
Aiden mendatangi rumah Catherine. Ia di persilahkan masuk oleh pengasuh Mine.
Aiden berjalan masuk dan melihat Mine tengah menonton acara televisi.
"Hai cantik," sapa Aiden.
"Uncle..." Mine terlihat bahagia melihat kedatangan Aiden di sana.
"Sedang menonton apa?" tanyanya yang kini duduk di samping Mine.
"Frozen," ucapnya tersenyum lebar.
"Bagaimana kondisimu sekarang?" tanya Aiden.
"Mine udah baik-baik aja, Uncle. Perut Mine juga udah gak terlalu sakit," ucapnya.
"Syukurlah."
Kini tatapan Aiden menyisir ke seluruh penjuru mencari keberadaan seseorang tetapi tak ia temukan.
"Mommy kamu mana? Apa sudah berangkat bekerja?" tanya Aiden.
"Mommy?" seru Mine menoleh ke arah Aiden. "Mommy gak pulang dari kemarin."
Aiden mengernyit mendengar penuturan Mine itu.
"Maksud kamu gak pulang? Apa Mommy kamu sering tidak pulang seperti ini?" tanya Aiden.
Bagaimana bisa Catherine tidak pulang di saat anaknya sakit seperti ini. Kemana dia sebenarnya. Pikir Aiden.
"Mommy tidak pernah seperti ini. Dia selalu pulang ke rumah. Tapi enggak tau kenapa sekarang gak pulang," seru Mine.
"Baiklah. Kamu disini dulu. Uncle akan tanya ke pengasuh kamu," seru Aiden.
Aiden beranjak dari duduknya dan berjalan menuju dapur dimana pengasuh Mine berada.
"Apa Catherine memberi kabar kemana?" pertanyaan itu membuatnya menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah Aiden.
"Tidak Tuan. Nyonya tidak biasanya seperti ini. Kalau dia pulang telat pun pasti menghubungi saya dulu atau menghubungi Nona Mine," ucapnya membuat Aiden termenung.
"Apa ada kemungkinan dia pergi ke rumah orangtua nya?" tanya Aiden.
Pengasuh itu terdiam sesaat sebelum menjawab pertanyaan Aiden.
"Rumah orangtua Nyonya ada di Indonesia. Dan yang saya dengar saat ini tuan besar William sedang berada di Singapura," jelasnya.
Tidak mungkin Catherine keluar Negri tanpa memberi kabar dan meninggalkan Mine disini sendiri. Pikir Aiden.
"Aku akan keluar. Kamu temani Mine dulu. Kalau ada apa-apa segera hubungi saya. Nomor saya ada di Mine," ucap Aiden yang di angguki pengasuh itu.
Aiden bergegas meninggalkan area rumah Catherine menggunakan mobilnya.
"Kemana kamu Cath," gumam Aiden memikirkan Catherine.
----
Aiden kini telah berdiri di depan pintu apartement milik Evelyn. Ia menekan bell kamar itu.
Tak lama pintu terbuka dan menampakkan Evelyn yang terlihat sudah bersiap hendak bekerja.
"Aiden? Ada apa?" tanya Eve sedikit kaget melihat Aiden di hadapannya.
"Eve, apa Catherine bersamamu?" tanya Aiden to the point.
"Catherine? Tidak," serunya. "Mungkin Catherine ada di rumahnya," ucap Eve.
"Aku baru dari rumahnya. Dan Mine bilang Catherine tidak pulang dari kemarin," ucapnya.
"Tidak biasa nya. Apa kalian kembali bertengkar?" tanya Evelyn membuat Aiden termenung.
"Mungkin dia marah dan kesal padaku. Aku bersikap bodoh dan menyakitinya," ucap Aiden menghela nafasnya.
"Kapan kalian akan akur dan bersama," ucap Eve.
"Aku menyadarinya kalau aku memang sudah mencintainya. Mungkin sudah sejak lama," ucap Aiden membuat Evelyn menatapnya dengan tatapan terluka. Tapi ia berusaha menekan perasaannya sendiri.
"Maaf Eve. Aku-"
"It's oke Aiden." Evelyn memalingkan pandangannya dan tersenyum kecil. "Kamu tidak perlu merasa begitu. Aku senang akhirnya kamu menyadarinya. Setidaknya kalian tidak akan saling menyakiti lagi," seru Evelyn.
__ADS_1
"Aku ingin mengatakan semuanya pada Catherine dan meminta maaf padanya," ucap Aiden.
"Bagaimana kalau kita ke kantornya saja. Mungkin dia ada di kantor," seru Evelyn yang di angguki Aiden.
Mereka pun bersama-sama menuju ke kantor Catherine.
"Nomornya tidak aktif," seru Evelyn mencoba menghubungi Catherine.
"Aku sudah menghubunginya beberapa kali tadi. Dan memang tidak aktif," seru Aiden.
Mobil Aiden memasuki area parkir para petinggi dan melihat mobil Catherine terparkir di sana.
"Itu mobilnya. Sepertinya dia memang berada di kantor," seru Evelyn.
Aiden memarkirkan mobilnya dan menuruni mobil diikuti Evelyn.
"Baiklah kau temuin saja Catherine. Aku akan pergi dengan taksi. Aku tidak ingin dia salah paham," ucap Evelyn.
"Tunggu sebentar."
Aiden berjalan mendekati mobil Catherine dan melihat kunci mobilnya yang berada di kolong mobil di bagian belakang.
Mata awas Aiden menangkap kunci mobil itu. Ia berjongkok untuk meraih kunci mobil itu.
"Ada apa?" tanya Evelyn menghampiri Aiden yang kini sudah beranjak kembali berdiri.
"Kunci mobil Catherine," seru Aiden memperlihatkan kunci mobil di tangannya.
"Kok bisa kunci mobilnya ada di sini. Apa mungkin terjatuh?" tanya Evelyn.
"Catherine bukan orang yang teledor," gumam Aiden merenung.
"Sepertinya terjadi sesuatu padamu," gumamnya.
Aiden mencoba menghubungi sekretaris Catherine. Dan untuk beberapa saat ia kembali mematikan sambungan telponnya.
"Ada apa?" tanya Evelyn.
"Catherine tidak datang ke kantor hari ini," ucap Aiden meyakinkan kecurigaannya.
"Bagaimana ini. Kemana dia sebenarnya?" seru Evelyn merasa khawatir.
Handphone Aiden berdering dan menampakkan nama Harry di sana.
"....."
"Ah ternyata benar Robert yang mencelakai Mine. Apa kau bisa menemukan dimana posisi Robert saat ini?"
"...."
"Catherine sepertinya di culik olehnya."
"....."
"Aku tunggu."
"....."
"Jadi Robert yang mencelakai Mine?" tanya Evelyn saat Aiden mengakhiri sambungan telponnya.
"Kecurigaanku benar," seru Aiden. "Kita temui Sekretaris Catherine. Siapa tau kita bisa melihat CCTV dan menemukan petunjuk mengenai Catherine," ucap Aiden yang di angguki Evelyn.
Mereka berjalan bersama menuju ruangan Catherine.
----
Saat ini Aiden dan Evelyn juga bersama Sekretaris Catherine dan salah satu petugas CCTV tengah memperhatikan CCTV hari kemarin.
"Catherine keluar dari ruangannya pukul 5 sore," seru Aiden.
Dan ternyata tidak terlihat apapun dari CCTV parkiran.
"Tunggu dulu. Mobil minibus ini mencurigakan," ucap Aiden saat sebuah minibus memasuki area parkir.
"Mereka bukan pegawai kantor. Dan lagi kalau mereka tukang service atau pengirim barang tidak mungkin masuk ke parkiran para petinggi," ucap Sekretarisnya.
"Dan mobil ini kembali keluar 10 menit kemudian. Coba bisa kau perbesar untuk nomor polisinya," seru Aiden dan petugas itu pun menurutinya.
Aiden mendapatkan nomor polisinya. Ia kemudian meminta Harry segera melacak keberadaan mobil itu.
__ADS_1
---
Kini Aiden dan Evelyn pergi meninggalkan kantor.
"Aku yakin Robert yang menculik Catherine. Astaga pria brengsek itu!" seru Evelyn sangat emosi.
***
Byur
Catherine terbangun dari tidurnya saat terasa air menerpa wajahnya. Ia menatap sekeliling dan menyesuaikan pandangannya.
Ia kaget saat kedua tangan dan tubuhnya terikat di atas kursi. Mulutnya di tutupi oleh kain.
"Hmmmm....." serunya berusaha mengeluarkan suara dan meronta untuk melepaskan ikatannya.
"Akhirnya kau bangun juga, Babe."
Mata Catherine membelalak lebar melihat seseorang yang berdiri menjulang di hadapannya.
'Robert...' batinnya.
"Lama tidak bertemu. Apa kamu merindukanmu?" serunya tersenyum dan mengambil duduk di hadapan Catherine.
"Hmmmm!!!" Catherine terus meronta untuk bisa melepaskan ikatannya.
"Tenanglah Sayangku. Simpan tenagamu. Percuma saja kau terus meronta, ikatan itu tidak akan pernah terlepas."
Robert kembali menampilkan senyumannya menatap ke arah Catherine. "Sepertinya kau ingin mengatakan sesuatu. Baiklah aku akan melepaskan ini," ucapnya melepaskan kain yang menutup mulutnya.
"Isshhh...." Catherine meringis saat merasa ngilu dan sakit di sudut bibirnya.
"Dasar brengsek!" amuk Catherine membuat Robert tertawa.
"Tenanglah Sayang. Kau begitu merindukanku sampai kau begitu bersemangat mengumpatku," tawanya.
"Lepaskan aku! Apa maumu!" teriaknya.
"Mauku?" Robert kembali tertawa. "Kau sungguh tidak sabaran dan tidak suka berbasa basi."
"Dasar sialan! Kau memang pria brengsek!" amuk Catherine.
"Diam!" bentak Robert mencengkram kedua pipi Catherine. "Mulutmu semakin lama semakin lancang!" seru Robert.
"Dengarkan aku, Nona William. Aku menginginkan saham SR dan tanah di daerah itu. Berikan itu maka kau akan aku lepaskan."
"Jangan bermimpi!" seru Catherine.
Robert menampar pipi Catherine hingga sudut bibirnya berdarah.
"Kau semakin sombong saja!" seru Robert yang kini berdiri dari duduknya.
"Dengar wanita ******." Robert membungkukkan badannya hingga wajahnya berada dekat dengan wajah Catherine yang menatapnya dengan tatapan dingin. "Kau ingat kejadian yang menimpa Jasmine, putri kesayanganmu itu."
Mata Catherine membelalak lebar mendengar penuturan Robert.
"Aku bisa melakukan lebih dari itu. Kalau kau tidak ingin kehilangan putri kesayanganmu itu. Maka jangan membuatku kesal. Turuti saja apa yg aku minta."
Catherine menatap benci ke arah Robert.
"Aku tau dia adalah kelemahanku," tawa Robert.
"Sekarang renungkanlah. Apa Mine tidak lebih berharga dari saham dan tanah itu," kekehnya berjalan meninggalkan Catherine seorang diri.
"Dasar psycopath gila!" teriak Catherine dan Robert hanya tertawa saja.
"Bagaimana ini. Mine... Ya Tuhan semoga dia baik-baik saja," gumam Catherine.
****
Aiden menatap nyalang langit gelap. Ia memikirkan Catherine dan sangat khawatir padanya.
Harry bilang mobil itu adalah mobil sewaan. Dan Harry kehilangan jejaknya.
"Catherine, kamu dimana?" gumam Aiden. "Aku berharap kamu baik-baik saja."
Aiden mengusap wajahnya gusar. Ia harus mencari kemana keberadaan Catherine dan brengsek Robert....
***
__ADS_1
TBC...
29-04-2020