga di sana. Bahkan ada beberapa taburan kelopak bunga di atas air kolam renang. Pencahayaan di sana pun sangat redup dan terkesan begitu romantic.


"Oh My God." Catherine sungguh terpesona. Pemandangannya sungguh sangat indah dan mempesona.


"Aiden..."


Catherine berbalik ke arah Aiden dan tubuhnya membeku. Senyumannya sedikit memudar kala ia melihat Aiden sudah duduk rengkuh di hadapannya dengan menunjukkan satu kotak berwarna merah yang terbuka dan memperlihatkan sebuah cincin berlian indah di sana.


"Be my wife...."


Deg


Mata Catherine yang tadinya menatap ke arah cincin itu kini tertuju pada mata abu milik Aiden.


"Aiden?"


"Jadilah orang yang selalu mendampingiku. Jadilah teman hidupku. Jadilah Ibu untuk anak-anakku kelak," seru Aiden membuat Catherine sangat terharu dan tak mampu berkata-kata. Ia sangat kaget hingga tidak tau harus mengatakan apa.


"Aku mencintaimu Catherine. Jangan menolakku, please...."


Catherine menganggukkan kepalanya diiringi senyuman bahagia dan mata yang berkaca-kaca.


Aiden beranjak dari duduk rengkuhnya dan mendekati Catherine. Ia memasangkan cincin berlian itu di jari manisnya. Kemudian ia membawa Catherine ke dalam gendongannya.


Catherine mengalungkan kedua tangannya di leher Aiden. Mereka berdua saling berciuman penuh cinta.


Suara petasan dan cahaya petasan terdengar di atas kepala mereka membuat Catherine dan Aiden menyudahi kegiatan ciuman mereka. Keduanya melihat ke langit dimana petasan terlihat berpencaran di atas langit dengan warna warni dan sangat indah.


"Congratulation.....!"


Teriakan itu membuat Catherine menoleh ke arah lain kapal. Di bagian atas kapal, satu tingkat di atasnya terlihat Harry, Evely, Mouli, Kakaknya, bahkan Mine juga ada berteriak memberikan kata selamat kepada mereka. Di sana terlihat beberapa orang yang mereka kenal.


Aiden dan Catherine hanya terkekeh.

__ADS_1


"Kamu menyiapkan ini semua?" tanya Catherine.


"Dengan bantuan Harry," seru Aiden membuat Catherine terkekeh.


"Cepat naik ke sini, jangan berciuman terus. Kita harus merayakannya," teriak Mike.


Aiden mendudukan Catherine di kursi rodanya kembali dan mendorong kursi rodanya menuju teman-temannya.


"Mommy... Daddy... akhirnya kalian mau menikah!" seru Mine berlari ke arah mereka.


Mine memeluk Aiden dan Catherine ikut memeluk mereka yang berjongkok di hadapannya, dengan tawa mengiringi mereka bertiga.


"Akhirnya," gumam Evelyn terharu melihat mereka bertiga yang seakan baru saja mengepakkan sayapnya dan terlepas dari kesakitan yang selama ini membelenggu mereka bertiga.


Semua sahabat mereka tersenyum melihatnya. Begitu juga dengan Kakak sepupu Catherine yang saat itu baru pertama kali bertemu dengan Aiden. Ia sudah tau kalau Aiden adalah pria yang tepat untuk Catherine.


Mereka bertiga melepaskan pelukannya. Aiden membelai kedua pipi chubby Mine dan mengecup keningnya.


"Kita akan bersama-sama selamanya," serunya.


"Mine seneng banget banget banget dengernya," kekeh Mine terlihat sangat bahagia. Catherine pun ikut tersenyum dan tertawa melihatnya.


Aiden membawa Mine ke dalam gendongannya dan para sahabat langsung menyerbu mereka untuk memberikan selamat dengan memeluk dan mencium pipi kiri dan kanan.


Setelah acara saling memberi selamat. Mereka semua menikmati anggur terbaik dalam gelas berkaki.


"Ini untuk Aiden dan Catherine!" seru Harry mengangkat gelasnya ke udara di ikuti yang lainnya juga. Kemudian mereka semua meneguk anggurnya begitu juga Aiden dan Catherine.


Mine hanya menikmati jus yang di berikan Mouli.


Setelah itu mereka berdansa bersama dengan langit malam nan indah dan bulan yang menjadi atapnya. Hembusan angina laut begitu menusuk ke dalam kulit dan menyejukkan.


Aiden mengajak Catherine untuk berdansa. Ia membiarkan Catherine menginjakkan kedua kakinya di atas kaki Aiden. Catherine melingkarkan kedua tangannya di leher Aiden dengan Aiden yang merengkuh pinggang Catherine hingga menempel ke tubuhnya. Kening dan hidung mereka saling bersentuhan dan tatapan mereka terpaut satu sama lainnya. Mereka berdua pun ikut berdansa dengan yang lain mengikuti alunan music yang indah nan romantic.


"Kamu bahagia?" tanya Aiden.


"Sangat. Aku berharap ini bukan mimpi. Kalau ini mimpi, aku tidak ingin terbangun dari mimpi ini," seru Catherine.


"Aku pastikan ini bukan mimpi," serunya dan Catherine hanya bisa tersenyum.


"Cath."


"Hmmm"


"Lusa ini aku harus kembali ke Indonesia dan bekerja di sana. Kamu dan Mine, mau ikut denganku ke sana, bukan?" tanya Aiden.


Catherine hanya diam tak menjawabnya.


"Aku ingin kita menikah di sana. Bagaimana menurutmu?" tanya Aiden.


"Aiden, saat itu di depan Ayahku. Kamu telah menukarkan aku dengan sebuah kontrak kerja sama. Kini aku adalah milikmu, maka aku akan ikut kemanapun kamu membawaku," ucap Catherine membuat Aiden tersenyum senang.


"Kita akan memulai kehidupan baru kita di sana."


Catherine mengangguk setuju.


End...


*** 


Alhamdulillah akhirnya cerita ini selesai juga. Untuk Extra Part tersedia di Google playbook dan Versi bukunya. Nantikan Open PO nya Guys. 


Untuk Kontak Person. Mau bertanya apapun bisa langsung menghubungiku via wa yah 


wa 081321079375 


Ig Indriani_sonaris


Untuk selanjutnya Seri Devil akan publish cerita milik Regan judulnya "You Belong Me." setelah Regan, nanti akan ada cerita milik Mine. Nantikan yah.


Terima kasih yang sudah baca dan ikutin cerita ini. Jangan lupa beli Ebook dan Bukunya. Apresiasi buat penulisnya :D 

__ADS_1


See


Indriani Sonaris


__ADS_2