
Catherine sempat kaget saat Aiden melakukan panggilan video kepadanya saat pagi hari. Ia bahkan baru saja bangun. Memang sih perbedaan waktu di antara mereka cukup jauh. Mungkin sekarang di tempat Aiden sudah pukul 8 malam.
"Kenapa harus video call sih," gumamnya seraya mengucek kedua matanya.
Catherine berangsur bangun mencapai kursi rodanya dan menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggunakan bb cream. Ia mengoleskan wajahnya dengan BB cream dan menepuk-nepuk kedua pipinya supaya terlihat lebih segar. Ia bercermin dan merapihkan rambutnya yang berantakan.
Sekali lagi handphone nya berdering dan menunjukkan nama Aiden di sana. Catherine mendorong roda kursi rodanya menuju ke sisi ranjang dan mengambil handphone di atas meja nakas. Ia berdehem kecil. Kemudian ia pun menjawab panggilan video dari Aiden.
"Kenapa lama sekali angkatnya?" tanya Aiden saat wajah tampannya yang terlihat sudah segar muncul di layar handphone.
"Aku sedang ke kamar mandi," seru Catherine.
"Apa ada Mouli yang membantu?" tanya Aiden.
"Itu- tidak ada. Aku sudah bisa sendirian," seru Catherine.
"Tidak bisa seperti itu. Bagaimana kalau licin dan kamu kesulitan. Bagaimana pun juga kamu harus minta Mouli untuk membantumu. Apa aku perlu meminta Eve untuk datang menemanimu," seru Aiden.
"Aku baik-baik saja Aiden," seru Catherine. Entah kenapa sekarang Aiden menjadi begitu cerewet kepadanya.
"Bagaimana Mine?" tanya Aiden.
"Dia sepertinya masih tidur. Tadi dia sempat menanyakanmu, tetapi aku bilang kamu ada pekerjaan ke luar kota beberapa hari. Syukurlah dia mengerti," jawab Catherine.
"Syukurlah kalau begitu. Ngomong-ngomong kamu terlihat sangat cantik," puji Aiden membuat wajah Catherine bersemu merah.
"Khem... ngomong-ngomong bagaimana pekerjaanmu di sana?" tanya Catherine berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Ah... Aku sangat merindukanmu, Cath."
Deg
Catherine semakin di buat gugup dan wajahnya terlihat sekali bersemu merah. Ia berkali-kali memalingkan wajahnya karena merasa malu. Ah kata-kata Aiden selalu berpengaruh besar kepada dirinya.
"Aku tanya bagaimana pekerjaanmu? Dan ngomong-ngomong kamu menginap dimana?" tanya Catherine membuat Aiden terkekeh.
"Aku menginap di rumah Devara. Tadinya aku mau menginap di hotel. Tetapi Devara memaksaku untuk menginap di sini."
"Sepertinya Devara tidak mirip dengan Davero," seru Catherine.
"Jauh sekali. Devara jauh lebih baik dari pria berengsek itu," seru Aiden.
"Masih menyimpan dendam, hm?" seru Catherine.
"Tidak. Bukan dendam mengenai masalalu. Sikapnya itu membuatku sering kesal. Tadi saja kami sempat berdebat lagi. Ah sudahlah jangan bahas mereka," seru Aiden. "Ngomong-ngomong kalau masalah ini sudah selesai, aku ingin mengajakmu untuk berkencan. Ini kencan pertama kita."
"Kencan?"
"Iya. Kamu mau kan kencan denganku?" tanya Aiden.
"Kamu gak malu kencan dengan seorang gadis lumpuh?" tanya Catherine.
"Jangan berkata seperti itu. Aku tidak perduli akan hal itu. Bagiku kamu tetaplah Catherine yang aku sukai dan cintai. Tidak ada yang berubah," seru Aiden membuat tubuh Catherine meremang mendengarnya.
"Ada apa?" tanya Aiden.
"Itu, tidak apa-apa," jawab Catherine tersenyum kecil.
"Apa kamu masih mencintaiku?" tanya Aiden membuat mata mereka berdua terpaut satu sama lainnya.
"Aiden...."
"Tidak Cath, hatiku tidak sekuat kamu. Aku tidak ingin mendengar penolakan," seru Aiden dengan segera.
"Kalau begitu kenapa harus bertanya," seru Catherine mengernyitkan dahinya.
"Kalau gitu katakana saja kalau kamu mencintaiku," seru Aiden.
__ADS_1
"Tidak. Itu terlalu cepat," seru Catherine.
"Apanya yang terlalu cepat?"
"Kamu belum membuatku benar-benar percaya akan cintamu," seru Catherine mengedikkan bahunya.
"Setelah seperti ini masih belum juga?" tanyanya menyipitkan matanya.
"Iya. Aku belum percaya," seru Catherine terkekeh kecil.
"Baiklah. Saat kita bertemu nanti, aku akan membuatmu langsung mempercayaiku."
"Kita lihat saja nanti," tantang Catherine. "Aku akan melihat Mine dulu dan menyiapkan sarapan."
"Kalau begitu pergilah," perintah Aiden.
"Apa kamu tidak berniat mematikan sambungan telponnya?" tanya Catherine.
"Tidak. Aku ingin melihatmu terus," seru Aiden.
"Aku tidak mau."
"Kenapa? Aku ingin menatap wajahmu," seru Aiden.
"Bagaimana bisa aku melakukan banyak hal kalau kamu menatapku," protes Catherine.
"Ya tinggal beraktivitas saja. Lagipula kamu tidak di perbolehkan memegang wajan," seru Aiden dengan santai membuat Catherine mendesis.
"Tidak mau. Aku tutup yah. Selamat malam Daddy nya Mine."
Catherine memutuskan sambungan telponnya. Ia tersenyum bahagia. Hatinya terasa sangat berbunga-bunga.
Ya Tuhan, Aiden benar-benar membuatnya seperti remaja yang sedang kasmaran. Jantungnya sungguh dag dig dug tak karuan.
Di sisi lain Aiden pun tersenyum menatap layar handphone nya. Ia sama sekali tidak menyangka akan merasakan perasaan cinta lagi dan ini sungguh sangat menyenangkan dan membuatnya semakin bahagia dan bersemangat.
Aiden merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tatapannya menatap langit-langit kamar dan membayangkan sosok Catherine yang menurutnya sangat menggemaskan saat ia tersipu malu.
***
Aiden saat ini berada di ruang direktur utama di WT Corp. Tak banyak berubah di sini setelah Aiden meninggalkan perusahaan ini. Bahkan masih banyak karyawan di sini yang menyapanya dan masih mengenali dirinya.
"Ini semua berkas-berkas mengenai progress yang sedang di jalankan WT Corp. Dan ini berkas saham yang kamu miliki. Semua berkas yang kamu butuhkan ada di sini dan beberapa berkas penting tersimpan rapi di brangkas kantor. Kamu bisa membawanya," ucap Devara.
"Vara, kalau boleh tau kenapa WT batal melakukan kontrak kerjasama dengan perusahaan SR?" tanya Aiden.
"Ah masalah itu aku tidak tau pasti. Coba kau tanyakan pada Dave. Dia yang dulu menangani itu," seru Devara.
"Ah aku malas bertanya kepadanya," jawab Aiden dengan santai.
"Ck, kalian ini sungguh kekanakan. Lagipula karakter Dave kan memang begitu. Kamu sudah mengenalnya sejak kecil, sebenarnya dia baik," jawab Devara.
"Menurutmu saja baik," seru Aiden.
"Ah kalian berdua ini kapan akurnya," seru Devara menepuk jidatnya sendiri.
***
Aiden bertemu Kay dan Key di sebuah club malam di Jakarta.
"Ah apa kabar Aiden?" tanya Kay yang sudah berpelukkan dengan Aiden begitu juga dengan Key.
"Kabarku baik. Bagaimana dnegan kalian sendiri?" tanya Aiden.
"Kita juga baik banget," ucap keduanya bersamaan.
"Kompak sekali," kekeh Aiden membuat Kay dan Key mendengus.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong aku dengar kamu akan kembali ke WT Corp?" tanya Kay.
"Iya. Aku tidak memiliki pilihan lain lagi," seru Aiden.
"Pekerjaan kamu sebagai pengacara, bagaimana?" tanya Key.
"Aku sudah tidak bekerja sebagai sekretaris lagi," jawab Aiden.
"Ah begitu, aku pikir kamu tidak akan pernah kembali lagi," seru Kay.
"Awalnya aku tidak ingin kembali lagi dan berurusan kembali dengan keluarga Wiratama. Tapi aku tidak bisa, aku harus kembali untuk memperjuangkan seseorang," ucap Aiden membayangkan wajah cantik Catherine.
"Wah wah, siapa itu," goda Key yang melihat ekspresi Aiden yang sempat merenung sesaat.
"Aku akan memberikan undangannya pada kalian berdua saat kami menikah," ucap Aiden tersenyum manis seraya meneguk minumannya.
"Jadi kamu beneran udah move on?" tanya Kay. "Ah syukurlah kalau begitu."
"Kenapa kamu meninggalkan kami sih. Jadi anggota jomblo kita berkurang satu," seru Key.
"Kau saja yang jomblo, aku sih tidak," ucap Kay.
"Sodara kembar yang tidak solidaritas,: keluh Key.
Aiden hanya terkekeh kecil dan meminum minumannya kembali.
***
Harry dan Evelyn berkunjung ke rumah Catherine dan bermain bersama Mine.
"Jadi Aiden kembali ke Indonesia?" tanya Harry.
"Iya, untuk pekerjaan," seru Catherine.
"Wah aku tuh salut banget. Aiden mau berusaha buat merjuangin kamu dan menikahi kamu," seru Evelyn.
"Jangan berpikir kejauhan Eve. Aku tidak yakin kami akan menikah," seru Catherine.
"Lho kenapa?" tanya Eve.
"AKu hanya tidak mau Aiden menyesal kelak. Aku takut Aiden berubah pikiran dan perasaannya memudar kepadaku," serunya.
"Haishh masih saja meragukan Aiden. Padahal dia sudah berjuang keras buat dapetin kamu," seru Evelyn.
"Aku masih sedikit meragukannya," seru Catherine.
"Kalau aku katakan apa alasan Aiden di keluarkan dari Firma hukumnya. Apa kamu masih akan meragukannya?" tanya Harry membuat Catherine melihat ke arahnya.
"Emmm memangnya apa alasan dia di keluarkan?" tanya Catherine.
"Kamu."
Catherine mengernyitkan dahinya bingung mendengar seruan dari Harry barusan.
"A-aku? Apa maksud kamu?" tanya Catherine.
Harry pun menceritakan segalanya tanpa menutupi satu faktapun. Catherine tidak menyangka, ia menutup mulutnya sendiri karena kaget.
"Sebenarnya Aiden sudah jatuh cinta padamu dari sejak awal. Hanya saja rasa traumanya menghalangi dirinya untuk mengakui perasaannya itu," seru Harry membuat Catherine terpaku.
"Aku bisa menjamin kalau Aiden sungguh tulus padamu. Dan hanya kamu wanita yang berhasil meluluhkannya sejak 5 tahun ini," seru Harry.
Catherine semakin mematung kaku di tempatnya mendengar ucapan Harry itu.
"Aku harap kamu tidak akan membuatnya kecewa lagi dan semakin tidak mempercayai cinta."
***
__ADS_1
TBC...
08-06-2020